D’Espeissis bukan cuma melawan tren bisnis lokal, tapi juga meruntuhkan stereotip global dalam industri minuman. Mereka membuktikan kepada dunia bahwa orang Italia tak cuma pandai meracik cappuccino.

“Dari kecil, saya gemar meracik sesuatu. Kebiasaan dari nongkrong bersama kakek,” kenang Nick, anak sulung dalam klan d’Espeissis. Perusahaannya sepenuhnya dikelola oleh keluarga. Adik Nick mengurus proses pembotolan, sementara ibu dan bapaknya menangani pengepakan. “Meracik bir simpel. Cuma ada tiga komponen penting: ragi, biji gandum, dan hops. Di sini kita bisa menemukan semuanya,” tambah Nick.

Produk Eagle Bay diekspor hingga Eropa dan Amerika. Rekening yang kian tebal memungkinkan pemiliknya berekspansi: mendirikan restoran, persis di samping pabrik. Buku menunya merefleksikan darah Italia dalam dinasti d’Espeissis: pasta dan piza tipis yang dipanggang di tungku kayu.

Kiri-kanna: Gua Ngilgi; pusat informasi di Gua Ngilgi.

Kembali ke mobil, saya meluncur ke arah barat daya, menembus jalan yang dipayungi pepohonan jangkung, menikmati lapisan-lapisan hijau Margaret River. Tujuan kali ini adalah sebuah gua di mana pertarungan abadi antara kebaikan dan kejahatan berlangsung lebih alot dari persaingan antara wine dan bir.

Gua Ngilgi menyempil di Taman Nasional Leeuwin-Naturaliste. Dalam mitologi Aborigin, lorong-lorong di sini bagaikan Padang Kurukshetra yang mempertandingkan roh jahat versus roh baik. Alkisah, Suku Wardandi rutin berkunjung ke sini guna mengambil air. Tapi roh jahat Wolgine lalu datang mengganggu hidup warga. Tak sudi melihat damai terusik, roh laut Ngilgi mengusir Wolgine dengan mengirimkan petir. Serangannya sukses. Wolgine kabur dengan menjebol tanah hingga menciptakan lubang yang menganga.

Larry Schoppe, pemilik Mongrel Creek.

Dari lubang itulah saya memulai ekspedisi caving. Saya menyusuri perut bumi, meniti ratusan anak tangga, merangsek kegelapan. Gua ini sudah lama dikenal oleh dewa Aborigin, tapi warga Australia lebih percaya Edward Dawson adalah orang pertama yang menemukannya. Edward, seorang petani, melihat gua secara tak sengaja lebih dari seabad silam. “Andai Edward tak punya nyali turun ke sini, mungkin pariwisata di Margaret River cuma sebatas wine,” ujar Mark, pemandu saya.

Ngilgi adalah aset penting Margaret River dalam memikat kaum petualang. Pemda setempat bahkan pernah mempromosikannya dengan mendatangkan penyanyi opera Dame Nellie Melba dan menggelar konser di rahim gua, 12 meter di bawah permukaan tanah.

Interiornya lembap dan pengap. Lorong-lorongnya sempit. Kata pemandu, beberapa lorong di sini menampung sarang ular. Saya terus melenggang di antara stalagmit dan stalaktit, melewati beragam kalsit berwujud absurd yang dipahat oleh tetesan air. Ada yang menyerupai kipas angin, mi, juga brokoli.

Saya terus turun hingga menyentuh kedalaman 37 meter. Pengunjung sebenarnya bisa meneruskan ekspedisi hingga kedalaman 62 meter menuju Lake Cave, laguna yang dihiasi formasi bebatuan unik. Tapi tur ekstrem ini hanya cocok bagi caver tulen. Butuh empat jam untuk menuntaskannya.