KM Tidar, kapal milik negara kepulauan terbesar sejagat ini, terseok-seok di atas gelombang semalam suntuk. Dini hari, kapal lelah ini melepas jangkar di Pelabuhan Banda Neira. Trompet kapal yang memecah sunyi lautan membangunkan saya dari tidur. Dalam setengah mengantuk, dari atas dek, saya melihat sebuah pelabuhan dari abad ke-17 yang disirami cahaya temaram.

Kiri-kanan: Panorama Laut Banda dengan alam bawah lautnya yang memesona; kole-kole, perahu kecil bermesin tempel yang menjadi transportasi utama antarpulau.

Lima abad silam, kapal Portugis pernah melempar jangkarnya di sini. Beratus tahun sebelumnya, pedagang Arab telah menjalin hubungan dagang dengan masyarakat Banda. Di bawah sana orang-orang mengangkut barang kebutuhan pokok. Saya membayangkan diri saya sebagai eksil yang memandang dari atas geladak kapal. Dulu Hatta dan Sjahrir dilemparkan ke sini oleh pemerintah kolonial. Apa saja yang mereka lakukan di sini? Betahkah mereka di pulau kecil ini?

Saya menuruni tangga licin bersama orang-orang yang datang dari Ambon. Mereka transit selama dua jam saja di Banda, lalu meluncur ke Tual. Banda Neira memang kerap menjadi persinggahan semata. Tanah di barat Ambon ini tidak menghasilkan apa-apa untuk dimakan. Hanya pala dan cengkih yang tumbuh subur, juga kenari dan kayu manis dalam jumlah kecil yang berebut tempat dengan kelapa. Selebihnya tidak ada. Apa yang bisa diharapkan dari tanah yang hanya menghasilkan rempah yang tidak bisa mengusir lapar ini? Tapi, dari rempah inilah mula-mula Banda dikenal. “Banda yang kucintai,” catat Adena Lausu, seorang murid saya, dalam pelajaran mengarang.

Pagi datang bagai tirai hitam yang dicabikkan dari langit. Lautan terang, orang-orang telah bangun lebih pagi. Dermaga-dermaga kecil dipenuhi perahu dengan formasi silang-menyilang. Anak-anak berangkat ke sekolah. Pedagang dan pegawai kantor pemerintahan pergi bekerja. Setelah itu, hanya dalam hitungan jam, pelabuhan Banda kembali senyap seperti sedia kala.

KM Tidar, kapal milik Pelni yang menghubungkan Jawa dan Maluku, serta berperan penting dalam memasok barang ke Banda.

Saya berjalan melewati rumah-rumah dengan pintu terbuka. Dulu, Sjahrir terkejut ketika pertama datang ke sini. Tempat ini berbeda dari Belanda, tulis Sjahrir, di mana rumah memiliki pagar yang tinggi, yang mencerminkan mentalitas bangsa yang penuh curiga. Banda hanya “sebuah kampung” tempat orang-orang bercakap mengisi hari dengan ramah, tempat rumah-rumah membiarkan pintunya menganga. “Tinggal saja di rumah kami,” kata seorang perempuan setengah baya dengan senyum merekah.

Saya menginap di rumah Wa Ramla Lasilaha. Suaminya, Yahya, seorang mantri terkenal di Banda Neira. Mereka menyuguhi saya kopi begitu menjejakkan kaki di rumah mereka. Mereka juga memasak ikan segar untuk saya. Masakan orang Banda terasa enak di “lidah Padang” saya. “Ini pusat rempah, bung, mereka paham dengan rasa dan selera,” saya membayangkan Sjahrir mencemooh keraguan saya akan kelezatan masakan orang Banda.

Saya merasa lebih beruntung dari Sjahrir dan Hatta. Saya datang sebagai pelancong, sementara kedua tokoh itu berstatus orang buangan. Tapi, baik pelancong atau kaum terbuang, orang-orang Banda sepertinya bakal menyambut siapa saja dengan ramah. “Esok kita akan bertamasya,” kata Ramla mengejutkan lamunan saya. Dan, pagi-pagi sekali dia telah memasak beragam ikan: kerapu merah hingga tuna dari kedalaman laut. “Ini untuk kita makan di sana,” katanya lagi. Ikan-ikan dengan rasa yang sedap ini seperti tidak berharga di sini. Mengetahui kami akan bertamasya, beberapa nelayan memberi Ramla hasil tangkapan mereka begitu saja. Ikan bagi masyarakat Banda mungkin seperti kopi di Aceh, apel di Malang, atau rokok bagi warga Minangkabau.