Bandara Yogya Rasa Galeri

Among Bocah oleh Lutse Lambert Daniel M. Bedhaya Kinjeng Wesi oleh Ichwan Noor 3 Hamemayu Hayuningrat oleh Wahyu Santosa 1 Jogja On The Move oleh Entang Wiharso Tetanduran oleh I Made Widya Diputra 3
Dengan gaya khas relief timbul, Entang Wiharso mengolah isu perkembangan Yogyakarta lewat karya Jogja on the Move sepanjang 20 meter. (Foto: Cipta Anak Bangsa)

Berjarak jauh dari pusat kota, bandara baru Yogyakarta memicu keluhan dari banyak turis. Tapi pihak pengelolanya kini punya amunisi baru untuk menawar rasa kesal: suguhan karya seni dan kriya.

Pada 29 Maret 2020, hampir setahun setelah dibuka, Yogyakarta International Airport (YIA) resmi beroperasi secara penuh. Bersamaan dengan momentum itu, Bambang ‘Toko’ Witjaksono, kurator program seni YIA, mengumumkan 12 artis dan dua kelompok perajin yang terpilih untuk menerjemahkan konsep kuratorial Gandheng Renteng, sebuah refleksi atas kesinambungan antara proses pertemuan, kepergian, dan kedatangan.

Seluruh karya di YIA merespons konteks lokal: tentang lokasi bandara di Kulon Progo, budaya Yogyakarta, serta filosofi dan mitologi Jawa, beberapa dengan sentuhan modern bertema aviasi. Selain menjadikan YIA layaknya sebuah galeri publik, suguhan ini memperkuat karakter Yogyakarta sebagai poros seni kontemporer Indonesia.

Karya yang pertama kali menyambut publik ialah Hamemayu Hayuningrat buatan Wahyu Santosa. Patung setinggi sembilan meter ini menggambarkan karakter wanita Jawa yang kokoh sekaligus luwes. Hamemayu Hayuningrat mengenakan selendang sebagai simbol pelindung, serta tusuk konde padi emas yang melambangkan cita-cita kemakmuran.

Memasuki terminal, perupa kondang Ichwan Noor menampilkan patung-patung logam penari Bedhaya dengan sayap capung, sementara Lutse Lambert Daniel Morin menggoda anak-anak lewat wahana artistik berbentuk pesawat baling-baling yang dilengkapi ayunan dan perosotan. Konsisten dengan gaya relief timbul, artis blockbuster Entang Wiharso mengolah isu perkembangan Yogyakarta lewat karya Jogja on the Move sepanjang 20 meter.

Setidaknya ada enam karya yang didedikasikan bagi kawasan yang ditempati bandara. I Made Widya Diputra misalnya, menghadirkan pilar bertema pohon manggis yang merupakan flora khas Kulon Progo, sedangkan Budi Kustarto meramu karya Kebonrejo yang mengisahkan kehidupan agraris di Desa Kebonrejo, juga di Kulon Progo.

Apa yang dilakukan YIA bukanlah hal baru. Banyak bandara sejak lama memamerkan karya seni di terminalnya. Changi menyelipkan sejumlah patung dan instalasi, sementara Charles de Gaulle di Paris mendirikan museum seni Espace Musees dan Schiphol di Amsterdam membuka cabang Rijksmuseum. Di Indonesia, kita bisa menemukan presentasi serupa di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.

Baca juga: Bandara Narita Tokyo Punya Galeri Seni Digital Baru; Lounge Review: Saphire Plaza Premium Lounge Bandara Soetta

Kendati begitu, dibandingkan bandara lain, YIA punya beberapa keunggulan. Bermodalkan sistem kurasi, karya-karyanya memiliki benang merah, tidak asal comot, dan semuanya ditata dengan melibatkan kurator. Bambang Toko sejak awal berkoordinasi dengan pihak arsitek dan kontraktor demi memastikan karya bisa dinikmati publik secara leluasa, tidak seperti di Bandara Soetta di mana beberapa karya terhalang pilar. Keunggulan lain YIA ialah tersedianya portal (artcab.id/portfolio/yia-airport/) yang menjelaskan detail karya dan menampilkan video berisi proses pembuatannya.

Comments