Oleh Aaron Seeto 

Isolasi fisik akibat pandemi Covid-19 membuat kita merindukan tempat-tempat yang pernah kita kunjungi, termasuk ruang seni. Bagi saya, galeri dan museum adalah ruang yang pas untuk memanjakan imajinasi. Daftar lima museum favorit saya ini—meskipun daftar ini belum lengkap—disusun berdasarkan campuran antara nostalgia tentang karya seni luar biasa dan program yang menginspirasi saya.

Pameran di Museum of Modern Art, salah satu ruang seni modern paling berpengaruh di dunia. (Foto: Changqing Lu/Unsplash)

Museum of Modern Art, New York
Jadwal perjalanan pertama saya ke New York didominasi rencana menyaksikan beberapa koleksi seni modern yang luar biasa, dan hingga hari ini, saya mengenang pengalaman itu sebagai kompilasi kunjungan ke beberapa museum top. MoMA, yang merupakan rumah dari banyak karya ikonis dalam sejarah seni modern, membuat saya yang waktu itu masih sangat muda terkagum-kagum. Saya menjelajahi galerinya dan melihat langsung banyak karya penting yang saya kenal lewat buku pelajaran. Pengalaman itu jugalah sebuah pembuktian, bahwa menikmati seni tetap memerlukan pengalaman fisik bertemu objek. Semoga kita dapat mengalaminya lagi segera! Saya masih menunggu-nunggu untuk mengunjungi area baru MoMA, juga koleksinya yang kembali dibuka untuk publik. moma.org

Karya artis Swiss Not Vital di Sculpture Park, Louisiana Museum of Modern Art. (Foto: Kim Hansen/Louisiana Museum of Modern Art)

Louisiana Museum of Modern Art, Humlebaek
Tak jauh dari batas kota Kopenhagen ada salah satu museum seni modern paling luar biasa yang pernah saya kunjungi. Koleksi seni pasca-perang dari Amerika dan Eropa di sini sangat menarik untuk dilihat langsung; jangan lewatkan juga ruang pamer yang didedikasikan untuk pematung legendaris Swiss Alberto Giacometti. Arsitektur museum, lokasinya di tepi laut, juga tamannya, sangat pas ketika disandingkan dengan instalasi khas-tapak (site-specific) yang dibuat oleh artis Amerika Richard Serra, serta patung karya Henry Moore (Inggris), Alexander Calder (Amerika) and Isamu Noguchi (Jepang-Amerika). louisiana.dk

Uncertain Journey, salah satu karya dalam pameran Shiota Chiharu: The Soul Trembles di Mori Art Museum. (Foto: Mori Art Museum)

Mori Art Museum, Tokyo
Selain Museum MACAN di Jakarta, Mori Art Museum adalah museum yang mungkin paling sering saya kunjungi. Program pameran seni kontemporernya yang menampilkan banyak perupa penting Asia, selalu membuat saya tertarik untuk datang kembali, lagi dan lagi. Komitmen mereka terhadap seni kontemporer, juga upayanya memperkenalkan ide-ide dan perupa baru pada masyarakat, adalah praktik kuratorial yang sangat mengena bagi saya. Saya selalu pulang dari Mori dengan perasaan bahwa saya telah mempelajari banyak hal baru. mori.art.museum

Fat Car buatan perupa Australia Erwin Wurm di Museum of New and Old Art. (Foto: Remi Chauvin/Mona/Tourism Australia)

Museum of New and Old Art, Tasmania
Kadang dunia seni dipenuhi hierarki yang terasa membatasi dan membuat gerah. Pengalaman saya mengunjungi Mona selalu terasa menyegarkan, karena mereka menyajikan hal-hal yang biasa kita temui di museum, namun dikombinasikan dengan perspektif yang mendobrak batasan-batasan konvensional, serta mendorong cara-cara baru untuk melihat seni. Museum privat ini berlokasi di Hobart, Tasmania. Koleksinya yang eklektik, mulai dari karya kuno hingga sangat kontemporer, ditampilkan dengan mengedepankan rasa ingin tahu dan mencari pengetahuan baru. mona.net.au

Akhir 2019, NGA menggelar acara bertema “Teens Take Over” untuk merayakan peluncuran program remaja Art IRL. (Foto: National Gallery of Australia)

National Gallery of Australia, Canberra
Lahir dan besar di Australia, NGA mungkin museum pertama yang berkesan bagi saya. Berlokasi di Canberra, Ibu Kota Australia, museum ini menyimpan berbagai karya ikonis dan luar biasa, dari Birds in Space  buatan Constantin Brancusi, karya-karya penting Sigmar Polke, Louise Bourgeois, Blue Poles dari Jackson Pollock, juga deretan karya orang asli Australia dan karya seni Asia. Museum ini meninggalkan dampak yang sangat dalam bagi saya sebagai seorang yang masih muda, dan saat saya dapat kembali ke sana, saya selalu mendapatkan pengalaman yang membahagiakan. nga.gov.au

Aaron Seeto
Aaron menjabat Direktur Museum MACAN. Dia pernah bekerja sebagai Curatorial Manager of Asian and Pacific Art di Queensland Art Gallery | Gallery of Modern Art, Brisbane. Sebelumnya, dia menjabat Director of 4A Centre for Contemporary Asian Art di Sydney.