Para pendaki melewati gletser saat menuju Zugspitze, gunung tertinggi di Jerman. (Foto: Alexej Bowdurez/Unsplash)

Sekilas, gletser menyerupai es batu: keras, dingin, berbahan dasar air. Mirip yang tersimpan di kulkas, tapi bedanya gletser terbentuk secara natural.

Kendati begitu, gletser berbeda dari bongkahan es. Ia bukan tebing beku atau bongkahan bening yang terapung di laut. Gletser dibentuk di darat dari kristalisasi salju dan es. Sedangkan bongkahan es disusun dari pembekuan air laut.

Perbedaan proses pembentukan itu berdampak berbeda pada alam. Saat mencair, gletser menambah volume air di bumi, sedangkan bongkahan es praktis hanya kembali ke wujud semula usai mencair.  

Dulu, pada Zaman Es, sepertiga daratan bumi terkubur oleh gletser. Kini, komposisinya hanya sekitar 10% atau sekitar 15 juta kilometer persegi—setara 30 kali luas Pulau Sumatera.  

Turis mendaki gletser di kawasan Patagonia, Argentina. (Foto: Dirk Spijkers/Unsplash)

Apa manfaat gletser?
Selain mendinginkan suhu bumi, gletser adalah sumber air tawar terbesar, jauh lebih besar dari danau ataupun sumur. National Snow & Ice Data Center mengklaim hamparan es gigantik ini menyimpan sekitar 69% air tawar dunia. 

Di Tiongkok dan India, banyak sungai utama berhulu pada salju dan gletser Himalaya. Di Swiss, para petani selama ratusan tahun menyandarkan air irigasi dari tetesan gletser. Sementara di Amerika Selatan, gletser memasok kebutuhan air minum bagi jutaan orang.

Baca Juga: 10 Satwa Terancam Punah & Habitat Mereka

Beberapa PLTA juga dihidupi oleh gletser. Contohnya terlihat di Norwegia, Kanada, dan Selandia Baru. Di sini, air yang mencair dibendung, kemudian dipakai untuk memutar turbin. 

Di Islandia, permukiman di kaki gletser adalah magnet wisata. (Foto: Joshua Howey/Unsplash)

Apa dampaknya jika gletser terus mencair?
Sejatinya, gletser senantiasa mencair dan menyusut, terutama di musim panas, tapi kemudian terbentuk kembali di musim dingin. Ancaman muncul jika proses pencairan lebih cepat dari proses pembekuan.

Itu sebabnya, gletser sering dijadikan barometer pemanasan global. Rumus simpelnya: jika bumi kian panas, gletser mencair kian cepat—dan akibatnya fatal bagi makhluk hidup. Contoh yang paling nyata ialah naiknya permukaan laut, yang kemudian berbuntut pada banjir.

Melihat kecepatan pencairan gletser saat ini, kenaikan air laut diprediksi mencapai satu meter pada akhir abad ke-21. Ilustrasi untuk membayangkan bahayanya: jika air laut meningkat satu sentimeter saja, sekitar satu juta orang di dataran rendah terpaksa mengungsi. 

Kiri-Kanan: South Sawyer Glacier di Alaska. (Foto: Steve Halama/Unsplash); Pemandu tur di Franz Josef Glacier, Selandia Baru. (Foto: Rony Zakaria)

Seberapa parah kondisinya sekarang?
Dari 1994-2017, dunia telah kehilangan 28 triliun ton es—cukup untuk mengubur seantero daratan Inggris. Ini kesimpulan mutakhir para peneliti Inggris yang dimuat dalam jurnal Cryosphere Discussions pada 14 Agustus 2020. 

Baca Juga: Destinasi Paling Ramah (& Tidak Ramah) Lingkungan

Dan ancaman genting itu belum berhenti. Dari Alaska, Himalaya, hingga Indonesia, banyak gletser konsisten menipis dan menyusut. Mengutip jurnal Nature, beberapa gunung akan kehilangan gletsernya pada akhir abad ke-21, dan dunia diprediksi kehilangan gletser sepenuhnya pada 2300.

Danau Griessee di Swiss mendapatkan pasokan airnya dari Gries Glacier. (Foto: Martin Adams/Unsplash)

Gletser ada di mana saja?
Walau mirip es batu, gletser tidak terpusat hanya di daerah dingin. Mayoritas memang berkumpul di Antartika, sementara sisanya tersebar di Greenland, Amerika Utara, Amerika Selatan, bahkan kawasan terik Afrika dan Asia.

Dunia mencatat ada sekitar 198.000 gletser yang tersebar di 50 negara. Pakistan mengoleksi gletser terbanyak di luar kawasan kutub. Sementara Indonesia memiliki lima gletser yang terkonsentrasi di Papua, walau dua di antaranya sudah punah menurut NASA Earth Observatory.

San Rafael Glacier di Cile terus menyusut dan melahirkan danau. (Foto: Jairo Gallegos/Unsplash)

Tempat terdekat untuk wisata gletser?
Wisata gletser sudah lama ditawarkan Selandia Baru. Tiga gletser andalannya ialah Fox, Franz Josef, dan Tasman. Metode terpopuler ke sana ialah menaiki helikopter, disusul eksplorasi jalan kaki di hamparan es.  

Pakistan, ibu kota gletser Asia, juga menawarkan beberapa operator tur gletser. Salah satu objeknya yang paling kondang, Chiatibo, sempat dikunjungi Pangeran William pada akhir 2019. 

Baca Juga: Cara Menghitung Emisi Anda—Dan Cara Menebusnya!

Destinasi klasik untuk wisata gletser tentu saja Nepal. Mendaki Himalaya dan menyaksikan hamparan es merupakan sumber devisa andalan negeri dataran tinggi ini. —Cristian Rahadiansyah