Asal-Usul Insumatra Photo Festival

Wawancara dengan Zulkifli, Direktur Insumatra Photo Festival dan eksponen Sore Rabu Project.

Zulkifli, Direktur Insumatra Photo Festival dan eksponen Sore Rabu Project.

Oleh Cristian Rahadiansyah

Tentang Sore Rabu Project?
Pendirinya lima orang dari beragam kampus. Sore Rabu Project bukan kolektif, tapi semacam diskursus. Tidak ada markasnya. Tidak ada struktur organisasinya. Dan tidak hanya membahas foto. Kami juga mengundang peneliti dan sejarawan.

Kegiatannya apa saja?
Lokakarya, diskusi, dan menampilkan esai foto di website. Kegiatannya berpindah-pindah. Lokakarya digelar setahun sekali, kecuali pada 2018 yang diadakan dua kali, sekalian menyambut Insumatra Photo Festival.

Ide Insumatra Photo Festival?
Idenya muncul pada 2016. Awalnya saya berdiskusi dengan Cho [Lolly Elysha Fauzy], yang sebelumnya terlibat dalam Padang Literary Biennale. Waktu itu panitia sudah dibentuk, tapi lalu mandek karena kesibukan masing-masing dan sulit mendapatkan sponsor.

Alasan menggelar festival?
Secara pribadi, saya melihat ketika fotografer dari Jawa datang ke daerah, banyak teman merasa kerdil. Padahal dalam hal kualitas foto bisa bersaing. Insumatra didirikan untuk mengakomodasi karya teman-teman di sumatera. Melalui ajang ini, harapannya, kami bisa membangun prestise fotografer di sini. Daerah juga bisa menciptakan acara fotografi akbar.

Insumatra Photo Festival tahun ini digelar pada Februari-Maret silam.

Sumatera Barat punya kampus dengan jurusan fotografi, komunitas foto, dan kini ada festival foto. Apa lagi yang dibutuhkan?
Galeri alternatif. Taman budaya Sumatera Barat terkesan privat. Cita-cita kami selanjutnya adalah memiliki galeri untuk mengakomodasi karya teman-teman.

Proyek foto yang sedang digarap?
Sinking Java. Melanjutkan proyek Permata Photojournalist Grant 2017. Proyek ini direncanakan selesai pada akhir 2019, kemudian dibukukan.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Juli/September 2019 (“Suara Sumatera”).

Comments