Tur Musik di Ibu Kota Rok

Seattle, kota yang melahirkan Jimi Hendrix dan Nirvana, sempat tersohor sebagai kutub musik dunia. Tapi suara dari kota ini sekarang hanya sayup-sayup terdengar. Apa yang salah?

Museum of Pop Culture, kompleks rancangan arsitek Frank Gehry yang menyimpan ribuan memorabilia musik, termasuk warisan grup asal Seattle seperti Pearl Jam dan Nirvana. (Foto: Brady Harvey/Museum of Pop Culture)

Oleh Cristian Rahadiansyah

Tur pagi ini dibuka dengan cara yang janggal: berkabung. Duduk di balik kemudi, Charity Drewery mencomot iPhone, lalu memutar rekaman suara lirih Chris Cornell mengenang kepergian karibnya, Andrew Wood. Keduanya vokalis grup rok terkenal asal Seattle, dan keduanya sudah almarhum. Andrew overdosis heroin pada 1990. Chris gantung diri tiga tahun lalu. “Kalian pikir ini tur senangsenang?” kata Charity, lalu tertawa lepas.

Charity menggeser persneling dan MPV Dodge miliknya pun mulai bergerak. Saya duduk di sampingnya. Di kursi belakang, ada dua pasangan asal Chicago dan Frankfurt. Judul tur ini Rock & Roll Sightseeing Tour. Selama tiga jam, kami dibawa menziarahi situs-situs yang menyimpan memori bintang rok lawas, misalnya tempat konser perdana Nirvana, pahatan yang menginspirasi lagu Black Hole Sun, serta patung “dewa gitar” Jimi Hendrix. Ikut tur ini, orang bisa menebak berapa kira-kira usia Anda.

Dengan kalimat datar yang sarat lelucon, Charity membeberkan gamblang kisah dari setiap tempat yang kami datangi. Kadang, wanita paruh baya ini menyisipkan gosip-gosip lokal yang beredar hanya di kalangan terbatas. Andaikan majalah Hai masih terbit, dia mungkin cocok disewa sebagai redaktur tamu.

“Lihat restoran taco itu,” ujarnya saat mobil menyisir tepian Seattle. “Saya pernah melihat Dave Matthews makan di situ. Musisi hidup santai di Seattle. Di sini tidak ada paparazzi.” Di waktu yang lain, Charity memarkir mobil di muka bar El Corazon, tempat debut konser Pearl Jam. “Bar ini akan diganti kondominium,” jelasnya sedih. “Kota ini berubah. Kelak saya hanya akan bisa memperlihatkan foto El Corazon dan meminta orang membayangkannya.”

Rock & Roll Tour dirintis pada 2010. Mayoritas pesertanya ialah generasi yang belum bisa beranjak dari era Pearl Jam dan Nirvana, masih bernostalgia dengan lagu Jeremy dan Smells Like Teen Spirit—seperti saya! Tapi ini bukan satu-satunya paket ziarah musik di Seattle. Hikayat musik kota ini terlalu tebal untuk dirangkum oleh hanya satu operator.

Selain Rock & Roll Tour, ada Grunge Redux yang dipandu Eric Magnuson. Contoh lainnya, napak tilas Kurt Cobain oleh Aberdeen Museum of History. Peserta diajak melawat rumah, sekolah, juga tempat sang vokalis Nirvana itu kongko bersama teman-temannya. Kurt memang figur yang menonjol dalam babad musik Seattle. Sejumlah penulis mendaulatnya sebagai juru bicara Generasi X, sebagaimana Bob Dylan pada 60-an atau John Lennon pada 70-an.

Kiri-kanan: Para personel Mudhoney, grup era 1980-an yang termaktub dalam album monumental Sub Pop 200 dan masih bertahan hingga kini (Foto: Niffer Calderwood/Sub Pop (Mudhoney);  salah satu penampilan musik di acara Freakout Festival 2018 (Foto: Jake Hanson @trulybogus)

Grunge populer di Indonesia?” tanya Charity, menyebut aliran musik khas Seattle. “Nirvana dan Pearl Jam punya banyak penggemar, tapi lagu-lagu Mother Love Bone belum sampai ke Indonesia,” jawab saya.

“Wajar,” timpalnya. “Andrew Wood, vokalisnya, tewas sebelum albumnya keluar. Padahal waktu itu mereka sudah dikontrak untuk membuka konser Aerosmith. Jika saja Andrew tidak tewas, Mother Love Bone pasti jadi band terbesar asal Seattle.”

Tur mendekati menit-menit terakhirnya. Mobil merapat ke The Central, bar yang pernah menanggap banyak pentas grup lokal. Di salah satu dindingnya, terpajang “tembok ratapan” berisi foto-foto musisi almarhum legendaris. “Jangan pakai heroin,” pesan Charity. “Lebih baik pakai mariyuana. Saat giting, saya jadi orang yang lebih baik. Ketika menyetir, saya selalu memantau dashboard dan pelang jalan. Saya rasa dunia akan lebih baik jika semua orang giting.”

Saya datang ke Seattle September silam. Kota ini bersemayam di barat laut Amerika, persis di bantaran Samudra Pasifik. Bagi banyak orang, Seattle dikenal sebagai kota industri. Starbucks lahir di sini. Pabrik Boeing, juga markas besar Microsoft dan Amazon, bercokol di sini. Di luar semua emblem itu, Seattle tentu saja juga tersohor sebagai kota musik. Dari Quincy Jones hingga Kurt Cobain, banyak musisi berpengaruh lahir atau ditempa di sini.

Kiri-kanan: Interior salah satu kubah Amazon Spheres, bagian dari markas besar perusahaan teknologi Amazon yang berpusat di Seattle. (Foto: Aaron Davis/Visit Seattle); patung buatan Daryl Smith yang mengabadikan aksi Jimi Hendrix, gitaris kelahiran Seattle. (Foto: Visit Seattle)

Seattle begitu rajin mencetak musisi seperti Yogyakarta mencetak seniman. Khusus di jagat rok, bahkan pernah ada masa ketika lagu-lagu dari kota ini menjadi bahasa musik dunia periode keemasan yang mengilhami tur nostalgia seperti yang ditawarkan oleh Charity.

Tapi saya sebenarnya datang saat musik Seattle telah meninggalkan masa jayanya. Berbeda dari mesin-mesin industrinya yang terus menggerakkan bumi, kota ini tak lagi mengekspor nada yang menggelegar di skena musik. Apa penyebabnya?

Comments