Kerapu hasil tangkapan dengan latar Gunung Api.

Oleh Fatris MF
Foto oleh Yoppy Pieter

Murid-murid saya menulis tentang tanah kelahiran mereka dengan khusyuk, seperti sekelompok biksu yang tengah bertapa. Pelajaran mengarang, begitu kami menyebutnya. Angin yang bertiup dari barat membawa aroma pala ke ruang kelas. Murid-murid menulis tentang hidup di Banda Neira, sebuah negeri yang susah dijelaskan keberadaannya di atas peta. Kecamatan berisi tujuh desa ini hanyalah secuil noktah yang samar.

Beberapa peta bahkan tak menuliskan namanya. Padahal dari noktah kecil inilah sejumlah pelayaran akbar bermula. “Ayahku seorang nelayan; kami dulu punya perahu. Tapi sekarang Ayah di Jakarta mencari uang. Saya beruntung tinggal di Banda,” Mega Laja Hardin memulai paragraf pertamanya. Siswa lainnya berjibaku, kadang mendongakkan kepala dengan mulut setengah menganga. Pelajaran mengarang ini semacam permainan tentang ingatan.

Di ruang kelas SMP ini, ketika siswa sibuk mengarang, saya sibuk dibawa pikiran sendiri. Saya membayangkan Sjahrir ketika pertama datang ke pulau ini sebagai orang buangan. Pulau ini sepi dan Sjahrir sosok yang takut akan kesepian. Maka, sesampai di Banda, dia mengumpulkan anak-anak, mengajak mereka bermain di pantai berpasir putih, kadang mengajarkan mereka tentang nasionalisme—tentang Nusantara.

Sjahrir bertanya pada anak-anak: bermain atau belajar? Bagi mereka, belajar seperti bermain. Jamaludin La Ali belum juga membuka paragraf. Dia bingung harus menulis apa. Matanya menerawang, kemudian terpaku menatap peta selebar satu meter yang terpajang di dinding kelas. Peta Indonesia hasil kerajinan siswa itu memuat Banda dengan porsi yang lebih besar. Namanya jelas. Sosoknya lengkap, mencakup semua gugusan pulau di Kepulauan Banda: Banda Besar, Neira, Hatta, Sjahrir, Gunung Api, Ai, Run, Nailaka, Manukang, Karaka.

Kiri-Kanan: Jam meja antik warisan penjajah; Kole-kole, perahu kecil mesin tempel yang menjadi transportasi utama antarpulau.

Peta dengan garis, warna, dan komposisi yang berantakan itu seakan hendak menegaskan: Banda mesti ditulis jelas dan pulau-pulaunya tidak boleh luput. Di samping peta, potret presiden dan wakilnya yang tersenyum tergantung di dinding. Di antara keduanya, ada Garuda dengan kepala yang menoleh ke jendela dan sayap terentang seolah hendak melesat menerobos kaca.

“Aku ingin pergi ke luar negeri jadi turis, terbang dengan pesawat,” tulis Rani dalam karangannya. Di luar sekolah, sebuah lapangan udara terhampar, kosong tak didarati pesawat. “Saya tidak ingin seperti ibu yang hanya di rumah saja!” kata Karmila yang duduk di pojok kelas.

Kami saling berbagi cerita hingga hari tinggi. Udara panas berpasir dari pantai merambat ke kelas. Lonceng berbunyi dari depan kantor sekolah. Semua siswa akan pulang, lalu tidur siang di rumah masing-masing. Tidur siang memang kebiasaan hampir seluruh masyarakat di sini, baik anak sekolah, remaja, maupun orang tua. Ini kebiasaan kolonial yang terpelihara hingga sekarang. Tidak hanya tidur siang, bahasa orang Banda pun banyak dipengaruhi idiom Belanda. Pelabuhan disebut haven, straat untuk jalan, leppe untuk sendok, dan masih banyak lagi.

Kiri-Kanan: Buah pala, alasan negeri-negeri penjajah di masa lalu memperebutkan Banda; Benteng Belgica warisan abad ke-17.

Saya berangkat ke Banda pada awal Februari. Ombak dan angin saling bersabung di Laut Banda, laut dengan riwayat yang menakutkan. Di laut ini, dulu, banyak pelaut asing lenyap bersama kapal-kapal mereka akibat ditelan gelombang ganas. Saya datang ke Banda ketika angin berkesiur kencang dari barat. Ombak mengempas, menggedor-gedor lambung kapal. Nelayan di sini menyebutnya “Musim Barat.” Musim yang kerap menjadikan harga kebutuhan pokok melambung hingga lima kali lipat harga di Jakarta. Musim yang membuat kapal-kapal tidak memasukkan Banda sebagai rute persinggahan, sampai-sampai barang kebutuhan pokok dari Jawa dan Seram menjadi langka.

KM Tidar, kapal milik negara kepulauan terbesar sejagat ini, terseok-seok di atas gelombang semalam suntuk. Dini hari, kapal lelah ini melepas jangkar di Pelabuhan Banda Neira. Trompet kapal yang memecah sunyi lautan membangunkan saya dari tidur. Dalam setengah mengantuk, dari atas dek, saya melihat sebuah pelabuhan dari abad ke-17 yang disirami cahaya temaram.

Lima abad silam, kapal Portugis pernah melempar jangkarnya di sini. Beratus tahun sebelumnya, pedagang Arab telah menjalin hubungan dagang dengan masyarakat Banda. Di bawah sana orang-orang mengangkut barang kebutuhan pokok. Saya membayangkan diri saya sebagai eksil yang memandang dari atas geladak kapal. Dulu Hatta dan Sjahrir dilemparkan ke sini oleh pemerintah kolonial. Apa saja yang mereka lakukan di sini? Betahkah mereka di pulau kecil ini?

KM Tidar, kapal milik PELNI yang menghubungkan Jawa dan Maluku

Saya menuruni tangga licin bersama orang-orang yang datang dari Ambon. Mereka transit selama dua jam saja di Banda, lalu meluncur ke Tual. Banda Neira memang kerap menjadi persinggahan semata. Tanah di barat Ambon ini tidak menghasilkan apa-apa untuk dimakan. Hanya pala dan cengkih yang tumbuh subur, juga kenari dan kayu manis dalam jumlah kecil yang berebut tempat dengan kelapa. Selebihnya tidak ada. Apa yang bisa diharapkan dari tanah yang hanya menghasilkan rempah yang tidak bisa mengusir lapar ini? Tapi, dari rempah inilah mula-mula Banda dikenal. “Banda yang kucintai,” catat Adena Lausu, seorang murid saya, dalam pelajaran mengarang.

Pagi datang bagai tirai hitam yang dicabikkan dari langit. Lautan terang, orang-orang telah bangun lebih pagi. Dermaga-dermaga kecil dipenuhi perahu dengan formasi silang-menyilang. Anak-anak berangkat ke sekolah. Pedagang dan pegawai kantor pemerintahan pergi bekerja. Setelah itu, hanya dalam hitungan jam, pelabuhan Banda kembali senyap seperti sedia kala.

Saya berjalan melewati rumah-rumah dengan pintu terbuka. Dulu, Sjahrir terkejut ketika pertama datang ke sini. Tempat ini berbeda dari Belanda, tulis Sjahrir, di mana rumah memiliki pagar yang tinggi, yang mencerminkan mentalitas bangsa yang penuh curiga. Banda hanya “sebuah kampung” tempat orang-orang bercakap mengisi hari dengan ramah, tempat rumah-rumah membiarkan pintunya menganga. “Tinggal saja di rumah kami,” kata seorang perempuan setengah baya dengan senyum merekah.

Kiri-Kanan: Petani tua yang kehilangan keluarganya di zaman penjajahan Jepang; Burung nuri hijau yang hidup di kawasan Maluku.

Saya menginap di rumah Wa Ramla Lasilaha. Suaminya, Yahya, seorang mantri terkenal di Banda Neira. Mereka menyuguhi saya kopi begitu menjejakkan kaki di rumah mereka. Mereka juga memasak ikan segar untuk saya. Masakan orang Banda terasa enak di “lidah Padang” saya. “Ini pusat rempah, bung, mereka paham dengan rasa dan selera,” saya membayangkan Sjahrir mencemooh keraguan saya akan kelezatan masakan orang Banda.

Saya merasa lebih beruntung dari Sjahrir dan Hatta. Saya datang sebagai pelancong, sementara kedua tokoh itu berstatus orang buangan. Tapi, baik pelancong atau kaum terbuang, orang-orang Banda sepertinya bakal menyambut siapa saja dengan ramah. “Esok kita akan bertamasya,” kata Ramla mengejutkan lamunan saya. Dan, pagi-pagi sekali dia telah memasak beragam ikan: kerapu merah hingga tuna dari kedalaman laut. “Ini untuk kita makan di sana,” katanya lagi. Ikan-ikan dengan rasa yang sedap ini seperti tidak berharga di sini. Mengetahui kami akan bertamasya, beberapa nelayan memberi Ramla hasil tangkapan mereka begitu saja. Ikan bagi masyarakat Banda mungkin seperti kopi di Aceh, apel di Malang, atau rokok bagi warga Minangkabau.

Kami naik perahu, lalu menyeberangi selat yang tenang layaknya selembar kain habis disetrika. Kami mendarat di Pantai Malole, membentangkan tikar di atas pasir putih, membuka rantang dan ransum yang disiapkan Ramla. Bersama, kami menyantap ikan-ikan segar berbumbu rempah yang harumnya menyeruak sampai jauh.

Kami memandang laut sambil bercakap-cakap, lalu pulang setelah bosan. Tamasya yang sederhana. Tidak hanya keluarga Ramla, ada beberapa keluarga lain yang piknik di sini. Warga Banda punya kebiasaan berlibur, walau tempat liburannya hanya berjarak 15 menit dari rumah. Lagi-lagi, ini kebiasaan warisan orang Eropa.

Kiri-Kanan: Mendung menaungi gugusan Banda; Gadis kecil menikmati perairan jernih di tepian Banda Neira.

Pagi buta berikutnya, Ramla telah mandi, lalu merias bibir dan wajahnya yang mulai keriput. Usia tampaknya lebih kuat dari kecantikannya. Suaminya, Yahya, juga telah mengenakan batik dan menyisir rambutnya yang tipis, kemudian mengenakan peci. Kali ini saya diundang menghadiri sebuah pesta pernikahan. Saya seperti anak yang baru dipungut keduanya di tengah laut. Ke mana pun mereka pergi, saya dibawa. “Kamu harus ikut, di sini setiap orang harus menghadiri pesta!” Kami menumpang kole-kole, perahu kecil. Tak sampai 20 menit, kole-kole bermesin tempel ini telah bersandar di Banda Besar, pulau hijau yang sarat aroma pala. Menoleh ke mana pun, terlihat hamparan pala. Hari masih pagi, tapi para tamu telah berdatangan.

Sepertinya seantero Banda mengetahui siapa saja yang punya hajat. Dan seperti kata Ramla, setiap orang wajib hadir. Di tempat resepsi, mempelai perempuan telah menanti dengan pakaian putih ala Anglo yang dipadu kerudung. Rumah tempat kenduri ini dihiasi warna-warni Eropa dan Cina. Sebuah organ tunggal juga telah disiapkan. Tak berapa lama, pengantin laki-laki datang dan para tamu menyambutnya dengan berdiri. Pengantin pria tampil mirip Raja Fahd dari Arab, dengan serban di kepala dan jubah putih yang membalut badan.

Ketika pesta belum usai, saya dibawa Pongky ke kebun pala yang ditanam sejak 1728. Pala, kata Pongky van den Broeke, adalah buah sengketa berabad-abad. Buah ini pula yang memikat orang-orang Barat, termasuk buyut Pongky. Pongky adalah sisa dari zaman keagungan rempah. Dia mengelola sendiri kebun pala miliknya. Luas tanahnya belasan hektare.

Selepas era kejayaannya, pala masih tumbuh dan menjadi komoditas andalan di Banda.

Dia juga membudidayakan bibit pala, lalu menjualnya ke berbagai daerah di luar kepulauan. “Dulu, karena keterbatasan tenaga penggarap lahan yang ribuan hektare luasnya di Kepulauan Banda, Belanda mencari kuli ke Pulau Jawa. Tetapi, kini, masa jaya pala itu hanya tinggal ini,” katanya sambil menunjuk kebun pala yang hanya tersisa belasan hektare. Saya pernah melihat suasana di sebuah bandar di Belanda melalui foto tua. Orang-orang antre menunggu rempah yang datang dari Hindia. Rempah dari Banda tentunya. Namun, pada 1940-an, ketika Jepang hendak mencaplok Asia, pala dibabat habis dari tanah Banda. Pieter van den Broecke, kakek Pongky, hampir trauma melihat api yang membakar seluruh kebun pala.

Pala tidak bisa menjawab lapar prajurit Dai Nippon, karena itu diganti ubi. “Ubi ditanam, tapi malah pala juga yang tumbuh,” ujar Pongky disusul tawa. Setelah pembakaran lahan yang masif, pala malah kian subur. Tapi riwayatnya tidak berhenti di situ. Setelah Indonesia merdeka dan Orde Baru berkuasa, pemerintah daerah ingin memonopoli perkebunan pala hingga memberlakukan P28—istilah yang digunakan untuk menangkap siapa saja yang menanam pala. Lagi-lagi pala menjadi simpul sengketa. Berbagai kenyataan itu menyebabkan kejayaannya di Banda perlahan redup.