Nelayan melintasi danau menuju Lanjak yang berbatasan dengan Serawak (Atet Dwi Pramadia).

Oleh Cristian Rahadiansyah

Danau Sentarum terkenal berkat ukurannya yang masif. Tapi kali ini kita diajak melihatnya sebagai korban dari kerakusan ekonomi. Sepuluh fotografer Antara mengunjunginya, mendokumentasikannya, lalu menyusun karya yang mengetuk kesadaran kita.

Perjalanan ke Tanah Leluhur Danau Sentarum adalah buku yang dilahirkan dari lokakarya garapan Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA). Misinya luhur, yakni mewartakan kearifan lokal dan kekayaan budaya Nusantara. Sebelum Sentarum, mereka menyambangi desa Badui dan Taman Nasional Bukit Duabelas.

Perahu menjadi alat transportasi sehari-hari di Desa Leboyan (Anastasia Widyaningsih).

Beberapa fotografer yang terlibat dalam ekspedisi Sentarum adalah Atet Dwi Pramadia, Bayu Amde Winata, Anastasia Widyaningsih, Heru Hendarto, dan Idham Rahmanarto. Secara keroyokan dan swadaya, mereka memproduksi 144 foto yang disebar dalam buku setebal 154 halaman. Proses seleksi foto ditangani oleh Oscar Motuloh, yang juga, sesuai tradisi, kebagian tugas menulis salah satu teks pengantar buku.

Kenapa Sentarum? Pemilihan lokasi sepertinya dilandasi oleh alasan sejarah dan pertimbangan kontemporer. GFJA berniat memotret tempat yang memiliki riwayat monumental, berdampak signifikan bagi kehidupan, serta memperlihatkan tantangan mutakhir yang dihadapi Indonesia. “Tidak satu pun dari kami yang memiliki leluhur langsung dari Danau Sentarum, namun sebagai anak bangsa yang besar, jelas bahwa Danau Sentarum adalah salah satu tempat yang mewakili kondisi negeri kita ini,” tulis Ramadian Bachtiar dari GFJA di dalam buku.

Danau Sentarum di musim basah pada Januari 2014 (Atet Dwi Pramadia).

Sentarum bukanlah danau yang tunggal, melainkan mosaik dari sekitar 80 danau beragam ukuran. Kawasan ini ditetapkan sebagai taman nasional pada 1999. Dengan luas 132.000 hektare, Taman Nasional Danau Sentarum menyandang status lahan basah terluas kedua di Asia.

Tapi bukan cuma ukurannya yang penting. Danau air tawar di Kalimantan Barat ini adalah sandaran hidup bagi warga Melayu dan Dayak selama ratusan tahun, baik lewat sektor perikanan maupun perkebunan. Hutan tropis dan kompleks rawa di sini juga menjadi habitat satwa, termasuk orangutan dan bekantan, sementara rahimnya memasok air ke sungai terpanjang di Indonesia—Kapuas.

Kiri-kanan: Rohmah (kiri), perintis jasa penyewaan baju penganten adat Melayu di Desa Semalah (Idham Rahmanarto); kepala Rukun Nelayan, Abdul Rohad (76), bersiap memasang bubu pada musim kering di Desa Leboyan (Atet Dwi Pramadia).

Tapi alam yang penuh berkah itu pula yang, ironisnya, memicu kerakusan. “Kawasan konservasi ini dan lingkungannya mengalami tekanan hebat oleh aktivitas manusia,” tulis Yayan Indriatmoko di bagian pengantar buku lainnya. Yayan, kini Mahasiswa Pascasarjana Australian National University, pernah bekerja di Sentarum saat mengabdi bagi Center for International Forestry Research.

Menurut Yayan, Sentarum kini didera banyak problem pelik, seperti degradasi hutan akibat penebangan kayu, ledakan jumlah penduduk, penangkapan ikan berlebih, hingga kebakaran hutan gambut. Tantangan terakhirnya adalah konversi hutan  menjadi perkebunan kelapa sawit—isu yang turut mencoreng wajah Indonesia di panggung dunia. “Pembukaan lahan besar-besaran di lahan gambut tidak hanya memusnahkan keanekaragaman hayati, keberlanjutan fungsi ekosistem, tetapi juga melepaskan karbon dioksida (CO2) yang cukup besar yang menjadi perhatian banyak kalangan terkait dengan pemanasan global dan perubahan iklim,” tulis Yayan lagi.

Foto Danau Sentarum diambil pada musim kering pada Juli 2012, di mana sebagian besar air telah mengalir ke sungai terpanjang di Indonesia—Kapuas (Atet Dwi Pramadia).

Dalam kepungan bencana itu, bukan cuma alam yang tergerus, tapi juga kearifan budaya. Warga setempat seolah berada di persimpangan antara kepentingan ekonomi dan konservasi. Dalam proses tarik-menarik itu, banyak metode bijak dalam khazanah lokal ikut terkikis. Di titik inilah pasukan fotografer dari GFJA berperan vital. Ekspedisi etnofotografi mereka tak sekadar merekam apa yang eksis di sana, tapi juga segala yang terancam punah.

Proses dokumentasinya tentu tak mudah. Menjelajah kawasan yang luasnya setara dua kali Jakarta, GFJA mesti memecah tim di lapangan demi mendapatkan karya yang cukup representatif. Solusinya: setiap desa digarap oleh dua peserta. Agar dokumentasi juga komprehensif, kesepuluh fotografer berkunjung dalam dua fase: musim kering dan basah. Adaptasi dengan kondisi lokal juga diterapkan. Di Desa Pengerak misalnya, GFJA hanya mengutus fotografer perempuan, karena mayoritas penghuni desa memang kaum perempuan setelah sebagian besar kaum prianya mengundi nasib di Malaysia.

Kegiatan belajar yang diadakan relawan secara temporer di Desa Pengerak (Septiawan).

Melalui petualangan itu, para juru kamera melihat langsung permasalahan yang dihadapi warga, umpamanya tercerabutnya akses pendidikan anak-anak desa akibat hengkangnya para guru, atau frustrasinya petani madu hutan setelah lebah mereka tak lagi memproduksi madu akibat perubahan lingkungan. Dibandingkan buku-buku fotografi yang kini marak beredar, karya GFJA memang lebih mengajak kita merenung ketimbang terbuai. Tak banyak tawa yang dihadirkan. Alih-alih, pembaca disuguhi wajah suram bumi yang bertarung melawan Goliath bisnis di atas ring kapitalisme abad ke-21.

“Di pengujung danau yang mengering, saat haluan sampan terantuk gambut, kita hanya bisa menegakkan kepala menatap belantara sawit yang menegak memburamkan langit yang kini kelabu. Masih adakah sumber alam kita yang merambat kearifan lokal?” tulis sang kurator, Oscar Motuloh. Pertanyaan lirih Oscar adalah juga pertanyaan buku ini. Para fotografer bercerita lewat gambar dan beberapa bait anotasi. Kini, para pembaca diminta menjawabnya.

Burung-burung melintasi Sungai Kapuas di Desa Suhaid (Atet Dwi Pramadia).

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Januari/Februari 2015 (“Besuk Leluhur”)

danau menuju lanjak transportasi sehari hari danau sentarum di musim basah locals danau sentarum bulan kering kegiatan belajar oleh relawan burung sungai kapuas
Kiri-kanan: Rohmah (kiri), perintis jasa penyewaan baju penganten adat Melayu di Desa Semalah (Idham Rahmanarto); kepala Rukun Nelayan, Abdul Rohad (76), bersiap memasang bubu pada musim kering di Desa Leboyan (Atet Dwi Pramadia).