Menjadi Penyelamat Predator Laut

Hiu membutuhkan pertolongan manusia. Pernyataan yang absurd memang, tapi dari hipotesis itulah SaveSharks Indonesia dilahirkan.

Tapi, kenapa menarget anak sekolah? Bukankah konsumen produk hiu adalah orang dewasa? “Kami sebenarnya membidik beragam segmen. Tapi anak-anak penting karena mereka turut memengaruhi keputusan orang tua. Anak bisa protes jika ibunya membeli sirip hiu. Efeknya bisa signifikan,” jawab Riyanni.

Kiri-kanan: Sejak berdiri pada 2010, SaveSharks rutin mengampanyekan penyelamatan hiu; kebanyakan hiu diburu dengan cara yang brutal.

SaveSharks juga menggalang kolaborasi dengan banyak lembaga. Bersama Kementerian Kelautan misalnya, institusi ini terlibat dalam Simposium Nasional Perlindungan Hiu, serta perumusan rancangan akademik perlindungan hiu.

Guna membiayai semua inisiatif dan programnya, SaveSharks mengail dana dari dua sumber utama. Anggaran terbesar didapat dari penyisihan sebagian pemasukan Divemag, majalah yang dipimpin Riyanni. Sumber kedua adalah dana publik yang digalang melalui penjualan suvenir. Donasi asing sebenarnya tidak diharamkan, tapi seleksinya cukup ketat. “Saya agak pilih-pilih, tidak mau SaveSharks disetir,” ujar Riyanni.

Lembaga asing yang pernah menyuntikkan dananya adalah Conservation International. Pada 2013, LSM asal Amerika itu menghibahkan Rp60 juta. Uang dipakai untuk membuat suvenir dan menciptakan ajang Itong Goes to School di 10 sekolah. Itong adalah ikon hiu yang diciptakan SaveSharks sebagai medium pendekatan ke anak-anak.

“SaveSharks memiliki kemampuan tinggi dalam menjangkau target audience yang lebih luas bagi upaya perlindungan hiu dan manta,” jelas Tiene Gunawan, Marine Program Director Conservation International Indonesia.>>

Comments