Tidak bisa dimungkiri hidangan steik menjadi menu yang populer di lidah warga Jakarta, usai menjamurnya kedai-kedai steik lokal dan hadirnya Hurricane’s Grill dari Sydney, tahun ini giliran Ruth’s Chris Steak House, restoran steik andalan asal New Orleans, Amerika Serikat menancapkan kukunya di Kota Durian. Berbeda dari pesaingnya, restoran yang juga memiliki cabang di Singapura, Taiwan, Hong Kong, dan Jepang ini berkiblat pada konsep steik fine dining—ceruk yang tak banyak dilirik di ibu kota.

Letaknya mencerminkan konsepnya. Restoran garapan Ruth Fertel setengah abad silam ini menjauh dari distrik ramai dan memilih kawasan eksklusif Dr. Satrio, persisnya di lantai dasar Apartemen Somerset. Berkiblat pada fine dining, restoran kental dengan atmosfer glamor. Para pelayan tampil elegan lewat busana serba formal. Sedangkan, interiornya banyak didominasi warna cokelat tua dengan panel-panel tembaga yang memancarkan karakteristik rustic. Jendela kaca besar disematkan di sisi interior guna memaksimalkan penetrasi cahaya natural, baik di siang maupun malam.

Ruang makan dipecah dalam dua tipe. Area utama berkapasitas 120 orang dengan pemandangan taman hijau serta jalan utama Dr. Satrio. Area kedua adalah ruang VIP dengan dinding batu bata dan pencahayaan temaram yang sanggup menampung 20 orang.

Selayaknya restoran steik premium sejenis, daging adalah primadona utama. Di sini kenikmatan steik tidak bergantung pada saus, namun berkiblat pada racikan sederhana sesuai resep klasik sang pemilik yang memaksimalkan bumbu dasar seperti merica, garam dan mentega. “Kunci steik lezat ada di kualitas daging. Semakin tebal dan banyak serat lemak putih, rasanya semakin nikmat. Tidak perlu saus tambahan,” ujar Kieran Galway, Regional Director Ruth’s Chris Steak untuk Hong Kong dan Singapura.

Untuk urusan bahan baku daging, Hasmore Limited, mitra waralaba Ruth’s Chris di Asia tidak main-main. Grup F&B asal Asia ini mendatangkan langsung Prime Beef berlabel USDA, daging berkualitas tinggi yang tersohor akan lemak putihnya asal Amerika Serikat. Tiap menu dimasak dalam temperatur 980 derajat celsius, lalu disajikan di atas piring bersuhu 260 derajat celcius. “Kami ingin tamu tetap bisa menikmati steik hangat layaknya keluar dari dapur,” tambah Kieran.

Menu andalan mereka adalah daging rib eye yang tersedia dalam dua ukuran: 340 dan 450 gram. Masing-masing dimasak sempurna dengan lima jenis level kematangan daging sesuai selera. Sedangkan untuk tamu yang mencari opsi sharing, pilih Porterhouse For Two, steik Prime Beef porsi jumbo seberat 1,1 kilogram.

Ruth cabang Jakarta juga tak melupakan hidangan khas New Orleans lainnya, seperti Ruth’s Chop Salad yang terdiri dari 15 bahan baku mulai dari bayam, selada, hingga keju bleu. Sajian distingtif lainnya yang perlu dicoba adalah crab cake dan barbecued shrimp, udang bakar segar yang dikucuri saus mentega creole khas New Orleans. Usai makan, tutup sesi dengan sepiring Cheesecake berukuran jumbo.

Jl. Prof. Dr. Satrio, Somerset Grand Citra, GF, Jakarta; 021/5221 178; ruthschris.com; buka makan siang pukul 12:00-15:00, makan malam pukul 17:30-23:00.