Kapal milik KTD yang membawa turis membelah Borneo.

Oleh Reza Idris
Foto oleh Yoppy Pieter

Tanpa Peristiwa 1965, mungkin hari ini saya sedang menyusuri sungai yang membelah Ibu Kota Indonesia. Kita ingat, Palangka Raya sempat dicanangkan sebagai pengganti Jakarta. Bung Karno bahkan sempat mengundang sejumlah insinyur Uni Soviet untuk membantu proyek jalan di sini. Memang, agenda itu akhirnya mangkrak. Dinobatkannya Jakarta sebagai tuan rumah Asian Games 1962 memaksa pemerintah mengalihkan anggarannya ke Senayan. Setelah itu, istana diguncang kudeta, hingga mimpi Palangka Raya untuk menjadi pusat politik pun kandas. Tapi, jika dipikir-pikir, kegagalan itu sebenarnya membawa berkah: hari ini saya menyusuri sungai yang dibingkai hutan, bukan gedung-gedung beton.

Di atas kapal Rahai’i Pangun, saya melakoni ekspedisi berdurasi empat hari di Kalimantan Tengah. Dimulai dari Kota Palangka Raya, kapal kayu ini membawa saya meniti sungai-sungai cokelat, menyapa satwa lokal, mengunjungi desa-desa adat. Warga lazim menjuluki wisata semacam ini “susur sungai.”

“Ini kapal terbaru kami. Anda beruntung bisa menikmatinya,” ujar Gaye Thavisin, pemilik Rahai’i Pangun. Beruntung sepertinya kata yang tepat. Tak banyak tur di Kalimantan yang menawarkan bahtera semewah ini.

Rahai’i Pangun terdiri dari dua tingkat. Dek atasnya menampung zona bersantai, meja makan, serta area kemudi. Sementara dek bawahnya dihuni lima kabin berisi bunk bed dan king size bed. Menyusuri sungai yang dilalui kapal barang dan kelotok, Rahai’i Pangun terlihat seperti cenderawasih cantik di antara kumpulan ayam kampung.

Di Pelabuhan Tangkiling, kapal melepaskan simpul tali dan memulai perjalanannya. Saya duduk di geladak, menatap kapal-kapal kargo yang sibuk membongkar muatan, juga perahu-perahu kecil yang difungsikan sebagai toko kelontong terapung.

Kiri-kanan: Tur juga dilengkapi dengan pemandu; makanan yang ditawarkan sesuai dengan standar penginapan bintang lima.

Di kawasan pelabuhan, kedua sisi sungai dipagari rumah-rumah terapung (lanting).Kata pemandu saya, Indra Setiawan, rumah-rumah itu kadang tenggelam saat hujan mengguyur sejak Desember hingga Mei. Tapi, seperti di Jakarta, banjir tak pernah menyurutkan semangat orang untuk menyerbu kota. “Habis musim hujan, mereka pasti kembali. Tidak pernah kapok,” ujar Indra.

Meski kadang tak kenal ampun, Sungai Kahayan adalah arteri kehidupan yang penting di Kalimantan Tengah. Sungai ini meliuk-liuk seperti naga yang membelah daratan. Panjangnya 600 kilometer, melintasi tiga kabupaten di Bumi Tambun Bungai, sebelum kemudian bermuara di Laut Jawa. Dari rahimnya pula puluhan anak sungai mengalir. Masing-masingnya mengemban misi mulia untuk memasok kebutuhan air warga, menghidupi ekosistem hutan, menghubungkan desa-desa yang tak tersentuh aspal. Sungai adalah satu-satunya medium untuk menyelami kehidupan di Kalimantan.

Saat kapal kian menjauh dari kota, Indra bercerita tentang proses pembuatan Rahai’i Pangun. “Kapal ini tidak memakai paku,” jelasnya. Seperti rumah-rumah adat, Rahai’i Pangun disusun dari balok-balok kayu, yang kemudian dirangkai secara presisi memakai kearifan tradisi.

Rahai’i Pangun kini melewati kolong Jembatan Kahayan, jembatan termahal dan terpanjang di Palangka Raya. Panjangnya setara enam lapangan sepak bola. Sebuah busur setinggi 36 meter melintang di atasnya. Jembatan yang dibentangkan pada 1995 ini menghubungkan Palangka Raya dengan Kabupaten Kapuas. Selepas jembatan, pemandangan mulai didominasi belantara.

Agenda hari ini adalah menonton satwa ikonis lokal seperti bekantan, monyet, orangutan, dan burung enggang. Saya tak sabar menikmati safari alam liar, tapi Indra kemudian mengingatkan bahwa melacak satwa sangat menuntut  kesabaran, keberuntungan, juga keheningan. Kapal pun mematikan mesin dan para penumpang berpindah ke sekoci.

Melihat orangutan di habitatnya adalah salah satu agenda tur susur sungai ini.

Perahu saya merayap perlahan, menembus rimba rimbun yang lembap menuju Danau Kalaweit. Pohon-pohon berkelindan membentuk tembok hijau. Kicau burung bersahutan mengisi senyap. Indra berulang kali mengingatkan tamu untuk membisu. “Fauna di sini sangat sensitif dengan suara manusia,” katanya. Di sudut hutan, mendadak saya mendengar suara gemerisik. Daun dan ranting saling bergesekan. Kawanan monyet tengah melompat dari dahan ke dahan.

Sudah 90 menit berlalu, tapi hanya monyet yang terlihat. Tur melacak satwa liar memang kadang berakhir dengan kekecewaan. Bekantan tak tampak, begitu pula orangutan dan burung enggang. Mata-hari kian redup dan kami harus bergegas kembali ke kapal sebelum gelap menyergap.

Kapal pesiar premium semacam Rahai’i Pa-ngun adalah gagasan yang sudah lama dinanti di Kalimantan. Empat dari 10 sungai terpanjang di Indonesia mengalir di sini. Hutan seluas 26 juta hektare membalut tempat ini dan menjadi habitat bagi makhluk karismatik semacam orangutan, bekantan, juga anggrek hutan yang digemari kolektor.

Kebudayaan sungai berdenyut kencang di Kalimantan. Sungai adalah medium untuk berpindah tempat dan berdagang. Sungai memasok air dan ikan, serta membasahi ladang dan kebun. Kebudayaan Dayak juga turut dibentuk oleh sungai dan hutan. Motif ukiran, tato tubuh, serta tradisi dapur mereka diilhami oleh alam di sekitarnya. Tak ada tempat terbaik di Indonesia untuk menggelar wisata susur sungai selain Kalimantan.

Rahai’i Pangun berniat menjadi kendaraan bagi turis internasional untuk menyaksikan keindahan lanskap dan budaya tersebut. Kehadirannya direspons positif oleh publik. Di musim liburan, Indra bisa empat hingga lima kali memandu turis. Rahai’i Pangun sepertinya juga hadir di momen yang tepat. Bisnis river cruise sedang merekah di Asia, terutama di kawasan Indocina seperti Myanmar dan Kamboja.

Tapi seperti juga di Indocina, river cruise tak selamanya menyuguhkan foto-foto cantik atau senyum ramah warga. Jika di Myanmar kita menyaksikan represi junta militer, di Kalimantan kita melihat kebengisan manusia terhadap alam. Deforestasi di Indonesia adalah yang terburuk di dunia, melampaui Brazil, dan Kalimantan adalah kawasan yang menderita kerusakan terparah. Merujuk citra satelit pada periode 2004-2008, Kalimantan kehilangan sekitar tiga juta hektare hutan. Pohon-pohon ditebang. Lahannya dijadikan kebun sawit. “Masalah ini hingga sekarang belum teratasi,” ujar Indra.

Pembalakan mengikis banyak habitat satwa. Kini, tempat termudah untuk bertemu orangutan bukanlah hutan, melainkan penangkaran. Indra mengajak penumpang menyambangi Pulau Bapalas, sebuah suaka yang dikelola oleh Borneo Orangutan Survival Foundation. Lagi-lagi, kami harus menumpang kelotok, sebab suara mesin kapal yang bising rawan mengusik kehidupan orangutan.

Selang 15 menit, saya melihat seekor orangutan tengah duduk di bongkahan kayu di dekat sungai. “Mereka sedang dikarantina, lalu diajarkan cara hidup di hutan,” kata Indra.

Kiri-kanan: Perjalanan menikmati Kalimantan dari sudut yang berbeda; Selain menyusuri sungai, tamu juga akan diajak mampir ke beberapa obyek wisata.

Perahu dilarang bersandar. Tamu hanya boleh melakoni “orangutan-watching” dari kejauhan. Bapalas adalah panti terapi bagi orangutan yang menjadi korban kekerasan manusia atau ditelantarkan induknya. Di pulau seluas 15 hektare ini, mereka direhabilitasi, dibina, ditempa keterampilannya agar kelak siap dilepas ke hutan. Proses karantina berlangsung selama dua bulan hingga setahun.

Jagawana berpatroli menggunakan kelotok, lalu-lalang sembari mengawasi turis agar tetap menjaga jarak. Total ada 35 pasien yang dirawat Bapalas. Dari lima ekor yang terlihat hari ini, salah satunya menderita cacat tubuh: tangan kirinya ditebas oleh manusia di tengah proses pembebasan lahan untuk kelapa sawit beberapa waktu silam. Di balik kemewahannya, Rahai’i Pangun merupakan medium yang membuka mata kita pada krisis yang mendera paru-paru bumi beserta para penghuninya.

“Anak kami doyan membeli barang-barang ma-hal. Mungkin harganya bisa lebih mahal dari tiket kami ke sini,” Rosie, wanita Australia, membuka obrolan saat kapal kembali menelusuri sungai. Selain dia dan suaminya, ada pasangan asal Inggris.

Berbeda dari kapal pesiar di laut, river cruise mengundang orang untuk lebih banyak menghabiskan waktu menjelajah alam. Namun, di waktu malam, aktivitas satu-satunya adalah berbincang dengan sesama penumpang. Dalam balutan gulita, kami menyantap seafood dan berdiskusi seputar kuliner, sejarah, profesi masing-masing, juga kisah-kisah sepele seperti anak yang gemar belanja.

Rintik hujan menghunjam sungai. Jangkrik bersahutan membentuk orkestra hutan. Pukul sembilan malam, saya merebahkan tubuh di matras, ritual yang jarang dipraktikkan di kota yang enggan terlelap seperti Jakarta. Di kapal ini tidak ada tayangan HBO maupun koneksi internet. Sinyal telepon pun kerap raib. Rahai’i Pangun ditambatkan di antara semak, dan layaknya anak kecil yang punya jam tidur cepat, saya memejamkan mata saat malam baru dimulai.

Kiri-kanan: Tur ini menawarkan perjalanan ke pelosok Kalimantan lewat sungai; suasana menjelang malam di kapal.

Indra membuka hari dengan tawaran yang sulit ditampik: berenang di laguna. Setelah seharian menyusuri air, kini tiba saatnya saya menceburkan diri. Rampung sarapan, kapal meluncur ke wilayah Desa Sei Gohong, kemudian melempar jangkar di tengah belukar.

“Ke tempat yang kita tuju, kapal sebesar ini tidak mungkin bisa lewat,” kata Indra. Dua menit kemudian, suara mesin terdengar santer. Lima kelotok menghampiri kapal dan bersiap mengangkut penumpang. Indra memompa semangat kami dengan menjanjikan sebuah destinasi tersembunyi yang belum banyak diketahui orang.

Menaiki kelotok yang terus meraung, kami membelah Sungai Rungan, melewati warga yang ramah menebar senyum dan melambaikan tangan. Setelah 20 menit, kelotok mengalihkan moncongnya ke segaris celah sempit di balik pepohonan. Kelotok saya kini seperti ojek yang menembus gang-gang tikus yang penuh liku.  Kemampuan manuvernya diuji. Beberapa kali perahu menghantam batang pohon yang menyembul di tepian.

Kami tiba di daerah Nyaru Menteng. Walau jaraknya cukup dekat dari desa, tempat ini seperti hutan primitif yang tak terjamah peradaban. Atmosfernya kian mistis setelah saya mendengar alunan suling merambat di antara pepohonan. Nyaru Menteng memang tak sepenuhnya steril dari manusia. Ada dua lanting tertancap di sini. “Warga suka menangkap ikan di sini. Kadang sepi, jadi lebih mudah dan tangkapan banyak,” ujar Indra.

Perahu bergerak zigzag di sungai yang dikepung pepohonan. Kanopi begitu rimbun hingga memblokade sinar mentari. Kadang kami harus merunduk guna menghindari ranting yang menjuntai dan menjulur. Tur ini sejenak mengingatkan saya pada film Anacondas: The Hunt for the Blood Orchid yang mengisahkan perburuan anggrek langka di Kalimantan. Seolah-olah suasananya kurang mendebarkan, juru mudi mematikan mesin dan mulai mendayung.

Sungai bercabang-cabang hingga membentuk labirin. Penumpang kini sepenuhnya mengandalkan ingatan si juru mudi untuk menemukan jalan pulang. Saya mengalihkan pikiran pada kicauan burung dan gemerisik daun. Kata Indra, jika beruntung, kita bisa menyaksikan bekantan, primata yang lazim dijuluki monyet Belanda berkat hidungnya yang mancung—walau berbeda dari orang Belanda, bekantan mengandalkan ukuran hidung dalam memikat lawan jenis.

Penumpang membungkam suara, tapi satwa elusif itu tetap tak menampakkan batang hidungnya. Untungnya, tur ini tidak sepenuhnya berakhir de-ngan gerutu. Indra memenuhi janjinya. Kami tiba di sebuah kolam renang alami bernama Danau Tahai’i. Airnya berwarna kemerahan, sekilas mirip cairan teh. Warna ini disebabkan oleh tanaman gambut yang menyaring partikel-partikel kotoran. Bersama para penumpang, saya menceburkan diri dan merasakan kesegaran airnya.

Kabut yang senantiasa meliputi jalur tur di pagi hari.

Di Kalimantan, Rahai’i Pangun bukan satu-satunya yang menawarkan paket susur sungai, tapi operatornya adalah yang pertama yang tergabung dalam Secret Retreats—asosiasi global yang menangani pemasaran properti-properti mewah semacam The Governor’s House di Phnom Penh, Misool Eco Resort di Raja Ampat, serta pinisi Alila Purnama.

Rahai’i Pangun dioperasikan oleh Kalimantan Tour Destinations (KTD), perusahaan yang didirikan oleh Gaye Thavisin bersama sahabatnya, Lorna Collins. “Ide awalnya sederhana, kami ingin mengekspos kultur Kalimantan Tengah dan memperkenalkan wisata yang ramah lingkungan,” ujar Gaye, wanita Australia yang fasih berucap dalam bahasa Indonesia.

Kisahnya dimulai saat Lorna bekerja untuk sebuah LSM di Kalimantan pada akhir 1990-an. Dia kerap berkelana ke pedalaman guna mengedukasi warga perihal pembalakan liar dan tambang emas ilegal. Dari kunjungan-kunjungan itulah muncul ide membuka sebuah hotel terapung. Lorna lalu meng-hubungi Gaye yang berkecimpung di bisnis hotel dan restoran di dekat Palangka Raya. Kombinasi yang cocok. Pengalaman dan keahlian keduanya bertemu di bawah mimpi yang sama.

KTD dirintis dengan cara gerilya. Duet Gaye dan Lorna menjalin relasi dengan warga setempat, mendalami kebudayaan Dayak, serta bermitra dengan pemerintah daerah. Pada 2006, keduanya mengikuti ajang business challenge di Belanda. Bersaing dengan 1.600 kontestan, proposal keduanya tentang wisata ramah lingkungan di Kalimantan Tengah sukses menjadi kampiun. “Selain hadiah, kami mendapat saweran dari teman-teman kami untuk membantu perusahaan ini,” kenang Gaye.

Kapal pertama KTD menyentuh sungai pada 2008.Gaye dan Lorna membawa wisatawan menikmati alam Kalimantan dan mempelajari kebudayaan Dayak Ngaju yang hidup di bantaran sungai. Kini KTD mengoleksi tiga kapal, dan Rahai’i Pangun yang terbesar—panjang 22 meter, lebar enam meter. Warga kadang menyebutnya “bus air.”

Rahai’i Pangun kembali membelah sungai dengan kecepatan rata-rata enam kilometer per jam. Dalam wisata susur sungai, kapal senantiasa merayap lamban, seolah berusaha menikmati tiap detik yang berlalu. Sungai penuh meander membentang sejauh mata memandang. Meski airnya keruh, sampah relatif minim.

Di kejauhan, bukit batu bertumpuk-tumpuk menusuk langit. Kami sekarang memasuki Taman Wisata Alam Bukit Tangkiling, sekitar 34 kilometer dari Palangka Raya. Saya dan para penumpang melintasi jalan aspal dan jalan setapak, kemudian mendaki bukit setinggi hampir 200 meter.

Bukit Tangkiling menyimpan legenda rakyat tentang seorang remaja bernama Tangkiling. Mirip Malin Kundang, Tangkiling durhaka dan dikutuk. Sungai tempatnya berlayar berubah menjadi bukit, sementara perahu,  barang bawaan, juga Tangkiling si anak pembangkang, bersalin menjadi batu.

Di bawah awan kelabu, saya duduk di bangku panjang seraya menyerap panorama alam hijau. Di kejauhan, saat cuaca cerah, kita bisa menangkap lengkungan merah Jembatan Kahayan. Pukul 18, excursion tour ini ditutup dan penumpang kembali ke kapal dengan disambut segelas jus nanas.

Rahai’i Pangun memutar kemudinya ke arah Palangka Raya. Ekspedisi memasuki hari terakhir, tapi petualangan belum usai. Di etape berikutnya, kami akan bertamu ke permukiman Suku Dayak.

“Selamat hanjewu! Narai kabar?” Pak Anden, ketua Desa Kanarakan, menyambut kami dengan suara lantang. Penumpang melompat dari kapal, lalu berbaris untuk menerima ritual penyambutan tamu khas Dayak. Awalnya, warga melantunkan nyanyian tradisional, kemudian mereka membalur jidat dan pipi kami dengan tepung putih yang dipercaya berkhasiat menangkal bala.

Berusia hampir 150 tahun, Kanarakan adalah salah satu desa tertua di tepian Sungai Rungan. Kendati ritual-ritualnya masih terjaga, desa ini telah mengalami banyak perubahan. Jalan-jalan desa dilapisi bata. Beberapa rumah berdinding semen.

Kapal kelotok penduduk yang sering ditemui di perjalanan.

Tapi modernisasi bukanlah masalah terbesarnya. Seperti banyak desa di Kalimantan, Kanarakan sedang menghadapi dampak buruk tambang emas dan pembalakan liar. “Kami mencari makan dari sungai, tapi ikan-ikan sudah mulai tercemar,” jelas Pak Anden. “Menyadarkan penduduk desa agar mulai memikirkan lingkungan sangatlah sulit.”

Kecemasan Pak Anden beralasan. Dalam perjalanan ke sini, saya melihat bagaimana tambang emas menggerogoti ekologi hutan. Di bantaran sungai, mesin-mesin diesel menyedot pasir dan tanah, berharap bisa menemukan serpihan logam mulia.

Tambang emas menghadirkan dilema. Bisnis ini menjanjikan lebih banyak uang ketimbang memancing ikan. Namun, merujuk sejumlah penelitian, tambang emas merupakan kontributor nomor dua dalam kerusakan alam. Untuk tiap satu gram emas, penambang setidaknya menggunakan satu hingga dua gram merkuri, dan limbah dari proses ini mencemari sungai. Kini, sekitar 20 ribu nyawa menggeluti bisnis suram ini.

Di desanya, Pak Anden kini berusaha menawarkan alternatif sumber penghasilan untuk melawan demam tambang. Dia merintis program homestay, juga membuka kebun di belakang rumahnya yang ditanami tanaman pangan dan komoditas seperti cempedak, salak, kopi, dan karet. “Jika kita tidak mengubah gaya hidup. Suatu hari kita akan pindah ke kota. Jika itu terjadi, saya khawatir akan budaya kami,” papar kakek berusia 73 tahun ini.

Arus turis juga memungkinkan desanya merawat tradisi. Penumpang diajak menonton pentas tari suguhan Sanggar Talenta Asi. Anak-anak berusia 8-12 tahun mementaskan Tari Mandau yang menggambarkan semangat kesatria Dayak.“Kadang kami juga pentas di luar, seperti di Jakarta, jika ada festival budaya, “ kata Ibu Neneng, sosok yang mendorong remaja lokal menggeluti tarian tradisional.

Saya meneruskan perjalanan pulang ke Palangka Raya sembari berharap bisa mengintip orangutan. Hanya di Kalimantan kita bisa melakoni river cruise sembari menyaksikan orangutan di habitat aslinya. Rahai’i Pangun memang membuka babak baru wisata sungai di Kalimantan, namun eksistensinya sangat tergantung pada sejauh mana Kalimantan mampu merawat alam dan budayanya.

PANDUAN
Rute
Wisata susur sungai bersama Kalimantan Tour Destinations (KTD, Jl. Barito No.11; 0536/3222-099; 0811-520-648; wowborneo.com) dimulai dan ditutup di Pelabuhan Tangkiling, Palangka Raya. Penerbangan ke Bandara Tjilik Riwut di Palangka Raya dilayani antara lain oleh Sriwijaya Air (sriwijayaair.co.id) dan Garuda Indonesia (garuda-indonesia.com).

Penginapan
Kapal milik KTD bertolak pukul sembilan dari pelabuhan, jadi Anda akan disarankan tiba di Palangka Raya sehari sebelum keberangkatan. Salah satu penginapan terbaik di kota ini adalah Swiss-Belhotel Danum Palangkaraya (Jl. Tjilik Riwut Km.5 No.9; 0536/3232-777; swiss-belhotel.com; doubles mulai dari Rp755.000) yang berjarak hanya 30 menit dari bandara dan menawarkan akses mudah ke obyek-obyek wisata semacam Museum Balanga yang memajang beragam artefak Dayak.

Pesiar
KTD mengoleksi tiga kapal yang termaktub sebagai anggota Secret Retreats (secret-retreats.com) sejak Juni 2014. Kapal yang terbesar, Rahai’i Pangun, menampung lima kabin dengan kapasitas maksimal 12 penumpang. Untuk tur yang lebih privat, gunakan Kapal Ruhui Rahayu atau Spirit of Kalimantan. Tarif per orang dipatok Rp9.146.000, mencakup makan tiga kali per hari dan antar-jemput hotel. Ekspedisi yang ditawarkan KTD berdurasi mulai dari satu hingga empat malam. Untuk paket berdurasi terlama, tamu akan diajak mengunjungi Pulau Bapalas dan Hampapak guna melihat orangutan; mendaki Bukit Tangkiling yang menyimpan legenda rakyat; serta menelusuri sungai-sungai kecil dan berenang di laguna alami. Di akhir tur, tamu akan singgah di desa-desa adat Dayak guna menyaksikan kehidupan warga dan pentas tari lokal. Maret adalah bulan ideal untuk menikmati river cruise di Kalimantan.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi September/Oktober 2015 (“Belah Bumi Borneo”).