Program Ramah Lingkungan 5 Hotel di Bali

Lewat beragam inisiatif, banyak hotel di Bali memperlihatkan komitmen yang kian serius untuk mengurangi dampak bisnis mereka terhadap lingkungan. Beberapa tampil menonjol, bahkan menjadi teladan.

Kiri-kanan: Dua orang turis sedang berjemur di Pantai Jimbaran yang terhampar persis di depan hotel Four Seasons Jimbaran, salah satu resor senior di Bali yang menerapkan sistem pengolahan sampah; kolam renang di vila dua kamar tidur di Six Senses Uluwatu, resor yang memiliki sertifikat dari World Green Council (busana: Biasa).

Oleh Yohanes Sandy
Foto oleh Danar Tri Atmojo

“Turis memproduksi sampah dua kali lipat lebih banyak dibandingkan masyarakat lokal,” jelas Abdul Manaf, Environmental Educator Bali WISE, organisasi yang memberdayakan kaum perempuan marginal melalui program daur ulang sabun bekas dari hotel-hotel di Pulau Dewata.

Membaca statistik ekonomi, sektor pariwisata merupakan penyumbang pendapatan terbesar bagi Bali. Jika dakwaan Abdul akurat, itu artinya pariwisata juga merangkap sebagai kontributor sampah terbanyak. Tahun lalu, populasi Bali sekitar 4,2 juta jiwa, sementara jumlah kunjungan turisnya menembus 13 juta.

Di Bali, khususnya di kawasan selatannya yang padat, sampah adalah isu besar yang mengusik, mencemaskan, dan belum tuntas terjawab. Anda mungkin masih ingat foto-foto viral sampah yang menumpuk di pantai dan menggenangi laut Bali. Sebagian orang berdalih itu “sampah kiriman” dari pulau lain. Tidak sepenuhnya keliru, walau juga tidak sepenuhnya akurat. Menurut Dinas Lingkungan Hidup Bali, dari 12.000 meter kubik sampah yang dibuang pulau ini per tahunnya, hanya sekitar 80 persennya yang dikelola dengan benar. Sisanya? Lari ke sungai, muara, laut—lalu terpampang di media sosial.

Sampah hanyalah satu contoh dari ekses samping pariwisata Bali. Industri ini masih memiliki banyak problem memusingkan lainnya, sebut saja eksploitasi air, alih fungsi lahan pertanian, serta polusi udara dan suara. Dengan inventori masalah yang tebal itu, tentu wajar jika pelaku pariwisata diminta turut memikul tanggung jawab. Berita bagusnya, industri perhotelan bersedia menjawabnya.

Banyak hotelier di Bali menunjukkan komitmen yang kian serius dalam merawat alam. Inisiatif yang mereka ambil variatif, mulai dari kebijakan mengganti sedotan plastik hingga menciptakan konsep kamar hemat energi. Grup Hilton, contohnya, telah menyetop pemakaian sedotan sekali pakai di seluruh jaringannya, termasuk di Bali. Juli silam, tiga properti grup ini Hilton Bali, Conrad Bali, dan Hilton Garden Inn Ngurah Rai Airport memutuskan untuk menghentikan pula penyediaan air minum kemasan botol plastik. “Ini hanya langkah kecil dari kami untuk mengurangi sampah di Bali,” ujar Nils-Arne Schroeder, Regional General Manager Hilton Indonesia & Timor-Leste.

Kiri-kanan: Desain semi-terbuka di Cliff Edge Villa, Alila Villas Uluwatu, resor yang menerima sertifikat EarthCheck di bidang desain; seorang staff hotel yang bekerja sebagai pengemudi Buggy Car di Six Senses Uluwatu.

Jika Hilton melangkah bertahap, Sarinbuana Eco Lodge memilih menganut konsep “hotel hijau” sedari awal. Penginapan yang bersemayam di kaki Gunung Batukaru ini mulai beroperasi pada 2000. Pendirinya duet konsultan lingkungan. Di kompleks guyub yang dikepung pepohonan rindang ini, sampah organik didaur ulang menjadi kompos. Sabun di kamar mandinya dibuat dari minyak kelapa dan kedelai. Hampir semua menu di restorannya diracik memakai bahan-bahan setempat, demi menyunat konsumsi bensin untuk distribusi.

Contoh-contoh terpuji itu meniupkan harapan bagi problem sampah di Bali. Tentu saja, keputusan hotel untuk lebih peka tidak bisa dilihat semata sebagai perwujudan niat baik, apalagi amal. Solusi mengatasi sampah sebenarnya sangat vital bagi kelangsungan bisnis mereka sendiri. Kebersihan Bali memengaruhi minat turis, dan minat turis menentukan tingkat okupansi kamar.

Dalam skala global, ekosistem industri kontemporer juga memberi tekanan kepada hotel agar lebih arif berbisnis. Rapor hotel kini diukur bukan hanya dari tingkat okupansinya, tapi juga kadar emisi, konsumsi energi, hingga kontribusinya ke lingkungan. Bagi publik saat ini, titel “hotel ramah lingkungan” sama pentingnya dengan penghargaan “kamar termewah.” Khusus lembaga internasional, sertifikat semacam ISO 14001 (sistem manajemen lingkungan) kerap dipertimbangkan dalam reservasi kamar atau ruang pertemuan hotel.

Apa pun insentif dan motifnya, ramah lingkungan terbukti menguntungkan, dan banyak hotel menyadarinya. Bagi properti yang sudah telanjur beroperasi, apalagi yang punya banyak kamar, setiap perubahan minor seperti membeli botol beling atau sedotan logam memang menuntut investasi besar. Akan tetapi, dalam jangka panjang, pengeluaran itu terbayar, bahkan memberi margin pendapatan operasional yang lebih tinggi.

Area berjemur Cliff Edge Villa, Alila Villas Uluwatu.

Usai memakai botol beling, ketiga properti Hilton di Bali yang saya sebut di atas sukses memangkas sekitar 500.000 sampah botol plastik dalam setahun. Menurut Norm Van’t Hoff, pemilik Sarinbuana, sistem pemisahan antara sampah organik dan sampah anorganik di propertinya berhasil menghemat biaya pembuangan sampah hingga 60 persen. Hijau itu mulia, juga berbuah laba.

Di Bali saat ini, terminologi seksi semacam nature-friendly, sustainability, atau eco chic kian jamak tertera dalam brosur hotel. Sebagian hotel bergerak lebih jauh dengan menciptakan profesi baru untuk menangani program konservasi, contohnya Sustainability Manager atau Environment Manager. Sebagian yang lain rela menggelontorkan ribuan dolar untuk menyabet sertifikat ramah lingkungan dari lembaga-lembaga internasional.

Tapi seperti apa sebenarnya hotel ramah lingkungan? Ada banyak definisinya. Tidak ada parameter tunggal untuk menakarnya. Tapi satu ciri utamanya ialah komitmen riil untuk mengurangi dampak bisnis terhadap lingkungan. Saya melompat dari satu hotel ke hotel lain di Bali untuk mencari contoh terbaiknya.

Banyak penginapan di Bali menunjukkan iktikad serius untuk mengurangi sampah. Di selatan pulau, sebuah resor memutuskan menaikkan level tantangannya: menghapus sampah hingga tuntas.

Sejak Agustus 2016, Alila Hotels & Resorts mengimplementasikan program Zero Waste to Landfill di keempat propertinya di Uluwatu, Ubud, Manggis, serta Seminyak. Sesuai namanya, program ini bertekad menghentikan secuil pun sampah yang dikirim ke tempat pembuangan akhir (TPA)—target ambisius yang berhasil digapai keempat resor Alila di Bali dalam tempo dua tahun.

Zero Waste to Landfill berangkat dari kesadaran bahwa tempat pembuangan akhir tidaklah mengakhiri masalah. Alih-alih, sampah yang ditumpuk di sini justru memicu problem baru: memproduksi gas metana beracun yang 20 kali lebih berbahaya dibandingkan karbon dioksida. Tak hanya itu, cairan yang merembes dan mengalir dari TPA kerap mengontaminasi lahan pertanian dan sumber air sekitar lahan pertanian dan sumber air sekitar.

Kiri-kanan: Barisan botol air minum yang siap diisi ulang di Six Senses Uluwatu; Zahra Ratna Sari, Sustainability Manager, di kebun sayur di Six Senses Uluwatu.

Untuk memahami cara Alila mengolah sampahnya, saya mengunjungi Alila Villas Uluwatu, kompleks yang menaungi 65 vila di tebing selatan Bali. Properti elok ini sudah lama tersohor berkat desainnya yang sangat progresif untuk standar Bali. Satu yang jarang diketahui tamu, Alila Uluwatu juga terpandang sebagai teladan dalam manajemen sampah.

Di antara vila-vilanya yang anggun, resor ini menyimpan instalasi pengelolaan sampah. “Fungsinya memisahkan sampah dan mengolah apa yang bisa kami olah,” jelas Hemal Jain, General Manager. Proses pengolahan itu relatif sederhana. Sampah plastik, keramik, dan beling dihancurkan untuk kemudian dijadikan kerikil, pasir, dan serat yang bisa dipakai sebagai bahan bangunan. Khusus materi plastik yang tak bisa didaur ulang, Alila menyewa pihak ketiga untuk mengolahnya menjadi minyak mentah, lalu menyulingnya menjadi bensin, solar, atau minyak tanah untuk digunakan kembali oleh pihak resor.

Perlakuan berbeda diberikan untuk sampah organik. Untuk sisa makanan dari restoran, Alila Uluwatu meleburnya menjadi pasta yang kemudian dikirim ke peternakan babi. Untuk bahan organik lainnya, resor ini menyulapnya menjadi pupuk kompos yang kemudian dipakai menyuburkan kebun organik. “Lumayan. Hasil dari kebun dapat memenuhi 20 persen kebutuhan dapur,” ujar Hemal, yang sebelumnya memimpin Alila Ubud.

Manajemen sampah Alila dilatari logika pragmatis yang visioner: sampah bukan semata residu, melainkan calon bahan baku. Ketimbang dibuang, benda-benda sisa operasional resor dimasukkan kembali dalam rantai produksi, diolah, diubah, diberi fungsi baru. Praktik cerdas yang menguntungkan, kecuali mungkin bagi pemulung.

Comments