Motif polkadot ikonis menghiasi dinding kaca Yayoi Kusama Museum.

Teks & foto oleh Yusni Aziz

Di balik kesibukannya sebagai jantung politik dan ekonomi Jepang, Tokyo merupakan ladang subur bagi tumbuhnya ekspresi dan eksperimen seni. Dari kutub seni rupa, publik bisa menyelami dunia superflat kreasi Takashi Murakami hingga imaji erotis hasil jepretan Nobuyoshi Araki. Sementara dari gelanggang desain, beragam arsitek dan desainer kenamaan Jepang meninggalkan jejaknya di kota ini.

Berkat skena seninya yang penuh geliat dan gairah itu, Tokyo pun senantiasa punya tawaran untuk menghibur mata. Di sini, kita seolah tak akan kehabisan galeri, sanggar, studio, atau museum untuk dikunjungi. Dengan itu pula, kalender seni Tokyo selalu ditaburi beragam ekshibisi, presentasi, juga diskusi dari beragam disiplin seni. Mengawali ekspedisi visual Anda, berikut empat yang patut dipertimbangkan.

Yayoi Kusama Museum
Tak banyak seniman yang bisa merebut atensikhalayak luas seperti Yayoi Kusama. Pada 2014, usai karya-karyanya disaksikan dua juta manusia di kawasan Amerika Selatan dan Asia, Yayoi dinobatkan sebagai artis terpopuler sejagat oleh media seni bergengsi Art Newspaper. Dua tahun berselang, namanya masuk daftar 100 manusia berpengaruh versi majalah Time.

Yayoi lahir di Matsumoto, memupuk reputasinya di New York, memikat banyak kolektor kakap dan menyebar karyanya di banyak kota di dunia, termasuk Jakarta. Tapi titik awal yang ideal untuk mengenalnya ialah museum miliknya yang bersemayam di kawasan Shinjuku, tak jauh dari studio dan rumah sakit jiwa di mana sang perupa—atas inisiatifnya sendiri—menghabiskan banyak waktunya untuk terapi.

Dalam kelima lantainya, Yayoi Kusama Museum menuturkan siapa Yayoi dan apa yang membuatnya begitu berpengaruh. Setidaknya dua pameran digelar di sini per tahunnya. Dari April-Agustus 2018, public disuguhi gambar dan lukisan Yayoi dari masa-masa awal kariernya. Tahun ini, museum ini memamerkan karya-karya bertema botani dan potret diri.

Usai diresmikan pada Oktober 2017, Yayoi Kusama Museum langsung menjadi magnet baru pariwisata Tokyo. Tiap harinya, buku reservasinya kelewat sibuk, sampai-sampai jumlah sesi kunjungan tamu mesti dinaikkan dari empat menjadi enam kloter per hari— sebuah testimoni lain akan kuatnya pamor sang artis di level internasional. Satu yang penting diingat jika ingin melawat, tiket tidak bisa dibeli di lokasi, melainkan harus dipesan secara daring di web resmi museum. yayoikusamamuseum.jp.

Kiri-kanan: Suasana pameran foto bertajuk Koga & Japanese Modernism di ToP Museum; Tokyo Photographic Art Museum (ToP Museum) menghuni gedung empat lantai di Yebisu Garden Place dan mengoleksi lebih dari 34.000 karya.

Tokyo Photographic Art Museum
Pada 2016, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-20, Tokyo Metropolitan Museum of Photography merampungkan renovasinya dan terlahir kembali dengan nama Tokyo Photographic Art Museum (TOP Museum).

Menghuni bangunan empat lantai dengan koleksi lebih dari 34.000 karya, TOP Museum merupakan museum fotografi terbesar di Negeri Sakura, sekaligus salah satu yang terbesar di Asia. Tak heran, tempat ini menjadi ruang pamer favorit banyak Lembaga dan seniman, contohnya World Press Photo dan Nobuyoshi Araki. Di sini jugalah kita bisa mempelajari tradisi fotografi Jepang yang begitu disegani di panggung dunia.

Hingga Agustus 2017, TOP Museum sudah menjala sekitar tujuh juta pengunjung. Tapi sesungguhnya tak semua orang datang untuk melihat foto. Di ketiga galerinya, museum ini juga ajek menggelar pameran anime, video, serta seni instalasi. Di Negeri Sakura, persinggungan antara fotografi dengan disiplin seni lain memang praktik yang lumrah. “Dalam sebulan saya bisa dua hingga empat kali datang ke sini,” ujar Deby Sucha, fotografer asal Indonesia yang bermukim di Tokyo.

Selain galeri, TOP Museum dilengkapi perpustakaan, ruang sinema, serta kafe. Memasuki toko NADiff BAITEN, kita bisa berbelanja suvenir bertema foto dan beragam buku foto. “Tentu saya sangat merekomendasikan siapa saja berkunjung ke sini,” lanjut Deby. “Dengan melihat karya para fotografer, kita bisa mempelajari sejarah dan kondisi sosial suatu era.” topmuseum.jp.

Baca juga: 5 Ruang Seni di Jakarta; 9 Pusat Kebudayaan Ikonis

Ruang pamer Galeri 3 di 21_21 Design sight yang dinaungi atap logam yang ditekuk laksana kain.

21_21 Design Sight
Desain berjasa membuat hidup lebih mudah dan menyenangkan. Satu yang jarang disadari, banyak kreasi desain, mulai dari lekuk pena hingga sandaran sofa, sebenarnya lahir dari riset yang matang dan uji coba yang penuh kesabaran. Fakta itulah yang menjadi salah satu alasan utama lahirnya 21_21 Design Sight pada 2007. Dicetuskan oleh sekumpulan desainer Jepang, tempat ini berniat membuka mata publik akan pentingnya desain dan proses rumit di baliknya.

Bangunannya berada di Tokyo Midtown, kompleks artistik yang dirancang sebagai sentra budaya desain Jepang. Di dekatnya terdapat sejumlah institusi yang berpengaruh di jagat seni dan desain, seperti Mori Art Museum, Suntory Museum of Art, serta National Art Center.

Awalnya, 21_21 Design Sight menampung hanya dua galeri yang dirancang oleh arsitek kenamaan Jepang, Tadao Ando. Desainnya terinspirasi filosofi “A Piece of Cloth” dari Issey Miyake, salah seorang pendiri 21_21 Design Sight. Pada 2017, 21_21 Design Sight melansir galeri ketiganya, yang juga diotaki oleh Tadao Ando. Di bawah naungan atap berbahan logam yang ditekuk laksana kain raksasa, Galeri 3 didedikasikan untuk memajang hasil program-program kolaborasi dengan beragam sekolah, institusi kultural, serta korporasi. 2121designsight.jp.

Gerbang SCAI, galeri yang menempati pemandian umum berusia dua abad.

SCAI
Terselip di Yanaka, salah satu distrik tertua di Tokyo, SCAI (Shiraishi Contemporary Art Inc.) adalah galeri eksentrik yang menempati pemandian umum berusia 200 tahun. Fasad orisinalnya tak banyak direvisi: bangunan tradisional Jepang yang dipercantik sebidang taman elok. Akan tetapi, begitu memasukinya, kita akan disambut permainan desain dari zaman yang berbeda: zona putih minimalis berlanggam industrial.

“Cantik! Saya selalu suka arsitektur yang menabrakkan unsur baru pada bangunan lama,” ujar Ardy Hartono, anggota tim curator Paviliun Indonesia untuk Venice Biennale 2018, yang mengunjungi SCAI Maret tahun lalu. “Porsi elemen baru di interior dan eksterior bangunan terasa sangat tepat. SCAI benar-benar salah satu referensi favorit saya.”

Tapi SCAI sesungguhnya tak hanya memukau lewat arsitekturnya. Sejak diresmikan pada 1993, tempat artistik ini ajek menghidangkan berbagai pameran karya seniman dari dalam dan luar negeri. Dalam ruangannya yang cupet dan intim pernah bertemu nama-nama masyhur sekaliber Anish Kapoor dan Lee Ufan, dengan berbagai artis muda lokal berbakat.

Daya tarik lain SCAI ialah lokasinya. Usai melawat tempat ini, pengunjung bisa meneruskan tur ke berbagai situs sejarah, termasuk kuil-kuil megah di kawasan Yanaka yang merekam wajah Tokyo masa lampau. scaithebathhouse.com.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Oktober/Desember 2019 (“Atelir Artistik”)