Demam wine di Margaret River dimulai pada 1960-an saat John Gladstones, pakar dari Departemen Pertanian, mendapati karakter tanah di sini cocok untuk budidaya anggur. Temuannya lalu dipresentasikan ke publik pada 1966. Setahun berselang, seorang kardiolog bernama Tom Cullity membuka kebun anggur komersial pertama di daerah Vasse Felix, sisi utara Margaret River.

Kini, Margaret River adalah sentra wine yang diperhitungkan. Sekitar 5.500 hektare kebun anggur di sini memasok kebutuhan bahan baku ke lebih dari 200 produsen wine. Merujuk statistik, dari setiap 10 botol wine premium yang diproduksi Australia, dua di antaranya bersumber dari Margaret River.

Kiri-kanan: Nick d’Espeissis, mantan akuntan yang beralih profesi menjadi ahli peracik bir; pramusaji di Eagle Bay, restoran sekaligus produsen bir.

“Seperti di Yarra Valley dan Hunter Valley, wine buatan Margaret River dikenal segar dan elegan. Bisa meningkatkan mood,” ujar Lisa Perrotti, Pemimpin Redaksi The Wine Advocate. Dalam peta wine dunia, Margaret River bertengger di kasta elite bersama kawasan ternama semacam Bordeaux.

Tapi bisnis wine di Margaret River tidak didominasi korporasi kakap. Pengusaha kelas UKM sanggup bersaing di pasaran. Contohnya Larry Schoppe. Saya menemuinya di Mongrel Creek, winery yang berusia lima tahun. Tempat ini dikelola oleh Larry bersama istri dan anaknya. Tidak ada staf ataupun bangunan mewah. Kantornya hanya berupa rumah kayu beratapkan seng yang dihiasi pernak-pernik kuno.

“Sudah jadi mimpi saya sejak lama untuk memiliki winery sendiri. Beruntung dulu saya membeli tanah di sini,” jelas Larry, pria berkulit keriput yang menyambut saya dengan hangat layaknya cucu dari perantauan. Baginya, wine bukan semata bisnis, tapi bagian dari hasrat hidup. Larry rutin mengajak tamu mencicipi shiraz produksi kebunnya. Dia juga menggelar tur mengelilingi kebun saban hari tanpa mengenakan biaya sepeser pun.

Buih-buih wine bukan satu-satunya amunisi Margaret River dalam memikat turis. Alam yang subur juga menumbuhkan banyak varietas tanaman industri lain, termasuk gandum, yang kemudian memicu bisnis bir. Di barat Dunsborough, bir bahkan mulai menyaingi pamor nektar sebagai magnet wisata.

Saya singgah di Eagle Bay Brewing Co., salah satu pelopor bisnis bir di Margaret River. Di lahan 20 hektare yang merengkuh pesisir, keluarga d’Espeissis yang berdarah Italia mengerek kerajaan bir di tengah kepungan kebun anggur. Keputusan yang berani memang.