Sejujurnya, beberapa reputasi buruk itu cukup akurat. Di dekat rumah, seorang teman yang juga ekspatriat asal Asia, menuturkan pengalamannya kala berhenti di depan lampu merah dan bertatap mata dengan pengendara di sampingnya. Usai mengangguk ramah, dia malah disambut kata-kata satir, “memang kita saling kenal?” Seorang teman lain yang juga berstatus pendatang mengisahkan, dalam minggu-minggu pertama di sini, dia pernah berjalan di belakang dua buruh bangunan yang sedang memperdebatkan faedah dari kehadiran “chowdah” (istilah untuk orang yang berperilaku ala Boston, tapi sebenarnya tidak terlahir di sini). Kasus yang paling mencoreng tentu saja kekerasan rasial yang dipicu oleh kebijakan penghapusan pemisahan sekolah berdasarkan warna kulit pada periode 1960 dan 1970-an.

Kondisinya mulai berubah pada 1990-an saat Boston berniat bangkit dari keterpurukan. Salah satu asetnya adalah masa lalu yang gemilang. Selain menjadi “ground zero” dalam Revolusi Amerika, Boston merupakan pelita bagi gerakan Renaisans Amerika abad ke-19. Dari sinilah lahir pujangga-pujangga terpandang seperti Thoreau, Hawthorne, Emerson, dan Longfellow. Di Amerika, perpustakaan umum pertama, juga sekolah menengah umum pertama, didirikan di Boston. Kini, kawasan Greater Boston menampung 53 perguruan tinggi, mulai dari institusi terkemuka semacam Harvard dan MIT, hingga lembaga spesialisasi seperti New England School of Photography.

Pengunjung di Institute of Contemporary Art. Bangunan ini menghadirkan kesegaran pada gaya arsitektur kota yang relatif konvensional.

Bermodalkan portofolio akademik yang impresif, Boston, di bawah kepemimpinan wali kota bertangan dingin Thomas Menino (alm.), berhasil memutar kencang mesin ekonominya dan menjadi salah satu tempat yang paling bersinar secara konsisten pascaresesi ekonomi 2008.

Tapi Boston bukanlah sebuah kisah transformasi yang mulus. Ego daerah memaksa tiap kebijakan diterapkan penuh kehati-hatian. Dalam aspek tata kota misalnya, banyak struktur tua dipertahankan, umpamanya gedung-gedung bata bergaya Georgia, struktur brownstone bergaya Victoria, serta apartemen tiga lantai warisan abad ke-20. Tentu saja, monumen-monumen penting tak diusik. Ada Bunker Hill, USS Constitution di Charlestown, serta Minute Man National Historic Park (tempat dimulainya perang kemerdekaan) di Concord.

Di level sosial, tabiat konvensional kota juga bertahan. Saat melawat ke sini pada musim gugur 2013, saya dikejutkan oleh cuplikan pemandangan dari masa kecil saya: wanita-wanita anggun berbusana twinset (kombinasi cardigan dan pullover sweater) yang berjalan menuntun retriever dan labrador di padang rumput. Saya juga masih melihat perahu-perahu angsa yang meluncur pelan di laguna, serta bus-bus sepuh yang melayani rute Green Line.

Pelayan di restoran Alden & Harlow membawa sajian kerang goreng dengan buntut babi asap.

Boston memang berniat memasuki babak baru, tapi kisah-kisah lamanya masih membayangi. Saya punya satu cerita untuk menggambarkannya. Pada awal 90-an, sewaktu duduk di bangku SMA, saya mengunjungi Harvard Square dan bercengkerama di situs-situs eksentrik kaum remaja seperti Café Pamplona, Newbury Comics, dan Oona’s. Kini, datang dengan status ibu berusia 40-an, saya mendapati semua tempat itu rupanya masih eksis, selamat dari gelombang tren gastropub dan toko waralaba.

Saat mampir di Cafe Dwelltime, saya menemukan para barista bertato yang memutar musik cadas dari Fugazi dan grup-grup era akhir 80-an seraya menyeduh—dalam bahasa lokal—“wicked good lattes and cappuccinos.” Tapi mungkin kombinasi karisma tua dan muda itulah yang membuat Boston memikat. Di daerah Back Bay misalnya, saya tak cuma menemukan aneka bistro Prancis modern, tapi juga restoran-restoran kasual semacam Island Creek Oyster Bar di mana saya dan suami pernah makan malam dengan beberapa rekan asal New York. Restoran ini tampil apik dengan materi kaca dan kromium.

Pelayannya yang berjenggot sangat ramah dan ringan tangan. Island Creek Oyster Bar mengandalkan menu tiram berukuran tambun yang dipasok dari perairan Massachusetts. Tapi kejutan terbesar tempat ini adalah koleksi winenya. Pramusaji merekomendasikan riesling Austria yang rasanya begitu nikmat hingga kami menghabiskan dua botol.