Kapal pengangkut pasir di Cai Be yang menampilkan gambar mata dewa di haluan untuk menangkal bala.
Kapal pengangkut pasir di Cai Be yang menampilkan gambar mata dewa di haluan untuk menangkal bala.

Dikendalikan dari markas besarnya di Glasgow, IFC sempat menjelma jadi perusahaan transportasi sungai terbesar di abad ke-20. Sayangnya, Perang Dunia II kemudian pecah dan Jepang menganeksasi Burma. Ambisi IFC untuk berekspansi lebih jauh ke selatan Indocina pun kandas. Lebih dari 200 kapal uap miliknya terpaksa ditenggelamkan agar tak diambil alih Jepang.

Riwayat perusahaan Pandaw Cruise, operator RV Mekong Pandaw, dimulai puluhan tahun setelah masa kelam itu. Kisahnya bermula saat pria Skotlandia Paul Strachan sedang menyusuri Ayeyarwady untuk keperluan riset buku yang ditulisnya. Saat kapalnya meliuk mengikuti meander sungai, Paul melihat seonggok kapal usang yang terdampar. Kapal itu reyot, membusuk dikikis arus. Mengandalkan royalti dari penjualan buku, Paul membeli bangkai tersebut dan mengubahnya menjadi sebuah kendaraan wisata dengan standar kemewahan hotel bintang lima.

Awalnya beroperasi hanya di Myanmar, Pandaw Cruise melebarkan sayap ke Vietnam dan Kamboja. Kapal saya dirakit pada 2002 di Yangon. Arsitekturnya setia pada pakem lama, tapi teknologinya mengikuti standar naval modern. Tungku uap diganti oleh mesin diesel berkekuatan 550 tenaga kuda. Interiornya dilapisi panel-panel kayu dan ditaburi mebel apik. Satu elemen antik yang dipertahankan adalah cerobong uap. “Ini hanya ornamen pemanis,” ujar Sokhom, bartender kapal.

Menjelang senja, semua penumpang telah kembali ke geladak. RV Mekong Pandaw menggulung jangkar dan nakhoda mengarahkan kemudi menuju Chau Doc. Perjalanan kali ini cukup jauh, 145 kilometer. Mengikuti pesiar sungai seperti ini, kita mesti sabar menikmati tiap detik perjalanan, juga lihai mengisi waktu. Sebagian penumpang bersantai menyerap panorama dari kamar atau geladak. Sebagian yang lain melahap buku favorit atau berbincang-bincang.

Kiri-kanan: Wisatawan melintas di depan monumen peringatan korban pembantaian Khmer Merah; truk sampah di pelataran Royal Palace , Phnom Penh.
Kiri-kanan: Wisatawan melintas di depan monumen peringatan korban pembantaian Khmer Merah; truk sampah di pelataran Royal Palace , Phnom Penh.

Di perjalanan, RV Mekong Pandaw berpapasan dengan kapal-kapal wisata lain. Bisnis pesiar memang tumbuh subur di Mekong. Pelancong dari penjuru bumi berdatangan untuk menikmati keindahan negeri-negeri yang berbagi rumpun budaya di belahan utara Asia Tenggara. Saya pernah mengikuti tur susur sungai di Kalimantan. Di sana, tawaran utamanya adalah melihat kehidupan satwa liar di hutan tropis. Di Mekong, agendanya lebih longgar. Kita praktis hanya diajak menikmati tiap detik perjalanan, dengan sesekali menyapa warga dan mengenal budayanya.

Akan tetapi susur sungai di sini tak selamanya menuturkan kedamaian. Mekong, sebagaimana banyak sungai lain di Dunia Ketiga, tengah mengalami degradasi ekologi. Saat wisatawan melihat Mekong sebagai wadah romantis untuk menyelami alam dan budaya, banyak pemimpin negara lebih memandangnya sebagai jawaban bagi kebutuhan energi. Di bagian hulu di Tiongkok, enam bendungan pembangkit listrik tenaga air telah dibangun. Rencananya, 11 bendungan lain akan ditancapkan di Laos, Thailand dan Kamboja—tiga negara yang giat membangun dan karena itu haus energi.

Sejumlah penelitian membeberkan bencana yang mengintai di balik agenda tersebut. Menurut International Rivers, organisasi yang menyoroti sungai-sungai lintas batas negara, bendungan berdampak buruk pada sektor perikanan: jalur migrasi ikan bakal terganggu dan hasil tangkapan nelayan menyusut.

Peringatan ini tak bisa dipandang remeh, terutama di Vietnam di mana 60 persen produksi ikan bersumber dari Mekong. Bagi para petani, bendungan juga menghadirkan masalah. Terblokadenya air di hulu sungai rawan memicu kekeringan di ladang-ladang sayur dan buah di Vietnam dan Kamboja.

Assalamualaikum,” sapa seorang gadis etnis Cham di Chau Doc. Suku minoritas Cham dikenal sebagai pedagang ulung yang berjasa membuka jalur perdagangan antara Asia Tenggara dan Tiongkok. Mereka jugalah yang dulu mendirikan Kerajaan Champa yang menguasai kawasan tengah Vietnam.

Chau Doc adalah salah satu tempat yang menyimpan sisa-sisa peradaban Champa. Bersama penumpang lain, saya menyusuri desa dan menyapa warganya. Semua orang di sini bekerja. Kaum pria menyambung hidup di sungai dengan menangkap ikan. Kaum wanita menjalin benang-benang dengan telaten, melahirkan kain-kain tenun berwarna terang.

Warga Cham di pedalaman umumnya menganut Islam, kontras dari kerabat mereka di pesisir yang memeluk Hindu. Rumah-rumah mereka ditopang pilar-pilar kayu. Interiornya simpel, hanya menampung satu kamar tidur dan ruang tamu, sementara dapur dan kamar mandi diletakkan di kolong rumah. Desain rumah panggung ini adalah bagian dari solusi bertahan hidup. Selama musim hujan, Mekong kerap meluap dan merendam desa-desa di tepinya.

Foto Raja Norodom Sihamoni di sekitar kompleks Royal Palace, Phnom Penh.

Meninggalkan kaum nelayan dan penenun, RV Mekong Pandaw bergerak kembali ke utara, melawan arus sungai ke arah hulu. Selepas Chau Doc, kapal menyeberangi perbatasan menuju Kamboja. Sungai kian lapang, tapi atmosfernya lebih hening. Tak lagi tampak kapal wisata, sampan pedagang, dan mesin pengeruk pasir.

Kian dalam menembus Negeri Khmer, RV Mekong Pandaw memperlambat lajunya. Dari dek observasi tampak bangunan-bangunan berwarna krem. Selang beberapa detik, pagoda emas menjulang mencolok mata.

Kapal menjangkau Phnom Penh melalui Sungai Tonle Sap, salah satu anak Sungai Mekong, kemudian bergerak ke Kampung Prek Kdam, salah satu sentra kerajinan perak terpopuler di Kamboja. Rute ke sana sangat menguji kepiawaian nakhoda. Beberapa bagian Tonle Sap dipadati eceng gondok, problem pelik di sungai-sungai Indocina selain bendungan dan penambangan pasir ilegal.

Eceng gondok sulit dibasmi. Seperti hama, tanaman ini memenuhi permukaan air, memblokade sinar mentari, serta mengganggu ekosistem di rahim sungai. Bagi kapal-kapal wisata, eceng gondok menghadirkan masalah yang tak kalah merepotkan. Kapten Sotha dan navigatornya mesti ekstra hati-hati bermanuver agar baling-baling kapal tidak tersangkut dan terjerat. Selamat dari kepungan eceng gondok, RV Mekong Pandaw berlabuh di sebuah dermaga kecil. Seperti di tempat transit sebelumnya, kami berpindah moda transportasi. Kali ini, kami menaiki kendaraan bertenaga sapi.

Kampung Prek Kdam dihuni para perajin perak. Mereka menghasilkan kriya berbentuk kalung, gelas, hingga vas. Banyak pekerjanya masih belia. Madame Touch, salah satu pemilik studio, memupuk keahliannya secara turun-temurun. Bersama ketiga anaknya, dia menyandarkan pemasukan dari penjualan kerajinan yang dibuat secara tradisional. Katanya, utusan sebuah perusahaan asal Tiongkok pernah mampir untuk menawarkan mesin cetak perak, tapi ibu berusia 55 tahun ini memilih setia pada teknik warisan leluhurnya. “Sudah menjadi tradisi keluarga yang harus diwariskan,” ujarnya.

Di Kuil Wat Hanchey, saya menemui Bunthean, seorang calon biksu. Remaja pencinta sepak bola ini memutuskan mendalami Buddhisme di usia 15 tahun. Menurutnya, semenjak itu hidupnya lebih tertata. “Di biara saya tidak perlu pusing. Pendidikan didapat dan makan terjamin,” ujarnya.

Kiri-kanan: Sejumlah penumpang tengah bermain air di tepi sungai; interior Wat Hanchey yang pernah dirusak pasukan Pol Pot.
Kiri-kanan: Sejumlah penumpang tengah bermain air di tepi sungai; interior Wat Hanchey yang pernah dirusak pasukan Pol Pot.
Kiri-kanan: Lumbung jerami di Kampong Tralach, Kamboja; salah satu ruang penyiksaan tahanan di Sol Sleng Genocide Museum.
Kiri-kanan: Lumbung jerami di Kampong Tralach, Kamboja; salah satu ruang penyiksaan tahanan di Sol Sleng Genocide Museum.

Pendidikan juga menjadi salah satu bidang CSR Pandaw Cruise. Perusahaan ini menyisihkan pendapatannya untuk memperbaiki kesejahteraan warga di sekitar sungai. Di Desa Angkor Ban misalnya, Pandaw Cruise terlibat dalam pendirian sejumlah sekolah. Hingga kini sudah 12 unit sekolah yang didirikannya di Myanmar dan Kamboja. Kapal yang dahulu didesain untuk mengangkut hasil bumi ini sekarang berikhtiar membentuk masa depan.

Ekspedisi memasuki jam-jam terakhirnya. Layaknya pesiar romantis, RV Mekong Pandaw menggelar sesi penutup yang berkesan bagi para penumpang. Kapal berlabuh di dekat sebuah pulau pasir, lalu seluruh penumpang dan staf turun untuk menyeruput koktail dan berendam di sungai. Musik bergema di tengah hawa panas. Saya menceburkan diri dan menikmati air kelapa dingin. Hari ini, Mekong memiliki sebuah beach club, atau mungkin lebih tepatnya river club.

Detail

Rute
Operator Pandaw Cruise (pandawcruise.com) melayani dua rute pelayaran di Sungai Mekong: dari Siem Reap (Kamboja) menuju Ho Chi Minh City (Vietnam), atau sebaliknya. Kapalnya, RV Mekong Pandaw, dirakit pada 2002 di Yangon dan terakhir kali direnovasi pada September 2013.

Fasilitasnya antara lain spa, perpustakaan, lounge, serta pusat kebugaran mini. Momen ideal untuk wisata susur sungai di Mekong adalah November hingga Februari saat curah hujan rendah dan suhu relatif sejuk. Dari Indonesia, ada banyak maskapai yang melayani penerbangan menuju Siem Reap dan Ho Chi Minh City, salah satunya Vietnam Airlines (vietnamairlines.com).

Penginapan
Wisata pesiar sungai lazimnya dimulai pada pagi hari, jadi Anda mesti datang sehari sebelum tur. Untuk rute Ho Chi Minh City-Siem Reap, salah satu penginapan terbaik di Ho Chi Minh City yang layak dicoba adalah Reverie Saigon (22-36 Nguyeh Hue Blvd., District 1; 84-8/3823-6688; thereveriesaigon.com; doubles mulai dari Rp3.347.000), hotel semampai yang berjarak hanya lima menit berkendara dari titik temu penumpang Pandaw Cruise.

Opsi lainnya adalah InterContinental Asiana Saigon (Corner Hai Ba Trung St.& Le Duan Bl, District 1; 84-8/3520-9999; ihg.com; doubles mulai dari Rp2.280.000) yang berjarak lima menit dari situs sejarah Kantor Pos Besar.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi November/Desember 2016 (“Nostalgia Flotila”)