Potret anggota Keluarga Nicola di laboratorium restorasi seni yang terletak di Aramengo, sisi barat laut Italia.

Oleh Marta Ghelma
Foto oleh Bruno Zanzottera

Sebuah rumah tua, kucing yang mengantuk di ambang pintu, lonceng yang berdentang membangunkan seisi desa. Teronggok di antara bukit Basso Monferrato, Aramengo bagai sebuah artefak yang terbuat dari batu, kayu, dan keheningan. Desa ini sedang mengawetkan sejarah, seolah hendak memastikan dunia tak melupakan masa lalunya. Dan apa yang dilakukan Keluarga Nicola adalah terjemahan harfiah atas kesimpulan itu. 

Desa mungil Aramengo terletak di Provinsi Asti, barat laut Italia. Di sinilah selama lebih dari 50 tahun, Klan Nicola mengembangkan keahlian merestorasi barang-barang seni. Di laboratorium menawan yang tersembunyi di antara rumah-rumah sederhana, sejumlah mahakarya Italia dan internasional “dirawat,” mulai dari Titian hingga Tintoretto, dari Kafan Suci hingga mumi Mesir.

Nicola Pirano dan rekannya di Gereja San Francesco di Paola yang hancur dihajar gempa pada 2009.

Tapi kisah yang hendak saya sampaikan tidak dimulai di Aramengo, melainkan di Abruzzo, jantung Negeri Spageti. Pada 6 April 2009, gempa bumi mengguncang malam khidmat di kota L’aquila dan desa di sekitarnya. Tragedi itu menelan 308 nyawa, mencederai 1.600 orang, dan mewariskan lebih dari 60.000 tunawisma. Yang tak kalah memilukan adalah kerusakan serius pada banyak warisan budaya, dengan nilai kerugian menembus €10 miliar. Dari gundukan puing Abruzzo, kesunyian mengembang, mencekam, dan meninggalkan getir di relung hati warga.

Tersulut rasa sedih, Keluarga Nicola tergerak untuk berpartisipasi dalam proses rekonstruksi. Tawaran mereka: keahlian dan solidaritas. “Titik baliknya terjadi pada 2010 di Sassocorvaro,” ujar Anna Rosa Nicola. “Kami terlibat dalam inisiatif bertajuk ‘Waiting for the Premio Rotondi’ yang dikampanyekan oleh Arca Dell’arte Association. Karya-karya bertema Madonna yang rusak, bersama serakan karya yang cedera lainnya, diselamatkan setelah gempa L’aquila.”

Barisan patung suci di kota L’aquila menanti diselamatkan setelah gempa 2009.

Di antara daftar panjang karya yang mesti diselamatkan, Keluarga Nicola memilih lukisan buatan Giulio Cesare Bedeschini yang disimpan Gereja San Francesco di Paola, L’aquila. “Karya itu langsung menarik perhatian kami,” kenang Anna Rosa Nicola, “karena ia salah satu yang paling kronis. Terkubur di bawah puing-puing untuk waktu yang lama, lukisan itu sobek dan terkoyak.”

Laboratorium Keluarga Nicola di Piedmont, Aramengo, berkomitmen mengambil alih proyek restorasi dan menanggung seluruh biayanya (diperkirakan mencapai €20.000). Tapi, sebelum lukisan dibawa ke sana, penanganan darurat mesti diterapkan. Awalnya, tim utusan Nicola meniti ekspedisi panjang dari Aramengo menuju Museum Celano, Abruzzo, di mana lukisan yang kritis untuk sementara disimpan, lebih dari 700 kilometer jauhnya dari laboratorium.

Tim cepat tanggap Klan Nicola mengangkut lukisan Il Miracolo Della Vera Croce yang rusak akibat gempa.

Pengalaman itu masih basah dalam ingatan Nicola Pisano: “Berkelana di pusat kota L’aquila, ditemani sejumlah petugas pemadam kebakaran, kami merasa seperti hantu di tengah tanah buangan yang dipenuhi reruntuhan.”

Dengan misi luhur melindungi dan melestarikan warisan artistik, kaum jagawana seni dari Piedmont itu memulai pekerjaan dengan menganalisis lukisan Bedeschini. Dari diagnosis awal, kerusakan akut terdeteksi jelas. Tahap kedua adalah perbaikan minimum. Potongan kanvas yang tercerai dikembalikan ke posisi orisinalnya. Debu tebal dan puing disingkirkan. Titik-titik cat yang terkelupas ditambal dengan Japanese tissue. Setelah itu, kanvas dibungkus dan diangkut ke Aramengo.

Kiri-Kanan: Lukisan memasuki tahap terapi di laboratorium; Anna Rosa Nicola terlibat di proyek pemulihan karya Tiziano.

Tahap berikutnya adalah restorasi di laboratorium. Awalnya, tim menghapus tambalan-tambalan dari petugas lapangan, lalu memunculkan lapisan kanvas orisinal. Memanfaatkan ruang “humidifikasi” uap, tekstur asli kanvas secara bertahap dipulihkan. Usai menempatkan kertas tipis pelindung di atas lukisan, tim memperbaiki serpihan lukisan, lalu menambal lubang-lubang dengan potongan tekstil tua. Besar kemungkinan gempa mengubah postur lukisan, dan tim memindai perubahan tersebut memakai analisis ultraviolet dan infrared reflectography.

Lukisan kemudian diposisikan pada bingkai berbahan kayu frakè, serta diletakkan sedikit di atas lapisan plester kapur Bologna, rabbit-skin glue, dan bubuk natural. Di tahap ini, restorasi memasuki proses intervensi yang disebut pictorial reintegration. “Pada tahap terakhir yang sangat krusial ini,” tutur Nicola Pisano, “sangatlah penting bagi kami untuk mengetahui paras asli lukisan sebelum gempa.”

Proses pemberian warna pada lukisan Il Miracolo Della Vera Croce karya Giulio Cesare Bedeschini.

Setelah proses yang melelahkan selama sembilan bulan, di mana sebagian karyawan kerap mengorbankan waktu luang secara gratis, upaya restorasi rampung. “Membandingkan antara kanvas hasil restorasi dan potret yang menampilkan sosok asli lukisan, kami seperti menciptakan keajaiban,” Anna Rosa berkelakar. “Tapi jika melihat pekerjaan yang tersisa guna memperbaiki semua kerusakan akibat gempa, upaya kami lebih mirip setetes air di tengah lautan.”

Untungnya, Keluarga Nicola masih setia pada komitmennya. usai proyek Bedeschini, mereka memulihkan delapan lukisan lain. Melalui inisiatif “A Nativity Scene for L’Aquila,” Anna Rosa juga menciptakan sebuah crib (diorama kelahiran Yesus) memakai materi daur ulang. Hasil kreativitasnya dipajang di Romanesque Abbey of Santa Maria of Vezzolano untuk mengajak publik mengenang para korban gempa.

Proses restorasi bagian atas lukisan Il Miracolo Della Vera Croce karya Giulio Cesare Bedeschini.

Lukisan Bedeschini juga dipamerkan kepada khalayak, contohnya di Sassocorvaro dan Cervia. Sedangkan karya restorasi lainnya dipajang di Magazzini del Sale di Romagna, sebelum dikembalikan ke L’aquila.

Kiprah Keluarga Nicola dimulai saat Italia baru merangkak dari Perang Dunia II. Alkisah, Guido Nicola dan istrinya, Maria Rosa, mendirikan laboratorium yang bertugas memulihkan karya-karya seni yang cacat. Pria yang lahir pada 1921 itu memiliki pemahaman yang mendalam atas seni, selain mengidap hobi berburu truffle. Hingga kini, sosoknya masih menjadi rujukan sekaligus teladan. Mahakarya dari juru sungging sekaliber Tiepolo, Caravaggio, Tintoretto, Rembrandt, dan Picasso pernah merasakan keuletan tangan Guido.

Guido Nicola, kepala tim penyelamat karya, di studionya yang terletak di Aramengo.

Pada 1966, Guido bekerja sebagai sukarelawan untuk menyelamatkan karya seni yang sompek diterjang banjir di Florence. Proyek itu menjadi titik tolak bagi serangkaian usaha serupa yang menghiasi kisah hidup Guido dan mengubah keluarganya menjadi klan penyelamat bagi jejak kreativitas manusia. Laboratorium Nicola Restauri kini dioperasikan kedua anak Guido, Gian Luigi dan Anna Rosa, ditambah sebuah tim solid berisi praktisi restorasi profesional.