La Brisa, restoran dengan konsep desain sarang perompak di pesisir Canggu. (Foto: Johannes P. Christo)

Wisata kuliner adalah bagian integral dari liburan di Bali. Andaikan Anda menetap di daerah Sanur, trayek kulinernya mungkin meliputi sarapan di Men Weti, makan siang di Mak Beng, kongko sore di ABC, lalu makan malam di Batujimbar. 

Wisata kuliner itu jugalah yang membuat Bali giat melahirkan restoran baru, juga memikat banyak koki kondang dan melahirkan eksperimen dapur. Tak heran, dalam daftar elite Asia’s 50 Best Restaurants, semua wakil Indonesia beralamat di Bali. Tapi sebenarnya ada berapa restoran di Bali?

Video: Wisata Kuliner Sehari di Sanur

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2019, Bali mengoleksi 2.864 restoran dan rumah makan. Wujudnya beragam, mulai dari warung, kedai, kafe, bistro, beach club, juga restoran dalam definisi umum.

Dalam hal ukuran, seluruh restoran itu secara kolektif menawarkan 116.695 tempat duduk. Artinya, tiap tempat rata-rata berisi 40 kursi. Resto berukuran besar umumnya teronggok di lantai dasar hotel, yang biasanya merangkap sebagai tempat sarapan.

Dibandingkan 2018, jumlah tempat makan di Bali bertambah 14%. Jika diukur dari 2013, maka peningkatannya hampir 180%. Terlihat betapa bisnis kuliner tumbuh subur di pulau ini.

Baca Juga: 4 Warung Babi Guling, Rekomendasi Koki

Kendati begitu, ada tahun-tahun di mana bisnis melamban. Contohnya pada 2016 dan 2017 di mana pertumbuhannya hanya 2%. Waktu itu, perekonomian global memang sedang lesu. Plus, sejumlah kawasan mengalami gonjang-ganjing, akibat Brexit di Inggris, terpilihnya Donald Trump di AS, serta wabah Zika.

Kiri-kanan: Hidangan babi guling di Warung Makan Ada, Jatiluwih. (Foto: Anggara Mahendra); Staf restoran Bambu, Petitenget. (Foto: Putu Sayoga)

Seberapa Ketat Persaingan Restoran?
Jika melayani hanya pasar lokal, dalam arti warga setempat, pemilik tempat makan menikmati pasar yang gemuk. Pada 2019, populasi Bali sekitar 4,3 juta. Secara rasio ada satu tempat makan untuk tiap 1.500 orang.

Akan tetapi, banyak restoran di Bali sebenarnya membidik pasar turis. Dan mengingat rata-rata di sini ada 46.000 turis per hari, maka persaingan menjaring tamu bisa dibilang cukup ketat, terutama di sentra-sentra turis.

Video: Sanggingan, Jalur Kuliner Ubud

Melihat peta penyebaran tempat makan, persaingan paling sengit berlangsung di Kabupaten Badung, yang meliputi antara lain Seminyak, Kuta, Canggu, dan Jimbaran. Sepertiga tempat makan di Bali beralamat di sentra turis ini.

Tempat kedua yang memiliki persaingan paling ketat ialah Gianyar. Di sini ada lebih dari 600 restoran. Tentu saja, jantung kompetisinya ialah Ubud, di mana kedai dan resto berbaris mulai dari gang-gang sempit hingga bantaran sungai.

Data BPS juga memperlihatkan grafik yang menarik. Di antara dominasi Badung dan Gianyar, Klungkung mencuri perhatian. Dalam lima tahun, 2015-2019, jumlah tempat makan di sini tumbuh 684%, dari 31 menjadi 243 restoran.

Pertumbuhan Klungkung tak lepas dari menggeliatnya wisata di pesisir timur pulau. Di sini ada beberapa vila dan hotel baru, termasuk properti perdana Wyndham di Indonesia. Selain itu, hotel dan tempat makan bermunculan di trio Nusa Penida-Lembongan-Ceningan. 

Kiri-kanan: Manisan, restoran di Ubud yang menyuguhkan kuliner Indonesia; Hidangan di Warung Mak Beng, tempat makan legendaris di Sanur. (Foto: Putu Sayoga)

Belum tersedia data jumlah restoran di 2020. Tapi besar kemungkinan populasinya menyusut. Akibat pandemi, banyak tempat makan hiatus atau gulung tikar; beberapa bertahan lewat layanan pesan-antar. Di antara mereka, ada satu anomali: Horeka Bistro, restoran yang justru lahir di tengah bencana. Pemilik dan krunya ialah orang-orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi. Cristian Rahadiansyah