3 Tempat Unik Yang Merayakan Kesedihan

Duka dan cela adalah bagian lumrah dari hidup, karena itu patut dikenang dan dirayakan.

Boneka seks sewaan yang ditarik dari pasaran setelah empat hari diluncurkan oleh Taqu pada 2017 di Tiongkok. (Foto: Museum of Failure)
Kiri-Kanan: Dr. Samuel West, pendiri Museum of Failure. (Foto: Sandra H Gao); Forte VFX1, salah satu produk gagal yang dipamerkan di Los Angeles pada 2017. (Foto: Museum of Failure)

Museum of Failure
Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, dan Museum of Failure merekam sebagian buktinya. Mengusung moto “innovation needs failure,” museum keliling ini mengoleksi lebih dari 100 produk yang ditarik dari pasar atau diberhentikan produksinya, baik akibat mengandung cacat internal ataupun tidak laris, contohnya Google Glass, Nokia N-Gage, Coke II, DeLorean, dan Kodak DC-40. Tujuannya bukan untuk mencela si pembuat, melainkan memperlihatkan betapa inovasi sarat risiko dan segala yang bagus di atas kertas belum tentu direspons konsumen—dan dari pelajaran pahit inilah pelaku bisnis bisa memperbaiki produknya. Dilandasi hikmah serupa, Museum of Failure menantang pengunjung membeberkan kegagalan personal dengan cara menuliskannya atau mengucapkannya di bilik pengakuan. Museum unik ini dirintis pada 2017 di Swedia oleh Samuel West, doktor di bidang psikologi organisasi. Tahun ini, Museum of Failure rencananya diboyong ke Saint-Etienne (Prancis) dan San Francisco. Namun, akibat pandemi Covid-19, niat itu dibatalkan dan Samuel memilih menciptakan tur virtual di web. museumoffailure.com

Kiri-Kanan: Lukisan Lucy in the Field with Flowers didapat dari tempat sampah; Lukisan Charlie and Sheba dibeli dari toko barang bekas di Boston. (Foto: Museum Of Bad Art)

Museum Of Bad Art
Seperti mobil sisa tabrakan yang entah kenapa menarik dilihat, karya seni yang buruk memberi efek psikologis serupa—dan Museum Of Bad Art (MOBA) didirikan untuk menampung mereka. Di bawah semboyan “art too bad to be ignored,” museum yang dibuka pada 1994 ini memajang karya-karya yang membuat publik mempertanyakan definisi “standar artistik” di dunia seni. Koleksinya mendekati 800 buah, mayoritas didapat dari donasi dari si pembuat, sisanya dari toko barang bekas atau tempat sampah. Tapi tidak sembarang karya jelek bisa diterima, karena ternyata seni buruk rupa pun butuh standar. Dikawal kuratorial yang cukup ketat, MOBA mensyaratkan tiap karya harus original, punya niat serius saat dibuat, mengidap kekurangan kronis, tapi tidak membosankan. Itu pula sebabnya, karya buatan anak atau lukisan massal cetakan pabrik ditolak. Berkat konsepnya yang kontroversial, MOBA sempat dikritik “anti-seni.” Dikutip dari Irish Times, Marie Jackson, salah seorang pendiri museum, menjawabnya dengan mengatakan: “Kami ada untuk merayakan hak artis untuk gagal.” Awalnya menempati tiga galeri di Boston, MOBA kini direlokasi ke tempat baru, yang akan diumumkan ke publik selepas pandemi Covid-19. museumofbadart.org

Baca juga: 10 Negara Paling Bahagia 2020

Kiri-Kanan: Kapak yang pernah dipakai untuk menghancurkan mebel milik pasangan yang selingkuh; Kafe dengan info kata sandi Wi-Fi yang jenaka di Museum of Broken Relationships. (Foto: Atet Dwi Pramadia)

Museum of Broken Relationships
Tempat murung ini, sesuai keterangan resminya, merupakan “museum tentang Anda, tentang kita, tentang bagaimana kita mencintai dan kehilangan.” Koleksinya menembus 2.000 objek, umpamanya surat bunuh diri; diari kekasih yang mendadak minggat; kaus hadiah dari mendiang ayah; serta kapak yang pernah dipakai untuk menghancurkan mebel milik pasangan yang selingkuh. Museum of Broken Relationships adalah ruang yang menceritakan getirnya hidup dan rapuhnya hati manusia. Uniknya, tempat ini pun dimulai dari elegi serupa. Pada 2006, usai empat tahun berpisah, seniman Olinka Vistica dan Dražen Grubisic menemukan cara untuk melupakan memori kegagalan hubungan mereka, yakni “melepaskan” benda yang melambangkan cinta mereka. Tapi kemudian Olinka dan Dražen menyadari banyak orang butuh saluran beban emosional serupa. Keduanya pun berkeliling dunia, dari Argentina hingga Singapura, demi menjala donasi memorabilia dari para “korban cinta” lainnya. Oktober 2010, semua benda itu diangkut ke Zagreb, dikurasi, dipajang, hingga lahirlah sebuah museum dengan koleksi termurah sekaligus tersedih di dunia. Pada 2016, cabangnya dibuka di Los Angeles. brokenships.com

Comments