Kiri-kanan: Sepak bola, hiburan murah yang menyatukan komunitas; peralatan yang biasa dibawa oleh kaum perempuan untuk menggarap ladang, Jarak dari rumah ke ladang mencapai 15 kilometer.

Ini tangkapan pertama Sayid setelah hampir 10 tahun cuti berburu. Dia membuktikan, kepiawaiannya di masa muda bukan isapan jempol. Baginya, tak ada pohon yang terlalu tinggi, tak ada rimba yang terlalu gelap. “Segala yang terbang akan saya tangkap,” katanya tegas. Dia pemburu lihai di zamannya. Dan, kelihaian itu coba dipelajari hari ini oleh menantu dan anaknya.

Niko membedah perut kuskus, membakarnya, membumbuinya seadanya. Sang koki hutan meracik menu makan malam kami: daging kuskus dengan taburan garam dan cabai. Dagingnya empuk, lebih liat dan amis dari daging sapi. Seratnya halus dan membuat badan panas. Kami bersantap di bawah purnama yang begitu terang.

Pagi-pagi sekali, kami terjaga oleh nyanyian cenderawasih. Saudagar-saudagar Melayu di masa lalu menyebutnya “manuk dewata.” Cenderawasih di Aru lebih besar dari yang terdapat di Papua. Ekornya juga lebih panjang. Bulunya yang cerah menyeruak dari bawah kedua sayapnya, membentuk rangkaian yang menyerupai kipas. Sementara bulu tengah pada ekornya menjadi semacam dawai yang terpilin. Wallace mencatat, “tidak ada yang melampaui keindahan cenderawasih!” Mereka hinggap pada sebuah pohon besar. Lima ekor cenderawasih bertengger dan saling merentangkan sayap, membentuk formasi, siap menari, persis saat matahari baru akan muncul.

Sambil menunjuk ke atas, Sayid berbisik, “tujuan kedatanganmu telah tercapai, bukan?” Saya tidak meresponsnya. Mata saya tersedot pada lima ekor pejantan yang sedang mengibaskan sayap dan mengepak-ngepakkan ekor. Bulu di kepala, punggung, dan bahu mereka berkilauan diterpa sinar surya yang masih lindap. Mereka melantunkan suara secara serempak, berkoak setengah parau, kemudian menyurukkan kepala ke dalam bulunya dalam-dalam, berputar-putar seperti gasing, kemudian kembali mengibaskan bulu-bulu. Di akhir resital itu, sang betina memilih seekor jantan, kemudian pasangan baru itu pun pindah ke cabang lainnya untuk berbulan madu.

Sayid mencoba membidik seekor di antaranya, tapi urung, entah kenapa. Barangkali baginya, berburu mesti dilandasi alasan yang kuat. Matahari telah tinggi. Kami kembali berjalan membelah belantara rimbun. Di tengah perjalanan, saya melihat dua ekor kanguru. Di sisi rimba yang lain, saya mendapati ayam hutan dan kasuari berlarian di dekat kami. Kobror seperti taman safari raksasa dengan penghuni yang berlimpah dan beragam. Mungkin karena itulah, berabad-abad lalu, Wallace sudi datang jauh-jauh ke sini, menggelontorkan biaya besar untuk ekspedisinya yang termasyhur itu. Tetapi, seperti juga Wallace, saya kini harus pulang.

Rute
Jangan membayangkan pantai berpasir putih yang terhampar lapang di sini. Lanskap Kobror rata-rata terdiri dari pulau karang dengan tepian yang didominasi rawa dan bakau. Untuk menjangkaunya, Anda harus terbang ke Ambon menaiki Garuda Indonesia (garuda-indonesia.com) atau Batik Air (batikair.com), lalu menaiki Trigana Air (trigana-air.com) menuju Dobo, Ibu Kota Kabupaten Kepulauan Aru. Dari Dobo, Anda bisa menyewa perahu bertarif Rp1.000.000 menuju Benjina, Ibu Kota Kecamatan Aru Tengah, lalu ke Desa Pafakula di pinggir Kobror. Untuk berkeliling pulau, perahu bisa disewa dengan tarif Rp2.500.000 per hari.

Penginapan
Jumlah penginapan di Dobo bisa dihitung dengan jari. Kamar termewah hanya dilengkapi AC dan TV. Dua opsi yang bisa dipilih adalah Hotel Mazda (Jl. Cenderawasih; 0917/21217) dan Penginapan Suasana Baru (Jl. Ali Moertopo; 0917/21940) dengan tarif berkisar Rp200.00-400.000. Di desa-desa di Kobror, Anda hanya bisa menginap di rumah penduduk. Tapi karena situasi sering memanas akibat pembukaan kebun tebu oleh PT. Menara Group dua tahun silam, sebaiknya menginap di rumah warga lokal. Mon Tamsi (0813-3271-1568) atau Gusti (0823-9852-8564) bisa memandu Anda untuk mencarinya.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Juli/Agustus 2015 (“Tanah Nisbi Gwanabai”)