Lanskap Hijau di Tengah Kota

Bagian dari gerakan aforestasi urban, gedung hijau bermunculan di banyak kota. Tren terbarunya: vertical forest.

Area yang dijuluki sky garden di gedung Parkroyal on Pickering, Singapura. (Foto: Patrick Bingham Hall)

Oleh Cristian Rahadiansyah

Dulu, “green building” kurang lebih berarti gedung yang hemat energi, memiliki pembangkit listrik non-fosil, dirakit dari bahan ramah lingkungan, serta mendaur ulang sampah atau airnya. Tapi sejumlah arsitek kemudian memberi definisi baru pada terminologi tersebut: green building berarti “gedung hijau” dalam arti harfiah.

Produk awal dan jamak dari eksperimen mereka ialah green wall atau vertical garden, sebuah solusi kreatif untuk menghadirkan ruang hijau di kota, di mana lahan terlampau sempit dan mahal untuk taman horizontal. Contohnya bertaburan di banyak kota, misalnya Athenaeum Hotel London, One Central Park Sydney, Oasia Hotel Downtown Singapura, serta Intiland Tower Jakarta. Tubuh gedung-gedung ini seperti digerayangi tanaman.

Kreasi itu tentu saja tidaklah sepenuhnya baru. Di zaman sebelum Masehi, dunia pernah mencatat Taman Gantung Babilonia. Perbedaan terbesarnya, vertical garden era modern tidaklah semata menjalankan fungsi estetis, tapi juga ekologis. Zona hijau di pencakar langit berfungsi menyerap karbon dioksida, menghasilkan oksigen, dan dalam kasus tertentu, menyediakan rumah bagi burung-burung.

Kiri-kanan: Dinding hijau di One Central Park Sydney; fasad Oasia Hotel Downtown, Singapura.

Selepas demam vertical garden, muncul eksperimen baru yang membawa konsep “gedung hijau” ke level yang lebih ekstrem: vertical forest. Berbeda dari vertical garden di mana gedung dilapisi tanaman hias atau tanaman merambat, gedung vertical forest ditanami pohon. Dari Eropa hingga Asia, inovasi progresif ini dilirik banyak pengembang. Vertical forest, tafsir segar atas konsep “hutan kota,” dipandang tak cuma mampu mereduksi polusi, tapi juga memberi kompensasi atas pelebaran lahan kota.

Beberapa contoh gedung yang menganut konsep vertical forest ialah Parkroyal on Pickering Singapura, Planeta DeAgostini Barcelona, serta Tower of Cedars Lausanne dan Bosco Verticale Milan. Dua yang terakhir ini didesain oleh Stefano Boeri Architetti (SBA), firma yang berada di garda depan dalam gerakan aforestasi urban. Karya terbarunya, Nanjing Green Towers, ditanami sekitar 800 batang pohon dengan target memproduksi 16,5 ton oksigen per tahun. (Sebagai perbandingan, hutan seluas satu hektare rata-rata berisi hanya 350 pohon.) Rencananya, salah satu menara di kompleks ini akan dihuni oleh Hotel Hyatt. SBA juga memiliki proyek di Jakarta, tapi detailnya belum dilansir untuk umum.

Baca juga: Melacak Hotel Ramah Lingkungan; IHG Luncurkan Program Ramah Lingkungan Baru

Merujuk data PBB, sekitar 54 persen populasi dunia mendiami kawasan urban, dan angkanya diprediksi melonjak jadi 66 persen pada 2050. Menimbang fakta itu, vertical forest patut dilirik sebagai solusi alternatif untuk memasok paru-paru kota. Tapi ada satu problem dari gagasan ini: pengelola gedung perlu menyewa tukang kebun dengan keterampilan panjat dinding.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Oktober/Desember 2019 (“Belantara Bertingkat”)

Comments