Updates

Babak Baru Boston

Jalur pedestrian Boston.

Oleh Jennifer Chen
Foto oleh Matt Dutile

[dropcap type=”default”]M[/dropcap]usim dingin 2015, New England. Di antara terjangan badai salju, penyesalan tebersit: mungkin keputusan saya dan suami untuk pindah dari Beijing ke Boston adalah sebuah kekeliruan. Beberapa badai pertama memang menghadirkan keindahan yang romantis di Boston dan kota-kota tetangganya. Kristal es berbentuk stalaktit bergelantungan di bibir atap rumah-rumah tua. Jalan-jalan di Cambridge tempat kami tinggal diselimuti tepung salju, membuat suara knalpot terbekap dan langkah pejalan kaki terhambat.

Tapi, begitu Februari datang, lanskap gembur itu berubah jadi padang es dekil yang menciprati apa saja, juga melunturkan karakter sabar para Yankee (julukan warga lokal). Banyak orang kesal karena banyak barang rusak, terutama pipa air. Setiap kali berangkat kerja, mereka juga harus berjalan tertatih di trotoar yang licin. Pada jendela studionya, seorang seniman menggantungkan pelang yang bertuliskan “mengenang musim panas.” Lebih mirip ratapan ketimbang kenangan akan hari-hari yang cerah.

Namun emosi tak berlangsung lama. Di Boston, juga di seantero New England, musim dingin pada akhirnya memberi jalan bagi musim semi, turunnya hujan, serta aroma tanah lembap. Daun-daun pohon maple dan honey locust membuka lipatannya, sementara bunga-bunga crocus ungu memberi restu bagi kemunculan daffodil dan lili.

Hidup pun kembali berdenyut. Pengendara sepeda kembali beriringan, para pelari kembali berbaris di jalan setapak, dan mahasiswa-mahasiswa tampan Harvard kembali mendayung di Sungai Charles. Pagi ini, musik pengiring warga bukan lagi suara-suara pecahan es, melainkan ketukan konstan dari burung-burung pelatuk yang gigih.

Kiri-kanan: Lingkungan Cambridge yang dihuni mahasiswa dan kaum intelek; patung George Washington di Public Garden.

Suatu Sabtu, saya menyapa seorang tetangga. Selama musim dingin, saya dan Bianca kian akrab karena rutin berduet membersihkan trotoar, walau upaya itu sebenarnya sia-sia. Tumpukan salju begitu tinggi. Tak ada tempat tersisa untuk menampungnya. Dan salju terus saja ditumpahkan langit. “Hari ini dunia seolah menyeruak dari balik salju,” ujar Bianca lega. Masa hibernasi memang sudah berakhir. Berbeda dari New York City di mana udara hangat kerap menyulut emosi, Boston justru menunjukkan wajah terbaiknya.

Tapi, sebenarnya, dengan atau tanpa salju, Boston telah menunjukkan wajah terbaiknya dalam 10 tahun terakhir—sebuah pencapaian yang digapai melalui jalan yang berliku. Dalam konstelasi kota-kota terbesar di Negeri Paman Sam, Boston dikenal mengidap “ego kedaerahan” yang tinggi. Contoh ekstremnya di perlihatkan oleh kaum Boston Brahmin (klan-klan kaya dari abad ke-19) yang terkenal kaku di Beacon Hill, atau kalangan warga keturunan Irlandia yang berperangai kasar di South Boston.

Individualitas mereka kadang bercampur dengan primordialisme. Sebelum pindah ke sini, seorang teman mengirimkan artikel dari situs berita Onion yang berjudul: “Pretty Cute Watching Boston Residents Play Daily Game of ‘Big City’.” Lucu memang, terutama setelah saya dan suami menyadari populasi Boston hanya sekitar 650.000 orang, setara penduduk satu blok di Beijing.

Dalam konteks kebudayaan populer Amerika kontemporer, Boston juga terpukul oleh para “pendukungnya” sendiri. Ibu Kota Massachusetts ini dijadikan latar dalam novel kriminal karya Dennis Lehane dan film murahan Ben Affleck, juga dalam film suram The Departed. Tak heran jika orang memandang Boston dengan murung. Kota ini digambarkan sebagai kuali berisi manusia urakan yang bertopi merah Red Sox, berkalung rantai emas, berbicara gagap, serta cenderung memakai kata-kata vulgar sebagai subjek, predikat, dan objek dalam satu kalimat sekaligus.

Sejujurnya, beberapa reputasi buruk itu cukup akurat. Di dekat rumah, seorang teman yang juga ekspatriat asal Asia, menuturkan pengalamannya kala berhenti di depan lampu merah dan bertatap mata dengan pengendara di sampingnya. Usai mengangguk ramah, dia malah disambut kata-kata satir, “memang kita saling kenal?” Seorang teman lain yang juga berstatus pendatang mengisahkan, dalam minggu-minggu pertama di sini, dia pernah berjalan di belakang dua buruh bangunan yang sedang memperdebatkan faedah dari kehadiran “chowdah” (istilah untuk orang yang berperilaku ala Boston, tapi sebenarnya tidak terlahir di sini). Kasus yang paling mencoreng tentu saja kekerasan rasial yang dipicu oleh kebijakan penghapusan pemisahan sekolah berdasarkan warna kulit pada periode 1960 dan 1970-an.

Kondisinya mulai berubah pada 1990-an saat Boston berniat bangkit dari keterpurukan. Salah satu asetnya adalah masa lalu yang gemilang. Selain menjadi “ground zero” dalam Revolusi Amerika, Boston merupakan pelita bagi gerakan Renaisans Amerika abad ke-19. Dari sinilah lahir pujangga-pujangga terpandang seperti Thoreau, Hawthorne, Emerson, dan Longfellow. Di Amerika, perpustakaan umum pertama, juga sekolah menengah umum pertama, didirikan di Boston. Kini, kawasan Greater Boston menampung 53 perguruan tinggi, mulai dari institusi terkemuka semacam Harvard dan MIT, hingga lembaga spesialisasi seperti New England School of Photography.

Pengunjung di Institute of Contemporary Art. Bangunan ini menghadirkan kesegaran pada gaya arsitektur kota yang relatif konvensional.

Bermodalkan portofolio akademik yang impresif, Boston, di bawah kepemimpinan wali kota bertangan dingin Thomas Menino (alm.), berhasil memutar kencang mesin ekonominya dan menjadi salah satu tempat yang paling bersinar secara konsisten pascaresesi ekonomi 2008.

Tapi Boston bukanlah sebuah kisah transformasi yang mulus. Ego daerah memaksa tiap kebijakan diterapkan penuh kehati-hatian. Dalam aspek tata kota misalnya, banyak struktur tua dipertahankan, umpamanya gedung-gedung bata bergaya Georgia, struktur brownstone bergaya Victoria, serta apartemen tiga lantai warisan abad ke-20. Tentu saja, monumen-monumen penting tak diusik. Ada Bunker Hill, USS Constitution di Charlestown, serta Minute Man National Historic Park (tempat dimulainya perang kemerdekaan) di Concord.

Di level sosial, tabiat konvensional kota juga bertahan. Saat melawat ke sini pada musim gugur 2013, saya dikejutkan oleh cuplikan pemandangan dari masa kecil saya: wanita-wanita anggun berbusana twinset (kombinasi cardigan dan pullover sweater) yang berjalan menuntun retriever dan labrador di padang rumput. Saya juga masih melihat perahu-perahu angsa yang meluncur pelan di laguna, serta bus-bus sepuh yang melayani rute Green Line.

Pelayan di restoran Alden & Harlow membawa sajian kerang goreng dengan buntut babi asap.

Boston memang berniat memasuki babak baru, tapi kisah-kisah lamanya masih membayangi. Saya punya satu cerita untuk menggambarkannya. Pada awal 90-an, sewaktu duduk di bangku SMA, saya mengunjungi Harvard Square dan bercengkerama di situs-situs eksentrik kaum remaja seperti Café Pamplona, Newbury Comics, dan Oona’s. Kini, datang dengan status ibu berusia 40-an, saya mendapati semua tempat itu rupanya masih eksis, selamat dari gelombang tren gastropub dan toko waralaba.

Saat mampir di Cafe Dwelltime, saya menemukan para barista bertato yang memutar musik cadas dari Fugazi dan grup-grup era akhir 80-an seraya menyeduh—dalam bahasa lokal—“wicked good lattes and cappuccinos.” Tapi mungkin kombinasi karisma tua dan muda itulah yang membuat Boston memikat. Di daerah Back Bay misalnya, saya tak cuma menemukan aneka bistro Prancis modern, tapi juga restoran-restoran kasual semacam Island Creek Oyster Bar di mana saya dan suami pernah makan malam dengan beberapa rekan asal New York. Restoran ini tampil apik dengan materi kaca dan kromium.

Pelayannya yang berjenggot sangat ramah dan ringan tangan. Island Creek Oyster Bar mengandalkan menu tiram berukuran tambun yang dipasok dari perairan Massachusetts. Tapi kejutan terbesar tempat ini adalah koleksi winenya. Pramusaji merekomendasikan riesling Austria yang rasanya begitu nikmat hingga kami menghabiskan dua botol.

Bahkan rekan dari New York pun terkesan. Kombinasi karisma tua dan muda juga terlihat pada lanskap seni. Museum of Fine Arts dan Isabella Stewart Gardner Museum masih berdiri, tapi energi yang lebih segar terpancar dari Institute of Contemporary Art yang diluncurkan pada 2006. Tempat yang menempati segaris lahan di pelabuhan ini mengadopsi desain minimalis dan kantilever, sebuah kejutan bagi gaya arsitektur kota yang konservatif. Di dalamnya, warga dan turis dihibur oleh pameran seni kontemporer, pentas DJ, serta konser terbuka yang menohok.

Baru-baru ini, arsitek Italia Renzo Piano memberikan interpretasi radikal atas kompleks Harvard Art Museums sekaligus memberikan alasan baru bagi pencinta seni untuk menyeberangi sungai menuju Cambridge. Harvard mengoleksi lebih dari 250.000 benda seni, mulai dari lukisan gua hingga mural buatan Mark Rothko. Tapi ketiga museum milik Harvard—Fogg Museum, Busch-Reisinger Museum, dan Arthur M. Sackler Museum—gagal memberikan perlakuan yang layak bagi koleksi kampus yang masif tersebut. Renzo Piano lalu datang dengan membawa hobinya mengolah kaca dan cahaya natural. Seraya mempertahankan gerbang bata neo-Georgia dan pelataran bergaya Italia dari gedung Fogg, Renzo menggelembungkan interior museum mengandalkan kombinasi beton, kaca, dan baja. Di musim dingin, ketiga museum Harvard itu berfungsi sebagai suaka akhir pekan bagi saya dan suami.

Saya memilih Cambridge sebagai tempat hidup. Dihuni kampus favorit Harvard dan MIT, Cambridge telah lama terlindungi dari periode pasang-surut yang melanda Greater Boston. Tapi, meski didiami banyak kaum profesional terdidik dan mahasiswa yang mayoritas berduit, Cambridge tidak pernah benar-benar menjadi hip. Ia akan selalu menjadi sebuah kota di mana kita bisa menikmati makanan yang layak dan lumayan, tapi tidak memukau dan terkenang.

Kini, berkat merekahnya sektor bioteknologi, Cambridge melesat, fenomena yang mengingatkan kita pada Bay Area di San Francisco di mana harga properti melonjak dan warga lokal mengeluh. Ledakan itu, bagaimanapun, telah memicu kelahiran restoran-restoran yang lebih berkelas, mulai dari Oleana yang meracik kuliner Turki dan Mediterania, hingga Cafe ArtScience yang menyulap tiap piring menjadi sajian yang semarak.

Setiap kali saya dan suami keluar untuk makan malam, kami kewalahan memilih restoran, padahal kami baru berjalan beberapa kilometer dari kondominium. Kurang dari lima menit berjalan kaki, saya sudah bisa meneguk es teh manis dari gelas stoples dan melahap pork loin di ruangan temaram Tupelo. Saya juga bisa meluncur ke Puritan & Company untuk memesan selusin tiram asal Wellfleet, selanjutnya melahap seafood segar semacam kerang dan cumi-cumi asal Rhode Island. (Satu pesan saya jika ingin memilih makanan di Greater Boston atau kawasan pesisir di New England: seafood tidak pernah mengecewakan.)

Mengutamakan bahan-bahan lokal dan presentasi yang rendah hati, tradisi kuliner New American tumbuh nyaman di sini. Di kedai mungil Bondir, komitmen pada “locavorism” mencapai tingkat yang ekstrem hingga menyerempet parodi. Ketika makan malam di sini, saya sempat membayangkan pelayan akan menamai ayam pesanan saya “Colin.” Pengalaman serupa tersaji di Alden & Harlow, restoran bawah tanah di gedung yang menampung Brattle Theatre di Harvard Square. Burger racikan koki Michael Scelfo di sini adalah menu wajib dalam wisata kuliner di Boston, walau kemungkinan para tamu kelak kembali untuk mencicipi koktail-koktail inventif buatan Seth Freidus.

Namun kebangkitan di Cambridge kalah gempita dibandingkan dengan apa yang terjadi di daerah tetangga—Somerville. Kisahnya, bagi saya, bagaikan keajaiban dari negeri dongeng. Berpredikat kota industri, Somerville menderita kemerosotan selama beberapa dekade akibat hengkangnya pabrik-pabrik perakitan mobil pada akhir 1950-an.

Kehadiran gangster jalanan kemudian membuatnya dijuluki “Slumerville,” dan kota ini pun lebih dikenal sebagai sentra rumah murah. Kita mungkin pernah mendengar terminologi kontroversial gentrification, yakni pembelian dan renovasi properti oleh kaum kaya di kawasan yang terpuruk, yang konsekuensinya meningkatkan harga properti tapi di saat bersamaan menyingkirkan para pengusaha kecil. Berkat gentrification, para seniman, mahasiswa, dan orang-orang liberal berdatangan ke Somerville untuk menghidupkan tempat-tempat seperti Davis Square dan Union Square, misalnya lewat pendirian toko buku dan kafe.

Sekarang, harga properti di Davis Square menyaingi kawasan elite suburban di Boston. Sementara itu, keluarga-keluarga muda dan pengusaha di bidang teknologi memilih pindah ke Winter Hill, bekas sarang sindikat paling bengis di Boston.

Kiri-kanan: Union Square Donuts, salah satu kedai populer di Somerville; sesi makan siang di Kirkland Tap & Totter, bistro generasi baru di Boston.

Polemik mengemuka atas upaya Somerville mengembangkan farmers’ markets, kopi single-estate, dan bistro funky semacam Kirkland Tap & Trotter di mana ikan teri berubah menjadi kenikmatan yang hedonis. Sebuah proyek $1 miliar disiapkan untuk mengubah Union Square, termasuk untuk mengerek Terminal Green Line pada 2020. Tapi sejumlah penghuni lama cemas proyek itu bakal melambungkan tarif sewa—kecemasan yang tergambar dalam secarik kertas perpisahan di sebuah kafe yang baru saja gulung tikar: “The writing on the wall in Union Square is: brunch, bistros, and booze.” Pada Jumat malam, saya dan suami singgah di Bronwyn, restoran Jerman yang dikelola oleh pasangan Tim dan Bronwyn Wiechmann. Menu wursts buatan mereka berhasil menyita perhatian media.

Tapi sebenarnya kami datang untuk menikmati “beer garden,” fasilitas yang ideal untuk menyambut musim panas. Bentuknya memang hanya berupa teras berisi meja-meja piknik, tapi sajiannya berhasil melelehkan hati: pretzel dan pierogi lembut yang disuguhkan oleh pramusaji yang bersahabat.

Di bawah langit biru yang samar, kami beranjak dan melewati seorang pemilik toko kelontong yang sedang bertukar gosip dengan seorang warga. Pria yang mengenakan topi Red Sox itu berhenti sejenak untuk memandang dingin kepada kami. Tapi, bukannya mencela kami sebagai penyusup, mereka justru tersenyum ramah dan mengucapkan, “sukses selalu.” Mereka akan menetap selamanya di kota ini. Begitu pula kami.

Detail
Boston

Rute
Sejak Mei silam, Cathay Pacific (cathaypacific.com) telah mengoperasikan layanan nonstop empat kali per minggu dari Hong Kong ke Boston dengan waktu terbang hampir 16 jam. Opsi lainnya adalah terbang via Dubai menaiki Emirates (emirates.com) yang telah menambah penerbangan ke Boston menjadi dua kali per hari sejak 1 Oktober.

Penginapan
Hotel butik flamboyan XV Beacon (15 Beacon St.; 1-617/670-1500; xvbeacon.com; doubles mulai dari Rp6.300.000) menempati gedung bergaya Beaux-Arts yang didirikan pada 1903. Di dekatnya, dan persis berlokasi di situs Freedom Trail, ada Nine Zero (90 Tremont St.; 1-617/772-5800; ninezero.com; doubles mulai dari Rp5.200.000), penginapan mewah atraktif yang berjarak sangat dekat dari Park Street Church.

Makan & Minum

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi November/Desember 2015 (“Kota 2 Masa”)