Monumen Ambon City of Music di kawasan Hative Besar, Teluk Ambon.

Teks oleh Fatris MF
Foto oleh Santirta Martendano

Di dalam sebuah angkutan kota, seorang nenek melayangkan protes kepada sopir. Saya terjemahkan kata-katanya: “Nyong, kamu putar musik dulu, supaya kepala penat mama hilang. Ini kepala mama sudah pusing. Mobilmu tidak ada musik, ya? Ampun Tuhan, mobilmu memang tidak diminati, ya?”

Ambon, Ibu Kota Provinsi Maluku, memandang musik sebagai kebutuhan primer, mungkin sama pentingnya dengan makanan dan sandang. Berkendara dari bandara menuju pusat kota, kita akan melihat semboyan raksasa Ambon City of Music tertancap di pinggir jalan. Di jalan-jalan kota, seluruh angkot mendentumkan musik hingga menyerupai kelab malam berjalan. Jika tidak, maka sopirnya harus siap diprotes penumpang.

Kota di tepi Laut Banda ini memang tidak bisa dipisahkan dari nada dan suara. Apa penyebabnya? Kenapa musik begitu penting dalam kehidupan warganya?

Seorang bocah di menikmati waktu di dermaga di Pantai Amahusu.

Suatu malam, saya singgah di Sibu Sibu Cafe di mana seorang penyanyi sepuh membawakan tembang-tembang asing. Suaranya melarutkan irama jazz, kadang swing, kadang blues. Menatap dinding kafe, saya menemukan begitu banyak potret penyanyi. Ada Bob Tutupoly, Ruth Sahanaya, Andre Hehanusa, Harvey Malaiholo, dan Melly Goeslaw. Semuanya bintang bersuara emas yang mewarnai belantika musik Tanah Air sejak zaman Aneka Ria Safari hingga The Voice.

Lagu masih mengalun di interior Sibu Sibu. Melayangkan mata ke sebidang “wall of fame” yang lain, saya mendapati sejumlah wajah asing: Bing Lekatompessy, Vengaboys, Chelina Manuhutu, George de Fretes, Daniel Sahuleka. Siapakah mereka? “Itu pemusik dunia. Semua orang Maluku,” celetuk seorang pengunjung, seolah menyadari ketidaktahuan saya.

Kiri-kanan: VCD berisi video klip penyanyi asal Ambon di toko Anastasia; Seorang pelajar SMP memetik gitar di Pantai Rumah Tiga, tempat banyak orang lokal bernyanyi.

Sejumlah musisi berdarah Ambon, juga Maluku, memupuk reputasinya di luar negeri. Daniel Sahuleka, pencipta tembang Don’t Sleep Away This Night, bermukim di Belanda. Chelina Manuhutu lahir di Belanda dan kini menekuni profesi DJ. Masih di Belanda, lebih dari empat dekade silam lahir grup Massada yang seluruh anggotanya berdarah Maluku. Di dalamnya ada Johnny Manuhutu, pengungsi asal Indonesia yang sejak kecil menetap di Huizen, kamp yang berjarak 30 kilometer dari Amsterdam. Dia dibawa bapaknya yang tergabung dalam KNIL. Astaganaga, album debut Massada, memuat lagu-lagu berbahasa Inggris, Spanyol dan Indonesia yang beberapa menempati daftar Top 40 Belanda.

Massada bukan satu-satunya. Grup asal Maluku yang juga lumayan kondang antara lain Pemuda 20 Mai, Merantau, H-Gang, dan Bintang Merah. Buku Recollecting Resonances: Indonesian-Dutch Musical Encounters menyisipkan sebuah episode menarik ketika Basuki Resobowo, seniman Lekra yang eksil ke Belanda, menonton aksi H-Gang. “Sesuatu yang lahir dari semangat baru,” puji sang pelukis tentang grup tersebut.

Beberapa siswa SD bercanda di depan mural Yesus Kristus di Jalan Rijali.

Bagaimana kita mencerna fenomena itu? Apakah suara emas terpatri dalam DNA orang berdarah Ambon dan Maluku? “Tuhan menciptakan orang Ambon dari suara,” jawab pria di Sibu Sibu tadi dengan jawaban setengah mengada-ada. Tanpa pamit, dia berlalu tanpa sempat kami berkenalan. Saya pun beranjak dari Sibu Sibu dan singgah di kafe lain.

“Semua orang di sini penyanyi. Susah menemukan orang yang tidak bisa bernyanyi di Ambon,” kata Greggy Toisuta, seorang mahasiswa yang tengah duduk di Pension Cafe, sarang kongko dan bermusik yang populer di kalangan remaja lokal. Di samping Greggy duduk Glenny Manuputty, gadis bersuara emas yang bercita-cita menjadi penyanyi.

“Sejak kecil, saya sudah bernyanyi. Tidak cuma di gereja dan kafe, di mana-mana saya bernyanyi,” kata Greggy lagi. “Apalagi kalau sedih dan galau. E, itu menyanyi tarus,” Glenny memotong, kemudian berseloroh: “Sedih dan jatuh cinta membuat kita bernyanyi. Jangan ada yang melarang. Kalau ada yang melarang, e itu bisa perang dunia!”

Wempi Barends, staf LIPI yang menyambi sebagai guru vokal bagi pemuda setempat.

Ambon pernah dicatat dengan tinta merah sebagai kota yang porak-poranda akibat perang saudara. Banyak penganut Islam dan Kristen di sini berseteru. Kerusuhan dan bentrokan pecah berulang kali dalam kurun 1999-2011. Lantas, bagaimana mungkin kota yang dirundung konflik ini bisa terus-menerus mencetak penyanyi?

Glenny tak menjawab. Bibirnya yang dilapisi gincu hanya terkatup. Dia malah mengajak saya menaiki perahu ke seberang kota, lalu mengantarkan saya ke rumah Wempi Barends. Sehari-harinya, Wempi bertugas sebagai staf Pusat Penelitian Laut Dalam LIPI. Di waktu senggangnya, lelaki paruh baya ini menyambi sebagai guru vokal bagi pemuda setempat, termasuk Glenny dan Greggy. Sanggar latihannya kawasan Pantai Rumah Tiga.

Kiri-kanan: Petai di Pasar Mardika, Ambon; Interior Masjid Jami, salah satu rumah ibadah paling bersejarah di Ambon.

“Tuhan memberi anugerah pada orang Ambon. Orang Ambon sudah punya musikalitas dalam diri sejak lahir,” jelas Wempi. Saya berupaya mencerna kata-katanya, berupaya memahami bagaimana Tuhan mengalokasikan karunia musikalitas layaknya menakdirkan warna kulit atau bentuk rahang.

Belum rampung saya merenung, Wempi melanjutkan analisisnya. “Kita tahu,” ujarnya, “banyak penyanyi berdarah Ambon terkenal justru di daerah lain seperti Surabaya atau Eropa, itu karena di Ambon sendiri tidak ada kompetisi bernyanyi dulunya. Institut seni saja tidak ada di kota ini. Ambon City of Music itu belum menggambarkan kenyataan.”

Wempi terus mengoceh, tentang banyaknya tempat latihan bernyanyi di Ambon hingga penghargaan yang pernah disabetnya. Dia juga yakin, lagu dan nyanyian memiliki daya magis. Pada 2005, kenangnya, Ambon belum sepenuhnya aman. Salah masuk gang, orang bisa terbunuh akibat perbedaan keyakinan. “Saat seperti itulah, beta melatih paduan suara ke Tulehu, ke Universitas Darussalam. Islam dan Kristen, semua orang Ambon bisa bernyanyi,” katanya lagi dalam intonasi yang terjaga khas seorang penyanyi yang piawai.

Hawaiian Band tampil dalam acara Sidi atau pembaptisan di Batu Meja.

Workshop Cafe terlihat seperti ajang Ambon Idol. Awalnya saya menonton Marioni bernyanyi. Suaranya melengking, menghempas seperti angin barat yang meniup daun- daun sagu. Setelahnya, panggung digilir oleh beragam penyanyi dengan kualitas suara yang sulit ditemukan tandingannya. Belum pernah saya melihat begitu banyak orang yang lihai bergamat di satu kafe. “Orang Maluku memiliki tradisi tutur yang terus terpelihara sejak dulu, salah satunya dengan bernyanyi,” kata budayawan Rudi Fofid di Workshop Cafe.

Meninggalkan Workshop Café, saya meluncur ke tepian kota. Di malam selarut ini, Djafar Borut masih berdendang lantang di rumahnya. “Lau mbelane, lau mbelane,” kerong- kongan pria 72 tahun itu mengeluarkan irama pentaton tanpa diiringi alat musik. Onotan, begitu Djafar menyebut judul nyanyiannya.

Poster para musisi legendaris berdarah Ambon di Sibu Sibu Cafe.

Dalam buku Song of Travel, Stories of Place; Poetic of Absence in an Eastern Indonesian Society, Timo Kaartinen menyebut Onotan sebagai nyanyian para perantau: lagu orang-orang yang eksodus ketika tanah kelahiran tak lagi damai. Di sinilah, ungkapan verba volant scripta manent itu diragukan. “Yang terucap terbang menghilang, yang tertulis abadi” bagaikan tidak mendapat tempat di sini. Ketika sejarah alpa mencatat dengan aksara, nyanyian memendamnya lebih lama, lebih kekal.

Malam ini tak cuma Djafar yang bersenandung. Di seberang jalan terdengar pula suara merdu pria lain dalam irama yang dinamis. Sementara di pagi hari, rumah-rumah mengeluarkan suara orang berkaraoke. Kompleks Salobar di tepi kota ibarat hutan yang dibuka oleh cicit burung. Di jalan remaja bernyanyi; di rumah mama-mama berkaraoke.

Kiri-kanan: Katedral St. Fransiskus Xaverius; Poster Yesus Kristus menindih logo klub sepak bola Belanda di pos penjaga Jalan Dipenogoro.

Di Ambon yang terik, saya berputar-putar tak tentu arah. Amin, seorang penyanyi hip hop, membawa saya berkeliling. Kami berpindah dari satu angkot ke angkot lain, dari terminal ke plaza. Kami juga sempat melawat kompleks-kompleks perumahan yang dikawal tentara. Bahkan setelah konflik reda lebih dari 10 tahun silam, tentara masih berjaga dan siaga.

Di banyak tempat, saya mendengar orang-orang berkaraoke, menonton organ tunggal, memasang sound system dengan suara yang menggelegar, padahal tak ada hajatan. Orang Ambon memang tidak perlu alasan untuk bernyanyi. Ini juga barangkali yang membuat Ambon mengoleksi lebih banyak toko sound system ketimbang pabrik.

Leni berlatih bernyanyi dengan berendam di air laut di Rumah Tiga.

Amin kini membawa saya ke sebuah kompleks perumahan di pinggang Gunung Nona, Dataran Tinggi Ambon, di mana sejumlah pria tengah bernyanyi bergantian. Di dekat mereka, beberapa lelaki lain sibuk menghempaskan kartu. “Ini adalah tapal batas antara Muslim dan Kristiani. Ini adalah jurang yang memi- sahkan antara teman dan tetangga,” kata Munawir seraya menunjuk segaris jalan kecil. Dia terdengar kesal, entah kesal pada siapa. Saya dan Amin hanya membisu. “Tapi,” lanjut Munawir, “di meja judi dan panggung organ, jurang pemisah sedalam Laut Banda itu seng ada lai. Islam atau Kristen, bisa nyanyi, bisa judi jua. Hanya beta yang tidak bisa bernyanyi.”

Saya kembali menumpang angkot, kemudian menyusuri pelabuhan hingga malam datang. Malam yang tak pernah sepi. Di kafe-kafe, kopi dan lagu memberi alasan orang untuk terus terjaga. Rasa kopi di sini mungkin tidak sedahsyat kafe-kafe di Jakarta atau Bali. Namun kualitas rasanya berhasil dikompensasi oleh hiburan lagu-lagu yang mengalun.

Patung pejuang Christina Martha Tiahahu menatap kota Ambon.

Mendarat di jantung kota, saya mampir di Maples Cafe. Di sini, sebagaimana di Pension Cafe, kursi-kursi dikuasai kaum remaja. Saya mengambil satu kursi yang tersisa, memesan kopi, lalu menyimak penampilan sebuah grup.

And I found it there in your heart. It isn’t too hard to see. We’re in heaven.” Michael Pelu Pessy sedang melantunkan Heaven saat saya duduk di antara tamu kafe. Lagu ini kerap saya dengar di kafe-kafe di Jakarta, tapi Michael berhasil memberikan warna yang berbeda. Mungkin terdengar berlebihan, tapi menurut saya Michael harusnya meminta izin dari Bryan Adams untuk mengemas ulang Heaven.

Kiri-kanan: Pension Cafe, sarang kongko dan bermusik yang populer di kalangan remaja; Abi, pemuda kelahiran Ambon yang kini menetap di Bekasi.

“Jangan heran, jadi orang Ambon itu cuma ada dua pilihan untuk bertahan hidup: jadi preman atau penyanyi. Dua-duanya harus serius,” kata Dalenz Utra’k, seorang penyanyi reggae yang gemar berfilosofi. Sepanjang diskusi, saya tidak bisa membedakan kapan dia berbicara serius atau bergurau. Tentang dikotomi preman-penyanyi misalnya, dia punya hipotesis yang absurd: “Setiap preman yang berasal dari Ambon pintar bernyanyi, tapi tidak setiap penyanyi Ambon bisa jadi preman. Sekarang tidak masanya lagi Bob Tutupoly, Broery, aih, itu lagu padede [cengeng].”

Dalenz mengajak saya pindah ke kafe lain. Di Pasir Putih Cafe, dia membawakan nomor-nomor klasik Bob Marley hingga lagu karangannya sendiri. Usai dia turun dari panggung, seorang pengunjung kafe langsung merebut mikrofon. Kolonel Sahal Ma’ruf, seorang perwira Angkatan Darat, mengambil alih panggung. Sahal tidak lahir di Maluku, dan suaranya tentu tidak bisa dipadankan dengan Michael, Marioni, atau Dalenz. Tapi bukankah Monita Tahalea, Bayu Risa, dan Glenn Fredly juga tidak lahir di Ambon? Apakah tanah memengaruhi suara, Dalenz?

Umat Katolik merayakan Paskah di depan katedral St. Fransiskus Xaverius.

“Yang mendamaikan Maluku itu nyanyian. Orang Ambon tidak perlu belajar bernyanyi,” kata Dalenz. Saya bertanya lain, Dalenz menjawab lain. Tanpa diminta, dia bercerita tentang pengalamannya bernyanyi di Jakarta, juga tentang segala aliran musik yang hidup di Ambon, mulai dari hip hop, reggae, hingga Hawaiian. Usai mengulas grup Arnes Star yang manggung di setiap upacara Sidi di gereja, sang filsuf ini mengajukan satu hipotesis lain: di Ambon kita bisa menemukan banyak pemusik dan pengemis, tapi sukar menemukan pengamen. Betapa janggal.

Di Indonesia atau di seberang benua, dulu atau kini, orang Ambon bernyanyi. Bagi mereka, bernyanyi laksana hobi yang melintasi ruang dan waktu. Saya teringat Wempi. Barangkali dia benar, Tuhan menganugerahkan musikalitas pada orang Ambon sejak lahir.

Kiri-kanan: Panorama kota Ambon dan Jembatan Merah Putih yang membentang 1.140 meter; Tiga pemuda bersantai di Jalan Joseph Kam.

Saya sudah lelah bertanya bagaimana Ambon melahirkan begitu banyak penyanyi. Saya pernah melayangkan surel kepada Monita Tahalea dan Bayu Risa untuk mencari tahu kenapa begitu banyak penyanyi berdarah Ambon. Apakah kemampuan bernyanyi mereka adalah suratan takdir? Monita dan Bayu Risa tidak membalas surel saya. Barangkali pertanyaan saya hanya lelucon yang tidak perlu ditanggapi.

PANDUAN
Rute
Bandara Pattimura di Ambon terkoneksi ke sejumlah kota, antara lain Jakarta, Makassar, Manado, Banda Naira, dan Sorong. Penerbangan ke sini dilayani antara lain oleh Batik air (batikair.com), Garuda Indonesia (garuda-indonesia.com), serta Sriwijaya air (sriwijayaair.co.id).

Pantai Natsepa, objek wisata populer di Ambon.

Penginapan
Ambon mengoleksi cukup banyak penginapan. Salah satu yang menarik dicoba adalah Swiss-Belhotel ambon (Jl. Benteng Kapaha 88; 0911/322-888; swiss-belhotel.com; mulai dari Rp760.000), hotel yang berlokasi di pusat kota, tak jauh dari taman Pattimura dan kedai-kedai kopi ternama. Swiss-Belhotel Ambon menaungi 111 kamar yang terbagi dalam enam tipe, ditambah fasilitas seperti restoran, bar, dan spa.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi September/Oktober 2017 (“Kota Gita”).