Kaleidoskop Kalimantan

Memakai perspektif yang variatif, Michael Eko Hardianto mendokumentasikan Kalimantan selama 12 tahun.

Awalnya rasa penasaran. Lalu muncul pertanyaan. Kemudian lahir gagasan untuk mengerjakan proyek jangka panjang. Tahun ini, Borneo, proyek foto garapan Michael Eko Hardianto, genap berusia 12 tahun.

Kisahnya dimulai saat Michael masih berkuliah di Yogyakarta dan bersahabat dengan banyak mahasiswa asal Kalimantan. Perjumpaan itu memberinya banyak pengetahuan tentang Kalimantan sekaligus memantik banyak pertanyaan: tentang tanah yang asing, tentang wana yang dihuni suku pedalaman, juga tentang identitasnya sendiri sebagai orang Indonesia yang menghabiskan hidupnya di Jawa.

Pada 2007, Michael akhirnya menyambangi Kalimantan untuk pertama kalinya. Dia meniti jalan rusak, bertemu pekerja migran, mendengar isu panas di perbatasan Indonesia dan Malaysia. Hasil liputannya itu kemudian dibukukan, tapi proyek fotonya belumlah rampung. “Perjalanan dan keingintahuan saya mengenai peradaban pulau ini baru saja dimulai, dan menuntun saya pada petualangan-petualangan selanjutnya,” kenangnya.

Proyek fotonya beriktikad merangkum Borneo: alamnya, budayanya, penduduknya, misterinya, juga problem-problemnya. Konsepnya mirip kaleidoskop. Michael memilih subjek dan lokasi memakai parameter wacana. Untuk isu konservasi misalnya, dia melawat Kapuas Hulu. Untuk tema kerusakan alam, dia pergi ke Kalimantan Timur. “Sebisa mungkin setahun sekali saya melakukan liputan dengan topik yang berbeda-beda dan melengkapi cerita-cerita yang saya buat sebelumnya.”

Dari segi lokasi, proyek ini akan dilebarkan dengan mencakup Borneo belahan Malaysia dan Brunei Darussalam. Tapi Michael tidak mematok target jumlah wilayah yang akan dikunjungi dan sampai kapan proyeknya bergulir. “Lengkap atau tidaknya proyek ini lebih didasari oleh aspek-aspek wacana yang melengkapi satu sama lain,” jelasnya. “Mungkin di sini justru tantangan sebuah proyek ‘slow journalism.’ Selalu ada yang baru dalam prosesnya dan fotografer akan menyelami lebih dalam cerita itu sendiri.”

Satu tantangan dari pilihan itu ialah variabel perubahan. Borneo tak membeku dalam waktu, dan dengan itu Michael kadang mesti merevisi narasinya. Dan sebagaimana yang lazim terjadi pada proyek jangka panjang, fotografernya pun berubah. Pada masa-masa awal, Michael lebih banyak mengeksplorasi sisi romantisme alam dan adat. Seiring jalan, dia terpikat oleh isu ketidakadilan dan kehancuran alam.

Membuka catatan-catatan lawas tentang Borneo, proyek foto Michael terbilang ambisius. Proyek dokumentasi di pulau ini lazimnya fokus pada satu tema, misalnya suku atau satwa. Tapi mungkin fakta itu yang membuat karya Michael patut disimak. Proyek fotonya menawarkan jendela untuk memahami Borneo secara komprehensif dari perspektif yang variatif.—CR

Proyek foto ini dipilih lewat proses seleksi oleh editor tamu Beawiharta dan telah diterbitkan dalam DestinAsian Indonesia edisi Juli-September 2019.

Borneo_MichaelEko05 Borneo_MichaelEko13 Borneo_MichaelEko17 dange harvest time the cofffin

Michael Eko Hardianto
Michael, fotografer kelahiran Jakarta, pernah mengikuti Foundry Workshop di Bali dan Angkor Photo Workshop. Karya-karyanya pernah diterbitkan di beragam media, termasuk The Washington Post dan Asian Geographic. Usai mendapatkan fellowship di Asian Center for Journalism, dia mengelola Enklaf, platform bagi storyteller untuk memasarkan karyanya. michaeleko.com.

Comments