Kiri-kanan: John, pramusaji di Castello di Amorosa, merekomendasikan Muscat Canelli yang diberi nama Il Raggio Del Sole; benda-benda antik bergaya Abad Pertengahan di Castello di Amarosa.

Usai melewati aula utama yang megah dan dipercantik fresco, saya mendarat di cellar yang dipenuhi tong-tong kayu. Sebagian tong menampung wine yang usianya lebih dari satu abad—warisan tak ternilai dari buyut Dario Sattui. Sesi yang saya nanti-nanti, wine tasting, akhirnya tiba. Tiket ke tempat ini mencakup lima gelas wine. Setelah Pinot Nero dan Cabernet Sauvignon, saya memilih dessert wine Il Raggio Del Sole, yang artinya “sinar surya”. Gewürztraminer, dessert wine andalan Castello, dituang ke gelas keempat. Rasanya manis sekali. Satu ons wine ini dibuat dari 180 anggur. Saking enaknya, saya memilihnya kembali di gelas penutup.

Semua wine di Castello dijual secara eksklusif, artinya kita tidak bisa menemukannya di tempat lain. “Di kalangan turis, winery ini lebih terkenal akan kastelnya ketimbang kualitas winenya,” kritik seorang pengunjung asal Eropa. Saya tak berniat menyangkalnya. Selera adalah subyektivitas yang sulit ditakar. Bagi saya, menikmati wine haruslah dilandasi kesadaran bahwa minuman ini tidak didesain untuk melayani kepuasan individual semata. Wine lebih merupakan lubrikan sosial yang harus dinikmati dalam suasana spesial. Di Castello, saya merasakan atmosfer Italia abad pertengahan. Saya rasa itu lebih dari cukup untuk menciptakan pengalaman yang berkesan.

Kapel batu di tepi jalan lengang di kawasan kebun anggur Napa.