Setelah mengendurkan PSBB secara bertahap mulai 30 April, Swiss hari ini resmi memasuki periode new normal. Aktivitas sosial dan bisnis yang melibatkan banyak orang sudah diizinkan. Beragam objek wisata bersiap-siap menyambut turis.

Mulai 6 Juni, tempat-tempat yang sudah dibolehkan kembali beroperasi meliputi kasino, teater, bioskop, spa, kolam renang, juga kelab striptis. Berhubung musim liburan di depan mata, pemerintah juga memberi lampu hijau bagi tempat wisata, termasuk taman rekreasi, kebun binatang, kebun botani, gondola, hingga jalur sepeda dan pendakian gunung. 

Khusus restoran dan kafe, layanan makan di tempat sudah dibolehkan sejak 11 Mei. Hal yang berubah mulai 6 Juni ialah jumlah tamunya. Jika ada grup berisi lebih dari empat orang, restoran mesti mencatat data diri salah satu tamu.

Kontras dari new normal di sejumlah negara lain, Swiss tidak mewajibkan pemakaian masker di luar rumah, melainkan hanya menyarankan warga saling menjaga jarak dua meter. Masker praktis hanya dikenakan andaikan physical distancing sulit dipraktikkan, misalnya di dalam bus atau kereta.

Museum seni di KKL Luzern sudah dibuka, tapi pentas baru akan bergulir di September. (Foto: Urs Wyss/KKL Luzern)

Bisa dibilang, hampir semua aktivitas bisnis dan sosial sudah bisa bergulir normal di Swiss. Kendati begitu, ada beberapa keunikan (barangkali juga kejanggalan) dalam regulasi pemerintah. Kompetisi cabang olahraga yang melibatkan kontak fisik, misalnya gulat, masih dilarang. Akan tetapi, layanan seks dari PSK sudah dibolehkan.

Keunikan lain terlihat dalam aturan terkait kerumunan. Di era new normal, sesi kongko di ruang publik dibatasi maksimum 30 orang, sementara hajatan, rapat, bahkan demonstrasi boleh diikuti oleh 300 orang. Rencananya, pemerintah Swiss akan mengizinkan acara berisi 1.000 orang mulai 24 Juni, kemudian menambah kuotanya di atas 1.000 orang mulai 31 Agustus.

Penting diketahui, Swiss adalah negara federal berisi 26 canton atau negara bagian. Tiap wilayah memiliki beberapa variasi dalam detail aturan, begitu pula model pengawasannya. “Tanggung jawab mengontrol aturan berada di tangan tiap canton,” jelas perwakilan dari Switzerland Tourism kepada DestinAsian Indonesia.

Kiri-Kanan: Jembatan Peak Walk diizinkan kembali beroperasi mulai 6 Juni. (Foto: Yoppy Pieter); Beberapa fasilitas beroperasi terbatas, tapi Park Hotel Vitznau telah menerima tamu. (Foto: Klaus Lorke/Park Hotel Vitznau)

Swiss merupakan salah satu negara yang paling sukses dalam menangani epidemi.  Menurut data Federal Office of Public Health, per 5 Juni, Swiss mencatatkan 30.936 kasus positif Covid-19. Dari angka itu, 28.600 pengidap virus telah sembuh, sementara 1.660 orang meninggal.  

Di level internasional, Swiss berada di peringkat ke-32 dalam jumlah kasus terbanyak, dua tingkat di atas Indonesia. Kendati begitu, jika melihat grafik kasus dalam tiga bulan terakhir, kurva di Swiss terus melandai drastis. Pada 16 April misalnya, menurut Corona Tracker, ada 396 kasus baru di sini. Pada 1 Mei, angkanya susut jadi 179 kasus. Kemudian pada 5 Juni, sehari sebelum new normal diterapkan, terdapat penambahan hanya 23 kasus positif.

Baca Juga: Cara Jerman Terapkan New Normal

Tren yang menjanjikan itu mendorong pemerintah mengambil langkah kuda-kuda pembukaan perbatasan. Swiss pada 15 Juni akan mencabut restriksi bagi turis asal Jerman dan Australia. Tergantung status epidemi di tiap negara asal, Swiss di tahap berikutnya akan menyambut turis dari negara Uni Eropa lainnya, plus Islandia, Liechtenstein, Norwegia, dan Inggris. 

Dalam kasus pandemi, aturan perbatasan tidaklah resiprokal. Pada 3 Juni, Italia sudah membuka gerbangnya bagi turis Swiss, tapi Swiss belum siap menempuh kebijakan serupa bagi Italia. Austria juga sudah memberi izin turis Swiss sejak 4 Juni, tapi tidak sebaliknya.  

Bersama Jenewa dan Basel, Bandara Zurich dioperasikan untuk kedatangan turis internasional. (Foto: Jairph/Unsplash)

Di tahap awal, hanya bandara Zurich, Jenewa, dan Basel yang dioperasikan untuk kedatangan turis internasional. Tidak ada aturan karantina saat mendarat di Swiss. Khusus Basel, penumpang wajib mengenakan masker selama di bandara.

Baca Juga: 25 Objek Wisata Dunia Dibuka Kembali

Menyambut keputusan pemerintah, biro Switzerland Tourism meluncurkan kampanye Clean & Safe. Protokol baru kini tersedia di hampir setiap lini industri pariwisata. Detailnya digarap bersama dengan tiap asosiasi, contohnya HotellerieSuisse, Cableways Switzerland, dan GastroSuisse. Tujuan kampanye ini ialah “meningkatkan keyakinan turis terhadap Swiss sebagai destinasi yang bersih dan aman.”

Hingga kini, belum ada informasi rinci tentang dokumen yang mesti dipersiapkan turis. Menurut wakil Switzerland Tourism, pemerintah sedang mempertimbangkan penggunaan aplikasi untuk memantau pergerakan orang. April silam, perusahaan teknologi SICPA mengajukan ide kontroversial “paspor sehat” yang menyimpan data hasil swab test, tapi belum ada keputusan terkait penggunaannya.  Cristian Rahadiansyah