Emmi, penyelam asal Finlandia yang kini menjadi dive master di resor Kadidiri Paradise.

Togean masih tergolong daerah tertinggal. Listrik menyala hanya beberapa jam per hari. Koneksi internet nihil. Sinyal telepon kerap raib. Jalan aspal satu-satunya terbentang di Wakai, kota kecamatan, tempat feri memungut berton-ton cengkih dan mengirimkannya ke pabrik keretek.

Tapi wisatawan terus berdatangan. Dari seberang benua, mereka terbang belasan jam, lalu meluncur lagi belasan jam dengan feri menembus perairan labil Teluk Tomini yang rentan memicu pening dan mual. Perjalanan panjang yang tak menjanjikan kenikmatan. Apa sebenarnya yang mereka cari di sini?

Togean melayang di tengah Teluk Tomini, Sulawesi, sekitar satu derajat di kaki khatulistiwa. Di atas peta, kepulauan ini seperti guci yang dibanting ke lantai: memanjang 90 kilometer dengan tubuh terbelah-belah oleh selat. Di dalam lautnya, karang merekah. Sebuah survei yang digelar oleh Conservation International menemukan 262 spesies koral dan 596 spesies ikan karang. Saat menyusuri perairannya, kita bisa menemukan cincin-cincin atol yang mengukir permukaan laut.

Sementara ini, pamornya masih di bawah Raja Ampat atau Taman Nasional Komodo. Togean juga belum tertera dalam rute kapal-kapal pinisi. Tapi mungkin itu yang membuatnya memikat. Orang ingin datang justru karena belum banyak orang yang datang. Di zaman ketika serpihan-serpihan bumi telah direkatkan oleh Google Earth, Togean bagaikan kepingan yang tertinggal di luar bingkai.

Di kamar saya, listrik sudah dipadamkan. Pesta bir rampung dan resor pun berubah sunyi. Andri, Luca, juga turis lainnya, telah kembali ke kamar dan bersiap-siap untuk menyelam esok harinya. Hidup di Togean agaknya menawarkan siklus yang simpel: pesta, tidur, menyelam. Di dahan-dahan tinggi, kawanan tonggeret mengisi malam dengan nyanyian bising yang konstan layaknya sirene branwir. Tak ada sinyal telepon. Tak ada koneksi internet. Saya pun mulai tertular wabah lokal: tak peduli dengan hari.

Matahari masih miring saat saya berenang ke pantai, memanjat tebing, lalu menceburkan diri ke sebuah danau berair hijau. Danau yang ganjil. Di bawah perut saya, belasan ubur-ubur berseliweran seperti jamur ditiup angin. Lama terperangkap di air payau, mereka kehilangan kemampuan menyengatnya. Alam telah melucuti senjata mereka. Saya seperti dikepung oleh singa-singa ompong.

Di Kalimantan sana, danau serupa sukses mendulang banyak turis. Sejumlah teman bahkan menyebut danau itu satu-satunya tempat untuk berenang bersama ubur-ubur. Agaknya negeri ini terlalu luas untuk klaim-klaim prematur. Masih banyak rahasianya yang belum disingkap, dan Togean rupanya menyimpan banyak kejutan.