Tur eksplorasi menggunakan unta tersedia di Erg Chebbi selain tur dengan kendaraan 4WD.

Warna pasir bergradasi. Di dekat desa, warnanya abu-abu. Mendekati bukit, warnanya kuning muda, lalu menjadi jingga. Dan lanskap ini tak cuma bisa dipotret dan didaki, tapi juga dijadikan penawar sakit. Banyak orang memanfaatkan pasir panas Sahara untuk mengobati rematik. Caranya? Menguburkan diri selama beberapa menit di lautan pasir hingga sebatas dada. Dulu, para pasien membenamkan diri hingga leher, tapi belakangan dokter menyarankan agar kedalaman dikurangi karena berbahaya bagi pengidap lemah jantung.

Warga Suku Berber yang mendiami desa-desa di kawasan Erg Chebbi hidup dari sektor turisme. Pelancong datang untuk menjelajahi padang pasir yang membawa imajinasi mereka ke film Lawrence of Arabia. Banjir turis membuat banyak orang lokal mahir berbahasa Inggris (berbeda dari penduduk Figuig yang hampir semuanya cuma bisa berbahasa Prancis sebagai bahasa kedua).

Selain wisata dengan quad bike dan kendaraan 4WD, tur yang paling populer adalah mengendarai unta untuk melihat matahari terbenam. Tur ini juga melahirkan bisnis-bisnis turunan, salah satunya perdagangan unta. Unta sepuh yang tak lagi sanggup memboyong turis gemuk Eropa akan ditukar tambah dengan unta-unta muda yang didatangkan para saudagar dari barat daya Sahara. Bagaimana nasib unta-unta tua? Konon, mereka akan disembelih, lalu disantap.

Pemandangan matahari terbenam di Erg Chebbi.

Tur favorit wisatawan lainnya adalah menginap semalam dalam tenda-tenda kaum Berber. Walau tur ini menawarkan pengalaman khas Berber, jangan harap Anda bisa mendapatkan pencerahan tentang hidup mereka. Kaum ini telah mendiami Sahara jauh sebelum Islam mendarat di utara Afrika. Mereka terbagi menjadi tiga golongan: kaum petani yang terkonsentrasi di Pegunungan Atlas; penggembala yang rutin berpindah mengikuti siklus musim; serta Tuareg (“kaum yang ditelantarkan Tuhan”) yang melakoni pola hidup nomaden. Untuk mengenal mereka, menginap satu malam di tenda bukanlah metode yang ideal.

Langit berubah dari biru menjadi jambon, jingga, lalu gelap dalam waktu relatif singkat. Kemudian hadirlah panorama paling indah di Erg Chebbi: langit malam Sahara yang ditaburi jutaan bintang! Bahkan tanpa bulan sekalipun, bintang-bintang ini mampu membuat gurun terang-benderang, sehingga saya bisa berjalan-jalan tanpa senter.

Cahaya bintang juga memberi warna pada gurun: tidak hitam pekat, melainkan kebiru-biruan. Di Sahara, berjalan-jalan di malam buta adalah pengalaman yang jauh dari kesan horor. Apalagi masih ada saja turis yang bermain quad bike di tengah malam. Mereka meliuk-liuk di lereng bukit dan membelah gurun yang seolah tak berbatas.

Tersesat adalah tragedi yang mustahil terjadi di Erg Chebbi. Di kejauhan, saya melihat kelap-kelip lampu Desa Hassi Labied. Lantunan genderang Berber juga sayup-sayup terdengar. Zaman memang telah mengubah pola hidup sebagian warga tribal Maroko,  tapi lanskap Sahara masih seperti apa adanya sejak pertama kali diciptakan.

DETAIL
Figuig & Erg Chebbi

Rute
Penerbangan dari Jakarta ke Casablanca, kota terbesar di Maroko, dilayani antara lain oleh Etihad (etihad.com), Qatar Airways (qatarairways.com), dan Emirates (emirates.com). Untuk menjangkau Figuig, teruskan perjalanan ke arah timur dengan menaiki kereta jurusan Oujda, disambung bus atau taksi. Dari Figuig ke Erg Chebbi, Anda bisa menaiki bus jurusan Errachidia, disusul bus atau taksi ke Merzouga.

Penginapan
Figuig bukan daerah touristy, karena itulah opsi hotel relatif terbatas. Salah satu akomodasi yang menarik dicoba adalah Auberge Oasis (Rue Jamaa, Ksar Zenaga; 212-36/899-220; auberge-oasis.com; doubles mulai dari $20), hotel sederhana yang menempati bangunan sepuh bertubuh lumpur. Atapnya dipayungi tenda kusam khas kaum Berber, sedangkan restorannya menyajikan menu-menu tradisional Maroko. Di Erg Chebbi, opsi hotel jauh lebih banyak. Dua yang layak disambangi adalah Kasbah Erg Chebbi (Merzouga; 212-61/0376-682; kasbahergchebbi.com; doubles mulai dari $35) yang menawarkan 30 kamar dan kolam renang; serta Auberge du Sud (Merzouga; 212-66/1602-885; aubergedusud.com; mulai dari $46 per orang, termasuk sarapan dan makan malam) yang menyuguhkan dua tipe kamar dan tenda-tenda di tengah padang pasir.

Diterbitkan pertama kali di majalah DestinAsian Indonesia edisi September/Oktober 2013 (“Oasis Maghribi”)