Setelah ikhtisar singkat tentang kerusakan yang relatif ringan pada pondokan akibat gempa—pemilik mesti mengganti 11 cerobong asap, lalu menggunakan sisa-sisa batu batanya untuk membuat teras dapur—Hall menanyakan tujuan saya berikutnya. Saya jawab, Akaroa, ke properti kelas bed-and-breakfast bernama Maison de la Mer. Dia mengangguk. “Kami tinggal di sana saat melacak lokasi proyek kami. Anda akan suka berada di sana. Orang-orangnya menyenangkan.”

Mal-mal bergaya pop-up yang dibuat dari kargo telah memutar roda bisnis di Christchurch;

Dan dia benar. Setelah sekitar satu jam perjalanan melewati kelokan demi kelokan di Peninsula Banks, saya mendarat di Akaroa, sebuah desa pesisir berlatar cantik yang, dalam sepersekian detik di pertengahan abad ke-19, hampir menjadi koloni Prancis. Syahdan, saat pengembara Gallic datang dan melego jangkar pada 1840—sacre bleu!—mereka melihat bendera Inggris berkibar di atas calon rumah baru mereka. Walau begitu, mereka akhirnya menetap, dan warisannya hidup dalam nama jalan semacam Rue Lavaud dan Rue Benoit, serta dalam tiga warna bendera Prancis yang sengaja dikepakkan demi menunjang industri pariwisata Akaroa.

Keunggulan Maison de la Mer terletak pada lokasinya. Menghadap pelabuhan, rumah yang dimiliki oleh pasangan Bruce Hyland (asal Toronto) dan Carol Hyland (Auckland) ini terbukti merupakan pijakan yang sempurna untuk menjelajahi aneka galeri dan toko suvenir di Akaroa. Semuanya dapat disambangi dengan berjalan kaki setengah jam. Duet Hyland adalah tuan rumah yang sempurna, bisa kalem atau cerewet menyesuaikan suasana. Duduk di depan perapian yang berderak sembari ditemani wine, keduanya berbagi cerita tentang pelayaran keluarga mereka menjelajahi bumi, lalu menunjukkan pilihan terbaik untuk makan malam di Akaroa. Yang dimaksud-nya ternyata sebuah pondok unik berdinding papan kuno yang disebut Little Bistro, di mana saya menyiram pipi sapi rebus dengan sebotol bir golden ale produksi Christchurch.

Kiri-kanan: Pemilik Maison de la Mer, pasangan Bruce dan Carol Hyland; Suite Boathouse di Maison de la Mer di Akaroa.

Esok paginya, saya menemukan dua hal. Satu, kroasan panggangan Carol luar biasa lezat; dan dua, sarapan besar bersama pasangan Hyland bukan awalan yang ideal bagi tur menonton lumba-lumba. Di luar sana, gelombang menggoyang perairan yang dikepung tebing vulkanis Pelabuhan Akaroa dan terhubung ke Samudra Pasifik. Tapi setidaknya hasilnya sepadan: kami tidak hanya melihat beberapa fur seal yang sedang berjemur, kerumunan pecuk, serta seekor blue penguin cilik, tapi juga kawanan ramah lumba-lumba Hector, spesies endemis yang termaktub dalam daftar cetacea termungil di dunia. Maskot andalan Akaroa ini sangat memikat: menggemaskan bak tombol dan menggoda untuk dicintai.

Canterbury adalah wilayah yang luas—mewakili seperempat South Island—dengan lanskap yang bervariasi. Ia membentang dari puncak-puncak putih Alpen Selatan hingga pesisir Pasifik yang berkilauan.

Dari Akaroa ke Gunung Cook Village, saya meniti jalan yang membelah kawasan pertanian yang datar, lalu memasuki pedalaman dan menanjak melalui padang bergelombang, hingga akhirnya mencapai MacKenzie Basin, area di ketinggian yang luas di mana padang rumput tussock senantiasa diter-pa angin. Saya berhenti sejenak di Lake Tekapo untuk mengagumi gereja sepuh bertubuh batu, selanjutnya merangsek ke Taman Nasional Aoraki Mount Cook (awalan namanya diambil dari bahasa Maori dan berarti “awan penusuk”), yang puncak agungnya merupakan yang terjangkung di Selandia Baru.

Kiri-kanan: Hanggar sampan di Antigua Boat Sheds; menaiki sampan merupakan salah satu pengalaman menarik.

Di tempat inilah—berdasarkan informasi dari penginapan The Hermitage di Gunung Cook Village—Sir Edmund Hillary memulai pelatihannya sebelum menaklukkan Gunung Everest. The Hermitage memiliki sebuah pusat edukasi yang didedikasikan bagi sang legenda Selandia Baru itu, serta sebuah replika traktor salju yang digunakannya dalam ekspedisi Kutub Selatan pada 1958.

The Hermitage bisa dibilang juga merupakan legenda. Diresmikan pada 1884, properti ini dibangun kembali di tanah yang lebih tinggi usai dilumat banjir, lalu dibangun kembali sekali lagi usai dilahap api pada 1950-an. Sisi bangunan tempat saya bermalam hanya berusia satu dekade, tapi pemandangan yang disajikannya abadi: dari jendela, saya mendongak ke arah Lembah Hooker dan puncak terjal Aoraki Mount Cook yang menjulang 3.754 meter dalam bingkai langit biru cerah musim gugur. >>