Geladak SeaPlex yang menawarkan beragam wahana permainan mulai dari kolam renang, hingga layar raksasa.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Michael Foyle

Malam ini, Two70 tak lagi saya kenali. Beberapa jam sebelumnya, kafe ini menyuguhkan ruang bersantai yang dibingkai dinding kaca. Sekarang, ia telah berubah menjadi aula teater yang megah. Kaca melengkung yang tadinya menyuguhkan panorama laut disulap menjadi layar proyektor raksasa. Lampu-lampu sorot di langit-langitnya sibuk menembakkan cahaya.

Saya duduk di antara para pengunjung yang ripuh membidikkan kamera. Beberapa menit kemudian, belasan penari merangsek ke panggung untuk membawakan tarian yang mengentak-entak tubuh. Setelah itu, dari lantai kayu, seorang penyanyi menyembul dengan busana putih yang memancarkan bintang-bintang di angkasa.

Tak lama berselang, tiga pemain akrobat meluncur dari lubang di plafon dengan tubuh yang terikat tali, lalu memeragakan aksi yang memantik emosi. Seantero teater sumringah. Kendati narasinya sulit terbaca, pentas ini berhasil mengundang decak kagum. Suguhannya yang tak kalah dramatis adalah layar proyektor sepanjang 30 meter yang memutar video surealis, ditambah enam tangan robot yang bermanuver lincah menembakkan cahaya. Mata saya seolah diajak berlari-lari untuk menangkap gambar dan warna yang gesit berseliweran.

Two70 yang bisa diubah menjadi arena pertunjukan.

Starwater, nama pertunjukan kolosal ini, menggabungkan apik teknologi video mapping mutakhir dengan kabaret modern. Sebuah kombinasi yang mahal dan rumit tentunya. Penciptanya adalah sosok-sosok penting di dunia hiburan. Ada Moment Factory, agensi multimedia dengan klien menyilaukan sekaliber Cirque du Soleil dan Madonna. Selain itu, ada nama Geneviève Dorion-Coupal, sutradara artistik yang pernah menangani musikal Les Misérables dan Chicago.

Sudah sejam berlangsung, gambar dan suara terus berkelebat di atas panggung. Penonton seperti terhipnotis, tenggelam dalam riuh pujian dan tepuk tangan. Di ujung pentas, klimaks akhirnya tercapai: belasan penari berkostum The Great Gatsby menggebrak dengan lagu Happy dari Pharrell Williams, lalu mengajak semua orang bergoyang. Segenap aula pun berubah menjadi kelab dansa massal yang gemuruh. Tapi tubuh saya masih melekat di kursi, berusaha membayangkan bagaimana semua kehebohan ini bisa tersaji di atas kapal, di tengah laut, di sebuah kafe.

Meninggalkan kemeriahan, saya mencari udara segar di geladak. Angin kencang memukul-mukul wajah dan membekukan jari. Lagu Happy sayup-sayup masih terdengar. Saya menatap gulita yang mendekap English Channel. Malam ini, Quantum of the Seas bagaikan bahtera yang menyala oleh histeria dan tawa.

Kiri-kanan: Quantum of the Seas menawarkan beragam hiburan mulai dari tarian hingga drama musikal; Starwater, pertunjukan yang mengawinkan tarian, teater, dan video mapping.

Quantum adalah berita terbesar dalam bisnis pesiar pada tahun lalu. Merujuk data Cruise Market Watch, dari total enam kapal yang diluncurkan dunia pada 2014, Quantum merupakan yang terbesar dalam hal kapasitas. Kapal ini dirakit di Jerman, dikelola oleh perusahaan Amerika, dan rencananya bakal ditambatkan di Shanghai untuk melayani turis mainland berkocek tebal yang haus liburan. Namun, sebelum melayani pesanan tamu, Quantum diwajibkan melakoni “test-drive” di perairan Inggris. Tur debut inilah yang saya ikuti.

Saya menaikinya sehari silam di Southampton. Datang di awal November, langit kelabu senantiasa memayungi tanah Inggris. Sebenarnya musim dingin belum dimulai, tapi udara sudah menusuk tulang. Terbang 11.000 kilometer dari negara tropis, saya seperti anak pantai yang dijebloskan ke kulkas. “Untuk standar Inggris, November kali ini sebenarnya terbilang sangat hangat,” ujar seorang pria yang saya temui di London beberapa hari sebelumnya. Saya duduk di sampingnya sembari membekap jaket.

Saya menjangkau Southampton dengan bus berdurasi dua jam dari London. Tiba di pelabuhan, sosok kapal yang menohok langsung tertangkap mata. Panjangnya setara tiga lapangan sepak bola. Bobotnya empat kali Titanic. Menjadikan Southampton titik keberangkatan sepertinya dilandasi oleh kesadaran akan masa silam. Tak banyak tempat ideal di Inggris untuk mengukir sejarah maritim. Dari kota mungil di selatan negeri inilah pada 1620 Mayflower memberangkatkan kaum separatis Pilgrim Fathers ke Amerika. Kita mungkin juga ingat, dari kota bandar ini pada 1912 RMS Titanic melakoni ekspedisi perdana dan terakhirnya. Nahas memang, karena kapal itu kandas usai menabrak bukit es dalam perjalanan ke New York, lalu tenggelam ke dasar Samudra Atlantik Utara.

Kapal Quantum of the Seas yang berbobot empat kali Titanic tengah bersandar di Southampton.

Southampton juga punya peran vital dalam hikayat Inggris sebagai salah satu kutub ekonomi dunia. Dari pelabuhannya, kaum niagawan dan barang-barang dagangan bisa menjangkau London melalui jalur kereta. Sejumlah sejarawan bahkan menjuluki kota ini “gerbang kekaisaran.” “Pada masa kejayaannya, tidak berlebihan untuk mengatakan Kerajaan Inggris dimulai dan berakhir di kota dan pelabuhan Southampton,” tulis Miles Taylor dalam buku Southampton: Gateway to the British Empire.

Langit kelabu masih menggantung di langit. Orang-orang bergegas memasuki kapal sebelum hujan benar-benar mengguyur. Berkat sistem check-in personal memakai bantuan tablet, penumpang bisa mencapai kabin dalam waktu singkat. Quantum dinobatkan sebagai “smart ship” pertama di dunia. Tapi teknologi tak cuma dipakai dalam proses check-in. Di banyak sudut interior, kita bisa menemukan layar sentuh yang menjabarkan jadwal pentas dan denah kapal. Di pergelangan saya melingkar gelang elektrik yang berguna untuk membuka kunci kamar dan merekam catatan reservasi restoran.

Trompet ditiup dan kapal ini pun menarik sauhnya. Ini wisata pesiar pertama saya. Sebenarnya saya pernah mencoba hampir segala jenis moda laut: kelotok yang bising, yacht semulus porselen, pinisi yang perkasa, junk boat yang tangguh, hingga kapal selam yang membuat nyeri gendang telinga. Tapi satu-satunya persentuhan saya dengan kapal berbadan besar adalah feri penuh kecoa dari Gorontalo ke Togean. Dibandingkan pengalaman traumatis itu, menaiki Quantum tak ubahnya sebuah lompatan peradaban.

Desain interior Quantum of The Seas memaksimalkan penetrasi cahaya alami.

Nakhoda dijadwalkan membawa biduk raksasa ini membelah Sungai Test, lalu mengarungi English Channel yang memisahkan Inggris dari daratan Eropa Barat. Selama tiga hari, Quantum akan berlayar ke arah Laut Celtic, lalu berputar kembali ke pelabuhan awal. Seorang kelasi menyebut perjalanan ini, “cruise to nowhere.” Tak ada titik pemberhentian. Tak ada kota tujuan.

Tapi “tujuan” memang tak pernah jadi isu dalam bisnis pesiar. Semenjak warga dunia rajin melancong dan Google membuat bumi kian mengecil, kapal pesiar tak lagi mengandalkan “destinasi” untuk memikat klien. Kota-kota persinggahan dalam rute pelayaran lebih berfungsi sebagai jeda dari limbung dan mabuk laut. Seperti Harley Davidson, bisnis pesiar menganut moto, “It’s not the destination; it’s the journey.”

“Di Eropa dan negara-negara maju, yang kita jual bukan lagi kota-kota tujuan, karena semua orang mungkin sudah pernah ke sana. Kita lebih menjual fasilitas di kapal,” ujar Andi Indana, staf Royal Caribbean, perusahaan yang mengoperasikan Quantum.

Kiri-kanan: Salah satu instalasi seni yang dipasang di Quantum of the Seas. Patung ini karya seniman Lawrence Argent; pelayan restoran Wonderland siap berkeliling membagikan camilan.

Kapal seharga $1 miliar ini bagaikan hasil kawin silang antara mal, hotel, dan taman rekreasi. Fasilitasnya beragam. Restorannya variatif. Wahananya beraneka rupa. Quantum bagaikan sepiring menu yang ramai buatan koki gastronomi molekuler.

Kapal ini terbagi menjadi 18 lantai dan menampung 2.090 kamar. (Bandingkan dengan Four Seasons Jakarta yang terdiri dari 17 lantai dan berkapasitas hanya 320 kamar.) Dalam kapasitas maksimal, Quantum bisa memuat 4.000 penumpang dan 1.500 kru. Layaknya hotel, kamar-kamarnya terpecah ke dalam beberapa kelas. Fasilitas standarnya meliputi smart TV dengan movie on demand, toiletries merek Gilchrist & Soames, serta shower dengan air panas. Saya sempat mengecek sejumlah kamarnya. Konsepnya relatif simpel. Sentuhan desain sangat minim. Di kamar kategori terendah, interiornya lebih mirip kamar hotel Ibis. Tapi kesederhanaan ini sepertinya disengaja. Kapal pesiar adalah soal bersenang-senang di luar kamar.

Instalasi seni di ruang publik tampil atraktif. Di lorong berkilau dekat butik Bulgari, saya menemukan instalasi video berupa layar LED yang didesain melengkung layaknya tubuh DNA —kreasi apik perupa Spanyol Daniel Canogar yang bertujuan merefleksikan gerakan likuid gelombang laut. Di sudut yang lain, ada dinding setinggi delapan lantai yang memuat 210 instalasi kupu-kupu karya Paul Villinski asal Amerika. Naik ke dek puncak menggunakan lift, saya menemukan beragam wahana yang lazimnya hanya tersaji di theme park. Siapa yang menyangka kita bisa melakoni skydiving indoor di atas kapal? Atau memanjat dinding? Atau bermain selancar dengan arus buatan?

Kiri-kanan: Di geladak, anak-anak juga dimanjakan dengan beragam permainan. Salah satunya adalah tembok panjat tebing ini; tamu bisa menikmati semua permainan secara sonder bayar, termasuk permainan Indoor Sky Diving.

Kapal pesiar memang bisnis modern yang menghidupkan memori kita akan petualangan-petualangan bahari yang agung. Tapi ia sejatinya bukanlah ekspedisi Kapten Ahab yang mendebarkan ataupun petualangan pinisi Bugis yang jantan. Pesiar di zaman ini lebih merupakan sebuah perayaan kemewahan, dan Quantum adalah testimoninya yang sempurna. “Dibandingkan pesiar lain, Royal Caribbean selalu menawarkan wahana yang variatif,” ujar Michael Chandra, pakar pesiar dari biro perjalanan deCruise. “Perusahaan ini rajin memanfaatkan teknologi canggih untuk menciptakan tawaran-tawaran baru.”

Sebelum menutup malam pertama dengan menonton pertunjukan canggih Starwater di dekat buritan, saya menikmati makan siang di Jamie’s Italian. Ini restoran koki selebriti pertama dalam keluarga besar Royal Caribbean, perusahaan yang mengoperasikan 21 kapal. Sang koki, Jamie Oliver, bahkan datang langsung untuk meresmikannya, termasuk menyiapkan aneka jamuan comfort food berbahan daging, zaitun, dan keju yang menjadi ciri khasnya.

Melihat segala tawarannya, Quantum sepertinya hendak mengirimkan pesan penting: bersenang-senang di atas laut tidak ada batasnya. Quantum mengajak saya memulai pagi dengan cara yang tak wajar: menyimak musik dari DJ yang “melayang” di atas lapangan bola basket.

Sajian pencuci mulut di Jamie’s Italian, restoran koki selebriti pertama dalam keluarga Royal Caribbean.

Kapal ini sudah menempuh separuh perjalanannya. Di utara saya terbentang daratan Inggris. Di selatan, Prancis. Hari ini, langit lebih cerah, tapi udara masih berkesiur membawa dingin. Usai sarapan, saya meluncur ke SeaPlex, kompleks hiburan yang bersarang di lantai 15, di mana seorang DJ tengah memutar musik di dalam sebuah mangkuk yang terkoneksi ke crane hidraulis. Dia bisa bermanuver luwes ke sudut-sudut lapangan di bawahnya.

SeaPlex adalah wadah yang multifungsi, juga multiusia. Di jantungnya terdapat lapangan bola basket yang dilengkapi enam ring dengan ketinggian yang bisa disesuaikan dengan ukuran tubuh para pemainnya. Setelah ring dilipat ke plafon, lapangan beralih fungsi menjadi area bumper cars, sepatu roda, atau sirkus tali trapeze. Di sekitarnya, tersebar zona pingpong, tabletop football, dan studio Xbox. SeaPlex seperti fasilitas impian di acara MTV Cribs.

SeaPlex memang fenomenal, tapi gelar wahana paling spektakuler sepertinya lebih patut diberikan kepada North Star. Fasilitas hiburan baru ini terpasang di puncak kapal. Desainnya seakan mengetes batas-batas rekayasa sipil dalam industri perkapalan. North Star menempatkan penumpang dalam kapsul layaknya London Eye, lalu mengangkatnya hingga ketinggian 92 meter guna menikmati panorama aerial dari mata seekor burung.

Kiri-kanan: Wahana sky diving indoor, salah satu wahana menarik yang tersedia di Quantum of the Seas; North Star yang bisa membawa tamu ke atas hingga ketinggian 92 meter.

“Royal Caribbean adalah yang paling laris di kalangan turis Indonesia,” ujar Michael Chandra lagi. Dia sudah bergelut dalam dunia biro perjalanan selama 32 tahun dan menekuni wisata pesiar selama enam tahun. “Tiap operator punya target berbeda. Royal Caribbean lebih fokus pada segmen keluarga.” Dalam kompetisi pesiar internasional, pesaing terdekat Royal Caribbean adalah Disney Cruise, operator yang mengelola empat kapal yang diformat menyerupai Disneyland.

Di kapal sepanjang 350 meter ini, saya mengisi hari dengan menembus banyak palka, berpindah dari satu lantai ke lantai lain. Ombak kadang terasa kencang, membuat tubuh saya doyong seperti orang mabuk. Ukuran kapal yang begitu tambun membuat saya kerap kehilangan orientasi arah. Sukar mengetahui di mana buritan dan di mana anjungan. Jika Quantum adalah sebuah kota, ia agaknya bisa disejajarkan dengan Dubai. Kapal ini dirancang dengan semangat yang superlatif dan hasrat yang hedonis: menampilkan apa saja yang bisa dibeli dengan uang (dan sanggup dibayar turis).

Dan seperti juga Dubai, Quantum menganut moto sederhana: “tak ada yang tak mungkin.” Di suatu sore, saya menyempil di sela kerumunan yang terbius menatap sepasang tangan robot yang sibuk meracik minuman. Layaknya mixologist bionik, kedua mesin itu bergerak cekatan menjepit gelas, mengambil kubus-kubus es, menyedot cairan dari satu botol ke botol lain. Fantasi saya sejenak melayang ke bar futuristik di pesawat Starship Enterprise.

Robot mixologist di Bar Bionic yang siap memanjakan tamu dengan minuman racikannya.

Kapal ini memang tak sungkan untuk mencuri perhatian. Quantum menampung 18 gerai F&B di atas lambungnya. Selain Jamie’s Italian, gerai tersohor lainnya adalah Michael’s Genuine Pub karya koki Michael Schwartz, serta Devinly Decadence dari Devin Alexander, pembawa acara America’s Chefs on Tour. Kehadiran mereka merupakan bagian dari strategi revolusioner yang dijuluki dynamic dining. “Dulu, seluruh penumpang ditempatkan di satu aula makan besar. Tapi kini kami memakai konsep dynamic dining,” ujar Carol Schuster, Senior Vice President Marketing Royal Caribbean. “Kami mengembalikan pilihan ke tangan penumpang.”

Pesiar dirancang bagi pelancong yang menyukai wisata tanpa segala kerepotan sebuah aktivitas wisata. Kita bisa menyambangi restoran tanpa menaiki kendaraan, menikmati theme park tanpa membeli tiket, bahkan bermain selancar tanpa menyentuh laut. Jika mau, kita juga bisa bermain poker di kasino tanpa menunjukkan paspor. Dalam pesiar, kita seperti berkelana ke banyak tempat di atas satu tempat.

Seperti industri penerbangan, bisnis pesiar juga terpengaruh oleh fluktuasi harga minyak. Tapi tantangan terbesarnya adalah “membuat pertaruhan.” Belanja bahan bakar hanya menghabiskan sekitar 12 persen dari biaya operasional, sementara kemampuan “bertaruh” menentukan hidup-matinya sebuah kapal. Carol Schuster menjelaskannya: “Kami menyebar kapal ke banyak wilayah di dunia. Di sinilah letak pertaruhannya. Misalnya kami menempatkan kapal di Eropa, lalu krisis ekonomi melanda, hingga pasar pun terpukul. Kami tidak bisa begitu saja mengubah jadwal perjalanan, karena banyak tamu sudah memesan jauh hari, kadang lebih dari setahun sebelumnya.”

Kolam renang berukuran lapang yang menjadi bagian dari SeaPlex.

Pertaruhan serupa bakal dibuat untuk Mamma Mia!, bintang utama di Quantum. Royal Caribbean memboyong pentas musikal ini dari Broadway, lalu menjadikannya pentas Mamma Mia! terapung satu-satunya di dunia. “Pentas ini dibuat persis sama dengan Broadway,” ujar MC saat membuka acara. Karya ini digarap oleh duet genius sutradara Phyllida Lloyd dan koreografer Anthony Van Laast, dua figur di balik kesuksesan film Mamma Mia!.

Mamma Mia! menggugah ratusan penonton selama dua jam. Mereka kadang ikut bernyanyi saat tembang-tembang klasik didendangkan, sebut saja Dancing Queen dan Take a Chance on Me. Dengan standar Broadway yang nyaris tanpa cela, para artis menyuguhkan kombinasi apik antara kemampuan bernyanyi, menari, dan berperan di atas panggung megah yang mereplika pesisir Yunani. Di akhir pentas, karya yang terinspirasi lagu-lagu ABBA ini menerima luapan tepuk tangan. “Dibandingkan pentas yang saya saksikan di Broadway, Mamma Mia! di sini menghadirkan pengalaman menonton yang lebih nyaman,” ujar Gustasp, penulis lepas asal India, saat kami menikmati makan malam seusai pentas. “Di Broadway, kursinya lebih sempit dan sudah lapuk. Penataan kursi juga kurang curam, sehingga pandangan saya terhalang orang-orang yang duduk di depan.”

Tapi, benarkah bersenang-senang tidak ada batasnya? Dengan biaya pembuatan kapal mencapai triliunan rupiah, pesiar adalah bisnis yang luar biasa mahal. Kalkulasi bisnis yang jitu menjadi napas yang menggerakkannya—dan pasar yang menyuplai oksigennya. Adam Goldstein, President Royal Caribbean, tengah mempertimbangkan untuk merelokasi pentas Mamma Mia! ke kapal lain. “Juni 2015, Quantum akan ditempatkan di Shanghai. Kami sudah menempatkan dua kapal di sana. Dari pengalaman itu, kami belajar, turis Cina lebih menyukai pentas dengan sedikit dialog.”

RRC adalah kekuatan ekonomi yang sangat diperhitungkan, terutama saat ini, sebuah masa ketika pasar dan modal tengah mengalami perpindahan kutub. Bisnis apa pun yang berniat menjala uang dari RRC wajib memperhitungkan selera warganya. RRC adalah batas untuk bersenang-senang. Tapi saya sebenarnya tak hendak mengeluh. Saya sedang mengalami lompatan peradaban—peradaban yang tengah bergeser perlahan ke Asia.

PANDUAN
Rute
Quantum akan berada di Singapura pada 12 Juni 2015 untuk diperkenalkan kepada publik ASEAN dengan melayani rute Singapura-Port Klang (Kuala Lumpur)-Singapura. Selanjutnya, mulai 25 Juni hingga awal 2016, kapal ini akan ditempatkan di Shanghai untuk melayani beragam rute di Asia, seperti ke Okinawa, Fukuoka, Seoul, dan Taipei. Tiket untuk seluruh rute sudah ditawarkan ke publik.

Daya Tarik
Quantum mengoleksi 18 restoran, termasuk Jamie’s Italian terapung pertama di dunia, Michael’s Genuine Pub karya Michael Schwartz, serta Devinly Decadence dari Devin Alexander. Gerai yang paling atraktif adalah Bionic, bar yang menampilkan dua tangan robot sebagai mixologist. Quantum juga memiliki wahana khas Royal Caribbean, contohnya panjat tebing, kasino, dan simulator selancar. Dua tawaran terbarunya yang memikat adalah indoor skydiving dan North Star. Setidaknya ada dua pertunjukan kolosal di kapal ini, yakni Starwater di Two70 dan Mamma Mia! di Royal Theater. Yang terakhir ini kemungkinan akan dipindahkan ke kapal lain dan digantikan oleh konser virtual grup musik Santa Fe & the Fat City Horns asal Las Vegas.

Info
Informasi seputar Quantum dan Royal Caribbean bisa disimak di royalcaribbean.com. Anda juga bisa menghubungi kantor perwakilannya di Jakarta di nomor telepon 021/3199-1312.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Januari/Februari 2015 (“Lompatan Kuantum“)