Kehadiran gangster jalanan kemudian membuatnya dijuluki “Slumerville,” dan kota ini pun lebih dikenal sebagai sentra rumah murah. Kita mungkin pernah mendengar terminologi kontroversial gentrification, yakni pembelian dan renovasi properti oleh kaum kaya di kawasan yang terpuruk, yang konsekuensinya meningkatkan harga properti tapi di saat bersamaan menyingkirkan para pengusaha kecil. Berkat gentrification, para seniman, mahasiswa, dan orang-orang liberal berdatangan ke Somerville untuk menghidupkan tempat-tempat seperti Davis Square dan Union Square, misalnya lewat pendirian toko buku dan kafe.

Sekarang, harga properti di Davis Square menyaingi kawasan elite suburban di Boston. Sementara itu, keluarga-keluarga muda dan pengusaha di bidang teknologi memilih pindah ke Winter Hill, bekas sarang sindikat paling bengis di Boston.

Kiri-kanan: Union Square Donuts, salah satu kedai populer di Somerville; sesi makan siang di Kirkland Tap & Totter, bistro generasi baru di Boston.

Polemik mengemuka atas upaya Somerville mengembangkan farmers’ markets, kopi single-estate, dan bistro funky semacam Kirkland Tap & Trotter di mana ikan teri berubah menjadi kenikmatan yang hedonis. Sebuah proyek $1 miliar disiapkan untuk mengubah Union Square, termasuk untuk mengerek Terminal Green Line pada 2020. Tapi sejumlah penghuni lama cemas proyek itu bakal melambungkan tarif sewa—kecemasan yang tergambar dalam secarik kertas perpisahan di sebuah kafe yang baru saja gulung tikar: “The writing on the wall in Union Square is: brunch, bistros, and booze.” Pada Jumat malam, saya dan suami singgah di Bronwyn, restoran Jerman yang dikelola oleh pasangan Tim dan Bronwyn Wiechmann. Menu wursts buatan mereka berhasil menyita perhatian media.

Tapi sebenarnya kami datang untuk menikmati “beer garden,” fasilitas yang ideal untuk menyambut musim panas. Bentuknya memang hanya berupa teras berisi meja-meja piknik, tapi sajiannya berhasil melelehkan hati: pretzel dan pierogi lembut yang disuguhkan oleh pramusaji yang bersahabat.

Di bawah langit biru yang samar, kami beranjak dan melewati seorang pemilik toko kelontong yang sedang bertukar gosip dengan seorang warga. Pria yang mengenakan topi Red Sox itu berhenti sejenak untuk memandang dingin kepada kami. Tapi, bukannya mencela kami sebagai penyusup, mereka justru tersenyum ramah dan mengucapkan, “sukses selalu.” Mereka akan menetap selamanya di kota ini. Begitu pula kami.

Detail
Boston

Rute
Sejak Mei silam, Cathay Pacific (cathaypacific.com) telah mengoperasikan layanan nonstop empat kali per minggu dari Hong Kong ke Boston dengan waktu terbang hampir 16 jam. Opsi lainnya adalah terbang via Dubai menaiki Emirates (emirates.com) yang telah menambah penerbangan ke Boston menjadi dua kali per hari sejak 1 Oktober.

Penginapan
Hotel butik flamboyan XV Beacon (15 Beacon St.; 1-617/670-1500; xvbeacon.com; doubles mulai dari Rp6.300.000) menempati gedung bergaya Beaux-Arts yang didirikan pada 1903. Di dekatnya, dan persis berlokasi di situs Freedom Trail, ada Nine Zero (90 Tremont St.; 1-617/772-5800; ninezero.com; doubles mulai dari Rp5.200.000), penginapan mewah atraktif yang berjarak sangat dekat dari Park Street Church.

Makan & Minum

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi November/Desember 2015 (“Kota 2 Masa”)