Kiri-Kanan: Lembah elok Tinimbayo dilihat dari ketinggian; Kerbau bercorak unik di pasar ternak Bolu.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Suryo Wibowo

Banyak orang Toraja masih menyalahkan Bom Bali sebagai pangkal jatuhnya industri pariwisata. Tapi, saat Bali kian pulih dari duka, Toraja masih berlinang air mata. Apa yang salah?

Juni adalah bulan yang penuh darah. Banyak desa sibuk menggelar upacara kematian Rambu Solo. Ternak hilir mudik. Orang-orang berbusana hitam berkeliaran. Amis darah menjalar di udara.

Bulan ini, Toraja adalah tempat yang mengingatkan kita betapa singkatnya hidup. Di kampungnya, Pak Almen sedang menggelar Rambu Solo bagi ibunya yang meninggal enam bulan silam. Berapa harga yang harus dibayar untuk sebuah kematian? Berliter-liter air mata,  atau barangkali kerinduan yang tak berujung? Di Toraja, orang mesti membayar lebih. “Selusin kerbau dan ratusan babi,” jawab Pak Almen.

Di Toraja, kematian seseorang bisa membiayai kehidupan orang lain selama setahun. Atau mungkin bertahun-tahun. Di pasar ternak, babi dibanderol antara Rp1-3 juta. Kerbau jauh, jauh lebih mahal, mulai dari Rp30 juta hingga menembus Rp1 miliar, tergantung dari jumlah user-user bulunya, corak tubuhnya, juga tentu saja, bobotnya. Di kawasan dengan pendapatan per kapita di bawah Rp15 juta ini, kematian jelas peristiwa yang boros. Pak Almen terpaksa memakai tabungan dari hasil kerja kerasnya merantau ke Bekasi selama 10 tahun.

Dewi Anggraeni, kontestan Putri Indonesia asal Sulawesi Selatan, di antara menhir bangsawan di Rante Kalimbuang.

Saya memberikan satu slof rokok kepada si pemilik hajat. Sesuai tradisi, pelayat sepatutnya menghibahkan sesuatu kepada keluarga almarhum. Pak Almen mempersilakan saya duduk dan menyuguhkan makanan. Untuk orang yang sedang berkabung, dia sangat murah senyum, bahkan usai mengetahui saya tengah melanggar banyak norma adat.

Toraja mengenal sistem kasta dan orang seperti saya berada di dasar piramida. Saya masuk ke arena upacara dari jalur tengah, lalu duduk di sisi depan lumbung dan membiarkan kedua kaki bergelantungan di atas tanah. Tempat saya duduk sebenarnya dikhususkan bagi para bangsawan. Di sini, kita diwajibkan duduk bersila.

Rambu Solo adalah upacara yang memancing mual. Usai rapalan doa dari pastor, satu per satu babi dan kerbau “dieksekusi” di padang rumput memakai metode yang membuat kaum penyayang hewan pingsan di tempat. Babi ditusuk perutnya. Kerbau ditebas lehernya. Seperti film slasher dalam versi riil.

Menjelang tengah hari, padang rumput berubah merah. Tapi saya masih menonton, tertegun di tempat. Sejak kecil saya suka menonton prosesi Idul Adha. Tak jelas mengapa peristiwa berdarah kerap menyedot mata. Orang-orang hobi mengerubungi korban kecelakaan. Adegan buaya menerkam zebra diulang-ulang di televisi. Mungkin benar, sadisme memiliki pesonanya sendiri.

Kiri-Kanan: Turis menyaksikan tau-tau di makam tebing Lemo; Para pekerja di Rantepao menghaluskan peti mati yang memadukan dekorasi Kristen dan kepercayaan lokal.

Tapi benarkah Rambu Solo sadis? Rambu Solo bukan semata soal tebas-menebas. Ia bukan tontonan semacam Tauromachia di mana matador berdansa dengan banteng sembari menusukkan pedang berulang kali demi mendulang tepuk tangan. Bagaikan Idul Adha versi Toraja, pengorbanan ternak Rambu Solo menyimpan filosofi sosial yang luhur. Daging babi dan kerbau dibagikan kepada para keluarga dan tetangga. Orang-orang “kiri” mungkin akan menyebutnya sistem “redistribusi kekayaan.”

Berkat sistem “barter sosial,” Rambu Solo juga bagaikan tali yang menyambung silaturahmi. Jika Anda mendonasikan seekor babi, kelak Anda menerima “hadiah” serupa saat berkabung. Di Toraja, di mana mayoritas orang merantau ke luar pulau, Rambu Solo adalah momen pengikat keluarga-keluarga yang terpisah jarak. “Hari upacara sengaja ditetapkan pada tengah tahun supaya keluarga bisa memanfaatkan liburan sekolah,” ujar Pak Almen yang mengenakan peci walau sebenarnya telah lama memeluk Kristen, agama mayoritas di Toraja.

Rambu Solo telah lama menjadi magnet Toraja. Upacara kematian ini adalah jendela ideal untuk melihat kultur Toraja, sebuah dataran tinggi di Sulawesi di mana tradisi megalitik Austronesia masih berdenyut.

Di sini, mati bukanlah pemberhentian terakhir. Jenazah akan terlebih dulu diawetkan di rumah untuk disapa sanak famili. Setelah dimakamkan, keluarganya membuatkan versi patungnya (tau-tau), yang kemudian dipajang di tebing-tebing tinggi. Jika ia berstatus bangsawan, setonggak menhir mungkin akan ditanam untuk mengenangnya. Suatu hari nanti, mayat akan dikeluarkan dari liang lahad, dibersihkan, dikenakan baju baru, dan keluarga kembali berkumpul. Di Toraja, almarhum seolah tak pernah benar-benar wafat. Siapa yang tak senang mengetahui bahwa kita tak begitu saja dilupakan, bahkan setelah mati?

Pemandu di makam gua Londa, situs ziarah yang menawarkan sensasi petualangan Indiana Jones.

Mengendarai motor, saya meniti jalan-jalan sempit penuh meander dan lubang. Acap kali lubang terlalu dalam hingga bodi motor terantuk. Hanya panorama menawan yang membuat saya berhenti mengeluh. Di kedua sisi jalan, sawah melapisi lembah seperti permadani. Di lereng-lereng, gereja putih bertengger, dihubungkan oleh jalan setapak berliku yang menyerupai ular cokelat di padang hijau. “Istilah hijau royo-royo paling sempurna, ya di Toraja,” ujar Trinity, seorang penulis buku travel.

Sampai di puncak Batutumonga, lanskap Toraja tampak seperti lukisan Mooi Indie dalam arti harfiah. Di kejauhan, perbukitan batu berbaris seperti punggung naga. Di kakinya, sungai sebening vodka meluncur menerjang bebatuan. Dari tempat saya berdiri, Toraja bagaikan gadis cantik berbalut tenun yang berjalan gemulai melewati pematang.

Menengok sejarah, Rambu Solo jugalah yang memperkenalkan Toraja pada dunia. Syahdan, pada 1972, upacara kematian seorang raja digelar besar-besaran. Puang Sangalla disebut-sebut sebagai raja besar terakhir yang berdarah murni. Lebih dari 400 turis datang, termasuk tim dari National Geographic, serta duet Lawrence dan Lorne Blair yang sedang mendokumentasikan Indonesia dengan disponsori BBC dan Ringo Starr. “Upacara kematian Puang adalah ajang media internasional pertama. Rekamannya ditayangkan oleh televisi di sejumlah negara Eropa,” tulis Toby Volkman dalam Tana Toraja: A Decade of Tourism.

Kiri-Kanan: Persawahan di Kecamatan Tikkala; Elifas Pongrekun memperlihatkan biji-biji kopi lokal di dapurnya yang berlokasi di Hotel Pison.

Sejak itu, industri pariwisata merekah. Pada 1976, sekitar 12.000 turis melawat, walau di masa itu perjalanan ke Toraja belum menjanjikan kenyamanan. Kakak beradik Blair misalnya, menghabiskan 14 jam berkendara dari Makassar dengan menaiki jip tentara. Perjalanannya menegangkan. Di jalur rawan begal ini, wajar bagi sopir untuk menganut prinsip “lebih aman melihat daripada terlihat.” Saat mendapati kendaraan lain di kejauhan, lampu-lampu akan dipadamkan, hingga kedua mobil saling bersisian dalam gulita. Begitu tulis Lawrence Blair dalam Ring of Fire.

Memasuki 1980-an, Toraja kian jelas tertera di peta: hampir 200.000 turis datang. Pemerintah menetapkannya sebagai “primadona” Sulawesi. Gambar tongkonan bahkan dicetak pada lembaran uang Rp5.000. Seiring itu, Toraja menikmati pertumbuhan hotel baru, ruas jalan baru, moda transportasi baru. Berbeda dari duet Blair, saya datang menumpang bus mewah yang sepertinya didesain untuk seorang rock star. Kursinya ditata dalam formasi 2-1 dan dilengkapi pemijat elektrik. “Bus ini didatangkan dari Swedia,” kata pemiliknya.

Pariwisata digadang-gadang sebagai masa depan Toraja. Lewat pariwisata, warga bisa mengail devisa guna menghidupi tradisi, termasuk menjaga rumah adat yang menuntut biaya perawatan tinggi. Lewat pariwisata pula, Toraja berharap mengikis demam merantau yang membuat banyak sawah terbengkalai. Tapi itu dulu. Usai bulan madu tourism boom yang gempita, pariwisata meratap masygul.

Duma Parari, satu dari segelintir pewaris tari perang Ma’randing.

Menuju desa tenun Sa’dan, motor saya kembali meraung-raung. Baliho-baliho calon bupati bertaburan menebar janji. Di hadapan wajah-wajah rupawan mereka, jalan berkerawangan seperti papan yang digerogoti rayap.

“Dulu, desa ini penuh turis. Saya sampai gak sempat makan,” Ibu Aminah bernostalgia pada masa lalunya yang gemilang. Kini, desanya sepi. Turis hanya datang di bulan-bulan liburan tengah tahun. Desa Sa’dan tidak lagi mencerminkan motif tenun Toraja yang bernyawa. Saya melewati ibu-ibu yang termenung muram, kemudian membayar tiket dan mengisi buku tamu. Turis terakhir datang dua minggu silam. Ke mana mereka?

Upacara kematian Puang Sangalla memang membuka pintu bagi dunia, tapi bukan cuma turis yang datang bertamu. Kolektor mulai merangsek untuk berburu artefak. Target mereka: tau-tau.

Pada 1984, persis saat Toraja dideklarasikan sebagai destinasi “resmi” kedua setelah Bali, sebuah tau-tau dijual di sebuah galeri di Paris dengan harga $75.000. Empat tahun sebelumnya, Kompas memberitakan pencurian delapan tau-tau di makam tebing Lemo.

Bagaikan nisan tanpa aksara, tau-tau adalah totem suci yang dipandang sebagai representasi almarhum. “Menjual tau-tau seperti menjual nenek sendiri,” ujar seorang penjaga makam.

Maraknya pencurian tak cuma menggemparkan, tapi juga mengherankan. Warga menempatkan makam di tebing-tebing tinggi sebagai respons atas penjarahan di masa lampau. Menjangkaunya butuh keahlian lokal. Siapa maling-maling lihai itu?

Kiri-Kanan: Anton Tangdiembong, perajin tau-tau, berpose di sanggarnya di dekat makam tebing Lemo; Sebuah gereja di tepi sawah di Kecamatan Sa’dan.

“Secara umum diasumsikan tau-tau dicuri dari tebing oleh anak kecil atau saudara dari para keluarga almarhum sendiri. Orang asing, kata warga, tidak bisa mengakses situs-situs pemakaman yang sulit dijangkau,” tulis Toby Volkman dalam jurnal American Ethnologist.

Toby juga mengisahkan bagaimana makelar seni Eropa mengutus agen-agen lapangan yang dibekali lensa 300 milimeter untuk memotret tau-tau, kemudian menunjukkan hasilnya ke para kolektor. “Pada 1985, tau-tau, menurut banyak orang Toraja, hampir punah sepenuhnya.”

Raibnya banyak tau-tau mengguncang bisnis pariwisata. Turis datang dan mendapati bahwa tempat terbaik untuk melihat tau-tau bukanlah Toraja, melainkan galeri atau balai lelang di Eropa. Seorang turis Jerman yang kecewa bahkan sempat hendak menuntut Joop Ave, Dirjen Pariwisata kala itu, atas tuduhan promosi palsu.

Dan pencurian masih berlangsung. Di Kete’ Kesu’, kampung adat paling tersohor di Toraja, sebuah toko suvenir memajang beberapa tau-tau di ruangan belakang. Salah satunya terlihat kusam, tercampur tanah, berbaju compeng layaknya mayat yang baru bangkit dari kubur. Replika atau orisinal? Saya tak pandai menghitung umur kayu nangka.

“Usianya lebih dari 100 tahun,” kata si penjual. Saya menanyakan harganya dan si penjual menelepon rekannya, membuat transaksi ini terasa berlapis dan rahasia. “Jika lebih dari 100 tahun, berarti diambil dari makam?” tanya saya lagi berlagak bodoh. Si penjual tersentak, lalu menjawab gagap.

Seorang gembala mengelus kepala kerbau miliknya di kawasan Tallunglipu.

Pencurian tau-tau bukan satu-satunya masalah. Industri pariwisata Toraja juga terpukul oleh fenomena global yang tak seorang pun mampu mencegahnya: modernisasi.

Hari baru dimulai saat saya mengunjungi kompleks makam Londa. Obyek andalan Toraja ini hanya didatangi lima turis, sudah termasuk saya dan fotografer. Saya melewati sejumlah keranda dan tabela berukir yang dipenuhi tulang-belulang, lalu memasuki gua alami di rahim tebing batu. Penjaga makam menyulut petromaks dan mengantarkan saya memasuki lorong yang penuh liku. Panoramanya mencekam. Sisa-sisa jasad bertaburan.

Londa bagaikan sebuah sarkofagus gigantik. Saya mesti berhati-hati saat melangkah atau berpegangan pada dinding, seraya berharap petromaks tidak tiba-tiba padam kehabisan minyak. Langit-langit kemudian merendah hingga saya mesti merangkak. “Bagaikan beruang yang berpura-pura menjadi laba-laba,” tulis Lawrence Blair dulu saat memasuki makam di Toraja.

Kiri-Kanan: Seorang warga Sa’dan To’ Barana membenahi posisi foto kakeknya; Kaana Toraya, salah satu merek kopi paling terkenal di Toraja.

Dalam sebuah brosur kapal pesiar, Londa dipromosikan sebagai tempat yang menawarkan sensasi petualangan Indiana Jones. Di dalam gua, atmosfernya memang menegangkan. Tapi di luar, Londa adalah sebuah obyek yang dikemas rapi. Di sekitar mulut gua, ada jalan setapak berbahan semen, toilet umum, beberapa tempat duduk. Sejauh mana kita boleh memodifikasi petilasan tua atas nama kenyamanan? Pertanyaan saya mungkin berlebihan. Keluar dari gua, lagu If Tomorrow Never Comes berkumandang dari toko suvenir dan memantul-mantul di dinding kapur.

Di atas mulut gua, tau-tau berbaris rapi seperti para bangsawan di balkon istana. Berbeda dari tau-tau yang dijual di Eropa, wujud mereka lebih modern. Dulu, totem ini lebih simpel: bertubuh gelap, memiliki iris kecil, berbalut kain polos. Dulu juga, tangan kanannya menengadah sebagai simbol kesejahteraan bagi keluarga yang ditinggalkan, sementara telapak kirinya menghadap ke sisi dalam sebagai tanda perlindungan. Setelah zaman jauh bergulir dan selera berubah, tau-tau dipahat lebih riil, lebih mirip manusia, sampai-sampai wajahnya tertangkap face detector kamera. Mereka tak ubahnya patung lilin di Madame Tussauds. Filosofi lama yang kaya makna, tergeser. Betapa Toraja telah berubah.

Saya kembali mengarungi jalan. Di Rantepao, salib raksasa menjulang di atas bukit, seolah hendak membaptis kota ini dalam sinar Tuhan. Kota tetangga, Makale, sedang membangun patung Yesus. Jauh di kaki monumen-monumen suci itu, jalan-jalan rusak dan sampah berserakan.

Lembah Tinimbayo dilihat dari ketinggian di kawasan Batutumonga, Toraja Utara.

Di Hotel Pison, saya berhenti untuk menyeruput kopi. Berbeda dari kopi Gayo yang menyetrum mata, kopi Toraja menyulut suasana melankolis, seolah merayu kita untuk mencomot buku dan merebahkan tubuh. “Lebih enak jika dibiarkan sejenak di cangkir. Mirip kain luntur yang dicelupkan ke ember, biarkan sampai lunturnya hilang,” jelas Eli, perintis Kaana Toraya, merek dengan status kultus di kalangan penggemar kopi. Dia memakai kata “Toraya,” istilah lawas yang hanya digunakan oleh sesama orang lokal.

Biji-biji kopi terbaik dipetik dari Perbukitan Awan dan Sapan. Dua perusahaan asing sudah lama mengeruk uang di sana. Di luar kopi, Toraja praktis tak punya mesin ekonomi yang mumpuni. “Tidak ada industri di Toraja. Hanya ada kopi,” ujar Aras Parura, seorang pemilik kafe di Rantepao. Fakta itulah yang menurutnya memicu gelombang eksodus warga, terutama di kalangan kaum terdidik yang menikmati berkah program Repelita Orde Baru.

Kopi menghangatkan malam-malam dingin, tapi kopi tak cukup memuaskan para sarjana muda yang penuh mimpi. Di saat yang bersamaan, investasi asing merambah Kalimantan, Papua, dan Jawa. Lapangan kerja terbuka lebar. Suku Toraja, kaum yang percaya leluhur mereka diturunkan dari bintang-bintang di angkasa, mendadak menemukan sumur uang baru untuk hidup mereka di dunia. “Penduduk Toraja paling 500 ribu,” kata Aras lagi, “tapi yang tinggal di luar lebih dari satu juta jiwa.”

Kiri-Kanan: Hidangan sore kopi Toraja dan irisan buah di Cafe Aras milik Aras Parura; Eric Crystal, keturunan dari raja besar ‘terakhir’ Puang Sanggalla, saat ditemui di Hotel Misiliana.

Tradisi merantau melahirkan golongan kaya baru. Di kampung halaman, kisah-kisah mereka menyebar secepat gosip artis. Godaan migrasi menular dari mulut ke mulut. Rumput tetangga terlihat semakin hijau. Anak-anak pun menghampiri bapaknya. Tetangga menyusul tetangga. Bagi mereka yang berada di kasta budak, merantau punya insentif yang lebih sukar ditampik: solusi untuk membuka lembaran baru di negeri seberang sebagai “orang merdeka.”

Dampak merantau juga menyentuh domain ritual. Lagi-lagi, kita bisa melihatnya pada Rambu Solo. Ritual suci ini kerap berubah menjadi ajang unjuk kekayaan. Golongan kaya baru berusaha mendaki tangga mobilitas sosial dengan royal membeli kerbau, tongkonan, bahkan kasta. Status bangsawan yang tadinya diwariskan lewat jalur darah, kini hendak didapuk lewat lembaran rupiah. Tapi Rambu Solo semacam itu jauh dari ekspektasi turis. Mereka datang untuk menonton upacara yang digelar masyarakat tribal keturunan langit, bukan seremoni mewah yang didanai oleh kaum diaspora yang datang mengendarai Rubicon dan menggenggam iPhone. Betapa Toraja telah berubah. Toraja “dataran tinggi yang sakral,” tulis sebuah semboyan wisata.

“Salah satu penyebab utama perubahan adalah masuknya Injil,” kata Eric Crystal lantang. “Aturan Aluk To Dolo dan dogma Injil kerap berbenturan.” Eric, seorang penganut Kristen, adalah keturunan dari raja besar Puang Sangalla. Dia menilai masuknya Injil lebih dari 100 tahun silam telah menggeser sendi-sendi budaya lokal.

Dalam banyak catatan, konflik memang pecah antara gereja dan keyakinan pagan. “Pada 1985, sebuah gereja Protestan menyatakan tau-tau adalah sebuah isu besar yang merongrong gereja,” tulis Toby Volkman lagi dalam esainya, Toraja Culture and the Tourist Gaze.

Makam gantung di Kete’ Kesu’, kampung adat yang lazim dijadikan tempat upacara-upacara akbar.

Gereja menolak hidup manunggal dengan keyakinan purba. Aluk To Dolo juga kian terjepit setelah pemerintah Orde Baru melakukan “perampingan” religi dengan mengakui hanya lima agama resmi. Aluk To Dolo memang akhirnya selamat dari cap sesat usai dikategorikan sebagai “cabang” dari Hindu Bali, tapi proses desakralisasi sudah terlanjur bergulir dan adat kian tergerus.

Eric, yang namanya diambil dari seorang peneliti Amerika, kini berusaha menjadi penengah antara agama samawi dan kepercayaan leluhurnya. Babad monarki sudah lama ditutup, tapi peran sosialnya sebagai bangsawan belum rampung. Melalui mimbar gereja, Eric mengajak warganya menyudahi benturan antara ajaran Kristen dan Aluk To Dolo. Dia percaya, solusi kompromi bisa tercipta di antara kedua kubu. “Dulu, tau-tau dilarang karena dianggap penyembahan terhadap berhala,” ujarnya. “Saya lalu jelaskan, tau-tau tak ubahnya foto, tapi tiga dimensi. Tujuannya untuk mengenang almarhum, bukan untuk disembah.”

Di Toraja, adat bagaikan kumpulan kaidah lawas yang rapuh. Tafsirnya ditentukan oleh generasi sekarang, oleh orang-orang yang menatap dunia dalam kacamata modern. Pertanyaannya, ketika banyak tau-tau lenyap, pastor memimpin ritual adat, budak duduk sederajat dengan bangsawan di bangku sekolah, dan atap tongkonan diganti seng, masih relevankah Toraja “menjual” eksotisme budaya?

Kiri-Kanan: Nenek Panggao memintal benang kapas di sentra tenun Sa’dan To’ Barana; Primadona melayani trip dari Makassar ke Toraja menaiki bus mewah dengan kursi yang mirip kelas bisnis pesawat.

Barangkali saya yang keliru mencerna zaman. Toraja adalah sebuah kebudayaan yang bergerak, sebuah “living villages” tulis Kathleen Adams dalam Cultural Commoditization in Tana Toraja. Tak mungkin bagi kita mengharapkan Toraja membeku dalam waktu layaknya sebuah artefak dari zaman purba. Lagi pula, kebudayaan Toraja sejak awal tak pernah dikemas sebagai atraksi wisata. Rambu Solo adalah acara privat keluarga. Tau-tau juga milik keluarga, begitu pula makam dan tongkonan. Orang Toraja berhak memutuskan sejauh mana mereka hendak mengubah apa yang mereka punya.

Namun, bukan berarti harapan sudah pupus bagi pariwisata. Asa masih ada. Dalam transisi besar yang membasuh dataran tinggi ini, turis menangkap pesona lain yang selama ini terpinggirkan oleh tema-tema besar “kematian.” Sebuah survei yang didukung LSM Swisscontact pada Agustus 2014 mendapati, turis justru mencantumkan “alam” sebagai daya tarik terbesar Toraja. Prosesi kematian yang selama ini menjadi mantra pemikat, jatuh ke peringkat kedua. Pelancong ternyata lebih menyukai lanskap elok yang terhampar di balik tongkonan dan tebing-tebing makam.

Swisscontact hadir di Toraja guna mendukung kinerja DMO (Destination Management Organization), semacam tourism council yang beranggotakan para pemangku kepentingan lokal. Luther Barrung, mantan Direktur Pemasaran Kementerian Pariwisata, didaulat sebagai pemimpinnya. Generasi muda seperti Yohan Tangkesalu, General Manager Misiliana Hotel, duduk di struktur pengurus. Bahkan figur bersuara lantang sekaliber Eric Crystal turut terlibat. Setelah sekian lama didikte oleh suku tetangga mereka di selatan, nasib pariwisata Toraja kini berada di tangan warganya sendiri.

Kerabat membawakan makanan untuk para tamu dalam upacara Rambu Solo di Tallunglipu.

Selain survei, DMO merumuskan logo baru pariwisata. Tahun ini, mereka bakal mengikuti bursa pariwisata di Bali, melakukan pemetaan ulang obyek, menciptakan situs wisata, juga mencetak peta dan brosur-brosur baru. “Diversifikasi produk kini sedang digarap. Toraja butuh banyak inovasi baru,” ujar Tri Laksono, Project Officer for Destination Development Swisscontact.

Di bawah panji DMO, Toraja bersiap menulis lembaran baru: menjadi destinasi bagi para petualang alam, bukan cuma peziarah. Kelak, turis melancong ke sini bukan semata untuk menonton Rambu Solo atau menembus gua makam, melainkan untuk menjelajah sawah, trekking ke kebun kopi, atau bermain arung jeram.

Awalnya bersandar pada kematian, Toraja kini berharap pada kehidupan—pada padi yang tertiup angin, biji-biji kopi yang ranum, sungai yang tak lelah mengalir.

PANDUAN
Rute
Toraja bisa dijangkau dari Makassar dengan menaiki bus. Salah satu operatornya, Primadona (Jl. Perintis Kemerdekaan Km.13, Ruko Bukit Khatulistiwa Blok B/8, Makassar; 0811-4497-212), memiliki bus mewah dengan kursi yang menyerupai kelas bisnis pesawat. Ada dua jadwal keberangkatan: pukul 21:00 dan tiba pukul 06:00, atau pukul 09:00 dan tiba pukul 18:00. Pesawat sebenarnya tersedia, tapi jadwalnya kadang direvisi mendadak. Aviastar (aviastar.biz) melayani penerbangan dari Makassar menuju Bandara Pongtiku dua kali per minggu.

Penginapan
Selain menawarkan 134 kamar yang disebar dalam bangunan berbentuk tongkonan, Toraja Heritage Hotel (Jl. Kete Kesu, Rantepao; 0423/211-92; toraja-heritage.com) memiliki kolam renang yang fotogenik, serta menawarkan akses mudah ke desa-desa adat. Berdiri di atas lahan seluas delapan hektare, Misiliana Hotel (Jl. Pongtiku 27, Rantepao; 0423/212-12; torajamisiliana.com) menaungi dua kolam renang, ballroom, restoran, spa, serta 98 kamar. Hotel ini juga menawarkan pengalaman homestay: menginap di tongkonan tua yang telah disulap menjadi suite.

Makan & Minum
Restoran terbaik umumnya hanya terdapat di hotel. Salah satu yang berhasil menembus dominasi itu adalah Mambo (Jl. DR. Sam Ratulangi 34, Rantepao; 0423/211-34; mamborestaurant.co), restoran yang menyuguhkan beragam menu, termasuk masakan lokal pa’piong dan pamarrasan. Sarang hangout populer di kalangan turis, Café Aras (Jl. A. Mappanyukki 64, Rantepao; 0823-9627-5688), menawarkan bangunan yang sejuk di tengah kota Rantepao yang bising. Bagi penikmat kopi, dua tempat yang layak didatangi adalah Warung Kopi Toraja (Jl. Poros Makale, Rantepao; 0852-4824-7654) dan Hotel Pison (Jl. Pongtiku 2 No.8, Rantepao; 0423/213-44).

Aktivitas
Situs-situs tua masih menjadi obyek andalan di peta wisata. Untuk menyaksikan menhir, pergilah ke Rante Kalimbuang di Bori’. Di Londa, kita bisa memasuki makam gua, sementara di Lemo kita bisa menyaksikan tau-tau dalam desain orisinal. Kampung adat yang paling tersohor, Kete’ Kesu’ lazim dijadikan tempat upacara-upacara besar. Dibandingkan desa adat lain, Buntu Pune’ relatif masih autentik. Kala di sini, carilah Marla, sarjana arkeologi yang lancar bercerita tentang kebudayaan Toraja, termasuk tentang benteng di samping desanya. Untuk mencari tenun khas lokal, kunjungi Desa Sa’dan To’ Barana. Bawa uang tunai jika ingin berbelanja. Jika ingin menyerap panorama Toraja yang paling karismatik, pergilah ke Batutumonga. Bawalah sepatu trekking, karena Anda pasti tergoda untuk mengarungi sawah dan lembah hijaunya.

Informasi
Menyewa pemandu adalah metode terbaik. Tapi jika ingin berwisata secara mandiri, Anda bisa menyewa mobil, kemudian menggali informasi dari pihak DMO (visittoraja.com) atau Swisscontact (Jl. Makula’ Tampo, Sangalla, Makale Utara; 0423/264-43; swisscontact.or.id). Peta wisata baru belum dicetak, tapi versi lamanya masih tersedia di kantor Dinas Pariwisata Toraja Utara (Jl. Ahmad Yani 62A, Rantepao; 0423/212-77). Rambu Solo umumnya digelar di tengah tahun. Upacara kematian ini menampilkan prosesi pengorbanan kerbau dan babi. Tamu sepatutnya memberikan sesuatu kepada keluarga almarhum. Idealnya, berupa seekor babi, tapi kita bisa menggantinya dengan satu slof rokok atau beberapa kilogram gula pasir. Siapkan pakaian hitam jika ingin hadir.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Juli/Agustus 2015 (“Tangis Tawa Toraja”)