Pentas musisi jalanan di New Orleans, tanah kelahiran jazz. (Foto: Robson Hatsukami Morgan)

1. New Orleans
Kota ini memiliki museum jazz, festival jazz, bahkan taman nasional bertema jazz. Dulu, klub bola basketnya pun memakai embel-embel jazz, sebelum kemudian direlokasi dan berganti nama jadi Utah Jazz. Pemujaan eksesif terhadap jazz ini dilatari satu alasan simpel: New Orleans adalah tanah kelahiran jazz. Untuk menyelami sejarah itu, ikuti tur dari New Orleans Historical atau Cradle of Jazz Tour.

Ruang menyimak karya maestro di House of Music, Wina. (Foto: Inge Prader/House of Music)

2. Wina
Kota ini mengusung semboyan “Kota Musik,” atau lebih tepatnya “Kota Musik Klasik.” Banyak komponis masyhur pernah mondok dan berkarya di sini, sebut saja Mozart, Beethoven, Schubert, serta Strauss. Namun begitu, simfoni klasik tak hanya hidup dalam sejarah kota, sebab pentas-pentasnya masih berlangsung hingga kini, contohnya di Vienna State Opera, Musikverein (markas Vienna Philharmonic Orchestra), serta House of Music.

Pension Cafe, sentra pentas dan sarang kongko di Ambon, Kota Musik UNESCO. (Foto: Santirta Martendano)

3. Ambon
Dari Daniel Sahuleka, Ruth Sahanaya, hingga Glenn Fredly, penyanyi berdarah Ambon tersohor akan suara emasnya. Faktor genetik atau pendidikan? Sulit menjawabnya. Yang jelas, Ambon menetapkan musik sebagai identitasnya. Gayung bersambut, pada 2019 UNESCO mendaulatnya sebagai Kota Kreatif di cabang musik. Untuk memulai tur musik di Ambon, kunjungi kafe-kafe yang lazim merangkap kelab karaoke, contohnya Maples, Pension, serta Sibu Sibu.

Kiri-kanan: Gangnamdol, patung yang merepresentasikan bintang K-pop; Patung goyang Gangnam. (Foto: Jun Michael Park)

4. Seoul
K-pop, produk ekspor andalan Korea selain Samsung, telah merekah jadi aset wisata. Banyak remaja pengidap hallyu (“demam Korea”) datang ke negeri ini demi berbelanja suvenir K-pop serta melawat tempat-tempat yang didatangi BTS dan kawan-kawan. Tentu saja, destinasi utama mereka ialah Seoul, khususnya Distrik Gangnam yang merupakan sentra label dan studio K-pop. Demi memandu mereka, Tourist Information Center telah menyiapkan panduan wisata K-pop dalam beragam bahasa, termasuk bahasa Indonesia.

Royal Albert Hall, gedung konser prestisius di London. (Foto: J Collingridge/Royal Albert Hall)

5. London
Dalam daftar musisi paling berpengaruh, kita akan menemukan The Beatles, David Bowie, Queen, The Rolling Stones, serta Sex Pistols. Membaca riwayat mereka, ada satu benang merah—London. Kota ini punya peran vital dalam perjalanan para mega bintang tersebut, baik sebagai tanah kelahiran, tempat berkarya, ataupun lokasi studio rekaman. Operator tur yang menawarkan wisata musik di London antara lain Brit Music Tours, Rock Tours of London, serta London Rock Walks.

Lantai dansa di kelab malam Beate Uwe, Berlin. (Foto: Muhammad Fadli)

6. Berlin
Jika New York dijuluki kota yang tak pernah tidur, Berlin mungkin layak disebut kota yang mengguncang malam. Selepas kejatuhan Tembok Berlin, Ibu Kota Jerman ini agresif menumbuhkan skena musik elektronik, hingga akhirnya menjadi poros techno dunia. DJ progresif rutin dilahirkan klub-klubnya, mulai dari generasi Ellen Allien, Marcel Dettmann, hingga diaspora semacam Peggy Gou. Untuk menyelami skena musik Berlin, silakan masuki sarang nokturnal semacam Berghain, Tresor, serta Beate Uwe.

Patung musisi legendaris Irlandia Phil Lynott di Dublin. (Foto: Tourism Ireland)

7. Dublin
Banyak bintang besar lahir di kota ini, contohnya The Script dan U2. Beberapa bintang Irlandia lainnya “ditemukan” di sini. Westlife misalnya, mulai dikenal usai membuka konser Boyzone di Dublin. Sementara The Corrs diundang tampil dalam pembukaan Piala Dunia 1994 juga setelah pentas di kota ini. Dari semua musisi tersebut, U2 sepertinya masih jadi magnet turis terkuat. Sebuah aplikasi bahkan telah tersedia untuk menelusuri jejak Bono dan kawan-kawan.

Pementasan dalam Konser Gamelan Akbar 2015 di di Benteng Vastenburg, Solo. (Foto: Maulana Surya)

8. Solo
Jika Korea mengekspor K-pop, Indonesia mengekspor gamelan. Musik ansambel ini pernah mengiringi pameran di Venice Biennale, diputar di pesawat luar angkasa, juga melahirkan ratusan grup gamelan di luar negeri. Di antara banyak kota yang mengembangkan gamelan, Solo menonjol sebagai kiblatnya. Tak cuma memproduksi instrumen dan maestro gamelan, kota ini memiliki Konser Gamelan Akbar dan International Gamelan Festival.  

Museum of Pop Culture mengoleksi memorabilia musisi grunge asal Seattle. (Foto: MoPOP)

9. Seattle
Paruh pertama abad ke-20, jazz adalah suara yang dominan di Seattle. Louis Armstrong, Ray Charles, dan Quincy Jones adalah beberapa motornya. Memasuki paruh kedua abad ke-20, suara baru muncul—grunge. Eksponen utamanya ialah Mudhoney, Soundgarden, Alice in Chains, Pearl Jam, serta tentu saja Nirvana. Tur menyelami hikayat musik Seattle bisa dimulai di Museum of Pop Culture. Paket ziarah Rock & Roll Sightseeing Tour juga layak dicoba untuk memahami skena grunge lokal. 

Patung Freddie Mercury karya Irena Sedlecka di Montreux. (Foto: Andrea Piacquadio)

10. Montreux
Kota di barat Swiss ini punya tempat khusus di hati para penggemar musik. Ajang andalannya, Montreux Jazz Festival, merupakan hajatan jazz terbesar di Eropa. Smoke on the Water, tembang klasik Deep Purple, lahir di sini, usai terinspirasi peristiwa terbakarnya sebuah kasino pada 1971. Montreux juga menyimpan patung Freddie Mercury. Alasannya? Grup musik Queen merekam enam album mereka di sini.