Dinamika Dunia Seni di Yogyakarta

Komoditisasi menggerogoti dunia seni kontemporer Yogyakarta dan mengancam laju art boom. Harapan kini disandarkan pada seniman-seniman muda yang gigih melawan arus

Instalasi karya I Made Palguna dalam pameran solo yang dikuratori Heyeon Kim.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Ulet Ifansasti

“Yang ada,” kata Nindityo, “hanyalah art, tapi tanpa scene.” Di galerinya, Nindityo Adipurnomo memandang gelisah dunia seni kontemporer Yogya. Dia melihat betapa kekuatan modal begitu kuat mencengkeram. Kolektor sibuk menghampiri studio seniman, memborong karya-karya mereka, kemudian menimbunnya di rumah atau galeri pribadi. Akibatnya, publik kesulitan menikmati karya. Art tanpa scene. Seni tanpa diskursus. Inikah potret dunia seni kontemporer Yogya?

Nindityo adalah figur yang berperan vital dalam menyemai dunia seni Yogya. Kisahnya dimulai pada 1988 saat dia kembali dari studi di Belanda dan mendapati minimnya ruang seni alternatif. Lembaga-lembaga seni yang ada terlalu kaku dan bersikap birokratis. Dari situlah muncul ide mendirikan Rumah Seni Cemeti, kanal yang menampung karya-karya “progresif.” Dari rahim Cemeti jugalah kita berkenalan dengan sosok-sosok fenomenal semacam Agus Suwage, Heri Dono, dan Eddie Hara—generasi yang menembus sirkuit seni global. Tentu aneh jika kini orang yang menemukan bakat-bakat tersebut justru berbicara pedas tentang bisnis seni.

“Seni telah menjadi semacam fetishism,” kritik Nindityo lagi. “Karya yang masih segar, baru selesai dibuat di studio, sudah langsung dibeli, padahal belum sempat dicerna oleh publik dan kritikus. Cobalah pergi ke rumah-rumah kolektor, maka kita akan menemukan karya-karya seniman besar yang belum pernah sekalipun dilihat publik.”

Fenomena itu mengingatkan saya pada The Monuments Men, film tentang perjuangan sebuah tim penyelamat benda seni di masa Perang Dunia II. Dalam salah satu adegan, Frank Stokes (George Clooney), pemrakarsa tim tersebut, menjelaskan apa pentingnya mengembalikan karya-karya seni yang dicuri Hitler kepada publik: “Kamu bisa menghapus sebuah generasi, kamu bisa membumihanguskan rumah mereka, tapi entah bagaimana mereka bisa kembali bangkit. Tapi jika kamu menghancurkan sejarah mereka, kamu menghancurkan pencapaian mereka, maka mereka seolah raib selamanya.”

Kiri-kanan: Pelukis muda Justian Jafin di studionya di Dusun Geneng, Bantul; salah satu sudut Geneng, kampung dekat ISI yang pernah menjadi lokasi ajang mural Geneng Street Art.

Tanpa bermaksud menyejajarkan kiprah kolektor dengan fasisme (toh banyak kolektor berjasa “menghidupi” seniman), praktik komoditisasi memang mencemaskan karena menutup akses khalayak untuk melihat karya, juga akses kritikus untuk memberi perspektif dalam memahami karya tersebut.

Dalam komoditisasi, karya seni mengerdil menjadi barang dagangan, yang ditimbun dan dipertukarkan demi laba, tak ubahnya emas batangan atau batu akik. Seni pun terkikis perannya untuk menyentuh batin dan memperkaya peradaban. Itulah yang tengah melanda Yogya. Pasar bergerak agresif dan membanjiri sanggar dengan uang-uang panas, membuat kehidupan seni begitu riuh oleh gairah spekulasi. “Banyak orang membeli tak lagi dengan mata, tapi murni pakai telinga,” kata Nindityo. “Kolektor berdatangan, menyebut nama-nama seniman besar, hendak membeli karya mereka tanpa sempat melihatnya.”

Memasuki ruang pamer Cemeti, saya mendapati sejumlah karya anonim. Ada sebuah instalasi dari Eko Nugroho dan beberapa lembar drawing Eddie Hara, tapi nama mereka tidak tertera. Kebijakan tersebut, kata Nindityo, disengaja, sebagai bentuk perlawanannya terhadap komoditisasi. “Saya ingin orang kembali membeli dengan mata,” ujarnya.

Komoditisasi sejatinya bukan cuma merugikan publik. Pada akhirnya, praktik ini merusak kualitas seni di kalangan seniman. Di mata Nindityo, pasar telah merangsek begitu dalam hingga memengaruhi praktik berkesenian. Cobalah datang ke bursa seni, maka kita akan menemukan banyak karya berbau “replika,” misalnya dengan meniru gaya pop art Eko Nugroho atau wayang imajiner Heri Dono. “Banyak karya,” kata Nindityo, “bukan lagi dibuat dari pembacaan atas situasi di luar atau di dalam diri seniman, melainkan dari pengamatan pada katalog balai lelang tentang karya semacam apa yang laku.”

“Komoditisasi membuat seni tidak memiliki dampak apa pun ke publik di luar seniman dan kolektor,” ujar Agung Kurniawan, salah seorang seniman paling enigmatik di Yogya, yang pernah begitu frustrasi dengan komoditisasi hingga berhenti menjadi seniman dan menghabiskan hari-harinya dengan bermain PlayStation. “Banyak seniman kini kehilangan personalitas, karena mereka hanya mengekor karya-karya laris,” tambahnya.

Comments