Danau Kaolin, bekas situs tambang yang telah disulap menjadi objek wisata alam dan sejarah.

Oleh Reza Idris
Foto oleh Evan Praditya

Andai saya berada di kaki Rinjani, tawaran Wahyu mungkin terdengar wajar: mendaki gunung, lalu berendam di laguna. Tapi saya sedang berada di Belitung. Saya lebih mengenal Belitung sebagai pulau yang menyuguhkan pantai-pantai elok, pulau yang menghasilkan timah, pulau yang menyentuh kita lewat kisah anak-anak miskinnya yang haus pendidikan, juga menghebohkan kita lewat putra daerahnya yang menjadi gubernur paling vokal di Indonesia. Di Belitung, gunung dan laguna tidak pernah tercantum dalam daftar objek wisata.

Bagaimanapun, kejutan selalu menyenangkan dalam setiap trip. Jadi saya pun menyambut tawaran Wahyu. “Saya pindah ke sini karena Laskar Pelangi,” Wahyu menuturkan kisahnya saat kami menyusuri sisi selatan pulau. Wahyu, seorang pendatang dan pencinta benda antik, kini memimpin Billiton Hotel, penginapan yang menjadi saksi sejarah pertambangan timah. Bangunan hotel ini pernah ditempati kantor PT. Timah hingga 1992. Billiton, yang dibuka pada 2008, berusaha merawat memori bangunan dengan mempertahankan fasadnya.

Mendaki gunung menjadi opsi aktivitas baru di Belitung.

Mobil kini melintasi jalan aspal mulus, melewati rumah-rumah panggung, serta perkebunan lada dan sawit. Jalan sangat lengang. Kata Wahyu, jalan ini populer sebagai jalur touring klub sepeda dan sepeda motor.

Angin panas Mei berkesiur, membawa aroma laut dari Selat Gaspar yang memisahkan Belitung dari Bangka. Memasuki kawasan Membalong, upacara syukuran Maras Taun sedang digelar di Desa Padang Kandis. Warga menciprati air ke kendaraan dan jalan guna menolak bala sekaligus mendatangkan berkah. Mereka juga menyuguhkan sesajen yang terdiri dari beras ketan, gula jawa, kayu manis, dan kemangi. Setelah itu, semua orang menikmati tradisi makan bersama yang disebut Bedulang. Ritual semacam ini hanya diketahui oleh segelintir wisatawan. Saya beruntung bisa menyaksikannya, juga ikut diundang dalam jamuannya.

Mobil kini berbelok ke trek sempit yang dipagari semak, lalu berhenti di depan padang ilalang. “Jalan terlalu sempit, kita harus berjalan kaki,” ujar Tomo, staf hotel sekaligus pemandu saya. Di bawah terik, kami meniti jalan setapak, lalu menerjang rute berbatu. Kubing, gunung yang hendak kami taklukkan, tingginya hanya sekitar 300 meter, tapi medannya menguras stamina. Tiba di kaki gunung, batu-batu bersusun membentuk tangga alami menuju puncak. Saya mengatur napas, lalu mulai mendaki. Selang 20 menit, gemericik air mulai terdengar.

Pantai indah di kompleks penginapan Arumdalu.

Laguna Kubing tampak steril dari sentuhan manusia. Tidak ada pondokan istirahat, restoran, maupun toilet umum. Tempat ini ditemukan pada 2006 oleh sekelompok pencinta alam. “Mayoritas pendaki bermalam dan kamping di sini,” ujar Tomo.

Air sedingin es mengalir dari puncak bukit. Datang di April, kata Tomo, kucuran airnya lebih deras. Saya membuka pakaian, lalu menceburkan diri, berupaya menghapus lelah dan peluh usai mendaki.

Kisah Belitung tak bisa dilepaskan dari timah. Berkat timah, pulau ini memiliki status penting dalam perekonomian global di masa lalu. Berkat timah pula, Belitung berubah menjadi pulau yang multirasial. Dan akibat kejatuhan bisnis timah, kemiskinan mendera, kemudian melahirkan kisah haru yang direkam dalam Laskar Pelangi—novel yang memperkenalkan keindahan Belitung dan mengubah nasib pulau ini dalam semalam.

Kiri-kanan: Dermaga tempat kapal-kapal nelayan berlabuh; Kepiting segar yang bisa dibeli dari nelayan lokal.

Eksplorasi timah besar-besaran dimulai oleh Belanda pada abad ke-19. Lapangan kerja, yang saat itu kerap berarti kerja paksa, dibuka bagi warga lokal. Tapi karena populasi pulau terlalu minim, penjajah mendatangkan kuli-kuli terampil ras Tionghoa. Banyak dari mereka terus menetap setelah bisnis tambang tak lagi menjanjikan. Mereka beranak-pinak, berkeluarga, serta menjadi bagian integral dari perkembangan pulau. Belitung adalah satu dari sedikit tempat di Indonesia di mana warga Tionghoa aktif terlibat dalam politik.

Di sisi timur pulau, saya singgah di Bukit Ki’Kara, satu-satunya tambang di Belitung yang memakai konsep open-pit, yakni lubang tambang yang dilengkapi jalur transportasi yang melingkari dinding lubang. Tapi lubang mungkin kata yang kurang pas, sebab bentuknya lebih mirip kubangan raksasa, seperti kawah bekas serangan bom. Diameternya setara tiga lapangan sepak bola.

Laguna Kubing berlokasi di sisi selatan pulau dan menjadi objek wisata alternatif di Belitung selain pantai dan pulau.

Bukit Ki’Kara merupakan tonggak penting dalam sejarah tambang dunia. Di sinilah pada 1851 perusahaan tambang Billiton memulai eksplorasinya. (Kini Billiton merupakan perusahaan tambang terbesar di dunia.) Seperti di Sawahlunto, bekas tambang bisa ditelusuri turis, walau atraksi ini belum dikemas sebagai objek wisata resmi. Kata warga, open-pit menyimpan sebuah terowongan bawah tanah yang terhubung dengan desa setempat. Tapi mereka juga mengingatkan, terowongan itu rapuh dan rentan ambruk.

Kita tahu, seperti juga Sawahlunto, Belitung telah beranjak dari bisnis tambang dan berpaling pada pariwisata. Kendati demikian, timah tidak pernah benar-benar dilupakan. Di sekitar Bukit Ki’Kara, beberapa warga tetap gigih mengais-ngais tanah demi mendapatkan sisa-sisa timah. Lubang-lubang baru bermunculan.

“Dalamnya sekarang sudah lima meter. Kalau tidak dapat biasanya kami gali terus,” ujar salah seorang pekerja. “Beberapa bulan lalu dapat timah hingga ratusan gram.”

Kiri-kanan: Bertemu dengan satwa liar dalam perjalanan ke Laguna Kubing; Pantai tetap menjadi daya tarik utama Belitung.

Dari sisi timur pulau, saya berbalik arah ke sisi barat dan menikmati pengalaman yang jarang dikenal publik di Belitung: ekowisata. Di kawasan Batu Mentas, Kelompok Peduli Lingkungan Belitung (KPLB) mendirikan kawasan konservasi bagi satwa liar, seperti burung hantu, kancil, tupai, serta tarsius. Keanekaragaman fauna Batu Mentas juga mengagumkan.

Di sini tumbuh pelawan, rukam, dan simpor laki. Semuanya berkerumun di lahan seluas enam hektare. KPLB hendak memperkenalkan wisata jenis baru di Belitung. Selain berenang dan berperahu ke pulau-pulau batu, turis kini bisa trekking menembus hutan, melacak satwa, serta yang paling seru, melakoni river tubing dengan melewati enam jeram. Upaya membangkitkan rasa cinta pada alam itu kian penting terutama saat kini Belitung gencar memacu industri pariwisatanya. Sejumlah hotel berbintang bermunculan guna menjawab arus turis yang terus meningkat. Dulu, hotel yang nyaman adalah barang langka. Banyak penginapan hanya menyerupai indekos yang kerap mengalami mati listrik.

Awal tahun lalu, Aston Belitung diresmikan. Bangunan tertinggi di Belitung ini bermukim di Pantai Tanjung Pendam dan memayungi 202 kamar. Belum lama, manajemen hotel ini berpindah tangan ke BW Group, pendatang baru di bisnis hotel.

Masing-masing vilanya dilengkapi kolam renang privat.
Masing-masing vila di Arumdalu dilengkapi kolam renang privat.

Penginapan termewah di Belitung saat ini, Arumdalu (baca ulasan lengkapnya di sini), dilansir pada akhir 2014 dan menawarkan 10 vila, sebuah restoran yang menatap pantai, serta beragam aktivitas yang sebelumnya tak dikenal di Belitung, seperti kelas membatik dan kursus memasak. Banyak tamunya berasal dari Eropa, terutama Spanyol, Prancis, dan Italia.

Di Pantai Tanjung Tinggi, tak jauh dari lokasi syuting film Laskar Pelangi, sebuah resor berukuran masif sedang dikonstruksi dan rencananya akan dikelola oleh Panorama, perusahaan raksasa di industri travel nasional. Resor ini bakal menampung sebuah beach club dan taman rekreasi terapung. Belitung sepertinya sedang membuka lembaran baru. Dulu, pulau ini beresonansi dengan pantai-pantai sepi, sekolah yang reyot, serta lubang-lubang bekas tambang. Kelak, Belitung mungkin berarti sunbed di atas pasir putih, sesi koktail menjelang senja, atau spa yang menatap laut.

PANDUAN
Rute
Penerbangan ke Belitung dilayani oleh Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air. Taksi dalam pengertian umum belum tersedia. Tapi setidaknya mobil sewaan mudah ditemukan di bandara.

Aktivitas
Berperahu ke Pulau Lengkuas, mendaki mercusuar peninggalan Belanda, berjalan-jalan di pantai yang ditaburi batu granit, serta mengunjungi lokasi syuting Laskar Pelangi adalah beberapa aktivitas yang lazim ditawarkan pihak hotel dan operator tur. Jika ingin beranjak dari kerumunan turis, kawasan selatan pulau menyimpan sudut-sudut sepi yang menawan. Pantai Penyabong menawarkan atmosfer yang hening, sementara Gunung Kubing menantang kita untuk trekking dan berendam di laguna. Bertolak ke sisi barat, kawasan Batu Mentas di Desa Kelekak Datuk menyuguhkan kegiatan ekowisata yang mencakup trekking di hutan untuk melacak tarsius dan river tubing selama 90 menit. Sejarah pulau ini sebagai sentra timah bisa digali di Bukit Ki’Kara, satu-satunya tambang di Belitung dengan konsep open-pit.

Penginapan
Menempati bekas kantor perusahaan timah, Billiton Hotel (Jl. Depati Gegedek No.50, Tanjungpandan; 719/228-87; billitonhotel.com; doubles mulai dari Rp840.000) memayungi 24 kamar dalam bangunan yang berstatus aset sejarah. Hotel butik ini menyuguhkan benda-benda antik di interiornya, seperti sepeda onthel, jendela tua, hingga buku-buku klasik. Di sisi selatan pulau, Arumdalu (Jl. Batu Lubang, Membalong; 0816-807-389; arumdalubelitung.com; doubles mulai dari Rp10.000.000) mengangkat standar kemewahan di Belitung melalui 10 vilanya yang dilengkapi kolam privat dan sebuah restoran di tepi pantai.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi November/Desember 2015 (“Setelah Pelangi Pergi”).