Bangunan atraktif MMM Corones didesain oleh arsitek kelahiran Irak, Zaha Hadid. (Foto: Wisthaler Harald/MMM Corones)

1. Profesi: Pendaki Gunung
MMM Corones
Pencinta museum dan pendaki gunung umumnya tidak berkumpul di tempat yang sama—kecuali mungkin di Messner Mountain Museum (MMM) Corones. Museum yang berlokasi di Italia ini memiliki misi memperkenalkan seni, sejarah, dan disiplin pendakian gunung kepada publik. Koleksinya mencakup perlengkapan, foto, serta beragam benda yang dikumpulkan oleh sang penggagas museum, Reinhold Messner, manusia pertama yang menaklukkan 14 gunung dengan ketinggian minimum 8.000 meter. Daya tarik lainnya ialah bangunannya. MMM Corones didesain oleh arsitek ternama kelahiran Irak, Zaha Hadid. Wujudnya seperti gerbong kereta futuristik yang tersangkut di antara bebatuan. 

Area pamer benda dekoratif di Design Museum of Barcelona. (Foto: Aniol Resclosa/Design Museum of Barcelona)

2. Profesi: Desainer
Design Museum of Barcelona
Barcelona tak pernah terpilih sebagai World Design Capital, tapi kehadiran Museu del Disseny membuatnya layak menjadi destinasi idaman para desainer. Museum yang dalam bahasa Inggris disebut Design Museum of Barcelona ini dibuka pada 2014 di kawasan artistik Plaça de les Glòries. Koleksinya menembus 70.000 objek yang mewakili empat disiplin desain: dekoratif, produk, grafis, dan fesyen. Magnet lainnya ialah perpustakaan berisi ribuan buku, majalah, serta katalog desain. 

Kiri-Kanan: Bangunan Museum of Islamic Art dirancang oleh I.M. Pei, arsitek yang juga menggarap piramida kaca Louvre. (Foto: Eea Ikeda); Interior Museum of Islamic Art, Doha. (Foto: Khadijah Mamad)

3. Profesi: Ulama
Museum of Islamic Art
Museum yang mengulas Islam tersebar di banyak negara, dari Australia hingga Jerman. Di antara mereka, ada satu yang sukses memikat tak cuma lewat koleksinya, tapi juga bangunannya. Museum of Islamic Art mengoleksi 800 artefak dan karya seni yang dibuat dalam kurun 1.400 tahun. Bangunannya dirancang oleh I.M. Pei, arsitek yang juga menggarap piramida kaca Louvre Paris. Museum ikonis Qatar ini diresmikan pada 22 November 2008. Aktor Robert De Niro hadir dalam pembukaannya. 

Area Cinema di FIFA World Football Museum, Swiss. (Foto: Adam Naparty/FIFA World Football Museum)

4. Profesi: Atlet Sepak Bola
FIFA World Football Museum
Sepak bola diciptakan di Yunani, dikembangkan di Tiongkok, dan dimodernisasi di Inggris. Tapi, untuk mempelajari artefaknya, Anda harus pergi ke Swiss. Sejak 2016, negara ini memiliki sebuah museum yang menceritakan segala aspek sepak bola, mulai dari sejarahnya, turnamen-turnamennya, kisah-kisah dramatisnya, hingga pengaruhnya bagi peradaban. Koleksi FIFA World Football Museum antara lain kostum nasional Bhutan, buku catatan wasit peninggalan Piala Dunia 1966, hingga boneka voodoo yang dipakai untuk mengguna-guna hakim pertandingan. 

Kapal selam nuklir Le Redoutable, salah satu koleksi La Cité de la Mer, Prancis. (Foto: Sipa Press/La Cité de la Mer)

5. Profesi: Helmsman
La Cité de la Mer
Cherbourg, kota penghasil kapal selam, memiliki museum yang memamerkan kendaraan-kendaraan penakluk laut dalam. Menempati bekas terminal pelabuhan, La Cité de la Mer memajang belasan kapal selam legendaris, misalnya Archimède buatan 1961; Mir yang pernah dipakai merekam bangkai Titanic; serta kapsul Deep-sea Challenger yang dikendarai James Cameron di Palung Mariana. Ikon tempat ini tentu saja Le Redoutable, kapal selam nuklir pertama buatan Prancis. Pengunjung bisa memasukinya untuk melihat koleksi torpedonya. 

Kiri-Kanan: Dr. Samuel West, pendiri Museum of Failure. (Foto: Sandra H Gao); Google Glass generasi pertama, koleksi Museum of Failure. (Foto: Jake Ahles)

6. Profesi: Motivator
Museum of Failure
Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda—dan Museum of Failure merekam sebagian buktinya. Mengusung moto “innovation needs failure,” museum keliling ini mengoleksi lebih dari 100 produk yang ditarik dari pasar atau diberhentikan produksinya, contohnya Google Glass, Nokia N-Gage, Coke II, dan Kodak DC-40. Tujuannya bukan untuk mencela si pembuat, melainkan mengajarkan satu petuah penting dalam bisnis: inovasi sarat risiko dan segala yang bagus di atas kertas belum tentu direspons konsumen. Museum unik ini dirintis pada 2017 di Swedia oleh Samuel West, doktor di bidang psikologi organisasi. Dua museum lain yang merekam kegagalan dalam hidup ialah Museum Of Bad Art dan Museum of Broken Relationships.

Fasad artistik Museum for Urban Contemporary Art, rumah bagi pencinta seni grafiti. (Foto: Nika Kramer/Urban Nation)

7. Profesi: Artis Grafiti
Museum for Urban Contemporary Art
Berlin bukan tanah kelahiran seni grafiti, tapi kota ini punya museum yang didedikasikan bagi para seniman tembok. Di bawah semboyan “Connect, Create, Care,” Museum for Urban Contemporary Art mendokumentasikan karya-karya penting dalam disiplin grafiti dan seni urban. Berniat menjadi ruang kenduri para artis, kompleks yang dibuka pada 2017 ini menampung pula ruang pertemuan, studio, serta kamar residensi. Datang di waktu berbeda, pengunjung mungkin akan menemukan wajah museum yang berbeda. Maklum, mural pada fasadnya secara berkala diperbarui. 

Interior Museum of Flight, kompleks megah berisi lebih dari 150 pesawat dan 25.000 objek terkait aviasi. (Foto: Ferdinand)

8. Profesi: Pilot
Museum of Flight
Seattle, tanah kelahiran Boeing, memiliki museum yang menceritakan perjalanan manusia menaklukkan angkasa. Museum of Flight menampung lebih dari 150 pesawat, plus 25.000 objek terkait aviasi, termasuk onderdil kapal, seragam pramugari, hingga medali para pilot. Museum partikelir yang didirikan pada 1965 ini berlokasi di sisi selatan King County International Airport alias Boeing Field. 

Kiri-Kanan: Tetikus Lisa keluaran 1983 di Apple Museum; Staf museum membagikan apel kepada turis di Praha. (Foto: Muhammad Fadli)

9. Profesi: Pedagang Gawai
Apple Museum
Pada 2015, Praha, kota yang belum memiliki Apple Store, mendirikan Apple Museum. Dalam bangunan sepuh, museum ini memajang lebih dari 400 peranti Apple yang ditata secara kronologis dari 1976 hingga 2012, termasuk tetikus Lisa keluaran 1983, prototipe iPod buatan 2001, serta iPhone tambun generasi perdana. Berhubung Apple tanpa Steve Jobs bagaikan bahtera tanpa nakhoda, Apple Museum juga merangkap sebagai “Steve Jobs Museum.” Kita bisa menggali kiprah Steve di NeXT dan Pixar, juga menyaksikan satu set pakaian warisan almarhum. Selain di Praha, museum serupa bisa ditemukan di Italia dan Belanda. Apple sebenarnya pernah memiliki “museum resmi,” tapi fasilitas ini ditutup oleh Steve pada 1997. 

Eksterior Musée Yves Saint Laurent memancarkan pola benang, sementara interiornya menyerupai lapisan jaket yang mengilap. (Foto: Nicolas Math/Musée Yves Saint Laurent)

10. Profesi: Perancang Busana
Musée Yves Saint Laurent
Semenjak melawat Marrakech pertama kalinya pada 1966, Yves Saint Laurent langsung jatuh cinta pada negara ini. Banyak ilhamnya dipetik dari sini. Saat ada waktu senggang, dia menyepi di sini. Tak heran, sembilan tahun selepas kepergian Yves Saint Laurent, sebuah museum yang merekam jejaknya diresmikan di Marrakech. Koleksinya meliputi prototipe baju, 5.000 bahan busana, plus lebih dari 1.000 foto iklan buatan fotografer berpengaruh sekaliber Irving Penn dan Helmut Newton. Sejalan dengan koleksinya, bangunan Musée Yves Saint Laurent didesain “fashionable.” Eksteriornya memancarkan pola benang, sementara interiornya menyerupai lapisan jaket yang mengilap dan lembut. Rekomendasi museum lain bagi pencinta fesyen ialah Cristobal Balenciaga Museoa, Gucci Museo, serta Palais Galliera

Kiri-Kanan: Alat melihat stereograph di V&A Photography Centre; Modern Media Gallery di V&A Photography Centre. (Foto: Will Pryce/Victoria & Albert Museum)

11. Profesi: Fotografer
V&A Photography Centre
Dalam empat galeri, V&A Photography Centre memajang antara lain foto buatan abad ke-20 dari Alfred Stieglitz dan Irving Penn; karya fotografer perempuan perintis seperti Agnes Warburg dan Madame Yevonde; hingga kreasi kontemporer dari Hiroshi Sugimoto dan Martin Parr. Selain asortimen karya agung, fasilitas milik Victoria & Albert Museum ini memperlihatkan evolusi perangkat fotografi dalam wujud instalasi berisi 150-an kamera bersejarah. Rekomendasi museum lain bagi fotografer ialah Lumen Museum of Mountain Photography, Tokyo Photographic Art Museum, serta Eastman Museum. Yang terakhir ini adalah museum fotografi tertua di dunia. 

Zona yang menceritakan tokoh-tokoh intelijen masa silam, termasuk James Lafayette dan Mata Hari, di International Spy Museum. (Foto: Sam Kittner/International Spy Museum)

12. Profesi: Mata-Mata
International Spy Museum
Seperti dalam film, agen intelijen bergerak diam-diam, di belakang layar, secara klandestin. Tapi, sejak 2002, sebuah museum membongkar sebagian dari proses kerja mereka kepada publik. International Spy Museum, wadah liburan ideal bagi agen BIN, membeberkan beragam kisah dan kontroversi seputar kegiatan spionase, juga memajang aneka benda yang pernah dipakai lembaga telik sandi, contohnya mesin pengirim pesan Enigma buatan Nazi, koin dolar berisi jarum racun dari CIA, serta pistol lipstik “The Kiss of Death” milik KGB. Museum ini berlokasi di Washington DC. Di antara pendirinya ada mantan petinggi CIA dan tentara intelijen. 

Kiri-Kanan: Interior Airborne Museum, tempat yang merekam kisah penyerbuan Normandy; Tank sisa Perang Dunia II di pelataran Airborne Museum. (Foto: Cristian R)

13. Profesi: Tentara
Airborne Museum
Pada 1944, saat akan menyerbu Nazi lewat Normandy, pasukan Sekutu mengutus satuan penerjun payung dengan misi melumpuhkan radar dan meriam antipesawat. Kisah inilah yang diabadikan oleh Airborne Museum. Koleksinya meliputi truk GMC, jip Willys MB, serta pesawat Douglas C-47, lengkap dengan rekaman suara kokpitnya. Objek yang lebih kecil juga ada, contohnya seragam paratroopers, ransum mereka, serta aneka bedil dan bayonet. 

Kereta Metro menembus Museum of Pop Culture, bangunan yang didesain oleh Frank Gehry. (Foto: MoPOP)

14. Profesi: Musisi
Museum of Pop Culture
Dalam bangunan berbentuk amuba rancangan Frank Gehry, Museum of Pop Culture (MoPOP) merekam perjalanan manusia meracik lirik dan nada. Sejak didirikan dua dekade silam, kompleks yang berlokasi di Seattle ini telah menggelar belasan pameran musisi legendaris, serta beragam program pelatihan musisi muda. MoPOP didirikan oleh Paul Allen, salah seorang punggawa Microsoft. Opsi museum lain bagi pencinta musik ialah Hip Hop Hall of Fame Museum dan Handel & Hendrix

Kiri-Kanan: Dekorasi bertema Tokyo era 1958 di Shin-Yokohama Raumen Museum; Satu dari sembilan kedai ramen di museum. (Foto: Fransisca Angela)

15. Profesi: Tukang Mi
Shin-Yokohama Raumen Museum
Layaknya “ramenpedia,” Shin-Yokohama Raumen Museum membeberkan segala hal tentang ramen, mulai dari riwayatnya, penyebarannya, hingga pencapaiannya. Kita bisa mengetahui, misalnya, gerai ramen pertama di luar Jepang ternyata berdiri di New York pada 1975. Kompleks yang berlokasi di Yokohama ini terdiri dari dua zona: ekshibisi dan pujasera. Di ruang pertama, pengunjung bisa mempelajari sejarah ramen dan berbelanja produk-produk ramen. Di zona kedua, terdapat aneka kedai dalam aula menyerupai Tokyo era 1958—tahun ditemukannya ramen. Satu pertanyaan yang menggantung: kenapa museum ini memakai kata “Raumen”? Menurut staf museum, pilihan itu disebabkan keterpaksaan, sebab kata “ramen” sudah dipakai oleh museum lain.