Cerita Perjalanan Pesiar Bersama Anak

Mencoba tur kapal pesiar untuk pertama kalinya, hanya berdua bersama anak. 

Aluna menatap riang area waterpark. (Foto: Atikah Zata Amani)

Oleh Atikah Zata Amani

Berenang, lalu main golf, lalu makan, lalu berenang lagi. Selanjutnya, kelas membuat piza dan berenang lagi. Pukul 05:30 pagiwaktu Singapura, Aluna, putri saya, sudah menyusun agenda hariannya. Jadwal yang padat untuk anak (dan melelahkan untuk orang tua), walau untungnya di kapal pesiar semua lokasi berjarak hanya beberapa langkah dari kamar.

Saya dan Aluna sedang berada di kapal Genting Dream dengan rute Singapura menuju Filipina. Ini pesiar perdana kami. Sebelumnya, pengalaman kami berlayar dengan bahtera berukuran besar adalah menaiki kapal Pelni menuju Banda. Ada banyak perbedaan di antara keduanya. Naik Pelni, wisata dimulai setelah berlabuh. Di kapal pesiar, wisata dimulai sejak jangkar diangkat. Dalam kasus saya, perbedaan besar lainnya terlihat dari baju Aluna yang selalu setengah basah.

Di etape pertamanya, Genting Dream meluncur ke Kota Kinabalu di kepala Borneo. Dalam pesiar berdurasi lima hari ini, kami menginap di The Palace Suites, kabin yang dilengkapi sofa, meja rias, balkon privat serta koneksi internet. Lebih dari cukup untuk ibu dan anak, namun berkat jadwal harian yang padat, kami lebih sering berkeliaran di luar ketimbang menikmati fasilitas kabin. 

Pagi-pagi sekali, kolam renang masih lengang. Beberapa staf melipat handuk. Di sebuah panggung, seorang instruktur olahraga mengajak orang-orang bersenam pagi. Kolam yang bertengger di lantai 16 ini bagaikan wadah komunal bagi para penumpang. Para orang tua duduk di tepinya, mengawasi anak-anak mereka yang bermain air. “Anak-anak bisa bermainwahana air sepuasnya, orang tua bersantai menikmati wine saat matahari terbenam, dan para kakek nenek bermain bingo hingga bosan,” jelas Manish asal India, yang membawa pasangan dan segenap keluarganya. “Liburan yang adil untuk semua, bukan?”

Kiri-kanan: Kolam renang di Genting Dream, kapal pesiar yang diluncurkan pada 2016; area bermain catur. (Foto: Atet Dwi Pramadia; Atikah Zata Amani)

Genting Dream, yang panjangnya setara tiga lapangan sepak bola, sepertinya memang menawarkan fasilitas liburan untuk semua orang. Ada kasino, spa, serta klub malam Zouk. Ada pula arena boling, teater, hingga layar tancap di kolam renang penuh busa. Untuk meladeni selera 3.000 penumpangnya, bahtera 18 dek ini mengoleksi beragam restoran, termasuk sebuah restoran steik milik koki selebriti yang selalu penuh saban malamnya. 

Setelah sehari semalam berlayar, kapal bersandar di Kota Kinabalu dan langsung disambut oleh musik tradisional Dayak Sabah. Semua orang menikmati kemeriahan, termasuk rekan perjalanan saya, Aluna, yang berdansa riang mengikuti irama pukulan gimar. Dari pelabuhan, kami meluncur ke Pulau Mari Mari Sepanggar. Sepanjang jalan, seorang pemandu wisata bercerita sekilas tentang kebudayaan Suku Dayak, termasuk tradisi memotong kepala yang untungnya tidak dipraktikkan saat kami datang.

Galibnya “wisata transit,” turis berpindah cepat dari satu titik ke titik lain. Dari Pulau Mari Mari Sepanggar, kami bergeser ke kawasan wisata Yayasan Sabah, lalu singgah di Tun Mustapha Tower. Menjelang sore, semua penumpang digiring kembali ke kapal yang sudah siap berlayar menuju Puerto Princesa, Filipina.

Genting Dream kini membelah Laut Cina Selatan ke arah utara. Aluna, seperti biasa, kembali bersiap berenang. Banyak orang memandang kapal pesiar sebagai hotel terapung, namun putri saya lebih menganggapnya sebagai waterpark berjalan. Baginya, hari yang ideal dimulai dan ditutup di kolam renang.

Area kolam renang anak di Genting Dream. (Foto: Atikah Zata Amani)

Tapi hari ini Aluna punya insentif untuk mengurangi obsesinya terhadap kolam renang. Triffy, butler kami, datang berkunjung. Sesuai aturan, dia menelepon terlebih dahulu ketimbang mengetuk pintu, meski sudah berdiri di depan kabin. Usai menghidangkan buah-buahan dan camilan, Triffy membeberkan daftar kegiatan ibu dan anak hari ini, lalu memberikan selembar rapor yang bisa diisi stiker kegiatan. Katanya, ada hadiah spesial bagi duet ibu-anak yang berhasil mengumpulkan stiker terbanyak.

Salah satu kegiatan itu ialah menonton China’s Got Talent di panggung Zodiac Theatre. Saya sengaja datang 30 menit lebih awal, agar punya waktu mencari kursi yang ideal bagi Aluna, yang sepertinya cocok mengikuti ajang Got Talents di kategori “tak bisa diam.” Pentas malam ini menampilkan beragam talenta, mulai dari acrobat gadis kembar asal Tibet hingga atraksi lempar pisau. Gelaran ini ditutup oleh penampilan Water Sleeve Dance oleh seorang pria dengan makeup ala artis opera kunqu.

Pentas rampung saat kapal mendekati kaki Filipina. Saat mentari terbit, Genting Dream melempar sauh di Pelabuhan Puerto Princesa. Dari sini, penumpang diajak menembus kompleks karst Puerto Princesa Subterranean River National Park, termasuk menyusuri gua sepanjang 1,5 kilometer. Masing-masing orang dibekali sebuah alat mirip Walkman yang memutar audio guide multibahasa. 

Usai menghabiskan sekitar lima jam mengarungi sungai, kami kembali ke kapal. Melihat stiker di rapor yang tak kujung penuh, saya pun mengajak Aluna mengikuti kelas memasak piza untuk mendapatkan satu stiker putri duyung. Setelahnya, saya membawanya mengikuti lokakarya marionette yang diasuh duet asal Russia. Satu stiker kembali dibubuhi di buku rapor. Sepertinya sekarang giliran saya yang mengidap obsesi.

Baca juga: Tur Pesiar di Asia Bersama Genting Dream; Kontras & Cerita di Kapal Pesiar

Kiri-kanan: Salah satu area makan yang ada di kapal berbobot setara dengan 30.000 gajah ini; tur mengarungi kompleks karst Puerto Princesa, Palawan. (Foto: Atikah Zata Amani)

Ekspedisi memasuki hari terakhir. Usai beragam upaya, kami akhirnya gagal mencapai target stiker, lalu memutuskan memberi hadiah ke diri masing-masing. Saya menikmati tangan-tangan terampil terapis Crystal Life Spa, sementara Aluna bersenang-senang di taman bermain Little Pandas Club.

Mendekati Singapura, para penghuni kabin The Palace Suites menghadiri jamuan di Seafood Grill by Mark Best. Tepat pukul 21:00, kembang api diluncurkan sebagai tanda ditutupnya pesiar. Diayun gelombang Laut Cina Selatan, Genting Dream merapat ke Marina Bay.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Oktober/Desember 2019 (“Rekreasi Bahari”)

Comments