
Teks & foto oleh Yohanes Sandy
[dropcap type=”default”]S[/dropcap]aya mengidap akrofobia. Pengalaman traumatis masa kecil saya adalah menyeberangi jembatan. Sudah pasti, melayang-layang empat kilometer dari permukaan tanah adalah perbuatan nekat yang tak pernah terlintas di kepala.
Tapi kini saya berada di Selandia Baru. Konon, berkunjung ke sini tanpa menjajal sky-diving seperti melawat ke Raja Ampat tanpa menyelam. Entah mengapa negeri cantik ini begitu mencintai aktivitas yang menyerempet maut. Aktivitas yang celakanya, terutama bagi saya, berhubungan dengan ketinggian. (Negeri ini jugalah yang menciptakan bungy jumping).
Hari baru dimulai saat Taupo Tandem Skydiving (TTS) menjemput saya di hotel. Seperti seorang rock star, saya menaiki limusin Hummer, kemudian meluncur selama 10 menit ke landasan udara. Kian dekat ke lokasi, kian kencang jantung saya berdegup. “Tenang saja, aman kok,” Holly dari TTS berusaha menenangkan. “Kalau tidak aman, kita tidak akan diizinkan beroperasi sejak 1992.”

Usai ditimbang (batas maksimum berat 100 kilogram), saya mengenakan perlengkapan yang terdiri dari sarung tangan, kacamata, helm, serta harness. Setelah itu, kami masuk pesawat berbaling-baling tunggal, kemudian lepas landas menembus troposfer.
Mitra tandem saya, Joel, mengikatkan tubuhnya ke saya, mengecek simpul-simpul, selanjutnya menggiring saya ke pintu pesawat. Saya kini berdiri di perbatasan antara fobia dan euforia, antara pembuktian diri dan tuntutan profesi. Usai hitungan ketiga, kami melompat.
Dengan kecepatan jatuh 200 kilometer per jam, adrenalin mengalir deras. Perut terasa diaduk. Jantung menggedor-gedor dada. Saya mengalihkan pandangan pada pemandangan di bawah. Taupo, danau terbesar di selatan bumi, bersanding manis dengan Gunung Tauhara. Setelah lima menit, lima menit terlama dalam hidup saya, aksi nekat ini pun berakhir. Saya dan Joel menyentuh bumi. Selamat. Bangga. Senang. Walau perut mual. Jembatan penyeberangan kini tak lagi menakutkan.
Saya datang ke Selandia Baru bersama Robin Gan, pemenang sayembara menggambar yang diselenggarakan oleh Tourism New Zealand dan DestinAsian Indonesia. Kami mendarat di Auckland dengan disambut hujan deras dan suhu yang melayang sejengkal di atas titik beku. Agenda kami, selain melakoni terapi akrofobia, adalah menjelajahi lima kota di North Island. Auckland yang pertama.
Auckland adalah metropolitan terbesar dan tersibuk di Selandia Baru, tapi sosoknya lebih mirip Jakarta di minggu pertama Lebaran: lengang dan damai. Kota ini luasnya 560 kilometer persegi, empat kali luas Jakarta Selatan, tapi populasinya cuma 1,5 juta jiwa.

Lapar mengantarkan kami ke Britomart, sebuah distrik yang bersinar sebagai wadah belanja dan sentra jajan kaum hipster. Gedung kontemporer saling merangkul dengan bangunan uzur. Butik-butik fesyen lokal dan impor rukun berdampingan. Di restoran Ortolana, saya dan Robin menikmati brunch seraya beradaptasi dengan alur hidup yang rileks.
Usai menambal perut, kami meluncur selama 90 menit ke Raglan, sebuah kota pesisir di mana alur hidup terasa lebih lambat. “Raglan terkenal akan pantai dan ombaknya, juga gaya hidup warganya yang sangat santai,” ujar Julie Fiddes, pemandu merangkap sopir kami. Wanita yang baru sebulan bekerja untuk dinas pariwisata ini membawa kami melompat dari satu titik ke titik lain.

“Raglan mirip California era 1970-an,” ujar Charlie Young, pria asal California yang menjadi anggota Dewan Kota, saat kami menyantap fish and chips dan olahan kerang bibir biru khas lokal di restoran Orca. “Di sini belum banyak bangunan modern. Penduduk menggantungkan hidupnya dari pariwisata.”
Musim panas adalah periode tersibuk di Raglan. Peselancar asing berdatangan guna mengendarai ombak left-hand terpanjang di negeri ini. “Suasananya lebih hidup. Kota ini seakan menjadi mangkuk budaya tempat bertemunya orang dari berbagai ras,” kata Charlie lagi. “Padahal, 17 tahun lalu warga setempat takut pariwisata akan merusak segalanya.”
Raglan adalah persinggahan sebelum kami mencicipi petualangan di North Island. Selandia Baru, negara yang lebih besar dari Sumatera tapi dihuni oleh hanya empat juta manusia, adalah tempat yang ideal untuk bersentuhan dengan alam.

Hari berikutnya, Julie membawa kami ke Waitomo, di mana kami akan turun sejauh 60 meter ke perut bumi. Waitomo bagaikan taman rekreasi impian bagi pencinta caving. Ada tiga gua yang menjadi magnet utamanya. Masing-masing punya pesonanya tersendiri. Gua Ruakuri misalnya, ditinggali cacing-cacing yang mampu menyala dalam gelap, membuat gua ini seperti langit yang ditaburi bintang. Sementara Gua Aranui memancarkan karakter yang lebih liar dengan formasi stalagmit dan stalaktit yang menjulur perkasa. Oleh sebuah survei lokal pada 2007, lorong-lorong ajaib di Waitomo ditempatkan di peringkat ke-14 dalam daftar “101 Kiwi Must-Do’s.” (Kiwi, burung imut yang tak mampu terbang, adalah ikon nasional Selandia Baru).

Di etape berikutnya, kami berkendara ke Rotorua, kota yang kerap dijuluki Las Vegas versi Selandia Baru. Daya tarik utamanya adalah pertunjukan tarian-tarian tradisional di Te Puia, semacam pusat kebudayaan Maori. Pentas ini digelar sepanjang tahun, termasuk di malam Natal. Suguhannya mirip Siam Niramit di Bangkok, tapi skalanya lebih kecil.

Di luar jantung kotanya yang meriah, Rotorua adalah kawasan yang dipenuhi lubang. Tempat yang berada di atas jalur lava ini menampilkan banyak kolam geotermal. Kami melakoni ekspedisi geologis di Waiotapu Thermal Wonderland, sebuah kompleks berisi kubangan-kubangan panas yang dibingkai oleh hutan. “Hutan di sekelilingnya merupakan buatan manusia. Butuh waktu kurang lebih 100 tahun untuk menanam seluruh pohonnya,” tutur David, pemandu di Waiotapu.
Dari Rotorua yang mendidih, kami berpaling ke Taupo yang sejuk. Agenda hari ini adalah mengayuh pedal dengan menyusuri sungai terpanjang di Selandia Baru. Tur sepeda dimulai dari Air Terjun Huka, titik awal Sungai Waikato. Sejauh mana kita menggenjot, dan seberapa deras kita berkeringat, tergantung pada jenis lintasan yang dipilih. Taupo menawarkan enam rute dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Kami memilih trek
termudah. Saya dan Robin memacu sepeda, mengarungi perbukitan, melewati peternakan, menikmati pemandangan elok yang lazim menghiasi kalender.
Bersepeda juga aktivitas yang populer di Napier, kota lain yang kami kunjungi. Napier terkenal sebagai salah satu penghasil wine terbaik di Selandia Baru. Seperti banyak sentra wine, kota ini menawarkan tur-tur sepeda bertema “winery hopping,” sebuah atraksi unik yang mengombinasikan dua hal yang sepertinya antagonis: memacu jantung dan menenggak alkohol.

Napier juga menyimpan riwayat yang akbar. Kota pelabuhan yang sibuk ini dicatat sejarah sebagai tempat berlabuhnya Kapten James Cook pada 1796. Dialah manusia Eropa pertama yang mengelilingi dan memetakan Selandia Baru. Tapi kisah Napier tak selalu gemilang. Pada 1931, kota ini diguncang gempa dahsyat 7,8 skala Richter. Banyak rumah rata dengan tanah. Lebih dari 200 nyawa melayang. Sebuah danau air asin di tengah kota terangkat dan menciptakan lanskap baru dalam kurun waktu hanya 2,5 menit.
Pascabencana, Napier berbenah, juga belajar. Bangunan-bangunan baru dicetak tahan gempa. Inspirasinya dipetik dari arsitektur art deco yang lazim menggunakan tiang-tiang kokoh. Itu sebabnya kota ini tampil layaknya lokasi syuting Great Gatsby. “Dari semua destinasi yang saya datangi, Napier yang terbaik,” ujar Robin, seorang desainer grafis purnawaktu. Momen terbaik untuk datang adalah Februari, saat kota ini menggelar acara meriah Art Deco Weekend.
Ke Selandia Baru memang tak lengkap tanpa skydiving, tapi aktivitas ini sejatinya bukan untuk semua orang, setidaknya bukan untuk mereka yang lemah jantung atau kelebihan berat badan. Untuk merasakan sensasi quintessential yang terbebas dari batasan apa pun, Hobbiton jawabannya. >>

Hobbiton berlokasi di sebuah distrik bernama unik—Matamata. Seperti kita ketahui, tempat ini merupakan lokasi syuting trilogi box office The Lord of the Rings dan The Hobbit—dua maha karya sutradara Peter Jackson, salah seorang putra kebanggaan Selandia Baru. Hobbiton bercokol di lahan milik penduduk. Luasnya 13 hektare, tapi yang dipakai untuk kampung Hobbit hanya seperempatnya. Sisanya masih berfungsi sebagai peternakan domba hingga sekarang.
“Peter Jackson sangat brilian, bisa mengubah lahan peternakan menjadi sebuah desa fantasi dengan detail yang menakjubkan,” ujar Robin terkesima. Mungkin bukan sekadar brilian, tapi perfeksionis. Shayne, pemandu kami, mengungkapkan beberapa fakta mengejutkan tentang repotnya bekerja dengan sang sutradara. Peter misalnya, meminta pemerintah daerah setempat memberlakukan larangan terbang di atas lokasi syuting. Alkisah, ada satu pesawat yang melanggar, hingga pilotnya ditahan dan kehilangan lisensinya. Contoh lainnya adalah permintaan Peter mengecat ulang 200.000 helai daun pada pohon replika di atas rumah Bilbo Baggins, karena menganggap warnanya kurang sesuai dengan gambaran J.R.R. Tolkien di dalam novel.

Bagi pencinta film, Hobbiton adalah memorabilia yang terlalu sayang untuk dilewatkan. Di sini kita juga bisa mempelajari bagaimana sinema sanggup dijadikan materi promosi wisata. Meledaknya The Lord of the Rings dan The Hobbit turut mengerek pamor Selandia Baru, sampai-sampai maskapai nasional negeri ini memasang julukan “Airline of Middle-earth.”
“Di jalanan ini,” tutur Shayne di pintu keluar Hobbiton seraya merujuk pada sebuah adegan fenomenal di seri pertama The Hobbit, “Bilbo berlari untuk menyambut petualangan barunya.” Selandia Baru, dalam batasan tertentu, adalah negeri yang menantang semua orang untuk menjadi Bilbo: untuk meninggalkan zona nyaman dan mencicipi petualangan; untuk melupakan fobia dan bertindak spontan.
Rute
Penerbangan ke Auckland dilayani oleh Singapore Airlines (singaporeair.com) dan Air New Zealand (airnewzealand.com) via Singapura. Klik situs resmi Tourism New Zealand (newzealand.com/id) untuk menggali informasi seputar objek wisata serta memesan paket-paket tur.
Penginapan
Di kota pesisir Raglan, 90 menit dari Auckland, Solscape (solscape.co.nz; doubles mulai dari Rp250.000) menawarkan beragam akomodasi ramah lingkungan, mulai dari tenda, gerbong kereta yang disulap menjadi barak, hingga Eco Bach studio yang dilengkapi dapur. Di tepi Danau Rotorua, Black Swan Lakeside Boutique Hotel (blackswanhotel.co.nz; doubles mulai dari Rp3.600.000) menaungi hanya delapan kamar premium yang dikelola oleh sepasang suami istri. Jika hendak mencicipi skydiving di Taupo, salah satu persinggahan yang ideal adalah Hilton Lake Taupo (laketaupo.hilton.com; doubles mulai dari Rp1.500.000). Sementara di kota pelabuhan bersejarah Napier, The Dome (thedome.co.nz; doubles mulai dari Rp2.700.000) menawarkan lokasi strategis di jantung kota.
Makan & Minum
Restoran tersohor di distrik hipster Britomart, Ortolana (ortolana.co.nz), meracik hidangan khas Eropa dengan porsi besar. Di musim semi dan panas, The Conscious Kitchen (solscape.co.nz) menyuguhkan Sunday buffet yang bahan makanannya dipetik dari kebun sendiri. Di Taupo, The Brantry (thebrantry.co.nz) adalah restoran fine dining yang ditaburi penghargaan bergengsi. Pesaingnya adalah Bistro Lago (bistrolago.co.nz) yang bersemayam di Hotel Hilton. Jika tiba saatnya menyeruput kopi, kunjungi The Storehouse (storehousetaupo.co.nz) yang tercantum dalam daftar kedai kopi terbaik di Selandia Baru.
Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi September/Oktober 2015 (“Bintang Utara”)

