
[dropcap type=”default”]”H[/dropcap]iburan terbaik di Korea Selatan,” ujar Cho Taiyoung, “bersumber dari budaya, kuliner, dan warganya.” Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia ini membeberkan delapan tempat favorit di negaranya kepada Suhartina Sindukusumo.
Gangwon
Gangwon berada di kawasan perbukitan yang bertetangga dengan Provinsi Kangwon di Korea Utara. Tempat ini terkenal akan olahraga musim dinginnya, terutama ski. Reputasinya sudah mendunia di kalangan atlet. Pyeongchang, salah satu kota di Gangwon, bahkan sudah dinobatkan sebagai tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2018. “Gangwon juga kerap menjadi tempat rehat favorit warga Seoul berkat udara dan suasananya yang santai,” ungkap Cho.
Sejak 1953, tepian utara Gangwon berstatus zona demiliterisasi (DMZ). Kawasan perbatasan yang mengoleksi banyak pemandian air panas ini didedikasikan sebagai suaka konservasi alam. Untuk menelusuri lebih jauh sejarahnya, Cho menyarankan wisatawan mengikuti tur-tur bertema DMZ.

Busan
Busan, kota terbesar kedua di Korea, tersohor akan festival filmnya: Busan International Film Festival (BIFF). Ajang yang dicetuskan 20 tahun silam ini, menurut Cho, merupakan “sebuah testimoni atas pentingnya status Busan dalam industri perfilman dunia.” Selain menjadi kota pertama di Korea yang memproduksi film, Busan kerap dijadikan lokasi syuting berkat lanskapnya yang lengkap, mencakup gunung, sungai, dan laut. BIFF umumnya berlangsung setiap Oktober. Ajang yang dihadiri ribuan orang ini menayangkan lebih dari 300 film dengan fokus karya-karya dari Asia. Tahun lalu, dua film Indonesia diputar perdana di Busan, yakni Aach Aku Jatuh Cinta karya Garin Nugroho dan Cinta yang Asu garapan Yosep Anggi.

Pulau Jeju
Pelancong umumnya datang ke Jeju di musim panas, tapi Cho justru lebih terbuai oleh pesona pulau romantis ini di musim dingin. “Di musim panas, kita bisa menemui Haenyeo, kaum wanita penyelam. Sementara di musim dingin, kita bisa menikmati taman salju yang spektakuler,” jelas Cho. Lanskap Jeju, pulau yang berstatus Situs Warisan Dunia, memang menarik dijelajahi, tapi kebudayaan masyarakatnya sebenarnya tak kalah memikat untuk ditelusuri. Untuk menyelami tradisi kaum penyelam, tempat yang paling atraktif adalah kawasan vulkanis Seongsan Ilchulbong.

Jeolla
“Bibimbap terbaik datang dari kawasan ini!” kata Cho. Jeolla, kawasan di barat daya Korea, menyimpan kota-kota yang terkenal akan kulinernya. Salah satunya Jeonju yang sukses menciptakan versi bibimbap-nya sendiri. Selain komponen standar seperti telur, sayuran, dan irisan daging, nasi rames versi Jeonju ini memasukkan bahan-bahan alami yang dipanen dari hutan dan gunung di sekitarnya.

Seoul
Selain kompleks istana kerajaan, Cho menyarankan berkunjung ke Hongdae untuk “merasakan karakter kontemporer Korea.” Area favorit kaum muda ini mengoleksi banyak bar dan ruang pentas musik indie lokal dan internasional. Begitu kuat energinya hingga Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, berencana membuka kantor promosi Kota Bandung di sini.
Tempat lain di Seoul yang direkomendasikan Cho adalah Cheonggyecheon, di mana sebuah kanal tua yang sempat menjadi permukiman kumuh berhasil direnovasi menjadi ruang publik yang nyaman. Kanal yang membelah pusat kota ini dihiasi beragam mural dan pahatan pada dindingnya. “Kita bisa berjalan-jalan di tepi kanal atau sekadar duduk-duduk santai sembari menenggak bir atau membaca buku,” ujar Cho. Kanal ini adalah rute favorit menuju pasar tradisional Dongdaemun yang menjual beragam produk lokal. Di sekitar Dongdaemun terdapat teater K-Pop hologram yang dijuluki Cho “Madame Tussauds versi Korea.” Tempat ini menampilkan pentas artis-artis K-Pop ternama dalam versi hologram. “Datang dan siap-siap terpukau oleh kecanggihan tempat ini,” tambahnya.

Gyeongju
Bekas Ibu Kota Kerajaan Silla yang pernah menguasai dua per tiga Semenanjung Korea ini mengantongi sejumlah situs arkeologi dari abad ketujuh dan kesembilan. “Gyeongju menyimpan sejarah yang membuat kota ini seakan berhenti di sebuah masa,” tutur Cho. “Mungkin seperti Solo di Indonesia.” Selain Yangdong Village dan Kuil Bulguksa yang termaktub sebagai Situs Warisan Dunia, Cho menyarankan kita berziarah ke makam salah seorang raja terbesar dalam sejarah Korea. Lokasinya sekitar 40 menit berkendara dari Gyeongju ke arah Bonggil-ri. Di tengah laut biru, kita akan menemukan seonggok pulau kecil berisi bebatuan besar yang menampung makam Raja Munmu, penguasa yang berhasil menyatukan tiga kerajaan di kakinya. Konon, abu kremasinya tersimpan di bawah bebatuan.

Boryeong
“Anda harus melumuri diri dengan lumpur atau Anda akan dikirim ke penjara,” Cho berkelakar saat menceritakan Boryeong Mud Festival. Sejatinya, Anda tidak perlu repot melumuri diri sendiri, karena seluruh peserta akan saling melempar lumpur. Kelahiran festival ini terkait dengan reputasi Pantai Daecheon di Boryeong sebagai sentra penghasil lumpur yang telah menciptakan tujuh produk kosmetik. Boryeong Mud Festival bergulir setiap Juli dengan durasi tujuh hingga 10 hari. Lumpur di sini sangat aman bagi kulit, bahkan banyak orang percaya lumpur tersebut berkhasiat menyehatkan kulit.

Bukchon Hanok Village
Menuju bagian utara ibu kota, Cho mengusulkan Bukchon Hanok Village, desa elok yang dihuni ratusan rumah tradisional hanok. Permukiman ini dirawat sebagai destinasi budaya. Rumah-rumahnya difungsikan sebagai ruang minum teh, pusat edukasi, serta guesthouse yang mengajak turis merasakan hidup di zaman Dinasti Joseon. “Kehidupan di sini sangat sederhana. Tidak perlu kendaraan mewah. Cukup mengelilinginya dengan berjalan kaki atau menunggangi rickshaw, kita sudah bisa mendapatkan pengalaman autentik Korea,” jelas Cho.
Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Januari/Februari 2016 (“Korea Selatan”)

