Selama kunjungan saya di April silam, surat kabar lokal semacam Central Canterbury News dipenuhi argumen panas seputar keputusan Uskup Victoria Matthews untuk mendekonstruksi, ketimbang merestorasi, landmark pujaan tersebut. Pemrotesnya yang paling vokal adalah Wizard of New Zealand (ini barangkali titel tak resmi), sosok bergaya Gandalf dengan topi runcing dan jubah hitam, yang rutin mengisi khotbah di Cathedral Square sejak lama. Dalam suatu pidatonya yang pedas, dia menyebut Uskup Matthews “telah rusak kronis.” Tapi, bagi warga Canterbury yang mendambakan klaim asuransi guna membangun kembali rumah atau toko mereka, ada kekhawatiran yang lebih mendesak, salah satunya rangkaian gempa susulan yang diprediksi para geologis bakal berlanjut dalam beberapa dekade mendatang.

Kiri-kanan: Mount Cook Ski Planes menawarkan petualangan ke Gletser Tasman; pemandangan Gletser Tasman dari jendela pesawat Mount Cook Ski Planes.

Seperti saya singgung di awal tulisan, ini kisah yang suram untuk sebuah artikel travel. Meski begitu, di sisi yang lain, kita juga bisa terkesima oleh kemampuan tempat ini untuk bangkit walau bahaya menghantam dan menghadang.

“Tempat ini menyimpan banyak kisah tentang kebangkitan,” ujar Kelly Stock dari Christchurch & Canterbury Tourism, yang tahun lalu meninggalkan pekerjaannya di diler Mercedes-Benz guna menjalankan “tugas mulia” merayu wisatawan agar mau kembali. “Christchurch selalu memiliki orang-orang yang kuat dan karakter-karakter yang tegar, mungkin karena mayoritas orang di sini pernah bergelut dengan kejamnya bisnis pertanian. Cara masyarakat bangkit secara massal luar biasa. Sebelum gempa, Anda mungkin tidak mengenal tetangga Anda; sekarang, Anda mengenalnya, serta saling peduli dan rela menolong semampunya. Gempa menyebabkan banyak kerugian, tapi gempa juga menunjukkan bahwa kita mampu berbuat lebih banyak dari yang kita bayangkan.”

Kiri-kanan: Pemandangan paripurna dari Panorama Room di hotel The Hermitage; Aoraki Mount Cook, puncak tertinggi di Selandia Baru, dilihat dari hotel The Hermitage.

Cerita-cerita heroik muncul dari konstelasi tersebut. Misalnya tentang pasukan sukarelawan muda yang terdiri dari pelajar dalam membantu menyuplai makanan dan air minum bagi para manula, serta membersihkan 360.000 ton lumpur dan sedimen yang terdorong ke permukaan bumi oleh fenomena seismik yang lazim disebut liquefaction. Juga ada pujian-pujian bagi Wali Kota Bob Parker yang kepemimpinannya atas penanganan bencana disejajarkan dengan kegemilangan Wali Kota New York City Rudy Giuliani pascatragedi 9/11. Tanda-tanda pemulihan nyata di banyak titik, mulai dari stadion rugbi baru yang berkapasitas 17.000 kursi hingga bekas gudang gandum yang telah disulap menjadi rumah sementara bagi Court Theatre, salah satu teater terpandang di Selandia Baru.

Di pusat bisnis Addington yang tengah menggeliat, sebuah tempat cuci mobil kini bersalin wajah menjadi Cargo Bar. Pemiliknya, Henare “H” Akuhata-Brown, melansirnya Agustus lalu, beberapa bulan setelah barnya yang populer di pusat kota ditutup akibat gempa di Februari. “Pertanyaan pertama saya dan istri saya, Angelique, pada diri kami adalah, apakah kami ingin tinggal di Christchurch,” kata H, pria asal Hawke’s Bay. “Jawabannya, tentu saja. Tempat ini sangat istimewa, dan kami ingin menjadi bagian dari proses pemulihannya.”

Proses itu diharapkan berlangsung setidaknya 15 tahun. Target utama pemerintah kota adalah mereinkarnasi daya tarik Canterbury sebagai kota abad ke-21 yang cerdas dan berkelanjutan. Kabar baiknya, lebih dari dua lusin perusahaan telah kembali ke jalur pertokoan Cashel Street, persis di bibir zona merah, di mana reruntuhan bangunan telah digantikan oleh jalur pejalan kaki dan mal dari tumpukan kontainer. Diberi nama Re:START, kompleks darurat ini telah menyuntikkan energi ke pusat kota lewat beragam toko pakaian dan kafe yang gesit memutar uang. Saya membeli mantel bulu untuk petualangan hari berikutnya ke dataran tinggi Canterbury, lalu membolak-balik buku foto berisi arsitektur kota yang dihantam gempa (salah satunya berjudul miris, All Fall Down: Christchurch’s Lost Chimneys), kemudian mengambil latte (disebut flat whites di sini) dan berdiri di tengah kerumunan yang menonton ekskavator mengunyah bangunan 10 lantai. Bongkahan besar beton dan besi cor terjerembap dari ketinggian 30 meter. Getarannya menjalar melalui trotoar.

Kiri-kanan: Otahuna Lodge dipotret dari taman sekitarnya; Satu dari tujuh suite di Otahuna Lodge, Tai Tapu, sisi luar Christchurch.

“Apa yang Anda tonton?” tegur seorang remaja dengan nada jenuh atas sikap terperanjat kami. “Mereka sudah merobohkan ratusan bangunan. Apa menariknya?” >>