Genting Dream, kapal pesiar yang mulai beroperasi November 2016 dan didedikasikan bagi turis Asia.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Atet Dwi Pramadia

Melalui layar raksasa, dua wanita kakak beradik menceritakan hidup mereka yang muram di sebuah kampung yang miskin. Air mata menetes. Kisahnya mengiris. Sengaja dibuat seperti itu. Bermodalkan kemampuan bermusik, keduanya kini bertekad membalik nasib. Layar mendadak padam, lampu sorot dinyalakan, dan kedua wanita tadi muncul di panggung memainkan perkusi berbahan daun dan bambu. Tak ada lagi tangis. Keduanya kini justru dihujani tepuk tangan penonton.

Pentas itu bertajuk China’s Got Talent, program televisi yang populer di Tiongkok. Tapi saya tidak sedang berada di depan pesawat televisi, tidak pula sedang berada di Shanghai atau Beijing. Malam ini, saya berada di kapal pesiar. Saya menonton China’s Got Talent dalam versi live di atas Laut Cina Selatan.

Kiri-kanan: Roland Standberg, staf keamanan asal Swedia, di terminal Tan Cang Cai Mep, gerbang laut Ho Chi Minh City; Wahana Waterslide Park di Genting Dream.

Akhir 2016, saya mengikuti pelayaran debut Genting Dream, kapal baru yang dikelola oleh operator yang juga baru, Dream Cruises. Kapalnya megah. Bobotnya setara 30.000 gajah Sumatera. Tingginya menyamai gedung 18 lantai. Oleh pemiliknya, Genting Dream diklaim sebagai kapal premium pertama yang berasal dari, juga didedikasikan bagi, turis Asia. Singkat kata: dari Asia, untuk Asia

“Kami memiliki pengalaman panjang di kawasan ini, jadi sudah memahami ekspektasi pasar,” ujar Michael Goh, Senior Vice President Dream Cruises. Perusahaan ini berada satu keluarga dengan Star Cruises dan Crystal Cruises, juga dengan kelab malam Zouk dan taman rekreasi Resorts World. Melihat portofolionya, memahami selera Asia sepertinya bukan perkara sulit. Kehadiran China’s Got Talent pertama di atas laut adalah salah satu buktinya. Apa rasanya menaiki kapal dengan “rasa Asia”?

Kiri-kanan: Penumpang melakoni swafoto sebelum naik kapal; Mural kapal buatan Jacky Tsai, seniman yang pernah berkolaborasi dengan Alexander McQueen’s.

Perjalanan saya dimulai di Singapura. Dari pelabuhan Marina Bay, Genting Dream bertolak ke Vietnam, kemudian meluncur ke Hong Kong, hingga akhirnya bersandar di Guangzhou. Dalam trip pembuka ini, kapal mengangkut hanya sekitar 2.000-an penumpang dari total kapasitas 3.300. Saya menginap di tipe suite yang bertengger di lantai 13. Plafonnya agak rendah, tapi interiornya terasa lapang, mungkin berkat jendelanya yang lega dan menatap segara.

“Ada masalah dengan kamar?” tanya seorang butler asal Latvia, tak lama setelah saya memindahkan pakaian ke lemari. “Bapak butuh sesuatu?” tanya rekannya yang berasal dari Tiongkok. Seluruh kabin suite dilayani secara bergiliran oleh 60 pelayan cekatan yang dijuluki Dream Butler. Sebagian butler berbahasa Inggris, mayoritas berbahasa Tiongkok—konfigurasi yang dicocokkan dengan komposisi tamu. “Target penumpang kami 70 persen berasal dari Tiongkok, sisanya turis internasional,” tambah Michael Goh.

Suasana malam di kolam renang utama Genting Dream, kapal yang memiliki 18 tingkat dan berbobot 151.300 ton.

Usai meninggalkan Selat Singapura, Genting Dream merangsek Laut Cina Selatan. Melayangkan pandangan dari balkon, kapal-kapal tanker dan kargo merayap lesu. Laut bercorak perak dipanggang terik. Di sisi kiri kapal kini terhampar Teluk Thailand, perairan yang membingkai Malaysia dan Indocina. Di sisi kanannya, Kepulauan Natuna.

Peluncuran Genting Dream adalah bagian dari merekahnya industri pesiar di Asia. Merujuk laporan terakhir Cruise Lines International Association (CLIA), jumlah penumpang di Asia melonjak 24 persen dari tahun sebelumnya—pertumbuhan tertinggi di dunia. Demi menjala pasar basah itu, para operator mengambil kebijakan jemput bola: menempatkan kapal-kapalnya di Asia untuk melayani rute regional. Sebab, berdasarkan laporan CLIA lagi, mayoritas penumpang asal Asia—persisnya delapan dari 10 orang—lebih menyukai pelesiran di Asia.

Fenomena itulah yang membuat laut di Asia makin sibuk. Pada 2016, jadwal pelayaran di sini meningkat 43 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah armadanya pun bertambah, dari 52 unit menjadi 60. Genting Dream adalah pendatang terakhir di 2016.

Kiri-kanan: Anjungan kapal; Empat remaja asal Shanghai usai bermain bola basket di Sportsplex, Genting Dream.

Genting Dream menghabiskan hari pertamanya melesat ke laut lepas. Berdiri di tepi geladak, daratan kian kabur dari pandangan. Laut ditaburi ratusan ubur-ubur putih dengan tentakelnya yang menjuntai panjang seperti akar beringin. Galibnya pesiar, para penumpang membuka trip dengan berkelana melihat-lihat fasilitas kapal, melakukan reservasi restoran untuk hari-hari berikutnya, juga mencari tahu mana fasilitas yang gratis dan mana yang berbayar. Pesiar memang membuat turis berpikir taktis dalam menyusun jadwal harian.

Di jantung kapal, area pertokoan mulai ripuh melayani tamu. Logo-logo mengilat berbaris di sebuah lorong panjang: Cartier, Longines, Bulgari, Omega, Gucci. Belanja memang mesin uang bagi operator pesiar. Hampir setiap kapal dilengkapi mal mini yang dijejali butik-butik global, dan semuanya menawarkan harga duty free.

Kiri-kanan: Mark Best, koki Australia pemilik Mark Best Bistro, bintang kuliner di Genting Dream; Sekoci pembawa penumpang ke Nha Trang, Vietnam.

Tapi sebenarnya tak hanya butik. Seiring meningkatnya gairah belanja penumpang, operator lebih kreatif mencari mitra dagang. Kita sekarang tak cuma bisa memborong arloji atau perhiasan, tapi juga karya seni. Di dekat lift, Park West Gallery memajang belasan lukisan karya seniman terpandang, salah satunya Picasso. “Besok akan dilelang,” ujar seorang staf galeri. “Harga pembukaannya dua ratus ribu dolar, tidak terlalu mahal, bukan?”

Park West Gallery telah lama membidik penumpang pesiar. Cabangnya bisa ditemukan di banyak kapal. “Untuk pasar Asia, kami fokus pada lukisan yang bertema keindahan dan berwarna cerah,” ujar staf galeri lagi. “Sementara di Eropa dan Amerika, di mana pasar sudah lebih dewasa, karya yang kami lelang lebih variatif.”

Kiri-kanan: Patung Johnnie Walker di Genting Dream; Petugas imigrasi Vietnam bergegas menuju posnya untuk memeriksa dokumen penumpang.

Pagi baru menyingsing saat kapal mendekati Mekong Delta. Gunung-gunung berbalut awan pagi menjulang di kejauhan. Tumpukan peti kemas bertetangga dengan hutan bakau. Genting Dream tengah merapat ke pemberhentian pertamanya: Saigon.

Penumpang diminta menempelkan stiker kode rombongan di baju, lalu digiring memasuki bus-bus yang berbaris di dekat tumpukan kontainer. Akibat telat datang, bus saya sudah menghilang, dan saya pun direlokasi ke bus yang didominasi turis Tiongkok. Pemandunya berbahasa Mandarin. Saya tak memahami semua kata-katanya, kecuali dua: ni hao ma dan xie xie.

Butler menata meja di kamar tipe Garden Penthouse di Genting Dream, kapal berisi 1.674 kabin.

Bus membawa penumpang ke situs-situs populer dalam sirkuit turis: Katedral Notre-Dame, Kantor Pos Besar, pasar, museum ini dan itu. Tur “lihat-lihat” yang singkat dan padat. Peserta berhenti sejenak di satu tempat, buru-buru memotret, lalu bergegas kembali ke bus, sementara saya lebih sering menanti di tepi jalan untuk menikmati kekacauan kota yang epik. Saigon adalah kota labirin di mana ribuan orang mengendarai sepeda motor dengan cara yang merisaukan. Di Jakarta, saat berjalan di trotoar, kita mesti waspada dengan sepeda motor yang menyodok dari belakang. Di Saigon, trotoar kerap berubah menjadi jalan raya dua arah.

Kembali ke kapal, saya menikmati makan siang di Mark Best Bistro, satu dari 35 gerai di Genting Dream. Pemiliknya, Mark Best, memupuk reputasinya lewat Marque, restoran yang pernah menyabet titel Restaurant of the Year versi Sydney Morning Herald. Bistro adalah bintang kuliner di Genting Dream. Meja-mejanya senantiasa penuh. Saya memesan dua hari sebelumnya dan berhasil mendapatkan satu selot yang tersisa di pukul 13.

Kiri-kanan: Es kopi susu ala Vietnam di sebuah warung di Nha Trang; Wahana Waterslide Park yang berada di dek paling atas Genting Dream.

“Sebenarnya tak ubahnya mengelola restoran di hotel, tapi hotel yang terapung,” jelas Mark Best tentang debutnya di atas kapal pesiar. Seperti di Sydney, sang koki mengandalkan menu-menu Barat, tapi kini dengan tambahan dua kreasi anyar yang disesuaikan dengan selera pasar Asia, yakni bubur “congee” khas Hong Kong yang dipadukan dengan foie gras; serta ikan kod Australia yang ditaburi andaliman Sichuan. “Orang Tiongkok suka dengan konsep semacam itu,” tambah Mark.

Kapal meninggalkan Saigon dan saya mengisi waktu dengan berkeliaran. Genting Dream mengoleksi fasilitas untuk semua anggota keluarga: kid’s club untuk anak, kelab malam untuk remaja, salon untuk ibu, pertunjukan striptease untuk ayah saat ibu terlelap di salon, serta kolam renang dan pentas teater untuk semua.

Kiri-kanan: Tangan penenun sutra di Nha Trang, salah satu lokasi transit kapal di Vietnam; Pentas China’s Got Talent pertama di kapal pesiar.

Itu pakem yang lumrah sebenarnya, karena itu tak lagi menjadi daya tarik utama. Ketika kini persaingan pesiar makin alot, operator pun berlomba-lomba menghadirkan wahana dan atraksi yang tak dimiliki pesaingnya. Di mata mereka, fasilitas lebih menjual ketimbang destinasi. Apalagi fasilitas bisa dimonopoli, tidak seperti destinasi wisata yang terbuka bagi semua kapal. Dengan logika itulah Genting Dream menghadirkan Johnnie Walker House pertama di kapal pesiar, kelab malam Zouk pertama di kapal pesiar, juga kasino Resorts World at Sea pertama dalam sejarah. Minum, pesta, dan judi. Kapal rasa Asia yang menggiurkan memang.

Genting Dream menyisir tepian timur Vietnam dan mendekati pemberhentian keduanya, Nha Trang. Di tepi laut, resor dan hotel berkerumun. Di salah satu lereng bukit, kastel bergaya Disney menjulang kikuk dalam kesendirian. Dari kota perjuangan Saigon yang menutup babak perang, saya berpindah ke kota wisata yang merayakan hidup.

Antrean penumpang memasuki kapal usai tur darat di Ho Chi Minh City.

Jangkar dilego. Getarannya mengguncang matras saya. Nha Trang tidak memiliki pelabuhan untuk kapal besar, sehingga Genting Dream terpaksa bersauh di tengah laut. Di sekitar kapal, perahu-perahu berseliweran. Para penumpangnya sibuk memotret. Tiap kali berlabuh, kapal ini memang senantiasa menyita perhatian. Bukan hanya karena posturnya yang gigantik, atau panjangnya yang melebihi tiga lapangan sepak bola, tapi lebih berkat tampilannya yang artistik. Kedua sisi lambung kapal dilapisi mural buatan Jacky Tsai, seniman yang pernah mendesain floral skull untuk Alexander McQueen. Jacky melukis ikan koi yang kalem, pesenam yang lentur, serta barisan pendayung perahu naga yang semangat. Mural dengan estetika oriental.

Di bawah siraman gerimis, penumpang melompat ke sekoci, lalu meluncur ke sebuah pelabuhan kusam. Dari sini, kami berpindah ke bus untuk kembali melakoni “tur lihat-lihat” yang ambisius: melompat dari satu objek ke objek lain, bertekad merangkum semua daya tarik sebuah kota dalam satu lawatan singkat. Sekali lagi, dalam bisnis pesiar, fasilitas kapal cenderung digarap lebih serius ketimbang tur-tur di darat. “Apa” lebih penting ketimbang “ke mana.”

Kiri-kanan: Sun deck di lantai 16; Valeria, butler asal Filipina yang bertugas melayani tamu di kabin suite.

Nha Trang sebenarnya tempat yang menyenangkan. Dibandingkan Saigon, jalan-jalannya lebih lapang dan lengang. Jalan di sini bahkan masih memberi ruang bagi xich lo, becak Vietnam yang kian langka. Tapi ini mungkin terakhir kalinya Genting Dream singgah di Nha Trang. Kelak, untuk pelayaran regulernya, kapal ini hanya mencakup rute Guangzhou, Hong Kong, serta Ha Long Bay dan Danang di Vietnam. Rute pendek yang disesuaikan dengan jatah cuti turis Asia.

Jangkar digulung dan matras saya kembali terguncang. Genting Dream meninggalkan Nha Trang untuk melanjutkan perjalanannya ke utara. Laut hari ini lumayan ganas. Angin bertiup kencang dan gelombang bergulung tinggi. Air menampar-nampar lambung, mengempas menjadi buih yang terlontar tinggi layaknya hujan yang mengucur dari bawah. Balkon saya di lantai 13 sampai basah kuyup.

Di momen itu, saya memilih menekuni hobi baru saya: keluyuran di kapal. “Terperangkap” seminggu di atas laut, saya mulai menikmati perjumpaan-perjumpaan acak yang menyenangkan. Suatu kali, saya bertemu butler asal Turki yang semringah karena berhasil menemui turis Muslim asal Indonesia. Di hari yang lain, saya tak sengaja melihat Surya Paloh sedang merenung di teras restoran. Hari yang lain lagi, seorang remaja tanggung asal Tiongkok berjalan-jalan dengan mengenakan singlet putih bertuliskan “SEX, GYM, PROTEINS, SHAKES.”

Kiri-kanan: Ayam Sichuan di restoran Food Federation; Sebuah kedai di kota tua Hoi An, anggota Situs Warisan Dunia.

Pagi baru kembali dibuka. Seperti pagi-pagi lainnya, butler pria Eropa yang rupawan dan butler wanita Tiongkok yang ayu mengetuk pintu kabin untuk menghidangkan anggur dan jeruk, mengganti botol air minum, mengisi ulang kapsul-kapsul kopi. Selepas mereka biasanya muncul seorang gadis tambun yang bertugas merapikan seprai dan memungut semua cangkir kotor. Berbasa-basi dengan kelasi bagaikan hiburan saat saya terlalu malas beranjak dari kabin.

“Kapal ini bagus, tapi servisnya jauh di bawah standar,” ujar Charles, seorang kakek asal Singapura, yang berbagi meja dengan saya saat sarapan. “Mungkin karena ini pelayaran perdana dan kapal belum siap 100 persen.”

Bersama istrinya, Charles mengaku rutin berpesiar beberapa kali per tahun, menggunakan kapal yang berbeda-beda. Sekitar sebulan sebelumnya, dia mengikuti pelayaran dengan kapal Royal Caribbean membelah perairan Selat Malaka.

Area kasino yang dikelola Resort World Sentosa at Sea, bagian dari Grup Genting Hong Kong.

“Saya pensiunan, sudah sepuh,” kata Charles lagi. “Dengan pesiar saya bisa berjalan-jalan menikmati hidup tanpa harus repot. Semuanya tersedia di dekat kamar.” Cruise memang sejatinya sebuah taman rekreasi dengan wahana-wahana yang disebar di sekitar kasur. Sebelum saya beranjak dari restoran, Charles mencolek saya, lalu berbisik: “Pembantu saya asal Indonesia. Tiap kali pamit cuti untuk mudik, dia selalu mencium tangan saya. Kenapa ya?”

Lama didominasi oleh Star Cruises, bisnis pesiar di Asia kini makin kompetitif. Pemainnya beragam. Tawarannya lebih variatif. Tentu saja, tren itu tak semata dipicu oleh pertumbuhan ekonomi. Gairah berpaling ke “Timur” sebenarnya juga didorong oleh melempemnya pasar di wilayah lain. Awal tahun lalu, majalah The Economist melaporkan bahwa bisnis pesiar di Eropa sedang kalut akibat terorisme, sementara pasar Amerika mengalami kejenuhan. Bagi banyak operator, berpaling ke Asia mungkin bukanlah sebuah pilihan, melainkan keharusan.

Kiri-kanan: Patung di Johnnie Walker House; Kolam renang utama Genting Dream.

“Tapi kapal ini mungkin agak susah dijual di Indonesia,” ujar Michael, pakar pesiar dari deCruise, yang ikut serta dalam pelayaran perdana Genting Dream. Menurutnya, Genting Dream terlalu fokus pada kasino dan turis Tiongkok. “Fasilitasnya sih banyak, cocok untuk incentive group dan keluarga. Tapi ya itu tadi, mungkin enggak semua orang nyaman dengan gayanya.”

Kekhawatiran Michael beralasan, namun tak akan sirna dalam waktu singkat. Bisnis pesiar memang sedang merekah di Asia, tapi bagi banyak operator kapal, “Asia” sejatinya bersinonim dengan “Tiongkok.”

Kiri-kanan: Pentas Voyage of a Lover’s Dream di Zodiak Theater, Genting Dream; Perosotan warna-warni di Waterslide Park.

Berstatus negeri pemasok turis terbanyak, Negeri Tirai Bambu adalah mesin kas utama bagi industri pariwisata dunia. Menurut Oxford Economics, jumlah keluarga di mainland dengan penghasilan lebih dari $350.000 per tahun—syarat dasar untuk berwisata ke luar negeri—tumbuh dari enam juta menjadi 27 juta dalam 10 tahun terakhir. Statistik itu tecermin pula dalam profil penumpang pesiar. Dari 2,08 juta penumpang di Asia pada 2015, nyaris separuhnya berpaspor Tiongkok.

Demi menjala klien Tiongkok, operator pesiar mesti memastikan kapalnya sesuai dengan selera mereka. Itu artinya: menyediakan banyak kru berbahasa Mandarin, restoran yang menghidangkan menu oriental, ruang khusus mahjong, serta pertokoan duty-free berisi merek-merek global. Dan yang disajikan bukan hanya hal-hal yang disukai. Segala yang membuat turis Tiongkok alergi juga mesti dihapus. Di Genting Dream misalnya, kita tak akan menemukan angka 14 di lift.

Gelanggang boling di zona hiburan Genting Dream.

Suatu malam, saya singgah di teater untuk menonton pentas bertajuk Voyage of a Lover’s Dream, contoh lain dari keinginan Genting Dream memuaskan turis Tiongkok. Dengan panggung yang menyerupai properti film karya George Melies, pentas ini dibuka oleh barisan wanita seksi yang menari-nari lincah dan pria-pria kekar yang bergelantungan dengan tali. Lampu aneka warna ditembakkan ke panggung. Video sureal berseliweran di layar. Musik mengguncang kursi penonton.

Di babak berikutnya, sejumlah pria melompat di atas trampolin, lalu bersalto di udara. Selanjutnya muncul dua pemain akrobat yang memeragakan keluwesan tubuh yang tak masuk akal bahkan bagi pecandu yoga sekalipun. Dalam tiap jeda antar-babak, seorang wanita kontet menuturkan narasi pentas dalam bahasa Mandarin.

Kiri-kanan: Sportsplex, fasilitas berisi lapangan bola basket, futsal, dan voli; Perahu nelayan melintasi Delta Mekong dengan latar kapal tanker.

Menurut brosur, pentas itu bercerita tentang seorang astronaut yang jatuh hati dengan seorang putri duyung. Tapi cerita agaknya bukan inti dari pertunjukan. Voyage of a Lover’s Dream adalah kabaret yang tak peduli dialog. Pokoknya heboh dan kolosal. Dramatis dan mendebarkan. Banyak bekerja, minim bicara. Sebuah kombinasi antara sirkus Cirque du Soleil dan Acrobats Hebei.

“Sebenarnya pentas ini menceritakan kisah yang romantis,” ujar Jasmine, seorang gadis asal Shanghai yang duduk di sebelah saya. “Tapi orang Tiongkok memang lebih menyukai atraksi yang seru. Banyak aksinya!”

Pentas kolosal Voyage of a Lover’s Dream dengan narasi berbahasa Mandarin.

Tontonan itu sejenak mengingatkan saya pada pengalaman menaiki Quantum of the Seas. Akhir 2014, dalam sebuah sesi “test-drive” di selatan Inggris, kapal milik Royal Caribbean itu menyuguhkan drama musikal Broadway Mamma Mia! Para penumpang menyukainya, tapi pihak operator kemudian memutuskan menghapusnya. Alasannya: kapal akan diboyong ke Tiongkok, dan turis Tiongkok, menurut keyakinan mereka, menggemari pentas yang royal aksi dan pelit narasi.

Hari kelima, Genting Dream transit di kota Danang, lalu kembali berlayar menuju Guangzhou dengan melewati pelataran Pulau Hainan. Di etape terakhir ini, laut kembali beringas. Sekujur tubuh kapal berulang kali mengeluarkan suara berderak layaknya ranting yang patah. Tapi orang-orang masih menikmati jam-jam terakhirnya di atas kapal. Kasino tetap ramai. Johnnie Walker House masih membuka botol-botol langka. Zouk Beach Club menggelar pesta di buritan.

Kiri-kanan: Kolam renang di Genting Dream; Kapal berlabuh di perairan Nha Trang di timur Vietnam.

Dalam bisnis pesiar, angin memang sedang berembus ke Asia. Dulu, banyak operator memandang kawasan ini sebagai rute “ekstra” yang cukup dilayani memakai kapal lawas. Sekarang, mereka berlomba-lomba menghadirkan armada terbaru, terbaik, dan terbesarnya di Asia. Pada 2006, operator veteran Costa Cruises menempatkan kapal pertamanya di Tiongkok. Pada 2015, Royal Caribbean merambah Shanghai dan Singapura. Tahun ini, Princess Cruises dan Norwegian Cruise melabuhkan kapal barunya di Asia.

Perang tersengit di atas laut berlangsung di Asia. Turis Indonesia mungkin tak selalu cocok dengan tawaran para operator, tapi yang pasti bisa memetik berkahnya: kita bisa mencicipi kapal-kapal terbaik tanpa harus terbang jauh, tanpa menderita jet lag, kadang tanpa harus mengajukan aplikasi visa.

Kapal polisi air melintas dengan latar gedung-gedung di Hong Kong, tempat transit Genting Dream.

PANDUAN
Genting Dream, kapal baru yang dirakit di Jerman dan dikelola oleh Dream Cruises (dreamcruiseline.com), melayani rute regulernya mulai November 2016. Kapal berbobot 151.300 ton ini berbasis di Guangzhou dan Hong Kong dengan rute terjauh mencakup Ha Long Bay dan Danang di Vietnam.

Tarif tergantung periode dan rute perjalanan. Untuk trip dua malam dari dan ke Hong Kong sebelum 31 Maret 2017, harga pembukaan mulai dari HK D1.999 (sekitar Rp3,4 juta) per orang khusus kamar tanpa jendela. Untuk tur-tur darat saat transit, jika tidak nyaman dengan tur sightseeing yang padat bersama rombongan, Anda bisa memesan paket free & easy dari pihak operator.

Genting Dream berkapasitas 3.352 penumpang yang ditempatkan di 1.674 kabin dan dilayani oleh 2.016 kru. Ukuran kabin mulai dari 13 hingga 224 meter persegi, mayoritas dilengkapi balkon pribadi. Menginap di tipe suite, penthouse, atau vila, tamu bisa menikmati servis dari sekitar 60 orang Dream Butler.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Januari/Februari 2017 (“Rasa Asia”).