200 Tahun Kebun Raya Bogor

Kebun Raya Bogor kerap dijadikan wadah kumpul banyak komunitas hobi, salah satunya komunitas sepeda.

Kebun Raya Bogor berusia dua abad tahun ini. Sejarahnya gemilang dan pamornya tak lekang, walau sayang problem sampah kini mencemari keindahannya.

Oleh Nina Hidayat
Foto oleh Ben Laksana

Sewaktu kecil, saya tak menyukainya. Dalam sebuah karyawisata SD, saya dipaksa berjalan di siang yang terik dan menulis beragam nama tanaman yang saya lewati. Lima belas tahun berselang, saya kembali berkunjung. Dari Jakarta, saya berdesakan di gerbong kereta selama dua jam, lalu mendarat di kebun yang rimbun dengan perasaan lega usai meninggalkan belantara gedung. Mungkin benar, kita bisa lebih menghargai pohon setelah hidup dikepung beton dan dicekik asap.

Saya kembali melawat ke Kebun Raya Bogor (KRB) saat tempat ini bersiap memasuki usia dua abad. Entah sudah berapa siswa SD yang “disiksanya.” Taman botani ini diresmikan pada 18 Mei 1817 saat Bogor masih bernama Buitenzorg. Sepanjang hayatnya, KRB telah melewati dua Perang Dunia, merasakan getaran dahsyat erupsi Krakatau dan Galunggung, menyaksikan Raden Saleh dimakamkan di dekatnya dan melayani tujuh presiden Indonesia di istananya. Apa kabar kebun raya sekarang?

Datang di Sabtu sore yang riuh, saya melewati tepian danau yang fotogenik. Sejumlah pasangan berswafoto romantis dengan latar istana, sementara seorang pria berakrobat headstand. Di dekat mereka terdapat pohon tertua di KRB: sebatang pohon leci yang ditanam pada 1823 memakai bibit impor asal Tiongkok. Banyaknya pengunjung di tepi danau ini terendus radar Ibu Titin, seorang fotografer keliling dengan pengalaman lima tahun. Berbekal sebuah printer yang diangkut sepeda, dia mencetak foto-foto berwarna yang dijual Rp15.000-25.000 per lembarnya. “Printer-nya saya cicil lewat koperasi kebun raya,” katanya dengan logat Sunda.

Para pengunjung kebun raya yang kerap menggelar piknik di akhir pekan.

Sekitar satu juta manusia menyambangi KRB saban tahunnya. Selain tepian danau, area favorit pengunjung adalah Taman Astrid. Lahannya dilapisi rumput pendek, karena itu kerap dijadikan wadah piknik. Ketika saya datang di Minggu, taman yang memakai nama Ratu Belgia ini sedang menanggap orkes dangdut. Tak sampai 50 meter dari kenduri meriah itu, sekumpulan remaja menggelar sesi pendalaman Alkitab. Saya pun disuguhi pemandangan yang kontras. Dendang seduktif “ah, ah, ah mandi madu” terpisah hanya beberapa langkah dari seruan kudus “kekuatan kita datangnya dari Tuhan!”

KRB punya banyak fungsi bagi banyak orang: wadah piknik, ruang kenduri, sarana ibadah, dan, bagi fotografer keliling, tempat mencari nafkah. Sebuah ruang bersama yang egaliter. Bagi warga Bogor, orang-orang yang tumbuh bersama KRB, tempat ini biasanya punya makna yang lebih dalam. “Itu bangku tempat saya duduk hingga ketiduran sepulang sekolah dulu,” kenang Ben Laksana, fotografer saya, yang lahir di Bogor. Baginya, KRB ibarat rumah kedua. Sekolahnya dulu, Regina Pacis, berada persis di seberang kebun. Setelah beranjak dewasa, Ben masih suka mampir ke “rumah keduanya” ini, sekadar untuk duduk membaca atau joging sore.

Kiri-kanan: Seorang pengunjung bersantai di akar pohon raksasa; sebatang pohon Eucalyptus alba, spesies yang hidup di kawasan utara Australia, Papua Nugini, dan Timor.

Warga Bogor lain yang juga menyimpan ikatan personal dengan kebun raya ialah Ayu Utami, seorang penulis novel kenamaan. Terkenal akan pandangan feminisnya yang tajam, Ayu lebih mirip gadis romantis saat membicarakan KRB. Seperti Ben, dia alumni Regina Pacis. Tiap hari melewati kebun raya saat masih bersekolah, Ayu sampai tahu sebuah pintu rahasia yang memungkinkannya memasuki kebun tanpa membayar tiket.

“Yang saya rindukan dari kebun raya,” kata Ayu, “adalah gerombolan kelelawar yang setiap magrib melintas ke kebun. Langit seperti menghitam seketika. Keren sekali.” Memori manis itu juga yang mendorongnya memilih KRB sebagai lokasi resepsi pernikahannya pada 2011. Melihat foto-foto hajatannya yang dihiasi “butiran salju,” banyak orang mengira Ayu menikah di luar negeri, padahal salju itu hanyalah rontokan kapuk. “Magis,” kenangnya.

Tiga kali berkunjung ke kebun raya dalam rentang setahun, saya kian menikmati jalan-jalan sore di sela pepohonan tanpa peduli arah. Ayu benar, tempat ini memang magis. Saya membiarkan diri keluyuran solo tanpa peta, sengaja melawan arus turis, berkenalan dengan ribuan spesies tanaman yang entah datang dari mana. Suatu kali saya bergerak ke sisi barat kebun dan menemukan sebidang oasis hening yang dinaungi pepohonan dengan usia menembus 100 tahun. Di waktu yang lain, saya menemukan Taman Meksiko, salah satu inovasi kreatif KRB. Di sini, pemandangannya sureal. Rumput berganti kerikil, sementara pohon-pohon rindang digeser oleh kaktus. Taman Meksiko menampung sekitar 100 spesies tanaman lahan tandus. Perawatannya tentu menuntut perhatian ekstra, mengingat iklim Bogor tergolong lembap dan basah.

Salah seorang pengunjung tengah menikmati sesi santai di Kebun Raya Bogor, taman botani tertua di Indonesia.

Ada kalanya, berkelana di sini meninggalkan kenangan buruk. Dalam kunjungan keempat misalnya, saya seperti diingatkan untuk lebih was-was jika kelak kelayapan solo lagi. Kala itu, suara knalpot terus membuntuti. Saya menengok dan melihat dua anggota Paspampres. Sejak Joko Widodo bermukim di Istana Bogor, banyak serdadu berpatroli di kebun raya. Mungkin karena presiden sedang blusukan, pengawal istana malah menawarkan diri untuk mengawal saya. “Mau saya antar? Boleh saya minta nomor telepon kamu?” katanya. Kalau saja Jokowi tahu.

Menengok riwayatnya, KRB bermula dari sebuah taman yang dicanangkan oleh Raffles di pelataran istana. Berniat mengobati rasa kangen akan kampung halamannya, dia mengadopsi desain taman botani khas Inggris. Tapi bukan Raffles yang sebenarnya meresmikan KRB, melainkan Gubernur Jenderal Philip van der Capellen. Jejak desain awal kebun kini sukar terlihat. KRB telah jauh berubah. Ia sekarang lebih mirip sebuah hutan kota yang terpecah ke dalam banyak kaveling dengan peruntukan beragam, termasuk riset dan budi daya. Pada 1848, di sinilah bumi Nusantara untuk kali pertama mengenal kelapa sawit, tanaman yang kini melahirkan banyak jutawan di Sumatera. Pada 1864, di sini pula pohon karet ditanam perdana sebelum kemudian disebar ke banyak pulau. Banyak bisnis tanaman komoditas di Indonesia sebenarnya berutang pada KRB.

Kolam teratai dengan latar Istana Bogor, struktur sepuh yang telah melayani tujuh presiden Indonesia.

“Sayang kamu datang waktu anggrek-anggrek sedang tidak berbunga,” kata Ibu Irawati, saat saya berkelana di Ruang Spesies, sebuah rumah kaca berisi sekitar 600 spesies anggrek. Irawati adalah perempuan pertama yang pernah menjabat kepala kebun raya. Rampung masa dinasnya, dia kembali menekuni profesi lamanya sebagai peneliti dengan objek favorit anggrek. Ibu ini merawat anggrek seperti anaknya sendiri. Sempat dia memperlihatkan salah satu “anaknya” yang memiliki reputasi kontroversial: Kim Ilsungia. Namanya diberikan oleh Bung Karno sebagai tanda persahabatan dengan Kim Il-sung. Bunga ini berhasil ditumbuhkan di Korea Utara, bahkan menginspirasi kelahiran sebuah festival bunga tahunan.

Bisa memasuki Ruang Spesies adalah pengalaman berharga. Bangunan ini awalnya dibuka untuk umum, tapi akibat maraknya kasus pencurian, pengelola pun mensyaratkan izin khusus. Terdengar janggal memang, tapi banyak maling bergentayangan di KRB, dan anggrek bukan satu-satunya target operasi mereka. Pelat besi berisi informasi pohon juga sering raib. Padahal absennya label ini membahayakan banyak orang. Usia pohon sulit dimonitor. Pada 2015, tujuh nyawa melayang akibat tertimpa pohon kala hujan lebat. Setelah itu, tiap kali hujan melanda, peristiwa lumrah di Kota Hujan, pengelola kebun berkoar-koar lewat pengeras suara untuk mewanti-wanti pengunjung agar tidak berteduh di kaki pohon besar.

Menghabiskan waktu dengan Ibu Irawati, saya mendengar banyak kisah unik tentang KRB. Dia bercerita, misalnya, tentang bayi yang dicakar monyet, tentang Rafflesia patma yang sulit mekar, juga tentang hama yang membuat kebun raya terjebak di posisi dilematis: memilih flora atau fauna. Kisah yang terakhir ini terjadi sekitar 15 tahun silam. Syahdan, burung koak menjadi hama akibat kegemarannya merusak pohon-pohon sepuh. Pengelola kebun memutuskan membasmi mereka, tapi kebijakan itu menuai protes dari pencinta burung. Tak ubahnya jagawana pohon, Ibu Irawati pun mengambil solusi darurat: bergerilya di malam hari dengan beberapa staf kepercayaannya untuk menembaki burung koak.

Kiri-kanan: Kolam teratai yang rusak keindahannya karena sampah; salah satu sudut Kebun Raya Bogor.

Dengan luas 87 hektare, kira-kira 100 kali lapangan sepak bola, KRB memang bukan tempat yang mudah diurus. Sekitar 400 staf kebun berbagi tugas untuk mengawasi agar pelat pohon tak digondol maling, agar bunga-bunga tetap merekah, agar tiap tanaman terus tumbuh dan terawat. Satu problem pelik yang hingga kini belum bisa dijawab tuntas adalah sampah. Tiap akhir pekan, sampah menumpuk dan menyebar seperti benalu. Bukan hanya di area-area piknik, tapi juga di Sungai Ciliwung yang melintasi kebun. Kualitas kebersihan KRB terasa lebih memprihatinkan jika kita membandingkannya dengan Singapore Botanic Gardens, taman botani yang sebenarnya lebih muda dari KRB, tapi justru sukses menyabet predikat Situs Warisan Dunia dari UNESCO.

Iseng, saya menghitung jumlah tempat sampah di sepanjang trek yang saya lewati. Hampir setiap 300 meter terdapat satu tempat sampah. Anehnya, kebanyakan cuma terisi seperempatnya atau malah kosong sama sekali. Pangkal masalahnya mungkin bukan sarana, melainkan perilaku manusia. Tapi tak adakah solusi alternatif? Tak cukupkah dana untuk mendanai program kreatif mengatasi sampah? Bukankah KRB menerima pemasukan dari tiket, tak seperti Singapore Botanic Gardens yang terbuka gratis?

Merayakan usia dua abad, KRB rasanya tak perlu lagi aksi simbolis “peluk kebun raya” seperti tahun lalu. Taman botani ini telah mendulang miliaran rupiah dari penjualan tiket, memproduksi miliaran kilogram oksigen, juga menjadi lahan uji coba bagi banyak tanaman komoditas yang menggerakkan perekonomian. Jika bisa bicara, “kakek renta” ini mungkin hanya memohon untuk dipelihara, dibersihkan, juga disyukuri.

—Rute
Dari Jakarta, Kebun Raya Bogor (Jl. Ir. H. Juanda 13; 0251/8311-362; krbogor.lipi.go.id) bisa dijangkau menaiki mobil melalui Jalan Tol Jagorawi atau menaiki KRL (krl.co.id) jurusan Jakarta-Bogor dengan waktu tempuh sekitar dua jam. KRB buka setiap hari sejak pukul 07:30-17:00. Tiketnya Rp15.000 untuk turis lokal dan Rp25.000 untuk wisatawan asing.

—Informasi
Berhubung Bogor adalah salah satu kota dengan tingkat kemacetan terparah di Indonesia, sebaiknya memilih hotel yang berada di dekat KRB. Setidaknya terdapat tiga hotel yang berjarak hanya beberapa langkah dari kebun raya, yakni Salak the Heritage (Jl. Ir. H. Juanda 8; 0251/8373-111; hotelsalak.co.id; mulai dari Rp600.000); Royal Bogor (Jl. Ir. H. Juanda 16; 0251/8347-123; hotelroyalbogor.com; mulai dari Rp516.000); serta Santika Bogor (Jl. Raya Padjajaran; 0251/8400-707; santika.com; mulai dari Rp850.000).

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Mei/Juni 2017 (“Babad Dari Bogor”).



Comments

Related Posts

5963 Views

Book your hotel

Book your flight