Bahkan rekan dari New York pun terkesan. Kombinasi karisma tua dan muda juga terlihat pada lanskap seni. Museum of Fine Arts dan Isabella Stewart Gardner Museum masih berdiri, tapi energi yang lebih segar terpancar dari Institute of Contemporary Art yang diluncurkan pada 2006. Tempat yang menempati segaris lahan di pelabuhan ini mengadopsi desain minimalis dan kantilever, sebuah kejutan bagi gaya arsitektur kota yang konservatif. Di dalamnya, warga dan turis dihibur oleh pameran seni kontemporer, pentas DJ, serta konser terbuka yang menohok.

Baru-baru ini, arsitek Italia Renzo Piano memberikan interpretasi radikal atas kompleks Harvard Art Museums sekaligus memberikan alasan baru bagi pencinta seni untuk menyeberangi sungai menuju Cambridge. Harvard mengoleksi lebih dari 250.000 benda seni, mulai dari lukisan gua hingga mural buatan Mark Rothko. Tapi ketiga museum milik Harvard—Fogg Museum, Busch-Reisinger Museum, dan Arthur M. Sackler Museum—gagal memberikan perlakuan yang layak bagi koleksi kampus yang masif tersebut. Renzo Piano lalu datang dengan membawa hobinya mengolah kaca dan cahaya natural. Seraya mempertahankan gerbang bata neo-Georgia dan pelataran bergaya Italia dari gedung Fogg, Renzo menggelembungkan interior museum mengandalkan kombinasi beton, kaca, dan baja. Di musim dingin, ketiga museum Harvard itu berfungsi sebagai suaka akhir pekan bagi saya dan suami.

Saya memilih Cambridge sebagai tempat hidup. Dihuni kampus favorit Harvard dan MIT, Cambridge telah lama terlindungi dari periode pasang-surut yang melanda Greater Boston. Tapi, meski didiami banyak kaum profesional terdidik dan mahasiswa yang mayoritas berduit, Cambridge tidak pernah benar-benar menjadi hip. Ia akan selalu menjadi sebuah kota di mana kita bisa menikmati makanan yang layak dan lumayan, tapi tidak memukau dan terkenang.

Kini, berkat merekahnya sektor bioteknologi, Cambridge melesat, fenomena yang mengingatkan kita pada Bay Area di San Francisco di mana harga properti melonjak dan warga lokal mengeluh. Ledakan itu, bagaimanapun, telah memicu kelahiran restoran-restoran yang lebih berkelas, mulai dari Oleana yang meracik kuliner Turki dan Mediterania, hingga Cafe ArtScience yang menyulap tiap piring menjadi sajian yang semarak.

Setiap kali saya dan suami keluar untuk makan malam, kami kewalahan memilih restoran, padahal kami baru berjalan beberapa kilometer dari kondominium. Kurang dari lima menit berjalan kaki, saya sudah bisa meneguk es teh manis dari gelas stoples dan melahap pork loin di ruangan temaram Tupelo. Saya juga bisa meluncur ke Puritan & Company untuk memesan selusin tiram asal Wellfleet, selanjutnya melahap seafood segar semacam kerang dan cumi-cumi asal Rhode Island. (Satu pesan saya jika ingin memilih makanan di Greater Boston atau kawasan pesisir di New England: seafood tidak pernah mengecewakan.)

Mengutamakan bahan-bahan lokal dan presentasi yang rendah hati, tradisi kuliner New American tumbuh nyaman di sini. Di kedai mungil Bondir, komitmen pada “locavorism” mencapai tingkat yang ekstrem hingga menyerempet parodi. Ketika makan malam di sini, saya sempat membayangkan pelayan akan menamai ayam pesanan saya “Colin.” Pengalaman serupa tersaji di Alden & Harlow, restoran bawah tanah di gedung yang menampung Brattle Theatre di Harvard Square. Burger racikan koki Michael Scelfo di sini adalah menu wajib dalam wisata kuliner di Boston, walau kemungkinan para tamu kelak kembali untuk mencicipi koktail-koktail inventif buatan Seth Freidus.

Namun kebangkitan di Cambridge kalah gempita dibandingkan dengan apa yang terjadi di daerah tetangga—Somerville. Kisahnya, bagi saya, bagaikan keajaiban dari negeri dongeng. Berpredikat kota industri, Somerville menderita kemerosotan selama beberapa dekade akibat hengkangnya pabrik-pabrik perakitan mobil pada akhir 1950-an.