Kiri-kanan: Cafe Sperl, kafe kesukaan Adolf Hitler. Restoran ini sudah berumur 120 tahun; suasana menjelang malam di Museums Quarter, Wina.

Bisa disimpulkan, orang-orang yang menganggap Wina semata gundukan sisa-sisa kerajaan, pasti belum pernah melenceng dari agenda standar dalam paket-paket tur. Andaikan tidak menyukai museum, seperti saya, Anda masih bisa menyelami seni, arsitektur, dan desain berusia ratusan tahun. Dan jika Anda mengenal rahasia-rahasia lokal, penyelaman itu menjanjikan pengalaman yang sangat berkesan. Untuk memulainya, masuki kedai kopi, di mana kue-kue umumnya dimahkotai whipped cream dan dihias cantik seperti dekorasi istana Keluarga Habsburg.

Saya bisanya singgah di Café Sperl, tempat nongkrong komponis Franz Lehár. Kendati saya belum pernah melihat opera Merry Widow garapan Lehár di sini, tapi setidaknya atmosfer sopan abad ke-19 senantiasa terpancar dari warga yang datang untuk menyantap strudel sembari membaca koran. Untuk karakter yang lebih bohemian, pilih Café Hawelka. Dialasi lantai kayu yang reyot dan dihiasi poster-poster teater yang sudah terkelupas, tempat ini senantiasa memelihara aura 1930-an yang berpotensi membuat kita merasa tersesat dalam adegan film The Third Man. Tidak ada kue-kue cantik di sini, kecuali roti selai buchteln dan penekuk cincang yang ditaburi gula bubuk.

Toko-toko yang terpaut riwayat ningrat juga menyenangkan. Didirikan pada 1823 dan setia mempertahankan pesona tuanya, J. & L. Lobmeyr awalnya bertugas membuat kandil kristal untuk Habsburg. Kini, produknya direka ulang guna menciptakan barang beling modern. Lobmeyr adalah satu dari segelintir perusahaan yang masih bangga menampilkan plaket k.u.k. Hoflieferant, artinya “vendor imperial dan royal” bagi Kekaisaran Austria-Hongaria.

Toko ningrat lain yang menarik adalah Backhausen, pemasok kain yang terkenal akan desainnya yang beraliran Art Nouveau. Opsi lainnya, Knize, adalah rumah penjahit yang dulu meracik busana untuk para baron, tapi kini beralih melayani pengusaha urban. Interior tokonya yang menawan dirancang pada 1910-an oleh salah seorang arsitek perintis aliran modern, Adolf Loos.

Berjalan sejenak dari kantong belanja di Innere Stadt, terdapat mahakarya Adolf Loos lainnya: American Bar. Di ruang mungil ini, saya menemukan lantai bermotif kotak hijau-putih, serta dekorasi maskulin yang dibuat dari marmer dan mahoni. Menyeruput mint julep di bar legendaris adalah salah satu cara terbaik untuk mengapresiasi warisan seni dan arsitektur Austria dari awal abad ke-20.

Dengan niat melacak sisi-sisi kota yang memadukan kontras, saya mengikuti saran warga dengan menyatroni Haas Haus. Dirancang pada akhir 1980-an oleh arsitek peraih Pritzker Prize, Hans Hollein, landmark pascamodern ini berbentuk bunker. Di sebelahnya, ada gedung kerajaan dengan paras barok. Keduanya bersanding tanpa canggung. Di malam-malam musim panas, halaman di antara kedua bangunan itu disulap menjadi area bersantai massal: remaja berbaring di bangku-bangku plastik berwarna ceria.