Tapi kisah Napa tak melulu semanis anggur-anggur Cabernet. Para pengusaha wine telah melalui banyak periode sulit dalam memutar roda bisnisnya. Di pengujung abad ke-19, sebuah wabah menyapu kawasan ini dan membunuh pohon-pohon anggur. Baru sejenak mereka menikmati keampuhan penawar parasit, pemerintah menerapkan kebijakan Prohibition guna membatasi peredaran minuman beralkohol, hingga memaksa sejumlah winery gulung tikar atau beralih fokus ke wine sakramen. Segelintir yang bertahan kemudian menghadapi Depresi Besar.

Kiri-kanan: Salah satu sudut Castello.Terdapat gelas dan botol kuno; meja makan yang digunakan untuk memajang barang-barang pecah belah.

Kebangkitan industri wine di Napa sebagian dipicu oleh tingkat konsumsi domestik yang tinggi. Amerika berstatus negara penghasil wine terbesar keempat, tapi dalam hal volume konsumsi, ia bertengger di posisi puncak. Titik balik penting lainnya bagi Napa adalah Paris Wine Tasting 1976, di mana Chardonnay dan Cabernet Sauvignon buatannya berhasil mengalahkan sejumlah merek ternama Prancis dalam sesi blind tasting. Sejak itu, Napa kian diperhitungkan dalam peta wine internasional.

Saya memarkir kendaraan di halaman Castello di Amorosa, sebuah kastel bergaya abad pertengahan yang menjulang di tengah kebun. Imajinasi saya terbang ke Tuscany. Namun, usai membaca riwayat bangunan, saya mendapati arsitektur Castello sebenarnya lebih merefleksikan silsilah si pemilik. Peradaban modern di Napa baru berusia dua abad. Kastel abad pertengahan adalah benda impor yang ahistoris. Castello didirikan oleh Dario Sattui, pengusaha keturunan Italia. Bahan-bahan bangunan sebanyak 170 kontainer didatangkan dari tanah leluhurnya di seberang Samudra Atlantik. Setelah proses konstruksi dan renovasi yang melelahkan selama 15 tahun, kastel akhirnya dibuka untuk umum pada 2007.