Menjadi Penyelamat Predator Laut

Hiu membutuhkan pertolongan manusia. Pernyataan yang absurd memang, tapi dari hipotesis itulah SaveSharks Indonesia dilahirkan.

Merujuk data International Business Times pada 2011, perdagangan sirip hiu memutar $400-550 juta per tahunnya. Dibandingkan bisnis kakap itu, SaveSharks tak ubahnya pasukan kecil dengan amunisi yang pas-pasan. Dengan dana cekak, organisasi yang bermarkas di sebuah ruko mungil di Jakarta Selatan ini bergerilya menyadarkan publik tentang pentingnya konservasi hiu. Mereka memasuki sekolah dan menghujani siswa dengan materi-materi yang punya konsekuensi vital bagi kelestarian ekosistem laut, namun masih luput dari kurikulum buatan pemerintah.

Pendekatan itu berhasil menarik simpati publik, terutama kaum penyelam. Orang yang hendak bergabung terus bertambah. Riyanni lalu menyambutnya dengan mendirikan The Savers, komunitas pendukung SaveSharks. Anggotanya kini 180 orang, dengan 20 di antaranya rutin terlibat dalam banyak aksi. Bermodalkan pasukan yang lebih gemuk, pada awal 2014 Riyanni meluncurkan jurus perang baru terhadap para pemburu: investigasi. The Savers diberdayakan untuk melaporkan siapa saja yang menjajakan produk hiu. Mereka memotret restoran yang menjual menu sirip hiu, merekam video perdagangan hiu di pasar, lalu mengunggahnya ke internet. Beberapa upayanya moncer. Sebuah restoran di Surabaya menghapus menu abon hiu usai diserang di internet. Garuda Indonesia berhenti mengangkut sirip hiu setelah disodorkan petisi yang turut diusung SaveSharks. Awalnya sekadar “guru” paruh waktu di sekolah, organisasi ini mulai menjadi duri dalam sepatu para pemburu hiu. “Ekspor produk hiu Indonesia tidak seberapa dibandingkan ekspor ikan kering. Jika bisnis ini ditiadakan, keuntungannya bagi Indonesia lebih banyak,” ujar Riyanni.

Tentu saja, langkah itu tak selalu mulus. Gesekan kadang terjadi. Indonesia adalah salah satu pemasok sirip hiu terbesar di dunia. Para pemainnya tak rela melihat mesin uangnya diusik. Sebagai motor SaveSharks, Riyanni pun dijadikan sasaran tembak. “Saya pernah diteror oleh cukong-cukong hiu di Surabaya. Foto saya bahkan terpampang di sejumlah gudang dan toko mereka.”

Belum jelas siapa yang akan menang dalam pertarungan itu. Yang pasti, gelombang pendukung SaveSharks kian deras. Gaung organisasi ini telah merembes ke luar komunitas penyelam dan merangkul khalayak yang lebih luas, mulai dari selebriti hingga remaja yang cuma pernah melihat hiu dari televisi.

“Saya mengenal SaveSharks dari akun Twitter Riyanni,” kenang Adisty Putri, mahasiswi Institut Seni Indonesia yang juga anggota The Savers. Wanita kelahiran 1990 ini bukan seorang penyelam. Keterlibatannya murni atas dasar kepedulian yang tersulut oleh pergunjingan di ruang-ruang maya. Awalnya, Adis bergerak sebagai simpatisan. Dia layaknya corong yang menyebarkan kicauan SaveSharks melalui akun Twitter pribadinya. Dari interaksi berantai itu, bibit-bibit militansi tumbuh, dan Adis pun mulai bergerak dalam aksi nyata di lapangan. Kala masih berprofesi guru seni budaya, dia pernah menyelipkan isu konservasi hiu di kelas, serta menugaskan murid-muridnya menciptakan karya seni yang bertemakan penyelamatan hiu. Belum lama ini, Adis bekerja secara sukarela selama dua bulan di Misool, Raja Ampat, dengan mengajar di TK dan berpatroli bersama jagawana.

Adis hanyalah pion kecil dalam peta konservasi hiu. Namanya juga mungkin tak akan tercantum dalam daftar tokoh lingkungan nasional. Bagaimanapun, kehadirannya telah mengirimkan pesan penting yang patut disimak: masa depan laut adalah tanggung jawab semua orang, bukan semata monopoli LS M atau birokrat. “Saya cuma ingin melakukan sesuatu, paling tidak memberikan informasi kepada orang di sekitar, tapi dengan cara saya sendiri,” ujarnya.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Mei/Jun 2014 (“Demi Itong”)

Comments