Dua turis cilik bermain di kaki patung Flower Horse buatan Choi Jeong Hwa di pelataran Towada Art Center.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Fransisca Angela

Sesosok demit mengintip dari atap toilet umum. Sekujur tubuhnya laksana timah yang meleleh, sementara kepalanya melekat pada kaca dalam posisi terbalik. Saya tidak tahu apakah seniman Inges Idee berniat menebar horor atau tawa, tapi yang jelas patung buatannya membuat saya ingin lekas buang hajat.

Terpisah beberapa langkah dari hantu tukang intip itu, Yayoi Kusama mendirikan sebuah instalasi jenaka yang menyerupai area bermain Taman Kanak-Kanak. Isinya: seonggok labu kuning, tiga batang jamur tiram, seorang gadis yang tengah bermain dengan anjing-anjingnya. Khas Yayoi, semua objek itu ditaburi motif polkadot.

Mencermati ragam suguhannya, Towada Art Square adalah taman rekreasi yang mungkin diimpikan oleh banyak kota. Namun tempat ini sebenarnya tidak didesain semata untuk menghibur ataupun membuai mata. Di balik keindahannya, Towada Art Square memiliki peran vital sebagai siasat untuk bertahan hidup. Towada, kota kecil di utara Jepang, terus kehilangan penduduknya, dan melalui inovasi-inovasi kreatif ia berharap bisa mengatasinya.

Kiri-kanan: Unknown Mass, patung karya Inges Idee, diposisikan mengintip toilet umum; Nana dan Kenjiro, dua turis asal Kobe, sekitar 1.200 kilometer di selatan Towada.

Tiap kali saya mengutarakan rencana trip ke Towada, teman dan keluarga selalu memberi reaksi senada: “Di negara mana? Untuk apa ke sana?” Luput dari orbit turis, Towada memang kata yang masih asing di telinga banyak orang. Jangankan mengetahui lokasinya, mendengar namanya pun mungkin belum pernah.

Saya sendiri mengenalnya pertama kali lewat selembar foto. Awal 2017, seorang kenalan mengirimkan foto seekor kuda jingkrak dengan tubuh yang dilapisi aneka bunga. Usai menggali informasi lebih dalam, saya mendapati patung itu ternyata menyimpan kisah unik tentang perjuangan sebuah kota kecil dalam menjawab problem kependudukan. Sebuah problem yang sebenarnya juga melanda seantero Jepang, tapi selama ini tersembunyi dari mata turis.

Patung Ghost dan Unknown Mass di Art Square, persis di seberang Towada Art Center.

Towada, bagian dari Prefektur Aomori, bersemayam di belahan utara Pulau Honshu. Dari Tokyo, saya menjangkaunya dengan menaiki Shinkansen. Layaknya mobil F1, kereta peluru ini melahap jarak 680 kilometer—setara jarak Medan-Pekanbaru—dalam durasi cuma tiga jam. Tatkala bertemu gunung, Shinkansen  tidak menghindar, melainkan menerobosnya. Kadang saya merasa takjub sekaligus takut dibuatnya.

Jumat malam—malam pertama saya di Towada—saya menyusuri pusat pertokoan Inaoicho di jantung kota. Jalanan gelap dan senyap. Lampu-lampu telah dipadamkan. Padahal ini baru pukul delapan malam. Ketika Tokyo masih riuh oleh jutaan manusia yang berseliweran mencari makan dan hiburan, Towada justru sudah meringkuk di balik selimut. Ini memang tipikal kota kecil Jepang di mana hari ditutup lebih cepat. Khas kota kecil pula, tim sepak bolanya belum berlaga di liga utama J League; sebagian besar hotelnya tidak memiliki situs reservasi berbahasa Inggris; dan mesin-mesin ATM setempat hanya melayani kartu debit keluaran bank lokal.

Kiri-kanan: Warga berlatih tarian Bon Odori di Art Station Towada; Towada Art Center, kompleks yang didesain oleh Ryue Nishizawa.

Hari kian larut dan perut saya kian keroncongan. Setelah lama berjalan, saya akhirnya menemukan satu tempat yang masih terjaga, restoran Tonton Tonkatsu. Duduk di kursi kayu, saya memesan sepiring kari katsu yang hadir dalam porsi jumbo. “Orang dari Studio Tonton [firma arsitektur di Indonesia] sudah empat kali datang ke sini,” ujar sang koki dengan bahasa Inggris yang terbata-bata, usai mengetahui saya berasal dari Indonesia. Restorannya sepi. Hanya ada dua tamu: saya dan fotografer saya. Belakangan saya sadar sang koki bekerja solo, merangkap sebagai pramusaji, pencuci piring, juga pemilik restoran. Wajahnya terpajang pada logo di muka bangunan. Rasanya seperti makan di restoran Mbok Berek dan dilayani langsung oleh Mbok Berek.

Di atas peta, Towada lebih luas dari Jakarta, tapi populasinya lebih sedikit dari kapasitas Gelora Bung Karno. Fakta ini sebenarnya terbilang lumrah untuk kota-kota sekunder di Jepang. Yang mengkhawatirkan, jumlah penduduknya terus melorot akibat eksodus kaum muda dan rendahnya tingkat kelahiran. Jika pada 2000 Towada dihuni 69.000 jiwa, jumlahnya kini 62.000 jiwa.

Bagi saya, yang lahir dan menetap di Jakarta, berkelana di sini bagaikan melonggarkan ikat pinggang: lega dan leluasa. Macet adalah kata yang tak dikenal. Antrean manusia pemandangan yang langka. Akan tetapi, bagi Towada, tren penyusutan populasi sejatinya menghadirkan ancaman yang serius. Tenaga kerja produktif menyusut, sementara ongkos perawatan manula membengkak. Bagaimana proyek-proyek kreatif bisa menjawab problem pelik itu?

City Library, perpustakaan umum yang dilansir pada 2015 dan dirancang oleh arsitek kondang Tadao Ando

Saya datang ke Towada di pertengahan Juli, saat matahari sedang semangat bersinar. Hampir saban hari suhu menembus 32 derajat. Celakanya, kota ini praktis hanya bisa dijelajahi dengan berjalan kaki. Taksi sangat jarang. Uber absen. Bus lewat hanya dua-tiga jam sekali.

Suatu siang, saya mengarungi sudut-sudut kota di bawah guyuran terik. Jika pada malam hari Towada terasa angker layaknya tempat Sadako bergentayangan, pada siang hari suasananya lebih menyerupai permukiman guyub tempat Nobita dibesarkan. Rumah-rumah di sini dicetak rendah hati dengan langgam yang senada. Semua orang berpenampilan sederhana. Di jalan-jalan, mayoritas mobil sepertinya berusia lebih dari 20 tahun.

Kiri-kanan: Air terjun Choshi Otake, salah satu objek wisata di luar pusat kota Towada; Mark in the Space, karya seni sekaligus sarana rehat buatan Liu Jianhua.

Salah satu bangunan di sini yang jauh dari kesan bersahaja adalah Civic Center Plaza (CCP). Tubuhnya seperti hanggar. Atapnya mirip detak jantung manusia pada monitor di rumah sakit. Bangunan ini menampung aula, ruang pamer, zona bermain anak, serta klub khusus manula. Istilah gampangnya: gedung serbaguna.

Di banyak kota, fasilitas semacam CCP terbilang jamak. Yang membuatnya jadi pergunjingan di sejumlah media desain adalah perancangnya: Kengo Kuma. Kengo, arsitek prolific asal Jepang, pernah menggarap proyek-proyek mercusuar semacam Suntory Museum of Art di Tokyo dan Besancon Art Center di Prancis. Cukup mengherankan bisa mendapati kreasinya di kota pelosok semacam Towada.

Love Forever, Singing in Towada, instalasi buatan Yayoi Kusama di Art Square.

Dalam catatan di situs pribadinya, Kengo berniat menjadikan CCP ruang bersama yang memudahkan warga beraktivitas. Dia menyebut konsepnya michi-no hiroba (“plaza of streets”). Di sini, warga bisa menggelar kelas menari, sesi yoga, juga kursus memasak. Semua ruangan bisa dipakai gratis. Pengguna hanya perlu membayar uang listrik dengan tarif diskon 50 persen.

CCP merupakan contoh inisiatif Towada untuk mengerem laju penurunan populasi. Fasilitas bernilai nyaris satu miliar yen ini didirikan untuk membuat warga kian nyaman dan kerasan. Harapannya, mereka sudi terus menetap, beranak-pinak, melahirkan komunitas yang langgeng. Harapan yang sederhana sebenarnya, tapi krusial untuk sebuah kota yang terancam problem kelangkaan manusia.

Kiri-kanan: Yoshitaka, pemilik toko camilan di Taman Oirase; Barayaki, masakan khas lokal yang terdiri dari irisan daging sapi dan bawang dengan saus kecap.

Turis asing sangat langka di Towada. Kota ini memang tak menawarkan magnet yang menggiurkan bagi pelancong. Aeon, mal satu-satunya, lebih mirip supermarket. Butik merek global raib sepenuhnya, sementara objek wisata andalannya hanyalah sebuah danau vulkanis yang berjarak sekitar 40 kilometer dari pusat kota.

Itu juga mungkin sebabnya banyak orang terkejut mendapati kehadiran saya di sini, barangkali sama terkejutnya dengan saya jika menemukan turis Jepang berlibur di, sebut saja, Ciamis. Suatu kali, seorang guru SMP memancarkan ekspresi terperanjat usai mengetahui saya berasal dari Indonesia. Di waktu yang lain, seorang pramusaji bertanya apakah saya warga Amerika. Barangkali dia mengira saya serdadu dari pangkalan militer di Misawa, kota tetangga di sisi timur.

Patung semut merah aTTA buatan Noboru Tsubaki di pelataran Towada Art Center.

“Susah menjalankan bisnis. Kota ini sepi. Tak banyak yang bisa dinikmati,” keluh Komukai Mitsunori, pemilik restoran Garuda. Dia pernah bekerja di Indonesia. Restorannya, yang memakai logo Garuda Pancasila, menjual hidangan khas Nusantara seperti gado-gado dan sate. “Di Towada hanya ada manula,” timpal Yuki, istri Komukai, “sebab banyak anak muda lebih suka minggat ke kota besar setelah lulus kuliah.”

Salah satu pemuda yang minggat itu adalah anak mereka sendiri. Memegang gelar master di bidang arkeologi, putra tunggal Komukai dan Yuki itu gagal menemukan pekerjaan yang sesuai dengan latar pendidikannya. “Dia sempat bekerja di minimarket,” kenang Yuki. “Lalu suatu hari saya bilang kepadanya, ‘kami sudah habiskan banyak uang untuk biaya kuliah, jadi sekarang kamu harus cari uang sendiri’.”

Kiri-kanan: Fat House buatan Erwin Wurm di Art Square; Yoshida, salah seorang pegawai City Library.

Problem eksodus sebenarnya tidak hanya mendera Towada. Banyak kota kecil di Jepang kesulitan mempertahankan anak-anak mudanya dari godaan merantau. Kondisi itulah yang membuat kota-kota besar kelewat padat, sedangkan kota-kota kecil berangsur lengang. Greater Tokyo misalnya, terasa sesak lantaran didiami hampir sepertiga populasi negeri. Sementara di kawasan pelosok, sekolah-sekolah ditutup atau dimerger akibat kekurangan siswa.

Ketimpangan itu kemudian diperparah oleh angka kelahiran yang rendah—tragedi yang berlangsung di tingkat nasional, tapi lebih memukul kota kecil akibat gelombang urbanisasi. Merujuk hasil sensus terakhir, populasi Jepang telah menurun dari 128 juta jiwa pada 2010 menjadi 127 juta pada 2015. Jika tren ini berlanjut, Jepang hanya akan dihuni 88 juta manusia separuh abad lagi.

Desain City Library seperti hasil kawin silang antara bungker dan ryokan.

Tentu saja, Jepang tidak sendirian menghadapi bencana itu. PBB pernah mengumumkan puluhan negara yang mengalami prahara demografis serupa. Bulgaria misalnya, diprediksi kehilangan lebih dari separuh populasinya. Bedanya, Bulgaria bukan kekuatan yang penting dalam percaturan ekonomi global, sedangkan Jepang merupakan mitra dagang yang vital bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Problem di sini bisa berimbas ke banyak tempat.

Bagi Towada, semua fakta itu terdengar lebih menakutkan. Kota ini tidak memiliki industri besar. Ia lebih dikenal sebagai penghasil yamaimo, sejenis ketela yang lazim disantap bersama mi atau nasi. Di mata kaum mudanya, Towada bukanlah tempat yang menjanjikan untuk membina karier. Pilihan profesi minim dan kesenangan hidup terbatas. Tapi justru karena itulah Towada berbenah. Didesak kondisi genting, Pemkot meluncurkan slogan baru “Exciting, Creative City,” lalu meluncurkan serangkaian proyek guna menyuntikkan gairah baru pada kotanya. “Salah satu alasan anak muda eksodus adalah absennya creative scene,” jelas Takahiro Motoshuku, staf Tourism & Industry Department of Towada City. “Isu inilah yang sekarang coba kami tanggulangi.”

Kiri-kanan: Area bermain anak di Civic Center Plaza; Penutup gorong-gorong dihiasi ukiran kuda, refleksi atas sejarah Towada sebagai sentra pengembangbiakan kuda.

Dalam kerangka itulah saya mencoba memahami inisiatif-inisiatif mahal yang diluncurkan oleh Towada, termasuk saat berkunjung ke City Library. Perpustakaan umum yang dilansir pada 2015 ini dirancang oleh arsitek masyhur Tadao Ando, seorang jauhari dalam memberi tafsir modern pada gaya spasial Jepang. Desain City Library mirip hasil kawin silang antara bungker dan ryokan. Tubuhnya berbahan beton, sementara ornamennya didominasi kayu.

Saat saya datang, sekelompok ibu sedang menggelar acara bedah buku anak. Di ruang baca utama, belasan remaja dan manula khidmat membaca di meja-meja panjang yang menyerupai area kerja coworking space. Tadao Ando mengusung konsep “educational plaza” untuk City Library. Dia berharap bibliotek ini tak sekadar menjadi wadah untuk memperluas wawasan, tapi juga medium untuk berbagi gagasan, kecuali mungkin bagi saya. Semua koleksi literatur tempat ini berbahasa Jepang. Mencoba mencari info, sang pustakawan tidak bisa berbahasa Inggris.

Interior kedai barayaki dilapisi ribuan kartu nama milik mantan tamunya.

Towada, sebagaimana banyak kota di Jepang, dihuni warga yang mayoritas tak lancar berbahasa Inggris. Tapi mereka senantiasa ramah. Semua orang selalu berusaha merespons setiap ucapan saya dengan tutur yang santun. Khas kota di Jepang pula, Towada mengidap kegandrungan pada vending machine, kaum prianya gemar mengenakan kemeja putih, komik dewasa berisi adegan-adegan absurd dijajakan bebas di toko kelontong. Berbeda dari kunjungan terakhir saya ke Jepang, sebagian komik vulgar ini sekarang dilengkapi bonus DVD yang tak kalah vulgar.

Jika ada satu hal yang membedakan Towada dari kota lainnya, jawabannya pastilah kuda. Berkelana ke sudut-sudut kota, saya kerap menemukan ornamen bertema kuda. Ada arca kuda di perempatan. Ada ukiran kuda pada penutup gorong-gorong. Ada juga emblem kuda pada dinding gedung. Konon, obsesi janggal ini terpaut dengan sejarah kota. Di masa lalu, Towada merupakan sentra pengembangbiakan kuda yang memasok kebutuhan pasukan kavaleri kekaisaran Jepang.

Kiri-kanan: Cause and Effect, karya yang dirangkai dari ribuan figur berbahan resin; Logo resmi Towada yang menampilkan kuda.

Di siang lainnya, saya menyusuri trotoar yang ditaburi tapal kuda menuju Towada Art Center (TAC), terobosan kreatif Towada yang paling marak diperbincangkan. Kompleks yang diresmikan pada 2008 ini menampung karyakarya buatan perupa tersohor. Yang lebih menghebohkan, semua koleksinya tidak dibeli di balai lelang, melainkan diorder langsung dari tiap seniman.

Menginjakkan kaki di lobi TAC, saya disambut oleh mural rangkaian pita buatan Jim Lambie. Usai membeli tiket, saya memasuki ruangan berisi patung seorang nenek setinggi empat meter. Figur gigantik buatan Ron Mueck ini terasa begitu bernyawa berkat detailnya yang “manusiawi.” Helai rambut, bercak kulit, juga keriput tubuhnya, tampak natural.

Twelve Level Bench, instalasi street furniture karya Maider López.

TAC mengoleksi total 38 benda seni buatan 33 seniman prominen. Mayoritas disebar di areagedung, sementara sisanya dibiarkan tumpah ke trotoar dan padang rumput Art Square di seberang jalan, termasuk dua instalasi yang saya singgung di awal tulisan. Hampir seluruh karya menonjolkan permainan bentuk yang menghibur secara instan, tanpa makna-makna yang menukik terlalu tajam.

Satu karya yang menurut saya cukup menggigit dihadirkan oleh Takashi Kuribayashi. Bentuknya berupa dua ruangan kontras yang disandingkan secara vertikal. Ruangan bawah ditaburi mebel putih yang polos dan mencekam. Sementara ruangan atas menampung sebuah rawa becek yang berkabut dan teduh. Takashi, seniman sekaligus penyelam, memang piawai dalam membenturkan alam dari dimensi yang berbeda, dan lewat karyanya dia mengundang kita merenungkan realitas hidup.

Kiri-kanan: Kouki dan Nadoko, dua mahasiswa Universitas Kitasato; Dua tamu Towada Art Center menatap Standing Woman buatan Ron Mueck, pematung asal Australia.

Bagi Towada, sebuah kota kecil yang tidak memiliki bandara, TAC jelas sebuah eksperimen yang berani dan mahal. Kompleks ini menghabiskan dana 2,4 miliar yen, setara biaya pengamanan tujuh demonstrasi di Jakarta. Anggaran kolosal itu tak cuma dipakai untuk berbelanja karya, tapi juga membayar arsitek.

Di TAC, gedung menjadi bagian dari pengalaman estetis. Kompleks ini terdiri dari 16 balok putih yang sebagian dicetak transparan, kadang dibiarkan terbuka di banyak titik. Tujuannya melebur batas antara “dalam” dan “luar.” Ryue Nishizawa, sang arsitek, berniat menciptakan dialog antara arsitektur, seni, dan manusia— iktikad yang memang hanya dimungkinkan jika seluruh karya dipesan khusus. Berkat pendekatan itu pula, di TAC, proses mencerna karya berkesinambungan dengan proses menikmati desain bangunan.

Towada Art Center, kompleks yang diresmikan pada 2008 dan mengoleksi 38 benda seni buatan 33 seniman

“Menyadari mahalnya biaya proyek, sebagian orang awalnya melayangkan penolakan,” kenang Takahiro. “Tapi suara-suara protes itu perlahan reda. Target awal kami hanya 45.000 pengunjung per tahun. Tapi, di tahun pertamanya, TAC sukses menuai 170.000 pengunjung. Dampak ekonominya signifikan.”

Gaung yang ditiupkan TAC tak kalah signifikan. Kehadiran tempat ini cukup menggemparkan jagat seni Jepang. Towada tidak punya jejak dalam dunia seni, tidak pula memiliki akademi seni. Kitasato University, kampus satu-satunya di sini, dikhususkan untuk ilmu kedokteran hewan. Proyek TAC bisa dibilang memang tidak merefleksikan identitas kota, tapi lebih mewakili harapannya: membalik arus eksodus. “TAC didirikan bukan semata untuk memikat pengunjung, tapi juga pendatang,” kata Takahiro lagi. “Harapannya mereka akan menetap di sini, lalu membuka bisnis.”

Kiri-kanan: Interior Civic Center Plaza, gedung serbaguna yang dirancang oleh Kengo Kuma; Turis bersantai di tepi Danau Towada.

Tahun ini, genap satu dekade TAC beroperasi. Sebenarnya tak jelas betul sejauh mana dampaknya dalam mengerem laju penurunan populasi. Tapi Takahiro mencoba melihat sisi baiknya: pamor kota mulai terkerek. Melalui beragam ajang yang ditanggapnya, TAC mulai menempatkan Towada dalam sirkuit seni. Mei silam, Takashi Murakami datang untuk memberi ceramah. Beberapa bulan sebelumnya, Yutaka Oyama menggelar konser musik.

“Seni kontemporer adalah sesuatu yang baru di Towada. Saya tidak yakin warga setempat benar-benar memahaminya,” jelas Midori Mitamura, seniman yang pernah menggelar diskusi di TAC pada 2014. “Tapi setidaknya di kalangan seniman Towada kini mulai dikenal.” Bagi kota kecil yang ditulis samar di atas peta, “dikenal” mungkin sebuah pencapaian yang patut dibanggakan.

Danau Towada, objek wisata yang berjarak sekitar 40 kilometer dari pusat kota.

PANDUAN
Rute
Towada bisa dijangkau dari Tokyo menaiki Shinkansen Hayabusa (jreast.co.jp) dengan waktu tempuh sekitar tiga jam. Ada dua stasiun di dekat Towada: Shichinohe yang berjarak 25 menit dari pusat kota, serta Hachinohe yang lokasinya lebih jauh tapi menawarkan opsi bus yang lebih banyak. Agar lebih praktis berkelana di Jepang, Anda bisa membeli Japan Rail Pass (japanrailpass.net), semacam tiket terusan untuk kereta dan bus yang dioperasikan oleh perusahaan JR. Penerbangan langsung ke Tokyo dilayani salah satunya oleh Garuda Indonesia (garudaindonesia.com).

Penginapan
Towada belum memiliki hotel merek asing dan mayoritas hotel di sini belum memiliki situs reservasi berbahasa Inggris. Dua hotel yang berlokasi strategis di pusat kota ialah Route Inn (13-2 Inaoicho; 81-176/212-020; route-inn.co.jp; mulai dari Rp1.000.000) dan Super Hotel (17-43 Inaoicho; 81-176/239-300; superhoteljapan.com; mulai dari Rp500.000). Hoshino, merek premium lokal, mengelola Oirase Keiryu Hotel (231 Tochikubo, Oze; 81-50/3786-1144; oirase-keiryuu.jp; mulai dari Rp3.600.000).

Fasad gedung serbaguna Civic Center Plaza, bagian dari upaya Towada menyediakan ruang beraktivitas bagi warga.

Informasi
Tiga bangunan yang menarik dikunjungi adalah Civic Center Plaza (81-176/585-670), Towada Art Center (towadaartcenter.com), serta City Library (towada-lib.jp). Civic Center Plaza dan City Library didedikasikan bagi warga lokal, tapi Anda setidaknya bisa menikmati desainnya yang impresif. Saat berkunjung ke Towada Art Center, pilih jalur yang melewati pertokoan Inaoicho untuk menikmati beberapa instalasi bertema “street furniture.” Oirase dan Danau Towada, dua objek wisata andalan kota, berlokasi di sisi barat dan bisa dijangkau menaiki bus JR yang beroperasi tiga kali per hari. Untuk informasi lain seputar Towada, kunjungi situs resmi Pemkot Towada (city.towada.lg.jp).

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi April/Juni 2018 (“Karsa Kota Kuda”).