Pengunjung bersantai di tepi Waduk Finstertalspeicher, Austria, salah satu negara yang menyewa konsultan pariwisata asing. (Foto: Paul Gilmore)

Oleh Cristian Rahadiansyah 

Menparekraf Wishnutama Kusubandio kembali menuai sorotan. Langkah terbarunya menyewa konsultan pariwisata asing Roland Berger dikritik sejumlah pihak sebagai pemborosan anggaran, juga penghinaan terhadap para pakar pariwisata dalam negeri. 

Belum ada keterangan resmi tentang tugas dan target spesifik Roland Berger. Yang jelas, perusahaan Jerman yang punya cabang di Jakarta ini bukan spesialis pariwisata. Roland Berger adalah tipikal konsultan “toserba” yang melayani konsultasi manajemen di belasan bidang, dari farmasi hingga pertahanan.

Baca Juga: Prediksi Akhir Tahun: Jumlah Turis 2020 Setara Pencapaian 1994

Kendati begitu, keputusan menyewa lembaga asing untuk mengembangkan pariwisata bukan hal baru di Indonesia. Kabinet Susilo Bambang Yudhoyono pernah bermitra dengan Swisscontact untuk mengelola beberapa destinasi di Indonesia, termasuk Wakatobi dan Toraja. Di era Orde Baru, pemerintah menggandeng The Nature Conservancy untuk penciptaan rezim ekowisata di Taman Nasional Komodo.

Berkaca ke luar negeri, kehadiran konsultan asing juga terbilang cukup lumrah di sektor pariwisata. Banyak negara pernah melakukannya, baik negara maju seperti Jerman dan Austria, maupun negara berkembang seperti Sri Lanka dan Kamboja. 

Baca Juga: 5 Rujukan Cara Pulihkan Pariwisata dari Bencana

Mempelajari belasan contoh di luar negeri itu, keputusan menyewa konsultan asing lazimnya dilatari terbatasnya pengetahuan. Contohnya, saat Jepang berniat membidik turis Rusia, Japan National Tourism Board menyewa TMI yang menguasai karakter pasar tersebut. Contoh lainnya: ketika Puerto Riko ingin memulihkan pariwisatanya selepas Badai Maria, pemerintahnya menyewa Next Factor.

Berikut contoh 10 negara yang pernah menyewa konsultan asing untuk mengembangkan sektor pariwisata:  

Biksu di Angkor Wat, ikon pariwisata Kamboja. (Foto: Frida Aguilar Estrada)

1. Kamboja
Konsultan asal Inggris ITC-A (International Tourism Consultancy Associates) pernah disewa oleh belasan kementerian dan dinas pariwisata, salah satunya Ministry of Tourism of Cambodia. Tugasnya di sini ialah mengembangkan konsep “Tourism Clean City” untuk periode empat tahun. 

Fasad atraktif Qatar National Museum rancangan Jean Nouvel. (Foto: Tarek Suman)

2. Qatar
Saat akan menjaring pasar Tiongkok, Qatar Tourism Authority menggandeng PHG Consulting untuk merumuskan strategi pemasarannya, termasuk untuk menyusun trip biro perjalanan, agenda kampanye, dan platform digital. PHG Consulting, yang berbasis di New York, menangani proyek serupa untuk El Salvador dan Uganda. 

Formasi batu Trolltunga di Ullensvang, Norwegia. (Foto: George Alexandru Novac)

3. Norwegia
Awalnya fokus menangani klien domestik di Belanda, Boisen pada 2014 mendapatkan klien asing kota Oslo. Konsultan city branding yang berbasis di Utrecht ini ditugaskan melambungkan pamor Ibu Kota Norwegia di panggung dunia, termasuk menyusun analisis pasar dan strategi pemasarannya. 

Nelayan ‘egrang’ khas Sri Lanka di Pantai Mirissa. (Foto: Daniel Klein)

4. Sri Lanka
Agensi kakap Landor pernah menangani beragam klien ternama di penjuru dunia, termasuk Garuda Indonesia. Khusus sektor pariwisata, salah satu kliennya ialah Sri Lanka. Pada 2018, Landor mengubah slogan dan identitas merek negara ini dari “Sri Lanka, The Wonder of Asia” menjadi “So Sri Lanka.” 

Chureito Pagoda menatap kota Fujiyoshida dan Gunung Fuji. (Foto: Manuel Cosentino)

5. Jepang
Ketika Jepang berniat menjala turis Rusia, Japan National Tourism Board menyewa TMI (Tourism, Marketing & Intelligence), konsultan dengan spesialisasi pasar Rusia dan negara-negara tetangganya. Hasil dari kemitraan ini ialah media sosial dan situs web Visit Japan dalam bahasa Rusia. 

Interior Palace of Justice, markas Mahkamah Agung Austria. (Foto: Jo)

6. Austria
Pada 2015, Austria ingin mengetahui perilaku dan selera pasar turis langganan mereka, sekaligus melacak pasar-pasar baru. Tugas ini diserahkan kepada Bloom Consulting, lembaga asal Madrid yang pernah menangani proyek serupa untuk banyak negara lain, termasuk Jerman, Finlandia, Seychelles, Latvia, serta Bosnia & Herzegovina. 

Heydar Aliyev Center, kompleks rancangan Zaha Hadid di Azerbaijan. (Foto: Urfan Hasanov)

7. Azerbaijan
Pemerintah Azerbaijan bekerja dengan sejumlah konsultan untuk mengembangkan sektor pariwisatanya. Mereka, misalnya, menyewa Landor untuk merumuskan identitas merek dan slogan “Take Another Look.” Sementara untuk aktivitas pemasarannya, mereka menggaet TMI Consultancy.  

Biara bersejarah Mar Saba di Palestina. (Foto: Nour Tayeh)

8. Palestina
Selama pandemi Covid-19, Palestina meluncurkan protokol dan insentif di bidang pariwisata. Agenda ini didukung oleh lembaga GIZ dan konsultan pariwisata Mascontour asal Jerman. Di bidang pariwisata, klien lain yang pernah ditangani Mascontour ialah Montenegro, Malawi, Estonia, Paraguay, Serbia, dan Myanmar. 

Mobil pedagang suvenir di Yerevan, Ibu Kota Armenia. (Foto: Arman Harutyunyan)

9. Armenia
Pada 2013, Yerevan, Ibu Kota Armenia, merumuskan citra barunya dengan bantuan Instid (Institute for Identity), konsultan asal London. Dalam proyek ini, Instid melibatkan para desainer dan seniman lokal, lalu menyusun merek dan strategi kampanye Yerevan di level internasional. 

Salah satu jalur pendakian di Annapurna Base Camp, Nepal. (Foto: Tran Trung Toan Thien)

10. Nepal
Seperti Indonesia, Nepal ingin membidik pasar premium, khususnya di kawasan Annapurna. Agenda ini mendapatkan bantuan dari Bank Dunia, yang kemudian menggandeng konsultan pariwisata Solimar International asal Washington. Destinasi lain yang pernah ditangani Solimar ialah Namibia.