Bangunan utama The Retreat menampung restoran, bar dan pusat kebugaran.

Oleh Cristian rahadiansyah

Di Kudadoo, sarapan adalah prosesi yang panjang dan menyenangkan, walau bisa juga membingungkan.

Duduk di meja kayu, lima langkah dari laut, seorang pramusaji menyodorkan buku menu berisi daftar yang padat. Ada 29 jenis buah, sembilan macam sereal, 10 madu, delapan eggs benedict. Di cellar restoran, kata si pramusaji lagi, ada pula 50 opsi keju serta 80 label wine dan sampanye—andaikan tamu mau mencoba champagne breakfast.

Membuka pagi, waktu untuk memilih hidangan bisa lebih lama dari durasi menyantapnya. Tapi bukan itu saja daya tarik pagi ini. Selain menyodori pilihan menu yang eksesif, resor ini mengizinkan tamu mengatur sendiri waktu dan lokasi makan. Malas bangun awal, boleh sarapan pukul dua siang. Jenuh dengan suasana restoran? Silakan piknik di pantai.

Kompleks vila menyerupai kampung adat warisan zaman Kamakura, Jepang. (Foto: Kudadoo)

Saya sedang menginap di Kudadoo, resor yang dibuka pada Desember 2018 di Maladewa. Lokasinya di Lhaviyani Atoll, sekitar 40 menit menaiki pesawat amfibi dari Male. Resor ini bagian dari Crown & Champa, grup lokal yang menaungi total 10 properti. Salah seorang pendirinya, Lars Petre, terkenal sebagai perintis pariwisata di Maladewa. Resor debutnya yang dibuka pada 1988, masih beroperasi.

Sesuai namanya, resor Kudadoo ini beralamat di Pulau Kudadoo. Pulau ini rimbun dan mungil. Diameternya hanya 200 meter, tuntas dijelajahi dalam 10 menit—lebih cepat dari waktu yang saya habiskan saat memilih menu sarapan.

Baca Juga: 13 Resor Cantik untuk Isolasi Diri

Di serambi belakang pulau, ada 15 vila yang dinamai Residence. Bentuknya rumah panggung kayu yang tertancap di laut dangkal. Sebenarnya ada satu vila lagi, tapi tidak disewakan, lantaran didedikasikan untuk asisten pribadi tamu. Naomi Campbell menempatkan penata riasnya di sini tatkala datang tahun lalu.

Kudadoo menerjemahkan “kemewahan” sebagai “keleluasaan.” Ini yang membuatnya unik. Di sini, tamu dibebaskan mengatur hari sesukanya, layaknya sebuah liburan yang hakiki. Tak ada jadwal yang baku. Tak ada prasmanan yang riuh. Tak ada hari yang sama. Pendekatan itu dirangkum dalam semboyan “Anything, Anytime, Anywhere”—sebuah konsep servis yang revolusioner di Maladewa.

Kiri-Kanan: Aneka menu seafood di The Retreat; Butler pribadi menjemput tamu menaiki buggy.

Keunikan lainnya ialah arsitekturnya. Jika dilihat dari udara, resor ini sebenarnya tipikal Maladewa. Tak ada yang spesial. Hampir semua properti di sini menawarkan rumah-rumah panggung di laut pirus. Tapi begitu mendarat, kita akan menangkap perbedaan distingtif pada desain bangunannya.

Coba lihat misalnya bangunan utama resor yang dinamai The Retreat. Sosoknya menyerupai kuil Jepang. Lihat juga vila-vilanya. Tampilannya mengingatkan pada kampung adat warisan zaman Kamakura. Atapnya bermodel irimoya. Dindingnya terinspirasi partisi shoji. Interiornya mengaplikasikan estetika spasial Negeri Sakura: penataan tatami, pintu geser, area bathtub bergaya onsen.

Seperti di restoran, tidur di vila adalah pengalaman yang sarat pilihan: 11 jenis bantal, enam selimut, dua matras, delapan pewangi kasur, dari aroma kenanga hingga cendana. Ada pula sentuhan-sentuhan kecil yang atraktif: speaker Bang & Olufsen berbentuk pajangan dinding, kipas angin berdesain baling-baling perahu, juga ruang kongko berlantai transparan. Jika beruntung, di pagi hari, kita bisa melihat bayi-bayi hiu seliweran di kolong vila.

Piknik di pulau tak berpenghuni, salah satu kegiatan bagi tamu Kudadoo.

Pulau ini senantiasa terasa hening. Andaikan semua vilanya terisi, maksimum hanya ada 34 tamu, minus suara tangisan bayi, karena batas usia minimum tamu 15 tahun. Ditambah lagi, servis Anything, Anytime, Anywhere membuat jadwal orang kerap berbeda. Kecuali di momen-momen khusus seperti sesi kaviar sore, tamu jarang saling bertemu. “Pulau pribadi” adalah frasa klise yang terasa harfiah di sini.

Di kebanyakan resor, tamu memilih kegiatan dari daftar harian. Di Kudadoo, tamu menentukan sendiri mau melakukan apa, di mana, jam berapa. Untuk kelas yoga privat, butler akan memanggil Nandini, mantan juri turnamen yoga di India. Untuk piknik di pulau gosong, perahu akan disiapkan di dermaga.

Bahkan permintaan aneh pun dilayani. Umpamanya barbeku pukul dua pagi di pantai (pernah terjadi kata staf resor). Atau naik jet ski ke pulau tetangga, lalu kembali dengan windsurf (juga pernah terjadi).

Dek belakang vila dilengkapi area bersantai, kolam privat, dan akses ke laut. (Foto: Kudadoo)

Keleluasaan itu menggiurkan bagi tamu, tapi sebenarnya merepotkan bagi para staf. Kudadoo harus memastikan ada kru yang siaga dari setiap divisi. Kerani, yogi, fotografer privat, dan instruktur selam mesti siap menerima panggilan. Di restoran, 10 koki memasak bergantian siang dan malam. “Pulau ini terasa sepi, karena tamu mengatur kegiatannya sendiri,” jelas Bradley Calder, General Manager, “tapi sebenarnya kantor kami selalu luar biasa sibuk.”

Baca Juga: Hotel Ramah Lingkungan di Bali

Yang juga menarik, semua kebutuhan tamu sudah tercakup dalam tarif menginap—tawaran radikal lain dari resor ini. Membayar mulai dari $3.800 per malam (sekitar Rp50 juta sewaktu artikel ini ditulis), tamu akan mendapat “tiket terusan” untuk menikmati seluruh wahana, aktivitas, juga makanan dan minuman, tanpa dipusingkan oleh taburan harga.

Tentu saja, ada beberapa batasan. Anda bisa menenggak tiga botol Jack Daniel’s atau Taittinger per hari, tapi sampanye edisi vintage mengenakan biaya ekstra. Pijat boleh sepuasnya, namun terapis sudah pulang pukul 12 malam.   

Kiri-Kanan: Dek di The Retreat, mahakarya arsitek Yuji Yamazaki; Masjid berkubah emas di tengah Pulau Kudadoo.

Melalui model layanan “terserah tamu” itu, Kudadoo menyodorkan konsep baru liburan mewah di Maladewa. Sementara lewat kebijakan tarif all inclusive, resor ini merombak rumus “untung-rugi” di industri perhotelan. Sebenarnya ada resor lain yang menerapkan sistem serupa, namun spa dan wine tidak tercakup dalam tarif.

Jika ada satu lagi aset Kudadoo yang menjadikannya bintang baru di Samudra Hindia, jawabannya ialah konsepnya yang ramah lingkungan. Inilah mungkin resor yang kelak dipilih Greta Thunberg untuk berbulan madu.

Resor ini mengharamkan sedotan dan botol plastik. Di kamar mandi, sabun dan samponya memakai produk biodegradable buatan Healing Earth asal Afrika Selatan. Sementara di restoran, walau banyak bahan dapurnya diimpor, residu makanan diolah menjadi pupuk.  

Konstruksi resor juga memperhatikan kelestarian alam. Seluruh vila dirakit dari kayu tersertifikasi asal Indonesia, Selandia Baru, serta Kanada. Di sisi interior, kebutuhan lampu dan AC berhasil direduksi signifikan berkat desain yang arif. Tamu cukup menggeser semua pintu dan gorden untuk membiarkan angin dan cahaya natural melenggang masuk—keputusan yang mungkin akan dilakukan tanpa peduli soal konservasi, demi berjaga-jaga andaikan lumba-lumba lewat di muka vila.

Atap The Retrat dilapisi 984 panel surya yang memproduksi listrik 319 kilowatt per jam. (Foto: Diego De Pol/Kudadoo)

Tak kalah mengejutkan ialah sumber energinya. Kudadoo merupakan resor pertama di Maladewa dengan 100 persen listrik bersumber dari tenaga matahari. Gedung The Retreat dipayungi 984 panel surya yang memproduksi listrik 319 kilowatt per jam, cukup untuk kebutuhan harian seantero pulau.

Uniknya, teknologi tenaga surya di sini diterapkan tanpa mengorbankan estetika. Alih-alih disembunyikan, solar panel diintegrasikan dalam desain dengan ditata berjenjang di atap. Hasilnya sebuah kontras yang unik: kubah pixelated memayungi kuil zen.

Berkat desainnya yang progresif, Kudadoo menuai banyak pengakuan internasional. Properti muda ini masuk nominasi Dezeen Awards dan Asia Pacific Hotel Awards. Tak lama usai diresmikan, ia tercantum dalam daftar Hottest Designed Hotels versi Architectural Digest.

Kiri-Kanan: 5.8 Undersea Restaurant di resor tetangga Hurawalhi, lima menit naik speedboat dari Kudadoo; Dek menuju 5.8 Undersea Restaurant.

Selain bersinar di karpet merah, Kudadoo ternyata menjanjikan secara finansial. Dalam catatannya, arsitek resor Yuji Yamazaki mengklaim investasi panel surya senilai $2 juta dolar akan balik modal dalam lima tahun. Resor ini membuktikan, ramah lingkungan ternyata juga menguntungkan. Pertanyaannya kemudian, kenapa resor lain tidak menempuh langkah serupa?

“Ukuran resor sangat berpengaruh,” jawab Bradley. “Untuk saat ini, sistem tenaga matahari hanya ekonomis untuk resor berukuran kecil.”

Baca Juga: 10 Hotel Legendaris di Asia

Bradley memberi contoh resor tetangga Hurawalhi, juga bagian dari Grup Crown & Champa. Panel suryanya jauh lebih banyak, tapi hanya mampu memasok 40 persen kebutuhan listrik lantaran resor ini menampung 90 vila dan empat restoran, termasuk 5.8 Undersea Restaurant yang memukau tapi boros AC.

Di sisi lain, tambah Bradley, Kudadoo turut ditunjang oleh keberadaan Hurawalhi. Listriknya bisa lebih dihemat berhubung banyak karyawannya diinapkan di Hurawalhi, sekitar lima menit menaiki speedboat. Singkat kata, Kudadoo mandiri dalam hal energi, tapi belum sepenuhnya independen secara operasional.

Maladewa, gugusan impian banyak orang, tak luput dari problem pemanasan global. Banyak resor mengambil inisiatif untuk menjawab tantangan itu, misalnya dengan menyunat sampah dan menanam karang. Terlepas dari keterbatasannya, Kudadoo adalah satu terobosan berani yang memberi teladan bagi para pelaku industri wisata. Anda hanya perlu rekening cukup tebal untuk merasakannya.

Pesawat amfibi privat melayani antar-jemput tamu Kudadoo. (Foto: Kudadoo)

Panduan
Resor all-inclusive khusus dewasa Kudadoo Maldives Private Island (kudadoo.com; mulai dari $3.800) menaungi 15 unit vila dengan ukuran terkecil 300 meter persegi. Fiturnya meliputi kolam renang privat, televisi dengan saluran Netflix, serta sistem audio Bang & Olufsen. The Retreat, bangunan utamanya, menampung antara lain restoran, bar dan pusat kebugaran.

Resor tetangga Hurawalhi Maldives (hurawalhi.com; mulai dari $790) menawarkan 90 vila, lapangan tenis, dan empat restoran, termasuk 5.8 Undersea Restaurant. Berlokasi di Lhaviyani Atoll, Kudadoo dan Hurawalhi bisa dijangkau dari Male dalam waktu 40 menit menaiki pesawat amfibi.